Atas nama cinta ataukah nafsu semata

Atas nama cinta ataukah nafsu semata
Pertemuan Penuh Air Mata


__ADS_3

" Halo, Assalamualaikum"


"Benar kamu teman Melati, benarkah kabar yang kamu sampaikan? Apakah saya dapat mempercayaimu?", jelas ini pasti suara dari ibu Melati.


" Waalaikumsalam, iya Bu , benar, saya Nia , masih ingatkah ibu dengan saya?. Teman sekantor Melati saat bekerja di BIA Finance dulu. Bu, tolong percaya saya, Melati saat ini kondisinya sangat memperihatinkan, ia baru saja melakukan operasi melahirkan". Ucapku sungguh- sungguh.


"Ya, Allah, bagaimana keadaannya sekarang, dimana suaminya, mengapa ia harus dioperasi, apakah Melati dan bayinya sehat?, berbagai pertanyaan ibu Melati mencecarku.


"Ibu, sabar, saya akan jawab satu persatu, Alhamdulillah, Melati baik-baik saja, saat ini saya tidak mengetahui keberadaan suaminya, pendarahan hebat akibat terjatuh yang menyebabkan ia harus dioperasi guna menyelamatkan ia dan bayinya".


" Sebaiknya ibu segera kemari, saya mohon, Ia masih belum sadar, saya takut terjadi sesuatu padanya pasca operasi, ia masih sangat lemah' Bu". Lanjutku


"Baik- baiklah. Ibu bersama Nesya akan kesana. Tolong kirimkan alamat Melati dirawat".


"Iya, Bu, segera saya kirimkan. Sudah dulu ya bu, saya akan tutup telepon nya".


"Terimakasih nak Nia, terimakasih atas pemberitahuannya, ibu akan segera kesana".


"Iya, Bu sama- sama.


(Lalu kami saling mengakhiri percakapan dengan mengucapkan salam)


"Nia", aku terkejut ternyata Melati sudah sadar sedari tadi.

__ADS_1


" Mel, Alhamdulillah, kamu sudah siuman", refleks kupeluk Melati, seraya menangis terisak.


" Nia, bayiku, mana?, apakah dia hidup ", tanya Melati lemah.


Kulepas pelukanku, " Bayimu sehat Mel, laki - laki, mirip seperti mas Andre, tampan".


" Jangan sebut nama lelaki itu Nia, aku benci dia!" . Melati berkata dengan nada tinggi disertai tangisan.


" Mel, jangan menangis, aku janji gak sebut nama itu lagi, ibumu sudah aku hubungi. Mungkin sekarang ia dan adikmu sedang menuju kesini", aku mencoba menenangkannya sambil menggenggam erat tangannya.


"Benarkah itu Nia", kulihat binar keceriaan di mata Melati saat kusebut tentang kedatangan ibunya.


Aku mengangguk


" Nia, terimakasih atas bantuannya, jika engkau tidak ada entah apa yang akan terjadi pada diriku, dan bayiku. Pasti hal buruk yang akan terjadi", Melati mulai menangis kembali. ( Huhuhu tangisnya semakin menggugu)


Melati menganggukkan kepalanya sembari melepaskan pelukan.


"Iya, Nia, aku harus bangkit" , terukir senyuman diwajah Melati. Aku membalas dengan ikut tersenyum.


" Oh, ya, aku ke ruangan anak dulu, memanggil suster untuk membawa anakmu keruangan ini menemui dirimu".


" Baik Nia, sekali lagi aku ucapkan terimakasih", sambil memandang lekat padaku.

__ADS_1


Aku hanya mengedipkan mataku padanya.


"Bentar, ya"


(Aku keluar dari ruangan Melati, menuju ruangan anak yang letaknya bersebelahan dengan ruangan Melati).


" Suster, mana anak nyonya Melati, ibunya sudah sadar dan ingin melihat bayinya", segera suster yang menjaga ruangan itu menanggapi ucapanku, ia menunjuk kesebuah box mungil bertuliskan nama nyonya Melati.


"Ini Bu bayinya, mari saya bawakan keruangan ibunya, kita akan coba agar ia bisa segera mimik ASI ibunya" , ucapnya sambil menggendong si bayi.


Lalu kami berdua keluar dari ruangan tersebut. Ternyata bayi Melati terlihat begitu sehat dan tampan. Kami segera masuk keruangan Melati.


"Ibu Mel, ini bayinya ", ucap suster saat kami memasuki ruangan Melati.


Melati mencoba duduk dengan perlahan, aku segera menolongnya dengan menyandarkan beberapa bantal ke bagian belakang tubuhnya.


"Anakku, ah, betapa malang nasib kita." Melati memeluk bayi mungil itu sambil bercucuran airmata, membuat iba siapapun yang melihatnya.


" Mel, ingat , kamu harus kuat, sikapmu ini bisa membuat tubuhmu lemah. Bisa- bisa nanti ASImu gak keluar. Kasihan bayimu", bujukku pada Melati.


"Benar itu Mel, pikirkan kesehatan dirimu, demi cucu ibu ", kami berdua sangat terkejut dengan kedatangan ibu Melati.


"Ibuuu, huhuhu, akhirnya ibu datang untuk memaafkan ku, maafkan kesalahan Melati selama ini " Melati, ibunya dan bayi itu saling bertangis- tangisan. Aku pun tak sanggup menahan airmataku. Kami semua yang ada di ruangan itu lebur kedalam tangisan.

__ADS_1


"Sudah, sudah lah Melati, ibu juga minta maaf, mulai sekarang kita akan bersama lagi" sahut ibu Melati dengan sesenggukan, kali ini Nesya ikut bergabung memeluk kakaknya.


Sungguh pertemuan yang sangat mengharukan penuh dengan airmata. Aku bersyukur akhirnya Melati dapat bersatu lagi dengan orang orang terkasihnya.


__ADS_2