
Sejak pertemuan diriku dengan Nia, kami semakin akrab lagi. Ia sering mengunjungiku dan memberikan perhatian yang tidak aku peroleh dari suamiku sendiri. Kata - katanya bijak menasehati, dapat sedikit membuatku lebih tenang menghadapi segala hal.
Yah..., sudah hampir satu bulan kabar mas Andre seperti hilang ditelan bumi. Aku hampir kehilangan harapan akan suamiku, tentang keberadaannya, tentang ketidakperduliannya terhadap diriku dan anak yang kukandung. Apalagi uang simpananku semakin menipis. Dengan kondisi yang hamil tua mana mungkin aku bekerja. Terpaksa bi Inah kuberhentikan kerja demi mengirit pengeluaran sampai hari kelahiran anakku.
Pada akhirnya aku meminta kesediaan Nia untuk menemaniku ketempat bekerja suamiku.
Yang mana tempat itu juga adalah tempat kami bekerja dulunya. Nia bersedia menemaniku esok pagi. Pagi-pagi sekali Nia datang kerumah dan dengan mengendarai mobilnya kami bergegas pergi. Setibanya disana, kami langsung menemui pak Boy, Bos suamiku dan tentu saja bos kami juga dulunya.
Pak Boy sangat terkejut dengan kedatangan Ki berdua.
'Selamat pagi, Pak" sapa kami serentak.
" Pagi, hey, kalian Melati dan Nia kan, apa kabar?" , jawabnya sambil memandang terbelalak keheranan.
"Iya pak, masih ingat bapak dengan kami", ucapku .
"Tentu dong, apalagi kamu Melati, bagaimana kabarmu dan Andre, kalian masih bersama, tidak berpisah?. Perkataan pak Boy sedikit mengejutkanku, aku bingung.
"Apa maksud bapak, malah saya ingin menanyakan kepada bapak tentang keberadaan suami saya", terlihat pak Boy mengernyitkan dahi atas pertanyaanku.
__ADS_1
"Bukankah bapak telah mempromosikan suami saya menjadi seorang pimpinan cabang perusahaan bini dikota A" lanjutku lagi.
"Dan sampai sekarang saya masih bersuamikan mas Andre, kami belum berpisah, seperti yang bapak lihat saya lagi mengandung buah hati kami. Saya tidak ingin terjadi hal buruk menimpa suami saya", kali ini ada nada kecemasan dalam ucapanku.
"UPS. maaf, sebentar dulu, kantor cabang , saya tidak mempunyai kantor cabang dikota manapun". Tegas pak Boy.
"Jadi saya tidak pernah mempromosikan jabatan apapun kepada siapapun, termasuk Andre. Mengenai Andre, dia sudah saya pecat beberapa bulan yang lalu, apakah anda tidak diberitahukannya".
Aku menggeleng lemah.
"Ke...ke ..napa bapak memecatnya", aku mulai menahan air mata.
"Andre sudah menipu saya dan juga selingkuh dengan sekretaris baru saya !" kali ini nada pak Boy agak ketus.
Dalam hitungan detik aku tergeletak jatuh. Gerakan refleks pak Boy dan Nia menolongku terlambat. Aku sudah terkapar ldi lantai ebih dulu.
" Melatiiii, ya Allah, pak , dia berdarah, Melati pendarahan, cepat panggil ambulan!" samar kudengar teriakan Nia, memanggil namaku, masih kurasakan air merembes dari selangkanganku. Ternyata itu darah segar, aku mengalah pendarahan hebat.
Ambulan segera datang, tim medis dengan cepat membawaku dengan tandu, lamat kudengar Isak tangis Nia, "Mel, kamu harus kuat, demi anakmu, jangan menyerah".
__ADS_1
Nia sangat mencemaskan diriku, sepanjang perjalanan ke rumah sakit ia selalu berada di sampingku, tak sedikitpun ia beranjak. Nia sungguh teman sejati yang selalu ada saat aku membutuhkannya.
Ini terbukti dia sangat mengkhawatirkan diriku. Saat itu aku langsung dimasukkan ke dalam ruangan UGD, dokter berupaya memberikan penanganan terbaiknya.
POV Nia
" Dokter tolong selamatkan teman saya ini, tolong dok", Nia memohon sambil menangis.
Dia seolah merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Melati. Seandainya saja ia tidak membawa Melati menemui pak Boy.
"Ibu yang sabar, biar kami yang akan menangani teman ibu" ucap pak Dokter.
Lalu mereka masuk kedalam ruangan UGD. Nia menunggu dengan harap-harap cemas.
Tidak berapa lama Dokter yang tadi menangani Melati keluar dari ruangan.
"Maaf apakah ada suami Bu Melati disini atau keluarganya", Dokter bertanya.
"Saya lah keluarga yang dia miliki saat ini, suaminya sedang tidak disini', ucap Nia pada Dokter.
__ADS_1
"Bu Nia, saya sangat membutuhkan keluarga Bu Melati saat ini, ada hal yang harus segera dilakukan untuk menanganinya, demi keselamatannya", tegas Dokter.
Nia bingung, kemana dia harus menghubungi keluarga Melati, apa yang harus dilakukannya...