Assassin X Family

Assassin X Family
Kebenaran


__ADS_3

Suatu hari, di kediaman paman Will.


Seorang pria tampan dengan jaket serta kacamata hitamnya baru saja turun dari sebuah mobil mewah. Aura yang kuat terpancar dari tubuhnya, membuat beberapa penjaga membungkuk untuk memberi hormat.


Dia berdiri tegak. Kemudian melepas kacamata dan menatap lurus ke arah mansion besar milik paman Will. Terbayang di benaknya sebuah sosok yang sangat cantik. Yang sudah lama sangat ia rindukan.


Sampai akhirnya, paman datang dan menyapa.


"Selamat siang, Tuan Nathan. Senang bisa bertemu dengan Anda setelah sekian lamanya," kata paman Diego.


Nathan menurunkan pandangannya, menatap pria tua di depannya. "Paman Diego, apa kabar?" Dia melangkahkan kaki menghampiri paman Diego.


"Sangat baik, terima kasih," imbuh paman Diego. Tak lama, dia memiringkan tubuhnya sambil mengarahkan tangannya menunjuk ke dalam.


"Mari, tuan Will sudah menunggu Anda sejak tadi pagi." Mereka pun masuk ke dalam mansion bersama.


Selama perjalanan, Nathan terus mengamati setiap sudut ruangan di mansion yang tidak berubah sama sekali sejak kepergiannya. Sebuah tempat yang selalu ia rindukan saat ia berada di luar negeri.


Kini ia kembali, dan berharap bisa bertemu dengan seseorang yang sangat dia rindukan. Seorang wanita yang sangat dia cintai melebihi hidupnya.


Akan tetapi, suatu kabar telah membuat perasaannya runtuh. Parahnya, kabar tersebut keluar dari mulut sang ayah.


"Apa? Ayah menyuruh Rose menikah dengan pria lain demi sebuah misi?" Sepasang matanya menyipit dengan tatapan tajam mengarah kepada seorang pria yang tengah asyik menghisap rokok.


"Itu hanya pernikahan pura-pura saja," jawab paman Will dengan enteng.


Paman kemudian meletakkan rokok, lalu berkata, "lagian, apa kau tidak tahu? Roselina ... 5 tahun lalu melahirkan seorang anak dari pria asing. Apa kau masih mencintainya setelah mengetahui hal itu? Atau, kau berniat untuk menjadi ayah tiri dari anak itu?"


Tidak seperti yang paman pikirkan, Nathan justru merespon pernyataannya dengan raut wajah tenang.


"Aku sudah tahu mengenai hal itu," kata Nathan membuat paman mengerutkan dahinya.


Tak berselang lama, Nathan beranjak dari tempat duduknya sambil berkata, "Ayah, aku ingin kau mencari seseorang untuk menggantikan Rose dalam misi ini."


Mendengar permintaan puteranya, paman Will hanya diam sambil memasang wajah dinginnya. "Tidak bisa!" katanya. Menolak permintaan Nathan.


Nathan tertegun mendengar jawaban ayahnya. Meski begitu, dia tak lagi mengatakan sepatah katapun kemudian memilih untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Di dalam setelah kepergian Nathan, paman Will kembali menghisap rokoknya. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menghembuskan asap rokok dengan posisi kepala menengadah ke atas.


"Nathan, kau tidak akan bisa bersatu dengannya. Sampai kapanpun. Tidak akan bisa!" gumam paman dengan suara lirih.


Sementara itu, di kantor.


Permintaan ibu yang memintanya membatalkan pernikahan, serta penolakan Rose membuat El merasa lega. Sedikitnya, hal itu memberi El kesempatan untuk bernapas lega.


Namun di sisi lain, pertemuannya dengan Damian tempo hari meninggalkan sebuah ganjalan kecil di hatinya.


Dia melirik Rose yang tengah sibuk dengan komputernya, lalu berinisiatif untuk melontarkan sebuah pertanyaan.


"Kau bilang bahwa kau memiliki seorang putera, bukan? Berapa usianya saat ini?"


Pertanyaan El membuat Rose sedikit terkejut. Rose sempat bingung dengan sikap El yang tiba-tiba menanyakan perihal puteranya.


"5 tahun." Meski begitu, Rose menjawab pertanyaan El dengan sangat simple dan jelas.


Tangan El menyentuh dagu dengan kepala mengangguk-angguk serta wajah yang sangat serius. "5 tahun, kah?"


Tiba-tiba, El membeku dengan kedua mata melotot. Sepertinya sebuah petir baru saja menyambarnya di siang bolong. "Anak laki-laki itu sangat mirip denganku. 6 tahun yang lalu di hotel. Tidak mungkin ...."


"Kau---"


Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya. Tetiba pintu dibanting seseorang dengan cukup keras. Tak lama, masuklah ibu beserta beberapa wanita dibawanya dengan langkah cepat.


El dan Rose yang terkejut lekas berdiri dan menatap ke arah ibu.


"Ibu, apa ini?" tanya El.


"Tentu saja membawa wanita untuk kau jadikan istri. El, apa kau lupa dengan janjimu? Sudahkah kau memutuskan hubungan dengannya?" tanya ibu sambil melirik tajam ke arah Rose.


El menghela napas kasar sembari memejamkan matanya. Kemudian dia berkata, "Bu, meskipun El putus dengannya, bukan berarti El akan memilih wanita lain untuk dijadikan istri dengan begitu cepat."


"Ibu tidak peduli, El. Satu hal lagi, ibu ingin El memecatnya."


Perkataan ibu membuat semua orang terkejut terutama Rose. Ia sedikit panik menghadapi masalah kecil tersebut. Di samping itu, ia tidak boleh kehilangan pekerjaan itu atau misinya akan terganggu.

__ADS_1


"Ada apa dengannya? Bukankah waktu itu ia bersikeras menyuruh puteranya menikah denganku? Mengapa cepat sekali berubah," batin Rose.


"Itu tidak mungkin, Bu. Masalah seperti ini sangat tidak pantas dikaitkan dengan pekerjaan," tolak El.


Pria itu kembali menghela napas kasar. Lalu berkata, "pulanglah, Bu. Kita akan bicarakan di rumah nanti."


"Tidak, El. Tidak sebelum kau memilih wanita yang ibu bawa dan memecatnya dari sini. Ibu tidak ingin kau menikahi seorang janda yang sudah memiliki anak."


"Memang hal salah apa jika seseorang menjadi janda?" tanya Rose.


Ibu menyipitkan matanya, kini memutar semua tubuhnya sampai menghadap ke arah Rose. Dengan kedua tangan melipat di depan dada, ibu berkata, "jangan pikir aku tidak tahu. Kau bukan hanya seorang janda, tapi seorang wanita yang hamil di luar nikah."


"Ah! Kata janda terlalu baik untukmu. Karena sebenarnya kau belum pernah menikah sama sekali, bukan? Anak itu pastilah anak haram yang tak tahu siapa ayahnya!" lanjutnya.


Betapa terlukanya hati Rose mendengar hal tersebut. Dia tak bisa menerima penghinaan itu. Rose kemudian mulai menatap ibu El dengan tatapan tajam serta kedua tangan mengepal.


Ia benar-benar tersiksa ketika harus menyembunyikan identitasnya. Karena kalau tidak, beberapa pisau mungkin sudah menancap di tubuh wanita paruh baya di depannya tersebut. Atau mungkin dengan hidung dan mulut yang mengeluarkan darah karena racun.


Suasana menegangkan pun terjadi di sana. Beruntungnya, hal itu tak berlangsung lama setelah suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka.


Semua mata tertuju ke arah pintu, yang mana di sana sudah berdiri Asisten Yona dengan sebuah map di tangannya.


"Tuan, hasilnya sudah keluar," katanya.


Asisten Yona melangkahkan kakinya masuk, menghampiri El lalu memberikan map tersebut kepadanya. Di saja, El langsung membuka map dan mengeluarkan selembar kertas. Kemudian dia mulai membacanya perlahan.


Semua orang terheran menatap El. Terlebih saat perlahan ekspresi El mulai berubah. Raut wajah terkejut ditunjukkan olehnya. Sedetik kemudian, dia menundukkan kepalanya dengan raut yang sulit dijelaskan.


"Ada apa, El?" tanya ibu mengkhawatirkannya.


El tak menjawab dan malah melangkahkan kaki. Tujuannya sangat jelas, yaitu wanita dengan kemeja hitam serta rok setinggi lutut di suatu sudut ruangan tersebut.


Sampai akhirnya, langkah terhenti di hadapan Rose. Ia pun kembali mengangkat kepalanya dan menatap Rose. Mereka saling menatap satu sama lain. Kemudian El menyerahkan kertas tersebut.


Rose mengernyitkan dahinya. Meski ragu, ia akhirnya mengambil kertas tersebut dan mulai membacanya.


Alangkah terkejutnya dia. Seakan tidak percaya, dia menengadahkan kepalanya menatap El. Di sana, El menganggukkan kepalanya. Namun Rose malah menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak mungkin!" sangkal Rose.


"Beberapa hari yang lalu, seorang anak laki-laki datang menemuiku. Ia mengaku sebagai puteramu. Anehnya, ia memiliki paras yang sangat mirip denganku saat aku masih kecil dulu. Hal itu sangat menggangguku. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk melakukan tes DNA. Ya, hanya sebuah firasat saja. Namun, apa sekarang? Roselina, apa dia ... puteraku?"


__ADS_2