Assassin X Family

Assassin X Family
Bertemunya mereka


__ADS_3

Tibalah di sebuah ruangan yang di setiap sudutnya terdapat sebuah rak buku. Ibu yang masuk lebih dulu kini telah duduk di sebuah sofa di pojok ruangan. Di belakang, El datang menghampirinya.


El berjalan pelan sambil menatap raut wajah murung ibunya. Ia menerka-nerka isi pikiran sang ibu.


"Melihat dari raut wajah, hal serius apa yang ingin ibu bicarakan denganku?"


"Putus dengannya, El! Jangan nikahi dia!" Ibu menyerobot. Masih dengan kepala tertunduk dan wajah penuh cemas dan keraguan.


El terkejut mendengar penuturan ibunya tersebut. Bagaimana bisa ibu yang tadinya sangat menyetujui pernikahannya, tetiba berubah 180 derajat.


Sebelum menjawab ucapan ibu, El berjalan menghampiri sofa di hadapan ibu lalu terduduk.


"Apa kau tidak berniat memberitahu sesuatu pada ibu?" Belum El mengatakan sesuatu, ibu mendahuluinya dengan sebuah pertanyaan yang lagi-lagi membuat El tertegun.


"Apa yang ibu katakan?" tanya El.


Ibu menghela napas kasar kemudian ia menjawab, "kenapa El tidak memberitahu ibu kalau pacar El adalah seorang janda? Ibu ... Ibu tidak mau El menikah dengannya! Cari yang gadis. Di luar sana masih banyak yang lebih baik!"


El mengernyitkan dahinya.


"Dari mana ibu tahu mengenai hal ini?" tanyanya.


"Itu tidak penting! Ibu ingin hubungan kalian segera berakhir, dan ibu akan memilih wanita lain untuk El nikahi!"


"Tapi, Bu. El tidak bisa melakukannya!"


"Apa kau begitu mencintainya sampai berani membangkang pada ibu seperti ini?"


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat El diam tak berdaya. Berulang kali ia menghela napas kasar, menunjukkan kekacauan dalam dirinya.


Namun mungkin ini ada baiknya. Roselina juga menolak pernikahan tersebut, pikir El saat itu. Ia kemudian menjawab dengan anggukkan kepala, "baik." Simple namun berhasil membuat ibu merasa lega.


"Tapi mengenai wanita pilihan ibu, aku tidak setuju." El beranjak dari tempat duduknya. "Karena bagaimanapun, tidak mudah melupakan seseorang yang kita cintai. Benar, bukan?" El mulai berjalan ke arah pintu.


"Ini sudah malam, sebaiknya ibu lekas beristirahat. Aku pergi dulu." Dia membuka pintu kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan ibu yang kini bisa bernapas dengan lega.


Hari berganti. Ini kali pertama Rose cuti kerja dengan alasan bahwa dirinya sedang sakit.


Pada siang hari yang cukup terik, seorang anak laki-laki tampan memakai seragam sekolah, berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi ke langit.


"Light Andrean, seorang pengusaha muda yang sangat mapan. Ia cukup tampan untuk menjadi ayahku. Aku pikir aku memiliki beberapa kemiripan dengannya. Entah ini benar atau hanya sebuah perasaan saja."


Ia mulai melangkahkan kaki mungilnya dengan perlahan, menuju kerumunan orang-orang di depan sana.

__ADS_1


"Aku menyadap ponsel ibu yang mengatakan kalau dia akan pergi bertemu dengan seseorang. Itu berarti, ia tidak pergi bekerja hari ini. Suatu kesempatan yang sangat bagus," batin Damian.


Pada akhirnya, langkah membawanya ke depan meja resepsionis. Damian berjinjit lalu berkata, "selamat siang, kakak cantik."


Nona resepsionis terkejut mendengar suara yang entah dari mana datangnya. Setelah menyadari bahwa itu berasal dari seorang anak kecil, ia pun mendekat.


Betapa terpesonanya wanita itu dengan paras tampan Damian, sampai sepasang matanya membelalak dengan mulut sedikit menganga. Tak hanya dia seorang, namun beberapa orang di sekitar bereaksi sama.


"H-hallo, adik kecil. Apa kau tersesat?" tanya nona resepsionis.


"Oh, aku pikir dia sedikit mirip dengan tuan Presdir kita," kata seseorang. Orang-orang mulai mengamati dan menyetujui ucapan orang tersebut.


"Presdir? Apa maksud mereka Light Andrean itu?" batin Damian.


Damian memasang wajah polos kemudian bertanya, "apa hari ini pak Presdir ada di kantor? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Bisakah antar aku bertemu dengannya?"


"Tentu saja. Ayo, biar kakak antar." Nona resepsionis meraih tangan Damian kemudian membawanya pergi bertemu El.


Saat itu bertepatan dengan jam makan siang kantor. Baru saja El beserta Asistennya hendak keluar dari ruangan, mereka dikejutkan dengan kemunculan Damian dan Nona resepsionis di depan pintu.


Mereka pun terkejut bukan main melihat wajah Damian. Bagi El, hal itu seperti nostalgia saat dirinya masuk kanak-kanak. Rambut, warna pupil mata, serta bentuk wajah dengan 85% kemiripan dengannya.


"S-selamat siang, tuan Presdir. Aku---"


El menghargai keberanian anak laki-laki tersebut. Di sisi lain, beberapa pertanyaan mulai mengganjal, memenuhi ruang pikirnya. Ia pun menyetujui ajakan Damian. Dia membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah ke dalam.


"Belikan aku makan siang!" perintahnya pada Asistennya.


"Baik, Tuan."


Asisten keluar dari ruangan, sementara Damian masuk. Begitu pintu tertutup, dari kedua orang itu tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.


Di dalam. El duduk di sofa sedangkan Damian berdiri di hadapannya.


"Siapa kau?" tanya El, langsung pada intinya.


"Tuan Light Andrean, sebelumnya terima kasih karena telah bersedia berbicara denganku. Aku Damian, putera dari sekretarismu, Roselina," kata Damian dengan kedua tangan memegang erat tali tas.


"Dia ... putera Roselina?" batin El dengan tangan bertumpu di dagunya yang runcing.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya El.


Damian terdiam sejenak. Masih dengan tatapan yang sama, perlahan dia mulai menghela napas panjang. Segala bentuk keberanian dia kumpulkan di satu titik di lidahnya.

__ADS_1


"Tuan, jadilah ayahku!" Sampai akhirnya kalimat tersebut keluar dari mulutnya.


El kembali terkejut. Terkejut sampai seperti orang bodoh raut wajahnya. Bagaimana tidak, seorang anak laki-laki datang dan langsung memintanya menjadi ayahnya.


"A-apa yang---" Untuk berbicara pun sampai terbata-bata.


"Tuan El, ibuku sangat cantik. Dia memiliki beberapa bakat yang sangat menakjubkan. Pintar di bidang akademis, dan juga memiliki fisik yang bagus. Menikahlah dengannya!"


Pernyataan tak tahu malu itu kembali terucap. Kini bahkan sembari membungkukkan badan sebagai tanda permohonan.


"Aku memiliki kecocokan dengannya hanya dengan melihat wajahnya saja. Dia ... harus jadi ayahku! Tidak peduli apapun lagi!" batin Damian.


Sementara itu, El hanya menghela napas kasar sambil memijat ringan kepalanya. Beberapa masalah yang muncul akhir-akhir ini benar-benar membuatnya hampir gila.


Namun jika dilihat kembali, wajah Damian memberinya perasaan yang tidak asing baginya. Ia menjadi tidak tega ketika sempat berpikir untuk menelpon security untuk mengusir Damian.


"Dengar, sebagai anak kecil bagaimana bisa kau melakukan hal itu?" tanyanya.


Damian tertegun. Seperti skenario yang sudah dia hapal semalam, dia pun mulai melakukan akting.


"Ibu hidup sebatang kara, sedangkan ayahku sudah lama meninggal dunia. Aku tidak tega melihatnya harus bekerja begitu keras. Beberapa pria yang mengejarnya, aku tidak merasakan kecocokan. Tapi saat melihatmu, kau sangat tampan dan map--baik hati. Jadi, aku berpikir untuk berlaku demikian seperti sekarang ini," jelas Damian.


El tertawa sinis. "Apa kau tahu, sebenarnya ibumu sudah menolak lamaranku," kata El.


"A-apa? B-bagaimana bisa?" Damian melotot tak percaya.


El berdiri lalu menghampiri Damian. Di hadapannya, dia kemudian berjongkok.


"Kau bisa menanyakannya sendiri pada ibumu."


Tak lama, Asisten telah kembali dengan membawa makan siang El.


Menyadari hal itu, El mengelus rambut Damian sambil berkata, "Kau boleh pulang sekarang. Tidak baik seorang anak kecil berkeliaran di kota besar. Karena kau putera dari sekretarisku, akukan menyuruh seseorang untuk mengantarmu pulang."


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Seperti ada kekecewaan di hati Damian. Namun entah itu apa. Saat ia berbalik, seperti ada perasaan tidak rela berpisah dengan El. Perasaan yang sangat aneh itu menghinggapi keduanya.


Namun akhirnya, Damian pergi. El berdiri dengan wajah serius. Dia mengangkat genggaman tangannya kemudian membukanya dengan perlahan. Terdapat beberapa helai rambut di sana. Milik Damian.


"Lakukan tes DNA dengan rambut ini," kata El sambil menyerahkan rambut Damian dan miliknya kepada Asistennya.


"T-tuan, Anda ...." Asisten tak melanjutkan ucapannya. Setelah meletakkan makanan di meja, dia pun lekas pergi untuk melakukan apa yang diperintahkan El padanya.


El masih berdiri dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. Sebuah tanda tanya besar pun menepi di hatinya.

__ADS_1


"Semoga ... ini hanya firasatku saja."


__ADS_2