
Dalam kesendirian dikeheningan malam, aku kembali teringat kenangan indah bersama mas Andre.
Hubungan asmara terlarang yang tengah membara menjadi sorotan Bos dan teman tempat kami bekerja.
Teguran Bos, nasehat teman dan orangtuaku bukannya menyadarkan diriku. Malah membuat kami semakin nekat dan menggila.
" Sadar Mel, dia sudah beristri, apa kamu gak mikir nanti kalau ketahuan mampus lu", ucap Nia teman kerjaku yang cukup dekat selama ini.
" Bodo amat, yang penting mas Andre
mencintaiku. Dia mau kok menceraikan isterinya, mereka itu sudah tidak saling cinta. Hanya bertahan demi anak."
Aku berusaha meyakinkan Nia dengan segala curhat yang diucapkan mas Andre, tentang istrinya dan emaknya.
Bahwa dia berusaha keras untuk menyatukan keduanya, tapi nampaknya tidak berhasil. Istrinya terlalu egois, sementara dia sangat menyayangi emaknya.
"Terserah elo lah ,Mel, aku berharap semoga tidak terjadi hal buruk pada dirimu, yang telah merebut suami orang, dicap pelakor lagi", lanjut Nia. Sejak saat itu hubungan pertemananku dengan Nia merenggang.
Aku tidak perduli dengan itu, aku tidak perduli juga cibiran orang- orang yang menyebutku pelakor. Sengaja aku keluar dari tempat kerja agar mereka tidak mengganggu hubunganku dengan mas Andre.
Ayah dan ibuku rupanya telah mendengar berita tentang hubunganku dengan mas Andre. Kemarahan tampak diwajah ayah, saat aku disidang di ruang keluarga. Saat itu khabar aku berhenti dari tempat kerja dan hubunganku dengan mas Andre sudah sampai di telinganya. Nia yang menyampaikan kepada adikku Sarah dan disampaikan ke ayah.
__ADS_1
" Mel, ayah sudah tau semuanya, kamu jangan mempermalukan keluarga, mau jadi anak durhaka kamu!" suara ayah meninggi memventakku. Seumur hidupku baru kali ini nada suara ayah terdengar begitu kasar.
Ayahku adalah seorang lelaki penyabar, dan bila menasehati selalu bersuara lembut. Tapi,,,
kali ini tidak ada nada lembut yang keluar dari kata -katanya. Aku menjadi sedikit takut dan hanya bisa menunduk sedih
Rupanya Nia sudah memberitahukan segalanya pada adikku, tentang diri mas Andre yang sudah menikah. Lalu ia menyampaikannya pada ayah dan ibu.
Dengan sebab kejadian itu, tiba- tiba saja jantung ayah menjadi sakit, ia pingsan dan harus segera dilarikan kerumah sakit.
Seisi rumah menjadi panik, ibu dan adikku menjerit - jerit memanggil nama ayah.
Untunglah ayah selamat, dan dapat disembuhkan. Aku berusaha untuk menghindar dulu dari mas Andre. Setidaknya sampai ayah pulih.
Kali ini aku meminta mas Andre untuk bersabar dulu menjumpai ku. Dasar yang namanya lagi mabuk kasmaran, kami akhirnya membuat janji saling bertemu di sebuah kafe.
Akhirnya setelah seminggu tidak ada kontak dengan mas Andre, kerinduan membuncah didada kami berdua. Rindu setengah mati dua insan di mabuk kepayang. Yang tidak lagi memandang norma dan apalah namanya.
Aku pamit sama ibu, mengatakan ingin keluar mencari pekerjaan. Pagi itu kami janji bertemu disebuah kafe disudut kota, tempat biasa kami nongkrong.
Sesampainya di kafe, aku dan mas Andre saling berpelukan melepaskan rindu. Owh, inikah yang namanya cinta.. aku seakan ingin memiliki dirinya seutuhnya.
__ADS_1
Pelukan mas Andre seakan menjadi berjuta magnet cinta yang mengaliri tubuhku.
" Mas kangeeeen ama Mel," bisiknya mesra.
"Mel juga ,mas"
Dan tanpa berpikir panjang lagi, kami segera berlalu dari kafe untuk memesan hotel melati terdekat. Perbuatan terlarang itu akhirnya terjadi juga antara aku dan mas Andre. Aku menyerahkan keperawananku kepada mas Andre, tanpa merasa berdosa atau menyesal. Semua karena satu kata cinta.
Sore itu aku pulang kerumah dengan perasaan bahagia. Mas Andre berjanji akan segera menceraikan istrinya, memintaku kepada kedua orangtuaku, untuk dijadikannya istri. Dia berkata emaknya sudah merestui hubungan mereka.
Nampaknya perkawinan mas Andre dan istrinya sudah tidak dapat diselamatkan. Dalam hati aku bersyukur akhirnya mas Andre dapat kumiliki. Aku terbang dalam khayalan indah tingkat tinggi, seandainya nanti menjadi istri mas Andre akan memberikan yang terbaik bagi dirinya.
Mas Andre menepati janjinya, ya berselang lama dari kejadian di hotel itu , ia mendatangi ayah. Meminta diriku padanya, dan mengatakan bahwa ia telah menceraikan istrinya. Ayah marah besar pada mas Andre, jantungnya kumat lagi.
Kali ini ayah tidak bisa diselamatkan. Ia tiada, tapi itu mungkin sudah ajalnya. Bagiku life must go on. Ibu dan adikku marah kepadaku, mengatakan akulah penyebab kematian ayah.
Dengan lantang ibu berkata akan mengusirku bila menikah dengan mas Andre. Aku pasrah. Aku lebih memilih mas Andre.
Kami menikah tanpa dihadiri ibu dan adikku, bahkan emak mas Andre pun tidak hadir. Alasan mas Andre emaknya masih trauma dengan istri mas terdahulu, jadi belum bisa menerima menantu baru.
Sampai tiga tahun pernikahan kami aku hanya berhubungan via telpon dengan ibu mertuaku. Mas Andre tidak mengizinkan aku menemui emaknya. Takut nanti ada apa apa. Dan dalam setiap percakapan kami aku tidak pernah di izinkan menyebutkan diriku sebagai istri mas Andre. Mungkin aku manusia bodoh, tidak pernah mempermasalahkan ini. Yang penting aku sudah diperistri mas Andre, impian yang kuidamkan sejak pertama kita bertemu.
__ADS_1