Assassin X Family

Assassin X Family
Siapa Ayahnya


__ADS_3

6 tahun berlalu sekejap mata berkedip. Pagi itu, Mery tiba di Bandara sambil tergesa-gesa. Ia merasa gugup, namun di sisi lain sangat senang karena akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama ia rindukan.


"Akhirnya aku akan bertemu dengan Kak Rose lagi!" Senyum tak lepas dari bibir tipisnya. Matanya dengan tajam mencari ke sana kemari sosok itu.


Kemudian, pandangannya terhenti pada sesuatu. Ia terdiam dengan pupil mata yang kian melebar, seperti itu pula kesenangan di hatinya.


"Kak Rose!" serunya pada seorang wanita berambut panjang yang tengah menyeret sebuah koper. Ia lantas menghampiri dengan langkah cepat. Sesampainya, Mery langsung memeluk Rose dengan penuh kerinduan.


Rose melepas kacamata hitamnya, barulah membalas pelukan Mery sambil berkata, "kau tidak banyak berubah, Mery. Apa sekarang sudah punya pacar?" celetuk Rose membuat raut wajah Mery berubah seketika.


"Aku tidak butuh pacar. Ah~ akhirnya bisa bertemu kakak lagi! 6 tahun yang sangat lama!" balas Mery.


Rose tersenyum lalu melepaskan pelukannya dari Mery. "Mery, ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu," ucapnya. Dia menoleh ke belakang, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.


"Nah, Damian, ayo, sapa bibi Mery."


Mery tertegun, juga bingung diwaktu yang sama. Namun tak lama, seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Rose. Dia sangat tampan dan mempesona di usia mudanya.


"Hallo, bibi Mery."


Pupil matanya melebar dengan sangat cepat, wanita berusia 24 tahun itu benar-benar telah jatuh cinta pada seorang anak laki-laki yang baru berusia 5 tahun tersebut.


Tak lama, Mery berjongkok di hadapan Damian lalu memeluknya dengan penuh semangat. "Ya ampun! Apa ini? Aku telah jatuh cinta!" katanya sambil menggesekkan pipinya ke pipi Damian.


"Hentikan! Ibu, tolong aku!" teriak Damian sambil berusaha melepaskan diri dari Mery.


"Mery, sudah cukup." Rose menghela napas kasar melihat tingkah Mery. "Apa kau sudah membereskan apartemenku?" tanyanya kemudian.


"Sudah. Baiklah, kalau begitu, ayo kita pulang." Dia menggendong Damian dan langsung membawanya pergi.


Beberapa saat berlalu, mereka tiba di apartemen milik Rose 6 tahun lalu. Saat Damian tertidur karena rasa lelah, obrolan keduanya pun dimulai.


"Jadi ... paman sudah tahu tentang anakku?" tanya Rose sambil duduk menumpangkan kakinya.


Mery merapatkan kedua lututnya sambil menunduk. Terlihat jelas penyesalan tergambar di raut wajahnya. "Maaf, kak Rose. Paman terus mendesak. Aku tidak punya pilihan lain dan akhirnya menceritakan yang sebenarnya," akunya.

__ADS_1


"Tapi, setelah aku menceritakan semuanya, tak sedikitpun paman menunjukan reaksi marah atau kesal, kak. Dia bahkan sering menanyakan kabarmu akhir-akhir ini," sambungnya.


"Ya, kemudian dia memintaku pulang, bukan?" tanya Rose. Mery hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Rose.


"Dia juga tahu kepulangannmu hari ini, dan ... memintamu untuk pulang menemuinya," kata Mery.


Rose menghela napas kasar lalu menengadahkan kepalanya, bersandar ke sofa.


"Ah! Aku sudah menduga hal ini akan tiba, dan aku tidak bisa mengelak lagi, bukan?" tanyanya. "Baiklah, Mery. Kembalilah. Beritahu paman kalau nanti malam aku akan datang berkunjung ke rumahnya," lanjutnya.


Mery terkejut mendengar ucapan Rose. "Benarkah?" Ia memasang wajah terkejut sambil menatap lurus ke arah Rose. Sementara Rose hanya membalas dengan anggukkan kepala.


Setelah itu, Mery pergi dan menyampaikan pesan Rose kepada paman. Paman sangat senang mendengar hal tersebut dan meminta beberapa pelayan rumah menyiapkan makan malam yang enak untuk keponakannya.


Lalu, malam pun tiba.


Rose tiba di rumah besar paman Will dengan dress hitam serta rambut yang diikat rendah. Ia sempat ragu karena harus meninggalkan Damian sendiri di apartemen. Untungnya ada Mery yang bisa diandalkan.


Setelah beberapa kali menghembuskan napas berat, dia pun mulai melangkahkan kaki, memasuki kediaman pamannya. Beberapa penjaga menyambut dan membukakan pintu untuknya.


Rose masuk ke dalam rumah bersama paman Diego. Ia langsung diantar ke ruangan pribadi dimana paman sedang menunggunya kini.


Tok! Tok!


"Tuan, Nona sudah di sini," kata paman Diego.


Tak ada jawaban apapun, paman Diego kemudian membuka pintu secara perlahan. Lalu mempersilakan Rose untuk masuk ke dalam.


Di dalam, paman berdiri melamun di dekat jendela sambil menatap ke luar. Entah ia menyadari kehadiran Rose atau tidak.


"Lama tidak bertemu, paman," sapa Rose.


Paman terdiam sejenak. Menoleh lalu membalikkan tubuhnya perlahan. Sambil tersenyum dia berkata, "Mawar-ku, kau akhirnya mau menemuiku." Sambil melangkahkan kaki mendekati Rose.


Kendati gembira, Rose malah memasang wajah menyesal sambil menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, paman. Beberapa tahun ini ...."

__ADS_1


"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu, paman tidak marah," kata paman. "Duduklah, Rose. Ada yang ingin paman bicarakan," lanjutnya sambil berjalan menuju sofa. Rose membuntuti dari belakang, lalu duduk bersama.


Sempat terjadi keheningan beberapa waktu, sampai akhirnya paman kembali memulai obrolan.


"Kau ... tidak mengajak cucuku kemari?" tanya paman.


"Dia kelelahan dalam perjalanan, dan sedang beristirahat saat ini. Lain kali, aku akan membawanya untuk bertemu dengan paman," balas Rose.


Paman menganggukkan kepala, dan kembali berkata, "setidaknya beritahu siapa namanya."


Rose terdiam. Sedikit ragu untuk menjawab, namun akhirnya memberitahukannya dengan singkat. "Damian."


"Nama yang bagus," kata paman sambil tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Keheningan kembali terjadi di sana. Benar-benar canggung setelah 6 tahun lamanya tidak bertemu.


"Baiklah, Rose. Paman tidak ingin berlama-lama dan akan menyampaikannya padamu. Ini tentang misi-mu selanjutnya," ucap paman. Dia meraih telinga cangkir lalu menyeruput teh hangat yang disajikan pelayan beberapa saat yang lalu.


"Misi?" Rose menyipitkan sepasang matanya.


"Kenapa kau terkejut seperti itu? Apa 6 tahun telah membuatmu lupa akan statusmu?" tanya paman. Rose hanya diam tak menjawab.


Paman menghela napas kasar.


"Dua tahun yang lalu, ditemukan brangkas di sebuah pulau tak berpenghuni yang menyimpan harta tak terhingga. Brangkas tersebut terbuat dari material besi yang sangat sulit dihancurkan, bahkan nyaris tidak bisa dihancurkan. Hanya saja, terdapat sebuah lubang yang diduga menjadi kunci terbukanya brangkas tersebut," jelas paman.


"Dalam waktu tersebut, paman mencari tahu tentang pemilik kunci brangkas tersebut. Kemudian, sebuah informasi mengatakan kalau pemilik kunci tersebut adalah seorang pengusaha muda dari keluarga Andrean."


"Jadi?" tanya Rose waspada.


"Jadi, paman ingin kau mendekati pengusaha itu dan mendapatkan kunci brangkas tersebut. Bagaimana, Rose. Apa kau menerimanya?" tanya paman.


Rose tak menjawab. Mengingat setiap misi memiliki resiko tersendiri dan dia harus benar-benar memikirkannya dengan matang. Terlebih saat ini, dia tidak sendiri. Ada seseorang yang bergantung hidup padanya.


"Paman tahu apa yang kau resahkan. Jangan khawatir, paman akan menjamin keamananmu dan putramu. Dan paman jamin ini adalah misi-mu yang terakhir. Setelah itu, kau bisa hidup normal seperti yang kau inginkan. Bagaimana?" tawar paman.

__ADS_1


"Baik, aku setuju!"


__ADS_2