Assassin X Family

Assassin X Family
Menantu keluarga Andrean


__ADS_3

Malam hari, El beserta keluarga kecilnya tiba di kediaman sang ibu yang terletak di kota B untuk makan malam bersama. Moment itu sedikit membuat Rose gugup setelah apa yang terjadi sebelumnya dengan sang ibu mertua.


"Apa kita akan bertemu dengan nenek?" tanya Damian.


"Benar. Kau juga akan bertemu dengan bibi, dan beberapa keluarga lainnya. Damian, apa kau senang?" tanya El.


"Senang. Karena ini pertama kalinya aku akan bertemu dengan keluarga lainnya. Sebelumnya ibu tidak pernah mengajakku bertemu dengan nenek," kata Damian. Mendengar hal itu, El lantas melempar tatapan pada Rose.


"Itu benar. Aku menikahinya tanpa tahu seluk beluknya. Meski pernikahan ini disembunyikan, setidak-tidaknya orang tua harus mengetahuinya. Apa dia memiliki hubungan yang buruk dengan kedua orang tuanya?" Hatinya menerka-nerka.


"Damian, bukankah ibu sudah memberitahumu kalau kakek dan nenekmu sudah meninggal. Apa kau lupa?" tanya Rose.


"Tidak. Hanya saja, saat itu ibu juga berbohong kalau ayahku sudah meninggal," celetuk Damian.


Penuturannya membuat Rose sangat malu di depan El. Sementara El memasang wajah datar sambil menatap Rose. Obrolan pun berakhir dengan sangat canggung. Sampai akhirnya seorang pria paruh baya berpakaian rapi menghampirinya.


"Selamat datang, Tuan muda, Nyonya Muda, dan Tuan kecil." Dia sedikit membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


"Pengurus Feng, apa kabar?" tanya El.


"Sangat baik, Tuan. Terima kasih. Nyonya besar sudah menunggu kedatangan kalian sejak tadi. Mari, saya akan antar."


Pengurus Feng memandu jalan dan mengantar mereka bertemu dengan ibunya El.


Rose dan Damian kembali memasuki sebuah rumah bak Istana kerajaan. Tak jauh berbeda dari Mansion milik El. Hanya saja furnitur di sana memiliki model yang sedikit kuno dan sangat khas.


Setelah berjalan beberapa lama, mereka pun tiba di ruang makan. Ibu yang sedari tadi duduk menunggu, langsung berdiri dan menyambut kedatangan mereka dengan sangat hangat.


"Selamat datang, menantu. Ibu sangat senang kau mau datang ke sini," kata ibu sambil memegang kedua tangan Rose.


Rose masih memasang wajah tegang dan canggung. Sebelumnya belum pernah berada di posisi sulit itu. Jadi dia sedikit merasa kesulitan mengatasi kegugupannya.


"Tentu saja, Bu. Terima kasih sudah mengundangku datang ke sini," balas Rose. Ibu membalas dengan anggukkan kepala dengan senyum semringah.


Di suatu kursi tempat makan Rose melihat seorang gadis duduk acuh tak acuh dengan kedatangannya. Bukan hanya tidak menyapa, menoleh saja tidak.

__ADS_1


Kemudian pandangan ini tertuju pada seorang anak laki-laki tampan yang berdiri di samping Rose. Dia bertanya, "El ... dia?" dengan wajah bingung.


"Dia puteraku Damian. Cucu ibu," imbuh El.


Kedua mata ibu langsung berbinar-binar. Dia berjongkok di hadapan Damian dan langsung memeluknya dengan gemas. Ini seperti sebuah nostalgia untuknya, bertemu dengan El sewaktu ia masih kecil.


"Aku tidak meragukanmu. Kau sangat mirip dengan ayahmu saat masih kecil dulu," kata ibu sambil melepas pelukan.


"Ayo, Damian, sapa nenekmu," suruh Rose.


Damian menatap wanita di hadapannya. Melihat dari sikapnya, dia berasumsi bahwa wanita itu baik dan bisa menerima dia dan ibunya.


"Selamat malam, Nenek. Senang bisa bertemu denganmu," sapa Damian sambil tersenyum.


Ibu El sangat puas dengan sikap sopan santun yang dimiliki Damian, dan hal itu tak luput dari didikan Rose.


"Ah!" Ibu teringat sesuatu dan menoleh ke belakang. "Kemariylah, Sylvina. Apa kau tidak mau menyapa kakak iparmu?" tanya ibu. Namun gadis itu tak memberikan jawaban.


El menghela napas kasar. Dia tahu betul kalau adik perempuannya tersebut tidak menerima pernikahannya dengan Rose.


"Menantu, aku harap kau tidak tersinggung dengan sikapnya. Bagaimanapun dia tumbuh dengan kasih sayang dari kakaknya. Mengetahui kakaknya akan menikah membuatnya sedikit marah," kata ibu.


"Apa yang ibu masak malam ini?" El menyela. Mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja makanan kesukaanmu. Ayo, ayo." Ibu menggandeng tangan Rose dan Damian kemudian mengajaknya ke meja makan.


Duduklah mereka di kursi dengan meja makan berbentuk persegi panjang yang mana di atasnya terdapat beberapa menu masakan. Beberapa pelayan kemudian datang untuk membantu menyajikan makanan ke piring mereka masing-masing.


Kebetulan, Rose duduk di kursi yang diseberangnya terduduk Sylvina, adik perempuan El. Wajahnya cantiknya memandang masam ke arah Rose, serta dengan tatapan mengerikan.


Rose menyadari hal itu namun bersikap untuk tetap tenang. Disuatu kesempatan dia menatap Sylvina. Dia bahkan mencoba tersenyum kepadanya tapi malah mendapat balasan yang buruk.


"Dia? Mengapa kakak bisa menikah dengan wanita seperti itu? Tidak cantik. Gaya berpakaiannya juga sangat kuno," pikir Sylvina sambil memandangi Rose.


"Dibandingkan kak Ireena, dia sangat beda jauh," sambungnya bergumam dalam hati.

__ADS_1


Tak berapa lama, dia menggiring pandangannya pada Damian. "Tidak bisa dipungkiri kalau anak itu sangat mirip dengan kakak. Tapi bagaimana bisa? Jika dia anak kandung kakak, mengapa di usianya yang sudah sebesar ini kakak baru menikahi dia?"


"Pasti ada yang tidak beres."


"Ayo, makan yang banyak," kata ibu begitu antusias dengan kehadiran mereka. Akhirnya, mimpinya mempunyai seorang menantu tercapai. Malah dengan bonus cucu sekaligus.


"Jadi, kapan kalian akan menggelar pesta pernikahannya?" tanya ibu.


Mendapati pertanyaan mengejutkan seperti itu, Rose tersedak dan batuk.


"Tidak dalam waktu dekat ini," balas El.


"Kenapa? Ibu ingin segera memamerkan menantu ini pada teman-teman." Ibu mengernyitkan dahinya.


El menghela napas kasar, lalu menjawab, "Bu, sebenarnya kedua orang tua Rose telah tiada. Disampingnya itu, dia adalah sekretarisku di kantor. Kini sudah ada anak, takutnya orang lain berpikir buruk tentang Rose."


"Ini salahku karena dulu meninggalkannya saat dia sedang mengandung. Dan dia telah melewati banyak hal yang paling buruk dari kehidupan sekitarnya."


Rose sontak menoleh ke arah El. Dia merasa perkataan El benar-benar mewakili kisahnya. Seolah-olah El memahami padahal tidak.


"Begitu, kah." Ibu memasang wajah kecewa. Dia tidak pernah memandang status orang lain. Asalkan itu wanita yang baik dan anaknya mencintainya, dia akan mendukungnya sepenuh hati.


"Baiklah, jangan dipikirkan. Setelah makan selesai, ibu harap kalian mau menginap di sini malam ini," kata ibu.


El tersenyum kecil. "Sepertinya tidak kali ini. Besok aku dan Rose harus mengurus sesuatu di kantor, sementara Damian harus pergi ke sekolah."


"Tidak masalah. Bukankah kita punya Helikopter? Ayolah, El. Ibu sangat ingin kalian menginap. Lagian, besok ibu harus pergi ke luar negeri untuk menemui ayahmu," kata ibu.


El terdiam sejenak. Dia mulai menatap Rose untuk meminta pendapatnya. Rose pun merespon dengan kedipan mata perlahan, tanda ia menyetujuinya.


Rose berpikir, tidak ada salahnya membiarkan Damian bertemu neneknya lebih lama. Mungkin di lain hari, ia juga akan membawanya untuk bertemu paman Will.


"Baiklah," kata El. Ibu langsung terlihat senang.


Sementara itu, Sylvina amat tidak menyukai pemandangan di hadapannya itu. Dia tidak ingin melihat dua orang asing itu lebih lama.

__ADS_1


Dalam hatinya, dia memikirkan sebuah cara untuk membuat Rose merasa tidak nyaman. Dan tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu.


"Oh, ya, Kak. Apa kau tahu? Kak Ireena ... sudah kembali."


__ADS_2