
"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, tit ...."
Entah sudah berapa puluh kali Nathan coba menghubungi Rose, namun dengan hasil yang sama. Ia terdiam sambil menatap layar ponselnya, mengabaikan secangkir kopi yang sudah dingin sedari tadi.
2 jam berlalu setelah ia membuat janji pertemuan dengan Rose. Sayangnya wanita itu tak kunjung datang. Nathan merasa khawatir, takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Namun di sisi lain, ia tentunya merasa kecewa.
Tak berapa lama, ia beranjak dari tempat duduknya. Sempat ragu saat hendak meninggalkan tempat tersebut. Takut jika ternyata Rose datang. Namun akhirnya Nathan tetap pergi dari tempat itu.
Sementara itu, di apartemen Rose.
El, Rose, serta Damian berjalan di koridor apartemen. Rose dengan langkah hampa menatap kosong sebuah surat nikah di tangannya. Kebenaran itu sangat sulit dia terima. Statusnya kini adalah seorang istri, dan itu benar-benar sulit untuk mempercayainya.
"Apa kau yakin tidak ingin pindah sekarang? Aku bisa menyuruh beberapa orang untuk membantumu berkemas," kata El.
Seketika kesadaran Rose muncul. Ia menatap pria itu sekilas, lalu menjawab, "tidak. Aku tidak suka orang lain menyentuh barang-barang milikku. Juga, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu dengan pemilik apartemen."
El hanya menganggukkan kepala. Kemudian langkahnya terhenti di depan sebuah pintu. Pintu apartemen milik Rose.
"Kalau begitu, aku akan menjemput kalian besok pagi," kata El kemudian. Kini, Rose yang merespon dengan anggukkan kepala.
Dia memandang Damian, lalu berjongkok di depannya. Dua pasang mata pun bertemu. Kemudian El menaruh tangannya di atas kepala Damian dan mengelusnya dengan perlahan.
"Damian, besok ayah akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama, apa kau senang?" tanya El.
Damian tersentuh dengan kehangatan itu. Untuk pertama kalinya. Damian sangat senang karena dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.
Dia tersenyum dengan kedua mata terpejam, kemudian dengan patuh menganggukkan kepalanya.
"Anak baik." El beranjak lalu mengalihkan pandangannya pada Rose. "Kalau begitu, aku pergi dulu," katanya. Mereka pun berpisah.
Dalam perjalanan pulangnya, El menghubungi Asisten Yona. Banyak informasi yang Asistennya beritahukan mengenai penyerangan yang menimpa El dan keluarganya.
Sayangnya, siapa orang dibalik penyerangan tersebut gagal mereka ketahui sebab orang yang ditangkap memilih untuk b*nuh diri ketimbang membeberkan informasi.
"Aku tidak mau tahu. Dalam waktu kurang dari 24 jam, aku ingin kalian menemukan dalang dari penyerangan itu," kata El.
"Baik, tuan El!"
Ia yang fokus dengan langkah kaki tak menyadari adanya sosok pria yang berjalan berlawanan dengannya. Sosok itu melewatinya begitu saja. Namun anehnya, El merasa seperti tidak asing dengan pria tersebut.
Dia menoleh untuk memastikan. Melihat postur tubuh pria itu, gaya rambutnya, serta cara berjalan yang lumayan familiar. Sayangnya ia tak bisa mengingat apapun.
"T-tuan El. Apa ada yang harus aku lakukan lagi?" tanya Asisten Yona dalam panggilan, seketika menyadarkan El.
"Oh, tidak ada. Aku akan segera tiba di kantor." El melanjutkan langkahnya.
Bersamaan dengan itu, tanpa menoleh sedikit pun si pria yang berpapasan dengan El hanya memutar bola matanya. Dia mengenali sosok yang baru saja ditemuinya. Lalu menyipitkan matanya dengan sangat runcing.
__ADS_1
Tak lama, langkahnya terhenti di depan salah satu pintu. Dia memandangnya cukup lama sampai akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk.
Satu sampai dua kali ia mengetuk, tak jua mendapat jawaban. Namun sebelum yang ketiga kalinya, pintu pun akhirnya terbuka.
Rose berdiri dibalik pintu dengan kepala sedikit muncul untuk melihat siapa yang ada di depan sana. Saat menyadari kalau itu Nathan, dia pun segera membukanya lebar-lebar.
"Kak Nathan? Kau di sini?" tanya Rose.
Nathan terdiam dengan perasaan kecewa. Rose tak hanya mengingkari janjinya, namun juga melupakannya.
"Rose, bukankah seharusnya saat ini kita ada di Cafe?" Ia tak mau berbasa-basi lagi.
Pernyataannya membuat Rose terkejut dan teringat dengan hal itu. Rose merasa bersalah.
"Kak Nathan, maaf. Sungguh, aku bukannya ingin mengingkari janji. Hanya saja, sesuatu terjadi beberapa saat setelah aku mengakhiri panggilan," bela Rose.
Nathan menghela napas panjang. Dengan tatapan penuh kekhawatiran, dia lantas menyentuh kedua bahu Rose.
"Apa yang terjadi? Kenapa tidak memberitahuku, Rose?" tanyanya.
"Hanya masalah kecil. Kak Nathan tidak perlu khawatir," balas Rose.
Nathan kembali menghela napas kasar. Keduanya kemudian saling diam, membuat suasana menjadi sangat canggung.
Di sana, Rose menyadari sesuatu. Nathan terlihat sangat kelelahan dengan kantung mata hita dan tatapannya pun sayu.
"Tidak, bukan. Hanya saja beberapa masalah terjadi dan aku harus segera menyelesaikannya." Dia beralasan.
Kini gantian Rose yang menghela napas panjang. Lalu ia berkata, "masuk dan beristirahatlah sejenak. Kakak bisa menyelesaikannya satu persatu. 'Jangan tergesa-gesa atau kau akan gagal.' Itu yang kakak ajarkan padaku, kan?"
Rose membalikkan tubuhnya sambil membuka lebar pintu. Nathan pun tak sungkan. Dia melangkahkan kakinya masuk, kemudian pintu kembali tertutup rapat.
Di ujung koridor, berdiri seorang pria menempelkan tubuhnya ke dinding. Pria dewasa dengan pakaian serba hitam mengamati pintu kamar Rose dengan sebatang r*kok yang menyala di tangannya.
Setelah mengamati dengan baik serta informasi yang didapatnya, tak lama ia pun pergi dari tempat itu.
Hari berganti.
Sesuai janji, pagi itu El bersama beberapa orangnya datang menjemput Rose dan Damian. Pagi itu pun mereka pergi ke mansion untuk tinggal bersama.
Setibanya, pemandangan menakjubkan membuat kedua pasang mereka enggan berkedip. Pasalnya, mansion milik El terbilang sangat mewah bak sebuah istana dalam dongeng-dongeng.
Beberapa furniture dilapisi emas, pilar-pilar menjulang tinggi, dan masih banyak lagi. Di sana juga, El sangat dihormati. Dia hanya menepukkan tangannya, beberapa pelayan pun bergegas datang dan memberi hormat padanya.
"Antar mereka ke kamar," kata El kepada para pelayannya.
"Baik, Tuan." Mereka menghampiri Rose dan Damian, lalu membantu membawa barang-barang.
__ADS_1
"Tunggu!" Rose menghentikan mereka. "Tuan El, ada yang ingin aku bicarakan terlebih dahulu denganmu," sambungnya dengan raut wajah serius.
El mengerti. Dengan lirikan matanya ia membuat semua orang pergi dan hanya meninggalkan dia dan Rose saja, di ruangan itu. Kini, tinggalan mereka berdua.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" kata El. Dia berjalan menghampiri sebuah sofa kemudian duduk dengan menumpangkan kaki dan menyandarkan punggungnya.
Rose masih mempertahankan wajah seriusnya. Dia memutar badan hingga menghadap ke arah El.
"Ini tentang perjanjian pernikahan. Aku yakin, Anda tidak melupakannya," kata Rose.
Mendengar hal itu, El tertawa sinis.
"Uangnya akan dikirim ke rekeningmu sore nanti. Kau tidak perlu khawatir tentang hal itu---"
"Bukan itu!" Rose menyerobot. Karenanya, El mulai menatapnya dengan serius.
"Pertama, aku tidak butuh uang siapapun. Kedua, hanya tiga permintaan yang ingin aku ajukan," lanjutnya.
"Katakan!" kata El dengan wajah serius.
Rose terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya. "Permintaan pertama, aku ingin pernikahan ini disembunyikan dari banyak orang termasuk orang kantor. Hanya orang terdekat atau keluarga yang boleh mengetahuinya."
"Kedua, aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Dan aku harap kau juga demikian. Kita hidup masing-masing."
El mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dan yang terakhir. Aku ... tidak memiliki kewajiban untuk melayanimu sebagai mana seorang istri sebenarnya."
Terhening. Suasana langsung hening dan dingin, seperti berada di dalam sebuah hutan dengan pepohonan rindang menutupi langit.
"Tidak masalah." Suara El memecah keheningan tersebut.
Setelah itu dia beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan di depan Rose. "Aku akan mengantarmu ke kamar," katanya. Rose pun membuntutinya.
Ia merasa sedikit ragu, namun berharap pria itu tak mengingkari janjinya tentang tiga permintaannya.
Lalu, tibalah mereka di sebuah kamar megah. El membuka pintu kamar dan mempersilakan Rose untuk masuk.
"Ini kamarmu mulai sekarang. Kamar Damian ada di sebelah, sedangkan kamarku tidak jauh dari sini," kata El.
"Emm," balas Rose.
Rose masuk ke dalam kamar sambil asyik memandangi keindahan kamar tersebut. Seketika ia merasa dirinya seperti seorang ratu di istana megah. Sampai akhirnya suara pintu tertutup mengejutkannya.
Rose sontak membalikkan tubuhnya dan alangkah terkejutnya saat dia melihat pintu tertutup, namun El ada di dalam kamarnya. Dia menyipitkan matanya dengan tatapan tajam.
"Tuan, aku harap kau tidak melupakan perjanjian kita!"
__ADS_1