
Dari pagi hingga malam menjelang, pikiranku tidak tenang. Kutunggu suamiku pulang, aku tak sabar ingin memuntahkan sejuta pertanyaan tentang helai rambut itu, milik siapa, dan bagaimana bisa ada dikemeja suamiku. Tetapi disaat dia datang, lidahku terasa kelu, tak mampu berkata apa- apa. " Dik, mas pulang".
"Lho, kenapa tangannya dik, apa yang terjadi?"
Dengan mesranya dia merengkuh pundakku.
" Nggak apa-apa kok mas, tadi adik tidak sengaja memecahkan kaca meja rias kita. Aku terpeleset saat mencoba membersihkannya."
"Hanya luka kecil, sudah diobatin tadi," lanjutku lagi.
" Aduh, lain kali hati-hati dong saat bekerja"
__ADS_1
"Mas nggak mau kalau cinta mas terluka, terlebih lagi kamu sedang mengandung buah hati kita", ucapnya manja.
Aku terdiam antara senang atau benci, entahlah.
Malam itu, tidak ada perubahan dalam setiap cumbu rayu mas Andre. Masih sama seperti malam- malam sebelumnya. Mas Andre memang suami yang jago untuk urusan yang satu itu. Setelah selesai melepaskan hasratnya, ia memeluk tubuhku mesra, seraya berkata " Dik, mas mau ngomong, mas mendapatkan tawaran dari Bos. Tawaran untuk menduduki jabatan penting sebagai menejer di perusahaan cabang di luar kota. Gajinya lumayan, dik".
" Maksud mas "
" Jadi, mas akan meninggalkan aku dan calon anak kita !", suaraku meninggi.
Mas, aku tidak mau jauh darimu, biarlah pekerjaan mu disini hanya sebagai karyawan biasa. Tapi engkau ada di sampingku, " rengekku kepada mas Andre.
__ADS_1
"Apalagi aku akan segera melahirkan, mas, apa kau tidak kasihan kepadaku."
"Justru itu sayangku, ini semua demi mimpi kita, demi kau dan juga calon anak kita. Mas ingin membahagiakan kalian nantinya. Memberikan penghidupan yang layak, rumah, mobil dan segala kemewahan lainnya. Percayalah, mas berjanji atas nama cinta kita".
Mas Andre sepertinya berhasil meyakinkanku malam itu. Aku masih mempercayai ucapannya. Keputusan yang akan kusesali pada akhirnya nanti.
Pikiranku melayang tak tentu arah. Beberapa hari lagi mas Andre akan segera berangkat keluar kota. Seandainya benar apa yang diucapkan mas Andre, maka akulah wanita yang paling beruntung. seorang istri yang benar-benar dinafkahi oleh suaminya. Tapi, bagaimana seandainya dia sukses dan kemudian berpaling ke wanita lain. Persis sama seperti yang dilakukannya terhadap mantan istrinya dulu. Masih jelas terbayang di benakku helaian rambut pirang itu. Itu punya siapa mas, itu bukan punyaku. Aku takut membayangkannya.
Tibalah saatnya mas Andre akan berangkat, dia akan pergi dengan menaiki bus antar kota. Airmata perpisahan tak terbendung, aku memeluk erat suamiku. " Jaga calon anak kita ya dik," ucapnya lembut. Aku hanya bisa mengangguk dalam dekapan dadanya yang bidang. Dengan taxi online mas Andre menuju ke terminal bus. Aku tidak diizinkannya ikut mengantar ke terminal. Alasannya takut aku tidak kuat melihat kepergiannya.
Tinggallah aku sendiri setelah kepergian mas Andre, hatiku sangat sedih. Apa yang harus kulakukan, haruskah aku kembali pada ibuku. Apa yang akan dikatakannya, akankah ibu menerimaku setelah semua yang kulakukan pada ayah dan ibu dulu. Untung saja masih ada bik Inah, pembantu kami yang masih setia menemaniku dirumahku ini. Biasanya bik Inah pulang sore, setelah selesai bekerja, tetapi semenjak mas Andre keluar kota, dia menawarkan diri menemaniku di rumah. Tentu saja dengan senang hati aku menerimanya.
__ADS_1