
Beberapa waktu berlalu.
Rose akhirnya membuka mata. Ia melihat langit-langit ruangan yang nampak asing, kemudian bangun dan duduk secara perlahan sambil memegang kepalanya yang terasa nyeri.
"Di mana ini?" gumamnya.
"Kau sudah sadar?" Suara bariton mengejutkannya. Segera, matanya tertuju pada asal suara. Pada seorang pria yang duduk di kursi sambil menumpangkan kakinya.
Melihatnya membuat Rose mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya, yang membuat ia sampai jatuh tak sadarkan diri. Kejadian memalukan itu membuat Rose menunduk malu.
"Aku tidak percaya. Bisa-bisanya aku tak sadarkan diri hanya karena pernyataan ... pernyataan konyol pria itu!" batin Rose.
Ia menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan El. Sorot matanya menangkap jam dinding yang menunjukkan pukul 11 siang, dan dia segera menurunkan kakinya dari ranjang dengan tergesa.
"Damian mungkin sudah pulang sekarang. Aku harus segera menjemputnya," gumam Rose dalam hati.
Melihat gelagat Rose yang hendak pergi, El beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan cepat menghampiri Rose sampai akhirnya mencekal tangan Rose, menahan kepergiannya.
Rose menoleh dengan wajah dingin. Ia melirik sinis tangan El yang menyentuhnya, lalu bertanya, "apa maksudnya ini, Tuan El?"
El terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian menghela napas panjang lalu melepaskan tangannya dari Rose. Ia memutar badan membelakangi Rose dan mulai melangkahkan kaki menjauh.
"Sebelumnya, maaf untuk kejadian di kantor, tadi pagi," kata El. Ia memasukkan tangannya ke saku celana, kemudian kembali duduk di kursi tempatnya semula.
"Aku ingin kau membaca beberapa lembar kertas yang ada di atas meja itu!" El mengarahkan pandangannya sebagai petunjuk dari arahannya. Diikuti oleh Rose, yang kemudian ditemukannya apa yang El maksud.
Rose yang diterpa perasaan heran kemudian mengambil kertas tersebut dan mulai membacanya. Sesaat kemudian, raut wajahnya berubah. Matanya menyipit dengan tatapan tajam.
"Kontrak pernikahan! Aku ingin kau menandatangani---"
"Aku menolak!" serobot Rose sebelum El melanjutkan ucapannya. Tentu saja dengan tatapan yang kini mengarah pada El. Dingin dan tajam. Namun justru El menyukai tatapan tersebut.
El tersenyum lalu berkata, "aku sudah menduga hal tersebut. Tapi ini tentang keuntungan bersama. Katakan, berapa uang yang kau inginkan untuk menandatangani kontrak pernikahan tersebut?"
__ADS_1
Rose tidak berniat untuk mengulangi ucapannya. Kali ini, sebagai penolakan ia mengangkat lembar kertas setinggi dada kemudian merobeknya perlahan di hadapan El.
"Tidak, terima kasih!" Rose meletakkan robekan kertas di atas meja kemudian pergi meninggalkan bangsal tersebut.
El sempat tertegun dengan keberanian Rose beberapa saat, ia pun hanya membalas dengan sebuah senyuman licik.
Setelah kejadian tersebut, Rose diijinkan pulang dengan alasan kesehatan yang sedang buruk.
Hal lain telah mengejutkannya saat melihat ponsel dengan beberapa panggilan tidak terjawab. Kemudian sebuah pesan masuk dari Mery, mengatakan kalau ia tidak bisa menjemput Damian di sekolah karena adanya suatu urusan.
Akan tetapi, ia tak mendapatinya di sekolah. Rose pun pulang ke rumah untuk memeriksa keberadaan Damian.
20 menit waktu berlalu, Rose tiba di apartemen.
Langkah menuntunnya tiba di depan pintu apartemen. Ia mengambil kunci di dalam tas lalu membuka pintu. Di sana, dia kembali dikejutkan dengan sepasang sepatu pria dewasa yang ada di belakang pintu.
Matanya cepat memandang ke sebuah ruang keluarga yang terhalang dinding dengan lebar 2,5 meter. Televisi menyala dan terdengar suara Damian sedang mengobrol dengan seseorang.
Rose melangkahkan kakinya dengan rasa penasaran. Perasaan waspada membuatnya menarik sebuah pisau rahasia dari balik sebuah lukisan di dinding. Ia menghampiri ruang keluarga yang hanya berjarak beberapa meter dari posisinya berada.
"Selamat datang, Ibu. Kau pulang lebih awal hari ini?" tanya anak laki-lakinya tersebut.
"Mmm ...." Rose menganggukkan kepala dengan pandangan terus mengarah ke ruang keluarga. Sesaat kemudian menunduk menatap puteranya. "Ibu sedikit tidak enak badan siang ini. Beruntung, bos mengijinkan ibu pulang untuk beristirahat."
Damian berjalan semakin dekat dan memeluk kedua kaki Rose. "Apa ibu sakit? Perlu aku antar ke rumah sakit?" tanyanya dengan wajah khawatir.
Rose menggelengkan kepalanya, kemudian kembali menatap ke ruang keluarga. "Itu ... ibu dengar kau sedang mengobrol. Dengan siapa?" tanya Rose.
Damian tak langsung menjawab, justru ia malah menarik tangan Rose, membawanya ke ruang tengah untuk bertemu dengan seseorang. Ia adalah seorang pria dengan tubuh tinggi, wajahnya cukup tampan dan terlihat penuh wibawa.
"Damian ... dia ...."
Menyadari kehadiran Rose, pria tersebut beranjak dari sofa. Menatap Rose dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Ibu, dia pak Sam, guru olahraga di sekolah baru Damian. Pak Sam juga yang sudah mengantar Damian pulang" kata Damian, memperkenalkan pria tersebut dengan penuh semangat.
"Benarkah? Terima kasih sudah mengantar Damian pulang, Tuan Sam." Rose turut membungkuk sedikit.
"Tidak perlu sungkan, Nona Rose," balas Sam. Sebuah kalimat yang terdengar sedikit aneh ketika diucapkan olehnya. Dan kemudian, suasana pun menjadi sedikit canggung di antara mereka.
"Apa ibu tahu, pak Sam adalah guru yang paling tampan di sekolah. Ia juga pandai bela diri dan menguasai beberapa bahasa asing. Hebat, bukan?" Damian memperkenalkannya dengan penuh semangat. Membuat pria itu tersenyum malu.
"Itu sangat hebat," imbuh Rose dengan nada datar.
"Ah! Ibu, duduklah. Biar aku buatkan teh. Mengobrolah sedikit dengan pak Sam." Damian membalikkan tubuhnya dan hendak pergi ke dapur. Namun, niatnya tersebut segera disadari oleh sang ibu.
"Tidak perlu, Damian." Seketika, Damian menghentikan langkahnya. Rose segera memalingkan wajah menghadap Sam dengan senyum palsu. "Tidak perlu karena Tuan Sam juga akan segera pergi karena ada urusan, bukan?" tanyanya.
Sam terkejut sekaligus bingung, namun dengan cepat dia menangkap maksud perkataan Rose. Itu adalah cara mengusir yang cukup halus.
Ia pun tersenyum canggung saat kehadirannya dianggap mengganggu tuan rumah. Tak lama ia berdiri sambil berkata, "Nona benar. Ada yang harus aku lakukan. Jadi, aku harus pergi."
Rose hanya membalas dengan senyum yang dipaksakan, sementara Sam mulai berjalan ke arah pintu, memakai kembali sepatu miliknya, sampai akhirnya pergi.
Bak berwajah dua, Rose yang tadinya tersenyum kini memasang wajah dingin dengan sangat cepat. Ia melirik puteranya yang diam membeku. Kemudian memutar badannya membelakangi Damian.
"Sudah cukup, Damian. Apa kau pikir ibu tidak tahu apa yang telah kau lakukan? Kau sudah melakukannya beberapa kali, dan jangan berpikir itu akan berhasil!" omelnya.
Damian menundukkan kepala dengan kedua tangan mengepal keras. "Memangnya kenapa? Apa salahnya jika Damian ingin punya ayah?" Emosinya seketika meledak, bersamaan dengan menetesnya ribuan butir air mata.
Rose melirik tanpa membalikkan tubuh.
"Ibu bahkan enggan memberitahukan tentang ayah padaku! Di mana dia dan siapa, ibu tidak pernah mengatakannya!"
Ini kali pertama Rose melihat keadaan Damian seperti itu. Sebelum-sebelumnya, Damian tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Namun di sisi lain, ia tidak bisa memberitahu apa yang ingin ia ketahui. Karena ia pun tidak mengetahuinya.
Rose menghela napas lega kemudian menghampiri Damian. Dia berjongkok di hadapan puteranya lalu memeluknya.
__ADS_1
"Maaf, Damian. Ibu tidak memberitahumu karena tidak ingin membuatmu bersedih. Karena sebenarnya ... ayahmu sudah meninggal."