
POV NIA
Bagaimana ini, aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Menghubungi suami Melati, tapi tidak ada jawaban ( kebetulan hp Melati ku pegang). Apatah lagi menghubungi keluarga Melati, itupun sangat tidak mungkin. " Ya Allah, apa yang harus kulakukan saat ini, berikan petunjukmu", keluh Nia dalam hati. " Yah aku harus mengambil keputusan yang tepat demi keselamatan Melati dan bayi yang dikandungnya". Gumamku dalam hati.
"Sudahkah ibu hubungi suami atau keluarga Bu Melati". Dokter membuyarkan lamunanku. "Sudah Dok",
"Dokter berikan penanganan terbaik untuk Melati, saya sanggup menanggung jawabi semuanya, termasuk biayanya nanti." Ucapku mantap.
"Baik, Bu, segera saya akan melakukan tindakan operasi terhadap Bu Melati, waktu kita tidak banyak, pendarahannya hebat", sahut Dokter lagi.
"Tolong tanda - tangani disini Bu," seorang perawat menyodorkan selembar surat pernyataan untuk kutanda-tangani.
"Bismillah, semoga bayi dan ibunya selamat, berikan yang terbaik pada Melati , dok, " ucapku lirih.
Tepat pukul 11.00 WIB, Melati dibawa masuk ke dalam ruangan operasi. Aku hanya bisa mengiringi sampai ke depan pintu ruangan operasi. Setelah dia dibawa masuk, pintu ditutup. Aku berdoa dalam hati," " Ya, Allah, selamatkan temanku dan anaknya. Berikan kemudahan bagi Melati disaat melakukan operasi persalinan. Lindungi dia, kasihani dia, karena disaat yang genting begini tidak ada siapapun yang mendampinginya. Baik suami ataupun keluarganya".
Pukul 13.00 WIB, pintu ruangan operasi di buka. Dokter keluar dengan wajah sumringah sambil berkata,
__ADS_1
" Selamat Bu, bayinya laki-laki, sehat, tampan dantak kurang suatu apapun".
"Alhamdulillah, terima kasih banyak dok"
"Sama-sama Bu, jaga kesehatan ibunya, kondisinya masih sangat lemah'
"Baik,Dok, saya akan menjaganya"
Dua jam setelah selesai operasi, Melati dipindahkan ke ruangan lain. Aku dengan setia menemaninya. Aku duduk disamping ranjangnya. Melati belum siuman dari bius operasinya. Menurut Dokter, Melati mengalami pendarahan hebat pada rahimnya, untung keputusan yang tepat aku ambil disaat saat keadaan genting.
"Ah,suami macam apa itu. Tega meninggalkan istrinya yang sedang dalam hamil besar. Lelaki biadab, mengumbar nafsunya saja. Dulu istri pertamanya, sekarang Melati yang jadi korbannya," gumamku dalam hati.
Untung saja Melati bertemu diriku, aku yang merasa kasihan dengan nasibnya, melupakan semua permasalahan yang pernah terjadi dulu. Ah, seandainya engkau mau mengikuti nasehatku dulu Melati. Aku terus merutuki nasib Melati, sambil memandangnya dengan rasa iba.
Kupandangi lamat-lamat wajah Melati, cantik, molek, sayang tidak begitu dengan nasibnya. Yang harus kulakukan sekarang adalah menghubungi ibu dan adiknya. Karena bagaimanapun mereka harus tahu keadaan Melati yang sesungguhnya.
Aku tidak bisa terus mendampinginya, pekerjaanku di toko tidak dapat sering ditinggalkan. Saat sekarang ini sangatlah sulit mencari seorang pekerja yang dapat kita percaya sepenuhnya tanpa pengawasan untuk mengelola usaha kita. Hal ini sangat berbahaya, bahkan banyak yang berani menipu kita dalam masalah penjualan. Bukan sekali dua ini terjadi, cukup yang sudah sudah menjadi pembelajaran.
__ADS_1
Aku buka daftar kontak didalam hp Melati, mana tahu ada nomor ibu atau adiknya. Kubuka daftar panggilan keluar dan masuk, "maaf Mel, aku harus melakukannya', bisikku dalam hati. Kuhubungi satu persatu nomor yang tertera, berharap menemukan nomor milik adik atau ibunya.
Tiba pada satu nomor yang paling bawah, aku mencoba memanggilnya, lalu...
"Apaiagi sih kak, sudah, ibu dan aku nggak mau diganggu!", mungkin ini suara adiknya.
" Halo, halo, tolong jangan diputus dulu, saya teman Melati, maaf saya mau mengabarkan kondisinya sedang dalam keadaan terbaring dirumah sakit, dia baru saja melahirkan," aku memohon dengan setengah memelas.
"Tolonglah, ini masalah hidup dan mati Melati"
"Siapa itu Nesya," diujung sana kudengar suara seorang perempuan, mungkin ini suara ibu Melati.
"Ini Bu, telpon dari teman kak Melati, katanya kakak terbaring di rumah sakit," jawab Nesya.
"Berikan pada ibu hapenya, biar ibu bicara"
Aku sedikit gembira ternyata ibu Melati mau menerima telpon dariku.
__ADS_1