
Rose terkejut mendengar suara pintu tertutup, sedangkan pria itu masih ada di dalam.
"Apa maksudnya ini, Tuan El? Aku harap kau tidak melupakan perjanjian kita," kata Rose sambil menatapnya serius.
Mendapati pertanyaan seperti itu, El tak langsung menjawab. Ia malah berjalan menghampiri sebuah sofa dengan raut wajah tenang.
"Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku," kata El.
"Tapi, sekarang adalah giliranku," lanjutnya.
Rose langsung mengernyitkan dahinya. Ia memasang tatapan waspada dan mengikuti kemana El bergerak. Sampai pria itu kemudian duduk di sofa dengan menumpangkan satu kakinya.
"Karena kau bersedia menikah denganku, seperti yang aku janjikan tempo hari, aku akan mengirim sejumlah uang ke rekeneingmu, memberimu sebuah rumah dan beberapa mobil. Namun sebelum itu, aku juga memiliki beberapa aturan yang harus kau setujui," jelas El.
"Aku sudah mengatakannya. Aku tidak butuh uang siapapun. Aku menyetujui pernikahan ini semata demi puteraku," balas Rose.
"Kendati demikian, sepertiku, aku juga ingin kau menuruti beberapa peraturanku." El menatap Rose dengan serius.
Suasana menjadi hening seketika. El menunggu persetujuan Rose sementara Rose merasa sedikit ragu tentang peraturan yang hendak El utarakan. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa Rose juga harus menerima peraturan yang dibuat El.
"Katakan!"
El menyandarkan tubuhnya di sofa. Dan dengan santai berkata, "yang pertama, seperti kau, aku juga tidak ingin mempublish pernikahan ini. Namun tentu saja kita juga harus memikirkan perasaan Damian."
"Aku tidak keberatan."
"Kemudian yang kedua, seperti yang kau katakan, kita tidak boleh saling mencampuri urusan satu sama lain. Kecuali yang berhubungan dengan Damian."
Rose tak menjawab. Mendengarkan dengan serius dan sesekali menganggukkan kepala tanda menyetujui ucapannya.
Namun sebelum mengatakan peraturan berikutnya, El menurunkan satu kakinya dan memajukan tubuhnya hingga condong ke depan. Kedua tangan saling berpautan dan menyanggah dagu sambil menatap lurus ke arah Rose.
"Ini yang terakhir, dan aku ingin kau mendengarkannya." Suasana menjadi semakin serius. "Meski pernikahan ini didasarkan adanya seorang anak, tapi aku ingin kau paham satu hal. Aku tidak ingin ... kau berhubungan dengan pria manapun."
"Kau tidak boleh kencan dengan siapapun, menjadi kekasih siapapun, apalagi bertunangan, atau sebagainya," tambahnya.
"Bukankah hal itu melanggar peraturan yang kedua?" tanya Rose.
Sekali lagi, El tak langsung menjawab. Ia malah beranjak dari tempat duduknya dan kini berjalan ke arah pintu kamar. Hingga ketika tiba di depan pintu, dia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Seseorang harus mengetahui batasannya. Dan lebih baik jangan main-main denganku." Sebuah peringatan yang El ucapkan.
Kata-kata sedikit ambigu, sulit untuk Rose mengerti maksud dari perkataannya tersebut.
Setelah mengatakan hal itu, El membuka pintu kemudian pergi meninggalkan kamar Rose.
Rose masih berdiri mematung. Berusaha mencerna maksud dari perkataan El. Namun itu tak berselang lama, sebelum akhirnya sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Rose segera mengambil ponsel dari tas dan memeriksa siapa kiranya yang menghubungi. Ternyata paman Will. Sepertinya, kali ini Rose tahu apa yang hendak paman bicarakan dengannya.
"Kau melakukannya dengan benar, Rose. Untuk itu, paman ingin mengundangmu dan puteramu untuk makan malam bersama besok malam," kata paman.
Rose memasang wajah datar. Dia membalikkan tubuhnya lalu menaruh tas di atas sebuah meja.
"Aku sibuk," katanya, sembari berjalan ke arah ranjang tidur.
"Oh, kau selalu begitu. Apa kau sungguhan tidak ingin mengenalkan puteramu pada paman? Bagaimanapun, si tua ini adalah kakeknya."
"Aku tidak berniat demikian. Karena pernikahan ini, aku harus mengurus beberapa hal termasuk berkas pindah sekolahnya Damian," balas Rose.
Terdengar helaan napas kasar di sana. Hembusan napas panjang tak luput dari pendengarannya. Pria tua itu pasti sedang mer*kok, pikir Rose.
"Ya, ya, begitu baru benar. Ah, paman sudah sangat ingin menimang cucu."
Rose terdiam. Dia ingin mengakhiri panggilan. "Paman, aku sedang sibuk. Lain kali aku akan menghubungimu jika memiliki waktu luang untuk bertemu Damian. Kalau begitu, sampai jumpa." Ia langsung menekan tombol matikan. Panggilan pun berakhir.
Sekali lagi Rose menghela napas kasar. Ia mendaratkan bokongnya di tepi ranjang kemudian disusul merebahkan tubuhnya. Direntangkannya kedua tangan lalu menggeliat kecil.
Entah mengapa, peraturan yang El berikan sangat mengganggu pikiran Rose. Meski ia tahu dia tidak sedang dalam sebuah hubungan apapun.
"Damn!" umpatnya.
Hari berganti.
Semua berjalan seperti apa adanya, Rose pun sudah kembali ke kantor.
Pagi itu, keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, di meja mereka. Sampai akhirnya El memulai pembicaraan.
"Nanti malam ikut denganku untuk bertemu ibuku. Ajak Damian juga," kata El.
__ADS_1
Rose malah teringat dimana saat ibu El menghina dirinya yang berstatus janda, tempo hari. Saat itu ibunya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Rose, malah terbilang menganggap rendah dirinya.
"Hari itu, saat El memberitahukan kebenaran tentang hubungannya dengan Damian, dia ada di sana. Jika sebelumnya ia menentang keras hubunganku dengan El, setelah mengetahui kebenarannya apakah dia berubah pikiran?" batin Rose.
"Apa kau mendengarku?" tanya El dengan tatapan tajam.
"Aku dengar. Tapi ... terakhir bertemu dengannya, ibumu amat tidak menyukaiku karena status jandaku. Entah bagaimana jika bertemu nanti," imbuh Rose.
"Justru itu, dipertemuan kali ini adalah untuk menyelesaikan kesalahan pahaman. Dia tidak seburuk yang kau pikirkan," kata El.
Rose tak menjawab dan hanya berdeham saja, tanda menyetujui ucapannya. Lagian, ini mungkin bisa menjadi kesempatan untuknya mengetahui dimana kediaman keluarga besar El.
Setelah itu keadaan menjadi hening. Hanya terdengar suara ketukan keyboard komputer, kemudian keduanya kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Tak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar oleh keduanya. Mereka saling menatap satu sama lain. Saat Rose hendak berdiri untuk membukakan pintu, pintu terbuka lebih dulu dan masuklah Asisten Yona.
Di hadapan mereka, dia tampak gugup. Sesuatu ingin dibicarakan dengan El namun seperti ragu karena kehadiran Rose di sana.
"Katakan saja," kata El.
"Baik." Meski begitu, Asisten Yona masih terlihat ragu.
"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda di luar," ucapnya.
"Siapa?" tanya El. Dia menunda pekerjaannya dan fokus kepada pembicaraan Asistennya.
Untuk kesekian kalinya, Asisten Yona kembali merasa ragu untuk mengatakan hal itu di depan Rose. Hal itu diketahui dari gelagatnya yang berulang kali melirik Rose dengan wajah tegang.
Rose memahami hal itu. Dia juga tidak terlalu tertarik dengan masalah pribadi yang mungkin hendak dibicarakan keduanya.
Dia beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan keluar. "Aku pergi buatkan kopi dulu," katanya, beralasan.
Saat tiba di depan pintu dan membukanya, sekelebat bayangan melintas di sebelah Rose dengan cukup kencang. Seseorang yang menerobos masuk.
"El, apa kabar?" sapa orang itu bersuarakan wanita.
Rose sempat terdiam beberapa saat, namun kemudian menoleh dan melihat. Di sana, dia mendapati seorang wanita dengan pakaian sangat seksi memeluk mesra El.
"Aku sangat merindukanmu, El. Apa kau merasakan hal yang sama?" tanyanya. El yang dipeluknya jua diam bak patung, namun berwajahkan dingin.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini ... Ireena?"