
Hari-hari setelah mas Andre keluar kota menjadi hari paling tersiksa dalam hidupku, apalagi dengan kondisiku hamil 8 bulan.
Malam terasa begitu panjang, hanya berteman guling dan bantal diranjangku.
Untunglah mas Andre dengan setia meneleponku setiap malam sejak ia berada di sana.
" Halo, dik, bagaimana kabarmu dan calon bayi kita, gak rewelkan, mas kangeeeen sekali" ucapnya di seberang.
" Bayinya sih gak rewel, tapi mamanya nih kangen banget sama papanya"
"Mas, gimana kerjanya, nyaman gak ditempat yang baru" lanjutku lagi.
" Itulah dik, disini mas harus bekerja lebih keras, membuat prospek pencerahan terhadap perusahaan. Jadi kerjaan mas akan menyita waktu yang cukup banyak kedepannya".
"Kemungkinan mas nggak akan sesering ini menelepon adik, semoga kamu mengerti nantinya.
Mas Andre mencoba memberikan penjelasan akan kerjaannya ditempat baru. Dan mewanti - wanti agar aku tidak khawatir apabila nantinya ia jarang menelepon.
" Tapi mas harus tetap janji jangan macam-macam disana, kerja yang baik. Jangan buat affair ya di belakangku, awas lho!". Aku mengatakan ini kepada mas Andre karena terkadang hati ini merasa takut diduakan.
Mungkin ini hukuman bagiku yang telah merebutnya dari mantan istri mas Andre.
"Ya enggaklah dik, cinta mas sekarang hanya untuk dirimu, sueer disambar gledek", gombalan mas Andre begitu membahagiakan diriku malam itu. Akhiy percakapan kami ditutup dengan saling mengucapkan kata I love you.
__ADS_1
POV Andre
" Kamu telponan sama siapa sih pa, kok serius amat, tuh makanannya dah disiapin emak, ayo kita makan".
" Ini sama klien baru papa, besok mau jumpa, ada bisnis baru".
"Oh, begitu"
Lalu aku segera beranjak ke ruang makan, di situ telah menunggu emak dan kedua anak gadisku, Naila dan Aira. Untunglah istriku tidak banyak bertanya lagi.
Namaku Andre Suryadiningrat, anak tunggal dalam keluargaku. Ayahku adalah orang terpandang didaerahku, bekerja sebagai mantri kesehatan. Emakku ibu rumahtangga biasa.
Sebagai anak tunggal hidupku sangat dimanjakan oleh kedua orangtuaku. Banyak yang bilang wajahku tampan, Sejak SMA aku sudah bergonta ganti pacar.
Pembawaannya rada kaku dan tegas, mungkin karena dia menduduki jabatan penting dibank tersebut. Jabatan sebagai wakil direktur utama. Terus terang aku kagum diawal pertama bertemu, gadis cantik yang masih muda tetapi sudah menduduki jabatan penting.
Akhirnya aku berhasil mempersunting Dedek menjadi istriku. Saat itu aku adalah orang yang paling berbahagia. Punya istri cantik, kaya dan mempunyai kedudukan tinggi. Pokoknya idaman banget.
Hingga akhirnya semua berubah setelah menikahinya. Kehidupan kami bertolak belakang, aku masih pengangguran, tidak bisa mengimbangi pola kehidupannya yang teratur.
Dedek itu istri yang terlalu mengatur, terkadang permasalahan kecil saja bisa membuat dia marah.
Tapi emak selalu menasehatiku, mungkin karena tuntutan pekerjaannya maka dia begitu. Aku disuruh bersabar dan berusaha untuk mencari pekerjaan. Hingga tahun kedua pernikahanku, aku belum juga mendapat pekerjaan. Tiap hari ku habiskan dugem di cafe bersama teman- teman. Uang warisan ayah sedikit demi sedikit kupakai untuk kebutuhan dugemku.
__ADS_1
Barulah setelah istriku melahirkan, kebiasaan dugemku hilang , itupun setelah emak menangis di depanku meminta agar aku mau menafkahi keluargaku. Putri kecilku membuat aku tersadar dari ketidakperdulianku selama ini.
Aku mencoba melamar pekerjaan disebuah perusahaan leasing. Akhirnya aku diterima bekerja, walaupun dengan gaji yang sedikit.
Gaji istriku jauh lebih tinggi dari gajiku. Tapi aku merasa sangat puas ketika pertama kali gajian dan membagikannya kepada emakku.
Yah, aku sengaja tidak membagikan gaji pertamaku kepada istriku, karena toh gaji dia lebih besar. Emak memberikan uang itu kepada istriku. Bukannya berterima kasih, malahan dia mencibir.
" Udah, uang itu Mak pegang aja, segitu dapat apa jaman sekarang, buat beli susu aja kurang'.
"Seharusnya engkau bersyukur Dek, suamimu sudah bisa menghasilkan uang dari hasil kerja kerasnya sendiri", emak berusaha menasehati istriku dengan lembut.
Aku yang mendengar percakapan mereka merasa sakit hati dengan istriku. Sepertinya ia tidak menghargai usahaku. Aku benci dan ingin membalaskan sakit hatiku padanya.
Apalagi sejak melahirkan putri kami, Dedek menjadi dingin terhadapku. Perhatiannya hanya tertuju pada putri kami. Sedangkan kebutuhan biologisku sering diabaikannya, ia menolak setiap kali diajak berhubungan dengan alasan capek.
Hingga akhirnya dikantor aku bertemu Melati, yang sangat perhatian padaku. Gadis manis yang enak diajak ngomong. Aku sering curhat padanya masalah istriku. Dengan penuh perhatian dia mendengar setiap keluhanku.
Aku jatuh hati akan kelembutan Melati, dan ternyata ia juga mencintaiku. Hubungan kami sudah terlalu jauh, kami melakukan hubungan layaknya suami istri.
Aku bingung, mau menceraikan istriku tidak mungkin, karena emak pasti akan memilih istriku yang sudah mempunyai anakku. Pasti aku yang akan disalahkanya. Untunglah disaat itu istriku mendapatkan posisi direktur utama yang terletak di kantor cabang dikota lain. Untuk sementara aku aman.
"
__ADS_1