Assassin X Family

Assassin X Family
OTW kantor CAPIL


__ADS_3

"Siapa yang kau sebut anak haram?"


Kepala sekolah membelakkan matanya. Perlahan ia berdiri dari tempat duduknya dengan wajah terkejut.


"B-bukankah dia ... Light Andrean? Pengusaha muda terkaya di negara ini? Kenapa dia bisa muncul di sini? Apa yang dia lakukan? Situasi ini ... aku tidak bisa membiarkannya berada di sini atau reputasiku akan buruk di matanya!" batin kepala sekolah.


"T-tuan Light, apakah itu Anda?" Kepala sekolah meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri El dengan penuh rasa hormat.


Mengetahui identitas pria itu, nyonya Tan diam mematung.


"Tidak tahu apa yang membawa Tuan datang ke tempat ini. Ini ... ini hanya masalah anak-anak saja. Mari, kita mengobrol di tempat lain," ajak kepala sekolah.


El melirik kepala sekolah dengan tatapan tajam, lalu berkata, "aku dengar ... seseorang menghina puteraku dan menyebutnya anak haram. Barulah aku datang ke sini untuk melihat siapa orang yang memiliki keberanian besar itu."


Pernyataannya tersebut kembali membuat semua orang terkejut bukan main. Tak terkecuali dengan Damian.


Semua pasang mata pun langsung tertuju kepada anak laki-laki itu, Damian. Mereka baru menyadari kalau keduanya amat mirip, bak pinang dibelah dua.


"Dia ... dia putera dari Light Andrean? Bagaimana mungkin?" Mungkin seperti itu isi pikiran semua orang.


Diam-diam Rose melihat Damian. Dia merasa bersalah karena telah menempatkannya di tempat seperti itu. "Meski sosok ayah itu akhirnya muncul, Damian pasti merasa sedih. Sebelumnya, tidak ada yang pernah menghinanya sekejam itu," batin Rose.


Dia tidak memikirkan apapun selain puteranya. Mereka boleh menghinanya tapi tidak boleh menghina puteranya.


"T-tuan Light, A-anda pasti salah paham. Ini tidak seperti yang Anda pikirkan." Kepala sekolah berusaha menenangkannya.


"Kau pikir aku tuli?" Sorot mata tajam El lantas melirik wanita gemuk itu. Mengintimidasi dengan sebuah tatapan, membuat dia gemetar hebat.


Sedetik kemudian, wanita itu bersujud di lantai. "Aku ... aku tidak berani. Maafkan aku! Ampuni aku!" pintanya.


"Dia Light Andrean, pengusaha nomor 1 di negara ini. Aku tak dalam boleh sampai menyinggungnya atau perusahaan suamiku akan dalam bahaya!" batinnya. Ia sedikit memiliki kecerdasan dalam situasi itu.

__ADS_1


Sementara Rose menatap satu persatu orang yang ketakutan itu. Pandangannya kemudian berakhir pada El. "Dia memiliki pengaruh yang sangat kuat sampai membuat orang bersujud di depannya. Apa begini sudah baik? Ah, aku benar-benar sangat muak!"


Rose kemudian membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan menuju pintu keluar.


"Damian, ayo kita pulang," ajaknya pada Damian.


Damian terdiam, menatapnya ragu. Sedetik kemudian menoleh ke arah Light yang juga sedang menatapnya. Ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan di sana.


Pria itu tiba-tiba datang dan mengakui bahwa dia ayahnya. Entah Damian harus senang ataukah sedih. Tapi dia tidak bisa mengabaikan ibunya. Dengan berat hati dia memalingkan wajahnya dari El, dan menyusul ibunya pergi.


Setelah kepergian mereka, El menghubungi Asisten Yona. "Tarik saham di perusahaan CO, dan tutup sekolah negeri 09!" Dia mengatakan hal itu sambil melangkah pergi.


"Tidak! Jangan lakukan itu, aku mohon! Tuan Light!" Si wanita gemuk berteriak. Sedangkan kepala sekolah menundukkan kepalanya sambil berputus asa.


Beberapa saat kemudian, di dalam mobil. Suasana menjadi sangat canggung saat mereka bertiga berada di satu tempat yang sama. Damian duduk dengan gugup di kursi belakang bersama Rose sementara El di kursi kemudi.


Kemudian dengan penuh penyesalan, dia berkata, "ibu, maafkan aku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukul mereka dan membuat ibu dipanggil ke sekolah."


El melirik dari kaca di depan. "Dia memukul lima murid senior yang bertubuh sedikit lebih besar darinya, seorang diri. Bagaimana bisa seorang anak kecil melakukannya, bahkan ia tidak terluka sedikitpun," batin El.


Ia menghela napas kasar, lalu merangkul puteranya. "Tidak apa-apa, ini bukan salah Damian," katanya.


Ia juga sadar, ia tidak bisa menyembunyikan apa yang ingin Damian ketahui. Anak laki-lakinya itu menunggu sebuah penjelasan darinya.


"Damian, kau pasti sudah mengetahuinya, bukan?" tanya Rose.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja menguping pembicaraan ibu dengan paman Nathan hari itu," aku Damian. Rose terkejut mendengar pengakuannya tersebut.


"Baiklah, aku pikir aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi. Damian, aku Light Andrean, ayah kandungmu."


Trang!

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah peluru menembus kaca mobil. Mobil sempat oleng, sampai akhirnya mereka menyadari kalau mereka sedang diserang.


El menatap ke arah mobil penyerang. "Siapa mereka?" batinnya. "Duduk dengan benar dan pakai sabuk pengaman!" perintah El yang langsung dituruti Rose dan Damian.


Ia pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh untuk menghindari kejaran dan serangan mereka. Di suatu kesempatan, dia menghubungi Asistennya dan memintanya mengirimkan bantuan.


Untungnya, tak berapa lama bantuan pun tiba. Melihat hal itu, dua mobil yang menyerang sebelumnya akhirnya pergi.


El menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia keluar dari mobil dan membuka pintu belakang untuk memeriksa keadaan Rose dan Damian. Beruntung mereka berdua baik-baik saja.


Tak lama, Asisten Yona menghampiri El dan membisikkan sesuatu padanya. Berita tersebut membuat El terkejut. Wajahnya perlahan menjadi gelisah.


Setelah itu, El mengajak Rose dan Damian berpindah ke mobil yang lain. Kemudian memberitahukan sesuatu pada Asistennya suatu hal yang membuat ia terkejut kini.


"Apa Anda yakin?" tanya Asisten Yona.


"Lakukan sesuai perintahku!" kata El, kemudian masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, Rose menerima sebuah pesan dari paman. Dari pesan itu, paman memberitahunya bahwa 'dia' kembali.


"Dia kembali. Orang 6 tahun yang lalu!" Pesan singkat yang paman Will kirim padanya. Tentu saja, Rose tahu siapa yang paman maksud. Dia pria yang telah mengacaukan hidupnya.


"Rose, hanya dia yang bisa melindungimu dan anakmu darinya. Keputusan ada di tanganmu." Pesan kedua tiba.


Rose langsung menatap Damian. Jauh sebelum ia lahir, dunia yang ditapaki Rose memang sudah seperti itu, gelap dan kejam. Tapi dia hanya makhluk tidak berdosa yang tidak sengaja terlibat.


Lalu pandangannya beralih pada pria di sisi yang lain. Mengingat bagaimana ia membuat orang-orang takut padanya, karena kekuatannya, membuat Rose berpikir bahwa yang dikatakan paman mungkin benar. Damian akan baik-baik saja bersamanya.


"Jalan! Ke kantor catatan sipil!" perintah El pada supir. Mendengar hal itu, Rose dan Damian terkejut bukan main.


"A-apa yang kau katakan?"

__ADS_1


"Fakta mengenai Damian adalah puteraku telah didengar beberapa orang. Mereka menjadikan itu sebagai kelemahanku lalu menyerangnya. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Jadi, kita akan menikah dan tinggal di mansion-ku. Kalian akan aman di sana," imbuh El.


Rose hanya terdiam. Diam sebuah persetujuan.


__ADS_2