Atas nama cinta ataukah nafsu semata

Atas nama cinta ataukah nafsu semata
Menunggu dalam kerinduan


__ADS_3

"Tut"


Dering hapeku berbunyi, aku segera bangkit mengambilnya diatas meja. Sudah sejak sore aku menunggu telpon dari mas Andre, apakah dia sudah sampai atau belum.


"Assalamualaikum, dik, mas sudah sampai, kamu baik aja kan, jangan bersedih, kasian calon dede bayinya". Suara mas Andre terdengar lembut menasehatiku, seakan tau sejak tadi pagi keberangkatannya, aku nyaris tak berhenti bersedih menunggu telpon darinya.


"Waalaikumsalam mas, Alhamdulillah, sudah sampai ya", aku sedikit bersemangat mendapatkan telpon darinya.


"Mas, aku kangen"


"Oalah, dik, belum juga lama mas pergi, kamu sudah kangen, sama mas juga. Ingat dik apa yang mas bilang kemarin, semua ini untuk kebahagiaan kita. Kebahagiaanmu, kebahagiaan mas dan juga kebahagiaan calon anak kita. Doakan saja mas sukses disini.


"Ia, mas, adik akan berusaha untuk tegar, asalkan mas sering - sering menghubungi adik".


"Tentu saja mas akan sering menelepon mu, menanyakan tentang keadaan kehamilan dan perkembangannya".


" Nanti tiba masa persalinan mas akan izin pulang, agar bisa mendampingi adik", lanjutnya lagi.

__ADS_1


Mataku berkaca-kaca, tak mampu mengucapkan banyak kata. Dalam hati aku hanya berharap apa yang mas Andre katakan benar adanya. Mendampingi diriku disaat persalinan tiba nantinya.


Kami saling mengucapkan kata " I Miss you" diakhir percakapan. Aku menutup telpon dengan agak berat, ah, bagaimanapun aku masih menyisakan sedikit rasa tak percaya pada mas Andre.


Awal pertemuan


Masih jelas diingatanku, awal pertemuan dengan mas Andre, di perusahaan yang sama dengan tempat ia bekerja sebelumnya.


Aku saat itu bekerja dibagian marketing, dan mas Andre adalah karyawan baru. Entah mengapa pandangan pertama begitu menggoda, mas Andre begitu tampan dan atletis bentuk tubuhnya. Sosok lelaki ideal. Ramah pula. Itu bukan menurutku saja, menurut teman sejawatku pun sama.


Pada saat itu jelas di KTP-nya ia sudah menikah, tapi aku seperti menafikan statusnya. Aku suka mas Andre. Lebih gila lagi aku malah ingin mengenal mas Andre lebih dalam.


Gayung Bersambut


Rupanya tingkah lakuku mendapat perhatian dari mas Andre. Dia sering melihat aku menatapnya diam- diam. Beberapa kali kami saling bersitatapan. Duh senyumnya itu manis sekali, melebihi manisnya gula. Bak gayung bersambut, ia mulai menyapaku, menanyakan alamat dan menawarkan diri mengantarku pulang.


Hal ini tidak kusia-siakan. Sepertinya panah asmara sedang menancap dihatiku. Aku mulai berani bertanya tentang dirinya.

__ADS_1


"Mas, nanti kalau ketahuan istrinya bisa kena marah apa nggak"


"Ya jangan sampai ketahuan lah"


"Tapi kalau ketahuan pun tinggal bilang cuma nganterin kok nggak boleh"


" Eh, ngomong-ngomong , takutnya mas nanti yang dimarahin ama cowok Melati. Bisa berabe nih," ucap mas Andre sembari tertawa renyah.


" Ah, mas, bisa aja . Melati belum ada yang punya kok"


"Jadi mas nggak perlu takut nih ya, hahaha," tawanya lagi. Aku hanya ikut tertawa bahagia.


Curhat


Sejak saat itu hubunganku dengan mas Andre semakin dekat. Kami selalu meluangkan waktu berdua diisela- sela istirahat pekerjaan. Pada saat jam istirahat inilah mas Andre mencurahkan segala keluh kesah dalam rumahtangganya.


Istri mas Andre adalah seorang wanita karir yang bekerja disebuah bank terkenal dikota kami. Cantik, modis tetapi tak bisa akur dengan ibu mertuanya, orangtua dari mas Andre. Mereka memiliki dua anak perempuan yang masih balita. Setiap hari ada saja pertengkaran yang terjadi antara istri dan ibunya. Mulai dari masalah anak dan masalah lainnya.

__ADS_1


Aku mencoba menjadi pendengar yang baik untuk setiap keluhannya. Padahal jauh di lubuk hatiku, aku merasa senang akan pertengkaran istri dengan ibu mas Andre. Aku berkhayal andai mereka berpisah aku siap menjadi istri yang lebih baik bagi mas Andre.


__ADS_2