
" Ibu, Mel, sudah banyak salah sama almarhum ayah, akankah Mel dimaafkan?" ujarku pada ibu dengan nada sedih.
"Mel, ayahmu sudah tiada, tapi ibu yakin ia pasti telah memaafkan semua kesalahanmu, yang penting sekarang kamu harus bangkit demi dirimu dan anakmu". Jawaban ibu mampu menenangkan hatiku.
"Mel berjanji Bu, Mel akan bangkit demi Ivan, hanya demi anak Mel semata wayang, anak yang ditinggalkan ayahnya yang tak bertanggungjawab ", tiba- tiba tanganku mengepal dan aku menggigit bibirku tanda membenci lelaki yang telah membuatku menderita.
Ibu yang melihat keadaan diriku, segera memeluk dan membisikkan ditelingaku, "istighfar Mel, tenangkan dirimu, ingat Ivan, amarah tidak akan menyelesaikan permasalahan", aku menangis kembali dalam pelukan ibu.
Aku tidak tahu terbuat dari apa hati ibu, mengapa ia sangat begitu tabah menghadapi semuanya. Tak ada raut wajah sedih, yang ada senyum penuh optimis merekah disudut bibirnya.
Akhirnya kami sama melihat wajah Ivan di atas ranjang. Bayi tampan itu sedang tertidur pulas, sesungging senyuman menghias pula dibibir mungilnya.
"Yah, aku harus bangkit, demi diriku anakku dan juga demi orang-orang yang menyayangiku, ibu dan adikku.
40 hari setelah melahirkan, aku memohon kepada ibu agar diizinkan mencari kerja. Kondisi badanku sudah kembali sehat, dengan perawatan pasca bersalin yang diberikan ibuku.
Tubuhku sudah kembali kebentuk ideal. Lagipula Ivan tidak rewel, dia anteng diasuh ibu dan adikku. Mengenai ASI untuk Ivan nantinya sebelum berangkat bekerja akan kuperah dan dimasukkan kebotol. Dan disimpan dalam freezer. Tinggal izin ibu yang ingin kudapat.
Akhirnya setelah berdiskusi panjang ibu mengizinkan aku bekerja. Dengan catatan tempat bekerjanya tidak boleh terlalu jauh. Aku setuju.
__ADS_1
Aku mencoba mencari beberapa loker di internet. Pandanganku tertuju pada sebuah lowongan sekretaris di perusahaan yang bergerak di bidang real estate
Persyaratan yang diminta cocok dengan gelar pendidikan yang kutempuh, S1 Ekonomi. Beberapa pengalaman bekerja juga diminta turut disertakan dalam surat lamaran.
Semua sudah kupersiapkan sejak tadi malam. Pagi- pagi sekali aku bangun, mempersiapkan sarapan untuk kami. Memerahkan susuku untuk persediaan Ivan. Kemudian aku mandi dan berdandan dengan mengenakan atasan putih dan rok kembang selutut. Kukenakan high heel, make up tipis dan kupakai lensa kontak.
"Ya ,ampun kak Mel cantik sekali, mana seksi lagi, lihat tu Bu", suara Nesya mengejutkan diriku yang lagi mematut diri didepan kaca. Aku tersipu malu.
" Ah, dik Nesya, kamu bisa aja" , kataku.
" Bener lo kak, Nesya gak bohong, kakak itu cantik, sempurna. Mana tau orang kakak tu sudah punya anak, kalau penampilannya kayak begini", tambahnya lagi.
" Bu, bener penampilan Mel udah bagus", kataku minta pendapat ibu.
" Iya, kamu cantik, persis seperti anak gadis, siapa dulu dong ibunya", (hahaha, kami tertawa berbarengan) .
" Sudah sana berangkat, nanti kamu kesiangan,
angkotnya keburu ramai", lanjut ibu.
__ADS_1
"Mel pergi dulu ya bu, titip Ivan, assalamualaikum" ucapku sambil beranjak keluar rumah.
"Waalaikumsalam, hati- hati dijalan" , ibu dan Nesya serempak menjawab salam dan mengingatkan diriku..
Aku berjalan sejauh 100 meter kedepan komplek, untuk menaiki angkutan kota menuju kantor real estate tersebut. Tak berapa lama angkot yang diinginkan datang. Kira kira membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ditujuan.
Tak berapa lama sampailah aku di kantor yang kutuju. Lalu aku bertanya ke bagian resepsionis dimana ruangan CEO, karena menurut loker yang dipasang di internet itu para pelamar diminta langsung mengantarkan lamarannya ke CEO
"Mbak , ruangan CEOnya dimana ya, saya mau mengantar lamaran pekerjaan"
"Oh, mbak yang mau ngelamar juga ya, mari saya lihat surat lamarannya, mbak duduk aja dulu di kursi itu. Nanti surat ini saya antar ke ruang kantor tuan Bagus Sanjaya."
"Oh, begitu ya, iya ini surat lamarannya ", aku memberikan surat tersebut kepada Simbal resepsionis.
"Makasih, tunggu dulu y mbak", jawabnya ramah.
Aku duduk ditempat yang ditunjukkan si mbak, rupanya sudah ada tiga orang pelamar lainnya duduk disitu.
Selama menunggu panggilan, tidak putus-putusnya aku berdoa agar dipermudah kan segala usahaku untuk mendapatkan pekerjaan.
__ADS_1