Assassin X Family

Assassin X Family
Sebuah harapan dan penghinaan


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, Rose tidak pernah pergi ke kantor lagi. Ia bahkan mengundurkan diri dari pekerjaannya namun tak lekas disetujui oleh El. Pria itu tampak tak ingin melepaskannya dengan mudah.


Rose menghabiskan waktunya di rumah, mengantar jemput Damian sekolah, serta menemaninya mengerjakan tugas sekolah.


Siang itu, di apartemen. Ponsel yang berdering di atas meja memecah keheningan. Rose menghentikan sejenak jari jemarinya dari atas keyboard laptop, lalu mengalihkan pandangannya pada benda berbentuk pipih tersebut.


"Kak Nathan?" Nama tersebut yang ia dapati dari layar ponselnya.


Alih-alih langsung menerima panggilan, Rose malah terdiam. Ia merasa cukup ragu untuk berbicara dengan Nathan setelah apa yang terjadi sebelumnya. Namun akhirnya, Rose memberanikan diri dan menerima panggilan dari Nathan.


"Hallo, Kak Nathan?" sapanya dengan suara rendah.


"Rose, bagaimana kabarmu?" tanya Nathan.


Rose terdiam sejenak, beberapa saat kemudian menjawab, "cukup baik. Bagaimana denganmu, Kak?"


"Sangat baik," jawab Nathan.


"Mm ... apa kau masih ingat dengan cafe di ujung kota yang sering kita datangi bersama dulu? Saat pergi ke luar kota aku tidak sengaja melihatnya. Tempat itu tak banyak berubah, dan itu membuatku bernostalgia. Apa kau hari ini ada waktu? Bisa kita bertemu di sana?" sambungnya.


Lagi-lagi Rose terdiam ragu. Ia mengalihkan pandangannya ke beberapa arah berbeda sambil mengubah posisi duduknya. Sesekali ia menghela napas berat.


"Kak Nathan, aku---"


"Bagaimana kalau kita pergi bersama? Aku akan menjemputmu kemudian menjemput Damian di sekolah. Ini sudah hampir jam pulang sekolah, bukan?" Ia memaksa.


"Tidak perlu jemput. Kita bertemu di sana saja. Hari ini ... Damian ada pelajaran tambahan dan mungkin akan pulang petang nanti," kata Rose.


"Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan menunggumu di sana."


"Mm. Aku ... Aku tutup telponnya. Sampai jumpa."


Panggilan pun berakhir dengan perasaan dilema yang dirasakan Rose. Ia tahu maksud Nathan terhadap dirinya, namun di sisi lain ia tak bisa menerimanya karena adanya Damian dan masa lalunya.


Dia meluruskan kakinya lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Kepala menengadah lalu dipandangnya langit-langit ruangan. Ia bertanya-tanya dalam hatinya.


"Haruskah aku mempercayainya? Bolehkah aku menaruh harapan padanya? Bisakah ... kita bahagia di atas semua ini?"


Beberapa waktu berlalu. Rose berdiri di belakang pintu dengan dress hitam dan model rambut di gerai. Ia bersiap memakai heels sebelum akhirnya pergi dari rumah.


Akan tetapi, saat membuka pintu ia malah mendapati pemandangan tak terduga di depan pintu apartemennya. Seorang pria berpakaian rapi berdiri tegak dengan wajah datar.


"A-apa yang kau lakukan di sini, Tuan El?" tanya Rose.


Pria itu langsung mencekal tangan Rose dan menariknya keluar sambil berkata, "menjemputmu! Kau tidak masuk kerja beberapa hari terakhir. Beberapa berkas sudah menumpuk di atas meja kerjamu!"

__ADS_1


Rose sontak menarik tangannya.


"Aku tidak ada urusan apapun lagi di sana. Tolong berhenti menggangguku!" kata Rose.


"Oh, apa itu berarti kau berniat memisahkan seorang ayah dari anaknya?"


Pertanyaan yang dilontarkan El membuat Rose terkejut.


"Roselina, aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku lagi. Meski begitu, kau masih ingin menyembunyikannya dariku? Kau egois!" lanjutnya.


"Aku pikir kau tidak berhak berkata demikian terhadapku. Lagian, kau seorang pria mapan dan kau memiliki segalanya. Hanya seorang anak, kau bisa mendapatkannya dari wanita manapun."


Mendengar hal itu membuat El mengernyitkan dahinya. Jauh dari dalam lubuk hatinya ia merasa kesal. Tersinggung, lebih tepatnya.


Tak lama ia melangkahkan kakinya mendekati Rose. Tanpa sepatah kata pun dan dengan tatapan yang sangat tajam. Mengintimidasi.


Sebagai seorang Assassin, Rose tidak pernah merasa terintimidasi seperti itu sebelumnya. Ia menjadi gugup dan khawatir tatkala tubuhnya tak bisa menahan El yang mendorongnya masuk.


"Apa aku pria seperti itu di pikiranmu?" tanyanya sambil terus melangkah.


"Hentikan itu, atau aku akan menelpon polisi!" ancam Rose. Ia mencoba mendorong tubuh kekar di hadapannya, namun itu tak berguna.


"Kau cukup berani sebagai seorang wanita. Kalau begitu, aku akan menawarkan dua pilihan padamu. Biarkan dia tinggal bersamaku ... atau kau ingin mengulang malam 6 tahun lalu, melahirkan anak kedua untukku barulah kau bisa hidup bebas dengan putra pertamaku. Bagaimana?"


"Tidak menyangka bahwa Tuan Presdir akan begitu tidak tahu malu! Tidak tahu bagaimana orang-orang akan berpikir tentangmu jika aku sampai menyebarkan rekaman suara ini."


"Kau pikir, media mana yang tidak bisa aku bungkam di negara ini?"


El mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Rose. Beruntung, sebelum itu terjadi, ponsel Rose segera berdering. Ia pikir Nathan yang menghubunginya, tapi ternyata bukan. Itu adalah nomor tidak dikenal.


Namun berkat hal itu, Rose akhirnya bisa melepaskan diri dari jeratan Presdir tidak tahu malu itu.


"H-hallo?" Rose menerima panggilan setelah berhasil mendorong mundur tubuh El dari dekatnya.


"Selamat siang, nyonya Roselina. Saya Sinta, wali kelas Damian. Apa siang ini Anda bisa datang ke sekolah?"


"Datang ke sekolah? Ada apa? Apa Damian baik-baik saja?" Penuturan Guru Sinta membuat Rose terkejut. Sementara di sampingnya, El memerhatikan dengan serius.


"Itu ... Damian berkelahi dengan beberapa kakak kelasnya. Hal itu diketahui oleh kepala sekolah dan orang tua diminta untuk datang ke sekolah. Jadi---"


"Saya akan pergi! Tolong jaga Damian sebentar, Bu Guru!"


Rose mengakhiri panggilan dengan panik setelah mengetahui apa yang terjadi.


"Ada apa?" tanya El.

__ADS_1


"Damian berkelahi dengan kakak kelasnya! Mereka pasti mengeroyoknya!"


El tak terima mendengar hal itu. Ia pun kembali mencekal tangan Rose dan membawanya pergi sambil berkata, "ayo kita jemput Damian."


Entah perasaan aneh apa yang dirasakan Rose kini. Ia menatap punggung lebar pria asing yang sama khawatir dengannya tersebut. Terlihat kepedulian di matanya. Namun itu entah nyata atau palsu.


Sementara itu, di ruang kepala sekolah.


Enam anak sekolah duduk berjajar menghadap kepala sekolah yang berbadan gendut serta berkumis tebal. Lima diantaranya terluka di beberapa bagian tubuh yang sudah dibalut perban.


Tak lama, seorang wanita gemuk dengan pakaian berwarna terang, serta perhiasan mahal yang dipakainya datang sambil menahan amarah. Ia lekas menghampiri salah satu murid diantara mereka.


"Oh, Alexander. Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu bisa babak belur seperti ini?" tanyanya.


"Itu semua karena dia!" murid laki-laki itu menunjuk Damian. "Anak haram itu yang memukulku!"


Kalimat itu ia lontarkan kembali. Membuat amarah Damian kembali memuncak. Dia berdiri dan berniat menghajar anak itu, namun guru Sinta menahannya.


"Oh, jadi dia orangnya? Dia yang membuatmu seperti ini?" tanya ibunya.


Si anak laki-laki menganggukkan kepalanya. Kemudian sang ibu menatap legam ke arah Damian, dengan tatapan menghina serta kedua tangannya dilipat di dada.


"****** mana yang sudah melahirkan anak seperti dia? Benar-benar memalukan! Apa kau seorang preman, hah?


"Nyonya Tan---"


"Pak kepala sekolah, saya tidak punya banyak waktu di sini. Saya tidak terima dengan apa yang sudah anak haram itu lakukan pada anak saya. Jadi, keluarkan dia dari selokan ini!" Ia berkata dengan sangat angkuh.


Tiba-tiba, pintu terbanting keras. Semua mata memandang ke arah yang sama dan menyaksikan seseorang masuk dengan tatapan dingin dan tajam.


"Ibu," kata Damian.


Rose tak menghiraukan puteranya. Setelah apa yang didengarnya, dia benar-benar tidak bisa menerima penghinaan tersebut.


Dia berjalan ke arah nyonya Tan dengan langkah cepat, dan segera menarik kerah pakaiannya ketika sampai di depannya.


"Bisa kau mengulangi ucapanmu ... di depanku!"


Nyonya Tan gemetaran. "Wanita ******, lepaskan tanganmu dari pakaianku!"


"Ny-nyonya Roselina, tenangkan diri Anda!" Kepala sekolah berusaha melerai mereka. Akhirnya Rose melepaskan wanita gendut tersebut.


Nyonya Tan membersihkan bagian pakaian yang disentuh Rose beberapa saat yang lalu, seperti membersihkan debu dengan raut wajah jijik.


"Menjijikan sekali! Benar-benar ****** kurang ajar! Pantas saja anak haram itu memiliki sifat sepertinya!" Ia menggerutu.

__ADS_1


"Siapa yang kau sebut anak haram?" Suara itu tiba-tiba muncul di balik pintu. Kehadirannya benar-benar membuat semua orang terkejut, termasuk Damian.


"Dia ...."


__ADS_2