
Bulir air mata mengalir deras dipipi ranumku, pipi yang bersih hasil perawatan skincare yang rutin kulakukan demi menjaga penampilan didepan suamiku. Usaha yang memang aku upayakan agar kulitku indah, tubuhku sintal dan rambutku harum dan sejuta perawatan lainnya.
Hanya demi mengharap cinta tak berpaling dari orang yang paling kusayang. Semuanya demi mas Andre.
Betapa hancur hati ini saat kudapati mas Andre telah berpaling cintanya kepada wanita lain. Mungkin seperti ini hancurnya hati mbak Dedek saat suaminya, mas Andre ku rebut dulu.
Apalah dayaku, yang hanya manusia biasa. Kusadari apa yang kulakukan itu salah, tetapi cinta telah mengalahkan segalanya. Cinta yang begitu besar terhadap mas Andre membuatku buta, hingga tidak mengindahkan tangisan anak istrinya. Bahkan tidak perduli dengan nasehat dari kedua orangtuaku.
Kecewa yang dirasakan ayah hingga akhirnya ia sakit dan meninggal karena menanggung malu.
Kini hanya ibu tempatku bersandar, ibu yang seorang janda dengan kondisi sakit- sakitan, masih mau menerima diriku. Karena kini anaknya akan menjadi seorang janda juga
***
__ADS_1
Namaku Melati, tetapi hidupku tidak seindah namaku. Masih segar diingatanku, saat anniversary tahun ketiga pernikahanku dengan mas Andre, badai menghantam biduk rumah tangga kami. Pernikahan yang seharusnya sedang mesra- mesranya. Setelah lama menunggu aku akhirnya mengandung anaknya mas Andre.
Calon pertama buah hatiku, tetapi menjadi yang ketiga bagi mas Andre. Apalagi ini merupakan calon bayi lelaki pertama baginya. Kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Ah, aku merasa saat itu dunia terasa lebih indah, mas Andre perhatian sekali padaku dan calon bayiku.
Saat pergi bekerja dia akan mengelus perutku seraya berkata " anak papa jangan nakal ya sama mama, entar kasihan tu mamanya ". Aku hanya tersenyum mendengarnya dan menjawab dengan nada manja "papa jangan lama pulang ya, nanti debaynya kangen". Mas Andre mengecup keningku lalu berangkat kerja.
Sungguh saat - saat diawal kehamilanku merupakan hari-hari terindah dalam kehidupan kami.
Tidak terasa kehamilanku sudah memasuki semester kedua. Ada hal yang aneh kutemukan pada diri mas Andre, dia sering pulang malam dan seperti tak ingin berlama-lama dirumah. Pagi sekali sudah bersiap untuk kekantor, dengan dalih banyak pekerjaan. Yang sedikit melegakan uang belanja pemberian mas Andre lebih banyak dari biasanya.
" Lho, biasanya kan mas pulang sorean, jadi kita bisa makan bareng diluar, debaynya udah rindu papanya nih" aku mencoba membujuknya manja.
" Kamu itu harus ngerti, aku kerja lembur untuk anak kita juga, dan syukur anak ini bawa rezeki, dah kamu gak usah minta aku pulang cepat, nanti rezekinya kabur" ucapnya tegas.
__ADS_1
Aku terdiam mendengar kata-kata mas Andre, satu sisi bersyukur tapi sisi yang lain kok merasa takut.
Akhirnya aku menuruti apa kata mas Andre , mencoba berfikir positif tentang pekerjaannya. Toh uang hasil pekerjaannya aku yang pegang kok. Hingga suatu hari apa yang kutakutkan terjadi.
Suatu hari disaat aku hendak mencuci pakaian suamiku, kutemukan sehelai rambut dibalik kemeja mas Andre. Itu bukan helai rambutku, karena jelas berbeda baik panjang dan warnanya. Sejak memasuki usia kehamilan ketiga, aku memotong rambutku. Akibat sering kegerahan. Aku juga tidak mewarnainya.
Tapi ini rambut siapa, helai rambut yang berwarna pirang dan panjang. Hatiku gundah tidak karuan, rasanya sakit sekali. Apakah seperti ini yang dirasakan maduku, pikiranku menerawang ke masa lalu.
Aku terduduk lemas, membayangkan benarkah suamiku berselingkuh lagi. Disaat aku sedang hamil tua, sungguh tega ia melakukannya. Aku menangis sejadi-jadinya, mengapa ia tega melakukannya. Dengan terseok-seok aku melangkah menuju kamar. Aku duduk didepan meja rias, kupandangi wajah dan tubuhku.
"Melati, kini kau tidak secantik dulu, lihat dirimu..lihat..! Tidak...! "
(praak...suara kaca pecah),
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Melati memukul kaca meja riasnya