Atas nama cinta ataukah nafsu semata

Atas nama cinta ataukah nafsu semata
Kembali ke rumah ibu


__ADS_3

Alhamdulillah, seminggu setelah melahirkan, Melati diperbolehkan pulang. Kondisi dirinya dan bayinya semakin sehat. Apalagi semenjak kedatangan ibu dan adiknya. Semangat hidup Melati bangkit.


"Nia, aku dan ibuku berterimakasih atas semua bantuan yang kamu lakukan. Aku berjanji, setelah benar- benar pulih, aku akan segera mencari kerja untuk membayar hutang- hutangku kepadamu", ucap Melati padaku saat kami menuju ke rumah ibunya.


Memang semua biaya persalinan Melati di rumah sakit aku yang menanggungnya. Aku ikhlas membantu sahabatku itu. Aku tulus melakukannya tanpa ada embel-embel apapun.


"Oke Mel, aku mendukung keinginanmu untuk bekerja lagi. Tenang saja masalah hutangmu tidak usah terlalu dipikirkan. Yang penting ada kemauan untuk membayarnya, aku tunggu itu, hahaha", aku tertawa dan Melati ikut juga tertawa.


"Pasti Nia, aku akan bersungguh-sungguh untuk membayarnya, sekali lagi terimakasih", sambungnya lagi. Ibu dan Nesya yang duduk dibelakang mobil ikut tersenyum melihat kami tertawa. Ibu terlihat bahagia menggendong si tampan mungil.


POV Andre

__ADS_1


" Ingat Andre, kamu harus katakan yang sebenarnya pada Dedek", suara emak terdengar berat menasehatiku.


" Emak tidak bisa terus- terusan menutupi kebohongan mu, kelakuanmu, emak sudah tua, kasihanilah diri emak. yang harus selalu berbohong kepada istrimu", lanjut emak terbata- bata.


Aku merasa bersalah kepada emak, tetapi aku takut untuk mengungkapkan kebenaran ini kepada istriku. Apalagi sikap Dedek akhir - akhir ini semakin dingin dan kaku. Mungkin tuntutan pekerjaannya yang semakin banyak membuat ia begitu.


Bahkan untuk melayaniku diatas ranjang dia sudah tidak mau , alasannya capeklah, ingin istirahatlah, bla..bla..bla


Sebenarnya sudah lama aku tidak mencintai istriku, sejak aku mengenal Melati. Kalau bukan karena hartanya, sudah sejak lama aku ceraikan dia. Apalagi demi anak-anak ku yang manis, biarlah kujalani pernikahan garing ini.


Hingga akhirnya aku bertemu lagi dengan seorang gadis yang lain. Kebetulan sekretaris pak Herbet, bosku di tempat kerja. Silvia gadis mungil tapi bohay. Ini gadis yang berhasil mengisi kekosongan hatiku yang kecewa terhadap isteri-isteriku. Sedikit manja, tetapi mandiri dan pintar. Terbukti dia pandai mengelabui pembukuan keuangan dikantor kami. Sehingga pak Herbet tidak sadar keuangan perusahaan telah dimanipulasi oleh Silvia.

__ADS_1


Uang hasil manipulasi ini dia bilang adalah haknya sebagai sekretaris pintar yang berhasil menggaet banyak klien untuk perusahaan. Uangnya dia gunakan untuk membuka usaha bidang real estate dikota yang sama dengan tempat tinggalku.


"Mas Andre, mau nggak ikut Silvia buka usaha diluar kota" ucapnya manja, sehari setelah kami dipecat setelah ketahuan bermain api asmara dikantor.


" Mas akan ikut kemana pun dik Silvia pergi", jawabku sambil menyentuh pelan hidungnya yang bangir.


Kami berdua tertawa lepas di sore itu disebuah taman. Aku lupa dengan Melati, malas membayangkan dirinya yang sudah tidak menarik lagi. Tubuhnya gendut dan banyak lipatan hitam disana sini. Dia tidak tau disaat berhubungan intim dengannya, aku sering membayangkan wajah dan tubuh Silvia.


Aku ingin lepas dari Melati, dengan alasan aku mendapatkan promosi di kantor cabang di luar kota, kutinggalkan Melati. Bersama Silvia aku kembali kekota asalku. Dulu ketika aku menikahi Melati, kubilang kepada istri pertamaku aku mendapat pekerjaan dikota A. Lalu aku ditugaskan kembali dikota kami.


Nekat sih, sebab bisa saja istri pertamaku bertemu Silvia dikota kami. Tapi bukan Andre namanya kalau aku tidak pandai mengakali. Sengaja kupilihkan tempat tinggal Silvia yang berjauhan dari tempat tinggal istri pertamaku. Aku pastikan mereka tidak akan saling bertemu. Aku tersenyum penuh kemenangan, seorang Andre sanggup menaklukkan tiga orang wanita sekaligus.

__ADS_1


POV Melati


Aku kembali lagi kerumah ibuku, setelah hampir tiga tahun aku tinggalkan. Maafkan aku ayah, Melati si anak hilang kini telah kembali. Lihatlah akibat kebodohanku , dukalah sekarang yang aku terima. Aku kembali menotiskan air mata.


__ADS_2