Assassin X Family

Assassin X Family
Yang kembali


__ADS_3

Sebuah genggaman tangan menjadi pemandu saat hanya kegelapan yang dilihatnya. Langkah pun menjadi sangat hati-hati dengan perasaan takut dan khawatir.


"Kemana kita akan pergi?" tanyanya.


"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi," imbuh lainnya.


Ia menerka-nerka, saat ini dirinya tengah menaiki anak tangga. Entah apa yang sedang direncanakan pria itu untuk dirinya.


Tak berselang lama, mereka tiba di sebuah atap gedung tanpa atap. Tak jauh dari sana terdapat sebuah ukiran bunga mawar berbentuk hati di lantai, lengkap dengan beberapa lilin yang menerangi di sekitar.


Si pria kembali menuntun wanita yang kedua matanya tertutup sehelai kain merah. Sampai akhirnya langkah mereka terhenti di depan ukiran bunga tersebut.


"Kau sudah boleh membukanya, Ireena," kata pria itu.


Ireena yang sudah merasa tak sabaran akhirnya melepas kain dari matanya dengan satu tarikan. Rambut cantiknya terhempas tertiup hembusan angin malam. Yang lebih mengejutkan adalah apa yang dia lihat di hadapannya.


Ireena tak mampu berkata-kata dengan mata membelalak dan kedua tangan menutupi mulut yang menganga. Ia merasa sangat senang, senang yang tak bisa digambarkan hanya dengan kata-kata.


"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap pria di sampingnya.


Perlahan kedua mata Ireena berkaca-kaca. Dia melirik pria di sampingnya dan langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Terima kasih, El. Aku senang sekali. I love u," katanya.


El membalas pelukan sembari menghirup aroma tubuh kekasihnya tersebut. Sangat candu. "I love u too," balas El dengan suara lirih.


Keduanya melepas pelukan. Saling menatap dengan senyum kebahagiaan. Dibalik itu, El merasa sangat gugup karena dia akan melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat Ireena lebih terkejut lagi.


Ia mengatur laju napasnya yang sempat menggebu. Menghilangkan keraguan yang sempat berkecamuk di dalam ruang kepala. Sampai akhirnya mulai berlutut sambil merogoh saku celananya.


El berlutut di hadapan Ireena dengan sebuah kotak perhiasan berisi cincin berlian yang sangat cantik, ditunjukkan El padanya.


Namun, raut wajah terkejut Ireena perlahan berubah. Ia menatap El dengan tatapan bingung, bukannya senang atau gembira.


"Apa maksudnya ini, El?" tanyanya.


"Ireena, menikahlah denganku." El langsung mengutarakan maksudnya. Menurutnya, tidak heran. Karena hubungan yang sudah dijalin cukup lama, dan Ireena sudah cukup umur kini.


Sayangnya, Ireena menunjukkan reaksi lain. Ia memalingkan wajahnya dan terlihat gusar.


"El aku ... kau tahu kalau aku sangat ingin menjadi model internasional. Jadi, aku ingin fokus dengan cita-citaku dulu," kata Ireena.


"Aku tahu. Jika kau belum ingin menikah, kita bisa bertunangan, bukan?"

__ADS_1


"Tidak El!" Penolakan Ireena membuat El terkejut.


"Apa mimpimu lebih penting daripada aku?"


"Benar!"


Kini, wanita yang menolaknya dulu hadir di hadapannya lagi. Tak banyak yang berubah darinya. Sepasang mata itu masih sama dengan mata yang pernah menatapnya dengan penuh cinta dulu. Rambut yang sering ia belai serta aroma tubuh yang khas darinya. Tidak ada yang berubah.


Sebuah nostalgia yang tidak akan pernah ia lupakan. Seperti bagaimana dengan kejamnya wanita itu meninggalkannya tanpa memikirkan perasaannya. Dengan tidak tahu malu masih berani menampakkan diri di hadapannya.


El tersadar bahwa saat itu Rose dan Yona masih di sana. Dia memberikan isyarat dengan tatapan mata, membuat Yona lekas mengundurkan diri dari ruangan tersebut.


"Siapa wanita itu? Kekasihnya?" batin Rose menyaksikan hal itu. Namun ia menghentikan pemikirannya kemudian menyusul Yona meninggalkan ruangan.


Setelah kepergian mereka, El lantas mendorong tubuh Ireena menjauh darinya. Perlakuannya tersebut tentu membuat sang mantan terkejut bukan main.


"Apa yang kau lakukan di sini, Ireena?" El mengulangi pertanyaannya.


"Apa yang kau katakan? Tentu saja aku ingin menemuimu. Ini sudah sangat lama, El. Apa kau merindukanku?" tanyanya. Ia benar-benar tidak tahu malu.


El menyandarkan tubuhnya ke kursi sementara Ireena duduk bersandar ke meja kerja.


"El, kenapa kau tidak membalas pesanku beberapa tahun ini? Apa kau sudah tak mencintaiku lagi?"


"Ireena!"


Mendengar pernyataan tersebut, Ireena terkejut bukan main. Ia terlihat sangat sedih mendengarnya keluar dari mulut El.


"El, bukankah aku sudah memberitahumu kalau aku ingin mengejar impianku terlebih dahulu?"


"Aku memang sedikit terkejut dengan lamaranmu, tapi bukan berarti aku tidak menginginkannya. Sehari setelahnya, aku pergi ke luar negeri. Aku sangat bekerja keras demi impianku dan aku berhasil. El, aku sudah kembali," jelas Ireena, meyakinkan El.


El tidak mengerti dengan perasaannya. Jujur saja, perasaan yang dulu sangat dalam, kini tidak ada lagi untuknya. Melihatnya berada di depan mata tak memberinya debaran apapun lagi.


Melihat El hanya diam dengan tatapan dingin, itu membuat Ireena takut. Pria di hadapannya berbeda dari yang dulu selalu menatapnya dengan cinta.


Ireena menegakkan tubuhnya lalu menggenggam kedua tangan El sambil berkata, "maafkan aku, El. Seharusnya waktu itu aku tidak meninggalkanmu. Tapi aku mohon percayalah. Aku masih mencintaimu meski sudah bertahun-tahun lama."


"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya El.


"Kita kembali seperti dulu. Dan kini aku bersedia bertunangan denganmu. Aku sangat menantikan cincin yang kau bawa malam itu melingkar di jari manisku," kata Ireena.


Tiba-tiba El menarik tangannya.

__ADS_1


"Maaf, Ireena. Sebenarnya aku sudah menikah."


Pengakuan El membuat Ireena terkejut bukan main. Kedua matanya membelalak sempurna dengan mulut menganga. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Apa yang kau katakan? Kau pasti berbohong! Aku bahkan tidak melihat cincin pernikahan di jarimu," kata Ireena.


Keduanya sontak memandang jari tangan El. Pernikahan yang secara tiba-tiba membuatnya tak mempersiapkannya dengan baik. Dia bahkan tak memberikan cincin pernikahan untuk istrinya.


"Aku menyimpannya di suatu tempat," alasan El.


Ireena tetiba memasang senyuman namun dengan rakyat wajah yang aneh. Dia berkata, "dari dulu kau sangat tidak pandai berbohong, El. Jangan balas dendam dengan mengatakan hal itu. Aku sangat terluka."


Tentu saja dia tidak akan mempercayainya dengan mudah. El juga tak memiliki apapun untuk menjadi bukti. Terlebih, dia memang tidak ingin memberitahukan apapun mengenai pernikahan dan siapa istrinya. Kepada Ireena maupun orang lainnya.


Tak berselang lama, El beranjak dari tempat duduknya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam istirahat kantor.


"Ini sudah saatnya makan siang. El, bagaimana kalau kita pergi ke restoran favorit kita dulu?"


"Aku masih banyak kerjaan."


Ireena menghampiri El kemudian menggandeng tangannya. "Tidak apa-apa. Hanya sebentar saja, kok. Kau tahu, aku sangat merindukan makanan di sini. Aku ingin---"


"Ireena! Aku benar-benar tidak bisa!" ujar El sambil melepaskan diri.


Ireena kembali terkejut melihat sikap dingin El padanya. Ia sangat sedih namun mencoba memahaminya.


"Begitu, kah? Baiklah," kata Ireena.


El masih saja diam sembari memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Ireena. Hal itu membuat Ireena tahu bahwa ia harus segera pergi.


"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu lagi. Tapi El, lain kali kau tidak boleh menolak ajakanku, ya."


El tak menjawab.


"Aku ... pergi dulu." Ireena mulai melangkahkan kaki dengan langkah berat. Setiap langkah yang diambilnya ia selalu menoleh, berharap El melihatnya. Namun itu sia-sia.


Sampai akhirnya tubuh wanita itu menghilang dari pandangannya. El menghela napas panjang sambil memejamkan matanya. Kemunculan Ireena benar-benar telah mengejutkannya.


Di luar, Ireena tidak sengaja berpapasan dengan Rose. Ia sempat menghentikan kakinya untuk melihat sekilas raut wajah Rose. Sementara Rose tak menghiraukannya dan terus melangkahkan kaki, lalu memasuki ruangan El.


Setibanya di dalam setelah menutup rapat pintu. Tiba-tiba saja El berdiri di hadapannya dan langsung memeluknya.


Rose yang terkejut lantas memberontak sambil berkata, "apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Namun El malah semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Biarkan seperti ini, sebentar saja," pintanya.


Hati Rose tergerak. Tanpa sadar ia menuruti perkataan El dan menghentikan tindakannya. Ia seperti memahami perasaan El saat itu. Entah mengapa.


__ADS_2