Assassin X Family

Assassin X Family
Ayah Damian


__ADS_3

"Apa yang kau katakan, El? Lelucon apa ini?"


"Bu! Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang, ibu pulanglah," kata El seraya menyerobot ucapan ibunya. Ibu yang mendengar hal tersebut terdiam, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan bersama beberapa wanita yang datang bersamanya.


Melalui isyarat matanya, El juga meminta Asisten Yona untuk pergi dari ruangan tersebut. Setelah kepergiannya, kini tinggal Rose dan El di sana.


El menundukkan kepalanya. Ia menunggu jawaban dari wanita yang malah diam membisu, di hadapannya itu.


Beberapa saat terdengar suara helaan napas kasar. Lalu disusul sebuah pertanyaan keluar dari mulut El.


"Roselina ... apa kau ... wanita malam itu?"


Sepasang mata Rose membelalak, kemudian dengan cepat dia mendongakkan kepalanya dengan ekspresi wajah tegang.


Ia melihat wajah pria di hadapannya, sama persis seperti pria dalam potongan-potongan ingatan yang kerap kali muncul di kepalanya.


Tinggi badan yang dimiliki El sama persis dengan pria yang mencumbunya dengan liar 6 tahun lalu. Bau parfum jua menjadi bukti nyata. Memang tidak salah lagi. Mereka pernah bertemu pada malam 6 tahun lalu.


Tiba-tiba, El mencengkram kedua bahu Rose dan menyadarkannya dalam lamunan. "Jawab aku!" Suara kerasnya itu membuat Rose sempat terkejut.


Mendapati perlakuan seperti itu, Rose kemudian menepis kedua tangan El lalu membalikkan badan.


"Lelucon apa ini, Tuan. Aku memang memiliki seorang putera, namun ayahnya ... ayahnya sudah lama meninggal dunia."


El tertawa sinis. "Kau pikir kau bisa membodohiku?"


Rose kembali terdiam. Saat ini perasaannya menjadi tidak karuan. Diatas bukti yang El tunjukkan, masih ada keraguan melanda hati Rose. Sangat sulit baginya menerima kenyataan tersebut.


Ia tak bisa mengelak lagi. Di sisi lain ada sedikit rasa takut kalau saja El berniat merebut Damian darinya.


Kini giliran Rose yang tertawa sinis, sambil berkata, "sepertinya aku tidak bisa mengelak lagi. Benar begitu, Tuan El?" Rose membalikkan tubuhnya, berhadapan dengan El lagi.


"Tapi, aku pikir kau melupakan satu hal. Dia adalah anakku, anakku saat ketika kau menghinaku dengan secarik kertas bernominal 100 juta. Jadi, aku harap kau mengurungkan niatmu untuk merebutnya dariku," sambung Rose.


Mereka saling menatap satu sama lain. Cukup lama sampai akhirnya El mengatakan suatu kalimat mengejutkan.


"Aku tidak berniat merebutnya darimu. Aku ingin menebus kesalahanku. Aku ingin dia tumbuh dengan keluarga yang utuh. Untuk itu, Rose ... aku ingin kau menandatangani kontrak pernikahan itu," kata El.


Rose kembali terkejut, kini dibarengi perasaan kecewa dengan apa yang disampaikan El.

__ADS_1


6 tahun ia membesarkan Damian dengan penuh perjuangan. Sampai pergi mengasingkan diri di negara orang, itu tidaklah mudah baginya.


Sekarang, seorang pria muncul dan mengaku sebagai ayahnya. Dan dengan tidak tahu malu memaksanya menandatangani sebuah kontrak pernikahan beratasnamakan demi seorang anak.


Rose tak menjawab. Membalikkan tubuh lalu menyabet tasnya untuk melarikan diri dari suasana memuakkan itu. Akan tetapi, El masih saja menahannya.


"Kau tidak bisa bersikap egois seperti ini. Bagaimanapun dia membutuhkan kehidupan yang baik!"


Rose menoleh dengan wajah dingin serta tatapan tajam. "Kau pikir aku tidak bisa memberinya kehidupan yang baik? Tuan, kau salah besar." Rose pun pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu.


Sementara El memejamkan matanya. Ia pun masih belum bisa menerima kebenaran mengejutkan tersebut.


"Bagaimana mungkin ... dia ternyata anakku?" gumamnya.


Di lorong apartemen.


Rose berjalan sambil melamun. Langkahnya terasa amat berat dengan tatapan kosong, berbagai pertanyaan mulai memenuhi kepalanya.


"Bagaimana mungkin, dia adalah pria malam itu? Tidak! Dia pasti berbohong. Tapi ... dia tahu mengenai malam itu, di hotel," gumam Rose.


"Jika benar begitu, maka ... Damian kemungkinan adalah anaknya. Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin! Dia pasti seorang pembohong!"


"Dia bilang, Damian pergi menemuinya. Damian menemuinya?" Sepasang matanya langsung menatap lurus ke arah pintu apartemen miliknya. Kemudian Rose melanjutkan langkah kakinya. Kini dengan langkah yang lumayan cepat.


Setelah tiba di depan pintu, dia membukanya dengan tergesa dan langsung masuk. Niat hati ingin menanyakan langsung pada si buah hati, Rose malah mendapati hal mengejutkan.


Dia hanya berdiri di belakang pintu saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Sampai akhirnya, sosok itu pun muncul dengan sebuah sapaan serta senyum yang hangat.


"Selamat datang, Rose," sapa pria itu.


Rose membelakkan matanya. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, berbicara pun sampai terbata-bata. "K-kak Nathan?"


Nathan menghampiri Rose dan langsung memeluknya. Peluknya dingin, namun perlahan menjadi hangat.


"Lama tidak bertemu. Apa kau merindukanku?" tanya Nathan.


Kendati menjawab pertanyaannya, Rose malah mendorong tubuh Nathan dan balik bertanya. "Sejak kapan kakak kembali? Mengapa tidak mengabariku?"


Nathan tersenyum lebar. "Kemarin. Sengaja tidak memberitahu karena ingin memberikan kejutan. Aku tanya, apa kau merindukanku?" Ia mengulangi pertanyaan sebelumnya.

__ADS_1


"Tentu saja. Masuklah, biar aku masukkan sesuatu," kata Rose sambil melangkah melewati Nathan.


"Apa kau sudah pandai memasak sekarang?" Oloknya membuat Rose menoleh dengan wajah kesal. "Ahaha, aku hanya becanda. Sayangnya tidak bisa hari ini, karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan terlebih dahulu," ujar Nathan.


"Ah, begitu, kah," balas Rose dengan nada kecewa.


Untuk beberapa saat, terjadi keheningan diantara keduanya. Nathan melempar tatapan mendalam pada wanita di hadapannya. Jelas sekali menunjukkan betapa ia mencintai gadis itu.


"Rose ... aku akan membujuk ayah untuk menggantikanmu dalam misi ini. Kau tidak perlu menikah dengan siapapun."


Rose menundukkan kepalanya, lalu berkata, "aku tidak akan menikah dengan siapapun, namun misi ini ... aku tidak bisa mundur."


"Apa demi kebebasan? Rose, aku bisa memberi kebebasan untukmu."


"Maaf, kak Nathan. Tapi ini sudah menjadi janjiku kepada paman. Ini adalah misi terakhirku, setelah itu, aku dan anakku bisa hidup dengan baik tanpa bayang-bayang dari dunia gelap itu."


"Dengan menikah dengannya?" tanya Nathan.


"Aku tidak akan menikah dengan siapapun. Tapi kini aku rasa aku tidak bisa melepaskan diri lagi, karena dia ... dia adalah ayah kandung Damian."


Tanpa sadar Rose memberitahukannya. Hal itu membuat Nathan terkejut bukan main. Hatinya bagai tertusuk ribuan duri, membuatnya diam membatu. Tak mampu berkata apapun lagi.


"Kak Nathan, maaf---"


"Jika kau ingin, aku akan membawamu pergi dari negara ini!"


"Kak Nathan!" Rose meninggikan suaranya. "Maaf, saat ini aku benar-benar kacau. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih, lebih baik ...." Dia tak lagi melanjutkan ucapannya.


Meski begitu, Nathan mengerti maksud perkataan Rose. Ia pikir ini mungkin terlalu tiba-tiba dan bukan pada waktu yang pas. Akan lebih baik jika dia menemuinya lagi lain kali.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Kau bisa menemuiku jika sudah berubah pikiran." Setelah itu, Nathan pergi.


Rose menghela napas kasar. Perasaannya semakin kacau setelah pertemuannya dengan Nathan. Ia memijat kepalanya dengan tangan kanan kemudian melangkah masuk ke kamar.


Sementara itu, di dapur yang tidak jauh dari pintu depan, Damian berdiri bersandar di dinding sambil memeluk dua botol air minum.


Setelah apa yang sudah didengarnya, ia tidak tahu apakah harus senang atau malah sedih.


"Jika aku tahu bahwa itu akan menyakiti ibu, aku tidak akan pergi menemui pria itu," gumamnya penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2