
"Mbak, anda disuruh menghadap tuan Bagus, langsung keriangannya" sahut si mbak di meja tamu tadi.
" Oh ya, trims mbak " aku mengucapkan terimakasih dan bergegas masuk keruangan CEO.
Sungguh ruangan yang indah, furniture di dalam ruangan begitu elegan. Ada kursi tamu beludru berwarna merah, dilengkapi dengan vas bunga kaca dengan hiasan bungaa mawar segar diatas mejanya. Wangi harum lmenyebar disekitar ruangan ini.
Di sudut ruangan ada meja kerja jati dengan kursi laksana singgasana raja. Pasti orang yang menempati ruangan ini mempunyai selera yang tinggi. Tapi dimana CEO itu.
Tidak berapa lama keluar seorang lelaki dari sebuah ruangan yang kemungkinan itu toilet pribadi. Wajah dan perawakannya ganteng, tapi sayang senyumnya tidak ada. Mimik wajahnya seperti seorang psikopat ganteng yang misterius. Gini nih kebanyakan nonton Drakor, halu tingkat dewa.
"Anda Melati, silahkan duduk" ucapnya dingin
" Benar saya Melati, terimakasih tuan", jawabku sopan sambil duduk ditempat yang ditunjuknya.
" Saya sudah membaca profil anda, dari sekian pelamar, hanya satu yang bisa memenuhi syarat menjadi sekretaris saya' , dia memulai pembicaraan dengan serius.
__ADS_1
" Dan orang yang berhak untuk menduduki posisi sekretaris itu adalah anda", ucapnya tegas.
" Benarkah tuan, padahal saya belum anda tes atau apalah itu untuk mengetahui kemampuan saya", aku menjawab keheranan.
" Bagaimana bisa anda menerima seseorang yang belum anda ketahui kemampuannya sama sekali tuan, maaf bukan saya tidak menerima tawaran tuan, tetapi ini terlihat aneh bagi saya", jawabku lagi.
"Hemm, anda tidak harus merasa aneh, karena saya sudah mempelajari biodata setiap pelamar yang melamar di perusahaan saya. Sekarang saya bertanya sekali lagi , apakah anda bersedia bekerja di perusahaan saya? ", ekspresi tuan Bagus sangat tegas dan terkesan arogan disaat mengatakan ini.
Aku kok jadi merasa aneh begini, terkesan ia memaksa aku untuk menerima pekerjaan sebagai sekretaris di kantornya. Ataukah ini memang kemujuran diriku, mungkin penampilan diriku saat ini mampu menarik perhatiannya. Ah yang penting aku harus menjawab sekarang.
" Hari ini juga anda saya terima, gaji perbulan saya berikan 3 juta, ditambah bonus setiap bulannya, bila pekerjaan anda bagus", katanya dengan lantang.
Aku terhenyak seakan tak percaya, " Eh, be,benarkah hari ini saya sudah bisa bekerja, pak", ucapku terperanjat. Dimana-mana orang melamar kerja tak akan semudah ini prosesnya aneh. Tapi aku butuh pekerjaan ini, aku menarik nafas dan, " Iya pak, saya terima pekerjaan ini", jawabku mantap.
" Kalau begitu, temui Desi di meja depan tadi, dia akan membimbing anda, Melati, untuk mulai bekerja. Dan dia juga yang akan memperlihatkan ruangan anda".
__ADS_1
"Terimakasih pak, saya akan bekerja sebaik mungkin", jawabku senang.
"Ok, kerja yang disiplin dan loyal" sahutnya tanpa melihatku sama sekali.
Aku permisi keluar ruangan. Kutemui gadis yang bernama Desi tadi. Dengan ramah Desi membawaku kesebuah ruangan tepat didepan ruangan tuan Bagus, ruangan mungil yang nyaman, Dilengkapi dengan seperangkat meja kerja ukiran kayu jati dan sebuah buffer berisi data- data kantor.
"Mbak Melati saya tinggal dulu ya, ini berkas yang dititipkan tuan Bagus untuk mbak. Pelajari kata tuan" , ucap Desi lalu ia beranjak pergi.
Aku masih tidak percaya berada dikantor semegah ini. Aku harus telepon ibu melalui ponselku untuk mengabarkan bahwa aku telah diterima dan ini langsung bekerja. Ibu mengucapkan kata syukur kepadaku. Tidak lupa ia menyemangati ku dengan mengatakan anakku tidak rewel.
" Oh, ya Bu, udah dulu y, nanti jam makan siang Mel telpon kembali", lalu aku mengucapkan salam sebelum mematikan panggilan dari ponselku.
Aku mulai melihat- lihat berkas yang diberikan tuan Bagus. Kupelajari dengan hati- hati, aku harus menyalin kembali jadwal meeting tuan Bagus ke buku yang telah disediakannya. Lalu pergi ke ruangannya setelah selesai.
Aku mengetuk pintu tuan Bagus, tidak ada suara. Sunyi ruangannya, lalu aku keluar dengan maksud bertanya ke Desi.
__ADS_1
* Oh, Bu Mel, gak usah heran, pukul 9 begini tuan memang gak ada di ruangannya, tapi dia ada di mushola perusahaan ini. Sholat Dhuha", jawab Desi saat aku bertanya padanya.