
"Ah.kamu jangan bicara sembarangan Nia, kamu mungkin salah atau tidak mengetahui pasti, bahwa suamiku masih bekerja di perusahaan kita dulu. Perusahaan yang telah mempertemukan kami", sahutku dengan nada ketus. Aku merasa Nia mengada - ada.
"Bahkan pak Herbet ( bos tempat kami bekerja dulu) telah mempromosikan mas Andre untuk menduduki jabatan penting di kota B, sebagai menejer", jelasku padanya.
"Dan sekarang kamu katakan kalau mas Andre sudah lama tidak bekerja disana!" nada suaraku meninggi.
"Tenang Mel, maaf, bukan maksudku mengada- ada. Tapi aku sendiri yang menyaksikan suamimu dipecat dari pekerjaannya. Karena aku masih berada disana saat itu. Kalau kau tidak percaya, lebih baik kita kesana, untuk memastikan benar tidaknya perkataanku". Nia berusaha meyakinkan diriku.
Mendadak kepalaku terasa pusing, mataku berkunang-kunang, "benarkah semua yang dikatakan Nia, Dimanakah suamiku berada sekarang?, apakah dia benar-benar sedang bekerja di kota B?.
Berbagai pertanyaan bermunculan dikepalaku. Hatiku terasa sakit sekali, badan ku menggigil gemetaran, aku tidak sanggup menahan emosi.
Tiba- tiba aku hilang keseimbangan.
" Mel !!! dengan gerak refleks , Nia berhasil menahan tubuhku yang hendak tumbang. Dengan dibantu beberapa pegawainya , ia memapah diriku kesebuah sofa. Lalu membaringkan diriku diatasnya.
"Mel, sadar, Mel" samar kudengar suara Nia mencoba membangunkanku. Rupanya aku sempat tak sadarkan diri. Niia segera menelpon dokter Adek. Mereka membawaku ke kliniknya dengan segera.
__ADS_1
Perlahan aku membuka mataku, sekelilingku berwarna putih, aku seperti mengenal ruangan ini. Ya, ini adalah ruangan tempat praktek dokter Adek. Aku mencoba bangkit.
"Ibu, sudah sadar, istirahat saja dulu Bu?' Dokter Adek berusaha menahanku untuk bangkit. Aku berbaring kembali.
"Aapa, yang terjadi pada saya dok'
"Tadi ibu pingsan, lalu teman ibu menelpon pihak klinik. Saya sudah pesankan kepada teman ibu agar menjaga kondisi ibu, jangan sampai stres yang bisa berdampak kepada bayi yang ibu kandung", jelasnya.
"Nia, mana teman saya dok'", aku celingukan mencari Nia.
"Sebentar, saya panggilkan", dokter Adek segera keluar ruangan.
"Kamu gak pa pa kan Mel, aku shock lihat kamu pingsan tadi. Aku minta maaf, seharusnya tidak mengatakan apa apa tentang suamimu. Padahal kamu dalam kondisi hamil besar dan sedikit lemah". Ujar Nia merasa bersalah
" Gak apa apa, Nia, aku hanya lelah dan sedikit terkejut, pikiranku kacau. Beban batin ini begitu menguras pikiran ku. Aku harus menyadari cepat atau lambat pasti akan mendengar berita ini.
"Maafkan aku Mel, seharusnya aku menyimpan nya dulu" berulang kali Nia meminta maaf. Berulang kali pula kukatakan ini bukan salahnya.
__ADS_1
" Nia, aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Setelah semua yang pernah kulakukan dan segala kebencianku dulu, kamu tetap baik padaku", dengan berlinang air mata kuucapkan permintaan maaf pada Nia.
Nia memelukku erat, berusaha menenangkan diriku, " Sudahlah Mel, semua yang telah terjadi, biarlah menjadi kenangan masa lalu. Sampai kapanpun aku akan tetap menjadi temanmu. Apalagi sebentar lagi anakmu akan lahir dan aku siap menjadi antie nya( Tante). Kamu harus semangat untuk menyambut kelahiran bayimu kelak. Masalah mas Andre kita akan cari bersama keberadaannya".
Kami dama sama tertawa. Entah mengapa perkataan Nia begitu menyemangati ku.
Gairah hidupku menyala kembali. Aku sangat mengharapkan Nia memegang janjinya untuk sama menemaniku mencari keberadaan suamiku.
Dimanakah kau berada kini suamiku, tidakkah kau perduli padaku. Yang seorang diri menanggung derita.
Sore itu aku pulang dari klinik diantar oleh Nia. Dari percakapan kami selanjutnya aku mengetahui bahwa dia masih menjomblo.
Dengan uang pesangon yang didapatkan dari perusahaan karena ia dirumahkan, ia membuka usaha kecil-kecilan.
Pilihan usahanya adalah membuka toko spesial menjual kebutuhan ibu hamil dan balita. Kebetulan ia kost disamping klinik dokter Adek.
Dan , Alhamdulillah usahanya berkembang pesat sampai sekarang.
__ADS_1
Aku bersyukur dijumpakan Allah dengan Nia. Disaat orang yang kusayangi pergi bekerja entah dimana. Tiada pula kabar berita, Allah mengirimkan seseorang sebaik Nia. Teman karibku yang sosok periang dan berhati mulia.