
Sudah dua malam ini suamiku absen menelpon. Berbagai macam perasaan sedih berkecamuk difikiranku. Sedih saat aku hamil, mas Andre jauh, sedih disaat aku sedang butuh- butuhnya kasih sayang apalah daya situasi tak memungkinkan.
Melihat tayangan televisi bosan, mau makan tidak selera, kaki bengkak, pokoknya lengkap sudah deritaku. Tak terasa airmataku mengalir, aku teringat ibu, tapi malu untuk meneleponnya.
"Bik, bik, Inahhhh !, panggilku kepada bik Inah.
"Ada apa bu, ibu kenapa, apanya yang sakit Bu?' Bik Inah datang tergopoh- gopoh.
"Gak, ada bik, bukan badan yang sakit , aku hanya merasa sendirian, bibik malam ini temani aku tidur ya.
"Oh, saya kirain ibu mau melahirkan, ya udah saya temani ibu", jawabnya polos.
"Makasih, bik" sahutku. Entah kenapa sejak dua Minggu ini mas Andre semakin jarang meneleponku. Aku takut terjadi apa -apa dengannya.
Apakah mungkin ia melakukan sesuatu yang kutakutkan disana, berselingkuh dengan teman sekantornya, atau jangan jangan...
Ah mengapa perasaan ini semakin membuatku takut. Mungkin ini juga yang dirasakan mbak Dedek.
Pagi itu aku bangun cepat, rencananya mau konsultasi dengan dokter kandunganku. Kubuka wa di handphone, kubaca pesan yang masuk dari mas Andre. "Mel, maaf mas sibuk sekali di kantor yang baru. Kerjaan mas menumpuk. Jadi untuk sementara mas gak bisa menghubungimu.
Aku termangu membaca pesan mas Andre. "Mas,mas, seberapa sibukkah dirimu hingga tidak punya waktu untuk menelpon diriku", gumamku dalam hati. Sengaja tak kubalas SMS-nya, abaikan ajalah.
__ADS_1
Hari ini jadwal jumpaku dengan dokter Adek di RSIA Permata Bunda pukul 11.00. Tepat pukul 10 aku berangkat dari rumah dengan taksi online. Kuputuskan sementara ini harus lebih memikirkan calon bayiku. Aku tidak mau akibat terlalu memikirkan mas Andre, kesehatanku menjadi terganggu. Ujung- ujungnya nanti akan berakibat fatal pada bayiku.
"Ibu Melati, masuk"
Suara suster yang memanggilku seketika membuyarkan lamunanku.
"Ya, ya, ssaya", aku menjawab dengan tergagap.
"Mari Bu, silahkan" dengan sopan dia mempersilakan diriku masuk keruang praktek dokter Ade.
" Halo, apa kabar Bu Melati, ayo saya periksa kandungan ibu, kita USG dulu ya untuk melihat calon bayinya"., sapanya ramah. Aku langsung naik ke atas tempat tidur.
"Baik, Dok"
"Alhamdulillah, calon bayinya sehat, ibu bisa lihat pergerakannya. Saya perkirakan 3 Minggu lagi ibu akan lahiran. "
"Yup, selesai", dokter Adek membereskan peralatan USGnya, mencuci tangannya, lalu duduk di meja prakteknya. Dia menuliskan resep kepadaku sambil berkata kepadaku yang juga telah bersiap duduk didepan mejanya.
"Ini saya tuliskan resep vitamin yang harus ibu makan. Mana nih papanya, kok gak kelihatan, padahal sudah harus jadi papa siaga", ucapnya ramah.
"Ia nih dok, mas Andre lagi tugas keluar kota, jadi saya sendiri kesini", aku berkata lirih.
__ADS_1
" Wah, mungkin papanya sedang mengumpulkan uang yang banyak ya. "
"Gak, apa - apa Bu, yang penting ibu tetap jaga kesehatan, jangan bersedih, nanti kasihan calon bayinya", hibur dokter Adek.
"Iya, dok, makasih, ya" , aku sedikit terhibur dengan nasehat dokter.
Ada benarnya yang iya ucapkan, mungkin mas Andre sedang mencari rezeki yang banyak untuk biaya lahiran. Ah.. semoga saja. Yang penting mas Andre telah meninggalkanku sejumlah uang untuk bulan ini, guna keperluan sehari-hari.
Sepulang dari tempat praktek dokter Adek, aku singgah di apotek menebus resep yang diberikan dokter Adek. Lalu sengaja mampir di sebuah toko pakaian bayi yang tidak jauh dari RSIA. Permata Bunda. Saat sibuk memilih- milih baju bayi , aku dikejutkan dengan sapaan dari seorang wanita cantik berpakaian indah.
"Mel, kamu Melatikan!"
Aku seperti mengenalnya, yah, nggak salah lagi itu Nia, teman kerjaku dulu.
"Nia, kamu ...., wow , cantik sekali kamu Nia, tunggu dulu, dengan dandanan begini, kamu pasti bukan penjaga tokonya, pasti kamu pemiliknya, ia kan?"
"Hahaha, benar Mel, Alhamdulillah, sejak keluar dari tempat kerja dulu, aku memang memilih berdagang pakaian anak-anak dari satu tempat ke tempat lain. Aku mengumpulkan keuntungan sedikit demi sedikit untuk membuka toko pakaian bayi. Seperti yang kau lihat sekarang, usahaku maju Mel.
" Eh, ngomong-ngomong dah berapa bulan nih kandunganmu. Mana mas Andre, kok dia tidak mengantarmu kesini. Dimana kini suamimu bekerja, sejak kau keluar dari tempat kerja kita, tidak berapa lama dia ikut pun berhenti. Nia nyerocos terus tanpa memberikan aku kesempatan untuk menjawabnya.
Mas Andre juga telah berhenti bekerja..., jadi dimana selama ini dia bekerja. Bukankah ia bekerja ditempat kami dulu, dan dipromosikan menjadi manajer cabang perusahaan masih di tempat kami dulu bekerja. Apa sebenarnya yang mas Andre sembunyikan. Dimana sebenarnya ia bekerja sekarang?
__ADS_1
Aku pulang dari tempat Nia dengan berbagai pertanyaan berkecamuk dikepalaku. Apa benar yang dikatakan Nia, ah mana mungkin mas Andre mau membohongiku. Tidak mungkin itu, aku percaya suamiku.