
"Ayahmu ... sudah meninggal!" Sekujur tubuh Rose gemetaran. Isak tangis pun mulai terdengar jelas di telinga Damian, dan itu membuatnya merasa sangat bersalah.
"Maafkan ibu, Damian."
Damian menggelengkan kepalanya, lalu menyentuh punggung kuat ibunya. "Ibu tidak perlu meminta maaf. Damian yang seharusnya minta maaf. Ibu, maaf. Damian sudah membuat ibu bersedih," kata Damian.
Rose melepaskan pelukannya sambil menyeka air mata.
"Damian tidak salah. Tidak seharusnya ibu menyembunyikan hal ini. Jadi, maafkan ibu."
Damian menganggukkan kepalanya, lalu berkata, "Ibu baru saja tiba, jadi, beristirahatlah di kamar."
Rose tersenyum pilu, dia pun berdiri kemudian melangkahkan kaki masuk ke kamar.
Seketika setelah kepergian Rose, wajah Damian berubah menjadi dingin. Dia menyeka air matanya lalu berjalan ke sofa kemudian membaringkan tubuhnya dengan posisi telentang.
Dia mengangkat kedua tangannya ke udara dengan sebuah kartu dipegangnya. Senyum seringai pun terlukis di wajahnya.
"Ibu pikir aku percaya dengan ucapan ibu? Tidak! Tidak sebelum aku melihat sendiri makam ayahku. Sekarang, biarkan aku mencarinya sendiri, atau namaku bukanlah Damian!" gumamnya.
Ia membaca beberapa kalimat yang tertera pada kartu. "Jadi, ibu bekerja di perusahaan Andrean sekarang. Baiklah, dimulai dari sini!" kata Damian penuh percaya diri.
Malam hari, di kediaman keluarga Andrean.
Ibu menunggu kepulangan El dengan perasaan yang tidak karuan. Banyak hal yang ingin ia tanyakan mengenai kekasih puteranya tersebut.
Tak berapa lama, El pun tiba di rumah. Ibu yang menyadari hal itu lantas menghampiri dengan tergesa-gesa.
"El! El! Apa kekasihmu tidak ikut? Bagaimana keadaannya? Kenapa dia bisa pingsan? Jangan-jangan ... dia sedang mengandung anakmu!" Ibu melontarkan pertanyaan memberondong, dan kalimat akhir yang membuat El terkejut.
"A-anak apanya, Bu? Ibu jangan sembarangan!" Ia berjalan melewati ibunya, masuk ke dalam rumah. "Ia hanya sedang tidak enak badan saja, bukan hal yang serius," lanjutnya.
Ibu menyipitkan matanya lalu membalikkan tubuh. "Bukan hal yang serius, katamu? Apa seperti ini kau memperlakukan kekasihmu, El?"
El menghentikan langkah kakinya lalu menghela napas panjang. "Sekarang dia sudah baik-baik saja. Bukankah El sudah mengantarnya ke rumah sakit tadi?" katanya.
Ibu terdiam sejenak, sedetik kemudian raut wajahnya berubah dan ia mulai berjalan menghampiri El dengan wajah gembira.
__ADS_1
"Jadi, kapan kalian akan menikah? Ibu sudah tidak sabar ingin punya menantu dan cucu," kata ibu tak bisa menyembunyikan harapan besarnya tersebut.
Sekali lagi El menghela napas berat, lalu berkata, "El maupun dia ... belum memiliki rencana untuk menikah."
Alangkah terkejut dan kecewanya ibu setelah mendengar hal tersebut. Ia pun tak bisa menyembunyikan kekecewaannya di wajahnya.
"Apa El tahu, apa yang dikatakan orang-orang mengenai El selama ini?" tanya ibu.
"Mereka berkata kalau El adalah seorang g*y. Beberapa orang bergosip kalau El itu mandul, barulah memilih untuk tidak menikah. Apa El tahu bagaimana perasaan ibu saat mendengarnya?"
El tertegun mendengar hal tersebut. Perlahan ia membalikkan tubuhnya sampai menghadap sang ibu. Sepasang alisnya mengkerut karena amarah, serta kedua tangan yang mengepal keras.
"Kadang kala, ibu khawatir kalau hal itu benarlah terjadi. Dan itu amat menyakiti perasaan ibu." Ibu mulai menitikan air mata sambil menundukkan kepalanya.
El kemudian memeluk ibunya dan berkata, "baiklah, El akan segera menikah. El janji pada ibu."
Hari berganti.
Setelah mengantar Damian pergi ke sekolah, Rose pun pergi ke kantor setelah berusaha melupakan apa yang terjadi kemarin.
Ketika tiba di kantor, sepertinya tuan Presdir sedang menunggu kedatangannya.
Mendapati sikap acuh tak acuh Rose, El berinisiatif untuk bangkit dari tempat duduk sebelum akhirnya menghampiri wanita itu dengan beberapa lembar kertas di tangannya.
"Berapa banyak uang yang kau inginkan untuk menandatangani kontrak ini?" tanya El sambil melempar kertas ke atas meja.
Rose mempertahankan sikap tak acuhnya. Dia beranjak dari tempat duduk dan menghampiri rak berisi beberapa berkas pekerjaannya.
"Apa jika aku menginginkan perusahaan ini, Tuan akan memberikannya padaku?" tanyanya.
"Heh! Aku menghargai keberanianmu," kata El.
"Terima kasih."
Keadaan pun menjadi hening seketika. Namun tidak setelah terdengar langkah kaki menghampiri Rose. Hingga tidak terasa, El kini sudah berada di belakang Rose. Dia menempelkan tangan pada rak dan menahan Rose dalam kungkungannya.
"Bagaimana dengan 100 miliar, sebuah rumah dan beberapa mobil mewah?" bisiknya.
__ADS_1
Rose terdiam sejenak, kemudian membalikkan tubuhnya. Tatapannya sangat tenang dan bahkan terdapat aura menantang, hal itu membuat El tertarik.
"Cukup menarik. Sayangnya, aku tidak begitu menginginkannya," kata Rose.
"Ah, begini saja. Bagaimana jika ... Tuan cari wanita lain saja," lanjut Rose sambil memasang senyuman palsu. Tak hanya itu, Rose bahkan mendorong halus tubuh El agar bisa membuatnya pergi.
Mendapati perlakuan seperti itu, El mengernyitkan dahinya. "Aku percaya bahwa di dunia ini tidak ada wanita yang tidak mencintai uang. Namun itu dulu. Wanita ini ...." Ia melirik Rose. "... menarik!"
Namun ini bukan waktunya untuk mengagumi. Bagaimanapun caranya, El harus membuat Rose menerima perjanjian tersebut.
"Setidaknya beritahu aku, mengapa kau menolak tawaran yang aku berikan sedangkan kau tahu bahwa jika kau menerimanya, tidak hanya sebuah kehormatan yang akan kau dapat, namun juga kekayaan!"
"Tuan, sepertinya kau salah paham. Tidak semua orang menyukai uang dan ketenaran," kata Rose sambil duduk di kursinya.
"Kalau begitu, mungkinkah kau sudah memiliki seorang kekasih? Atau bahkan tunangan?" El melangkah menghampiri.
"Tidak juga," balas Rose yang membuat El semakin penasaran.
Upaya El untuk memaksa Rose menandatangani kontrak itu hampir buntu. Di sisi lain, ia tahu betul kalau dia tidak bisa mundur setelah apa yang sudah dilakukannya.
Bagaimanapun caranya. Meski dengan sebuah ancaman.
El berdiri di depan meja kerja Rose. Dengan tatapan dingin ia membungkukkan badannya lalu menarik dagu Rose dengan tangannya hingga wajah mereka saling berhadapan.
"Bagaimana jika ... aku menemui sanak keluargamu dan kembali membicarakan hal ini dengan mereka? Aku yakin aku bisa membuat mereka menyetujuinya!"
Rose menyadari ancaman El tersebut.
"Sepertinya kau type seseorang yang tidak mudah menyerah, bukan?" tanya Rose.
"Lebih tepatnya, aku tidak mungkin tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Roselina, aku menginginkanmu menandatangani kontrak pernikahan ini dan menjadi istriku!"
Sosok El yang sebenarnya seolah-olah muncul. Rose menyadari seberapa besar kekuatan El hanya dengan melihat matanya saja. Benar-benar aura yang sangat menyeramkan.
Untuk memecah suasana menegangkan tersebut, Rose menepis tangan El dan bersikap seperti wanita lemah.
"Apa setelah mendengar kenyataannya, Tuan masih bersedia?" tanya Rose sambil memegangi dagunya yang sempat dicengkeram ringan oleh El.
__ADS_1
"Kenyataan seperti apa?" tanyanya.
"Kenyataan seperti ... sebenarnya aku adalah seorang single parent dan memiliki seorang putera. Apa kau masih tetap bersikeras untuk menjadikanku istrimu?"