Badboy Sekolah Mendekati Ku

Badboy Sekolah Mendekati Ku
khawatir seorang ibu


__ADS_3

Setelah sampai di halaman rumah Lizza, Rey menghentikan motornya di depan gerbang. Dia melihat langit yang semakin mendung, menandakan bahwa hujan mungkin akan turun kembali.


"Maaf, Lizza. Aku harus pulang sekarang," ucap Rey sambil menatap langit yang semakin gelap.


Lizza mengangguk mengerti, meskipun sedikit kecewa. "Ya, tidak apa-apa, Rey. Lebih baik kamu pulang sebelum hujan kembali deras."


Rey turun dari motor dan membuka helmnya. "Sampai jumpa besok di sekolah."


Lizza tersenyum, "Terima kasih, Rey. Sampai jumpa besok. Jaga dirimu."


Mereka berdua saling melambaikan tangan, lalu Rey segera melaju pulang dengan motor sportnya. Lizza melihatnya pergi sambil merasakan rasa kehangatan dalam hati. Meskipun hujan memisahkan mereka, tetapi Lizza merasa bahagia karena mereka sudah menghabiskan waktu bersama dan dapat berbagi momen yang berarti.


Lizza kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu rumah, masih merasakan kebahagiaan dalam hati. Dia tahu bahwa ada banyak momen indah yang akan mereka bagi bersama-sama di masa depan.


Lizza menghampiri pintu rumahnya dengan pakaian basah kuyup akibat hujan yang baru saja mereka alami. Saat dia hendak masuk, pintu rumah terbuka dan ibunya, Ibu Lizza, muncul dengan ekspresi cemas di wajahnya.


"Ibu! Maaf, aku kehujanan di luar. Tapi jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucap Lizza cepat.


Ibu Lizza menggenggam tangan Lizza dengan penuh perhatian. "Oh, sayangku! Kamu basah sekali! Kenapa tidak memberitahu ibu jika hujan turun? Kamu harus lebih berhati-hati, sayang."


Lizza mencoba meyakinkan ibunya, "Maafkan aku, Ibu. Hujan turun tiba-tiba saat kami pulang dari mall. Aku tidak punya kesempatan untuk mencari tempat berteduh. Tapi jangan khawatir, aku baik-baik saja."


Ibu Lizza menghela nafas lega, namun masih tampak cemas. "Baiklah, sayang. Cepat masuk dan ganti pakaian yang kering. Nanti Ibu akan membuatkanmu secangkir minuman hangat."


Lizza tersenyum dan mengangguk. Dia tahu ibunya selalu peduli dengan kesehatan dan keamanannya. Dia segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian basahnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Lizza keluar dengan pakaian yang kering dan duduk di ruang keluarga bersama ibunya. Ibu Lizza memberikan secangkir minuman hangat kepadanya. Mereka duduk berdekatan di sofa sambil bercakap-cakap tentang hari-hari mereka.


Lizza merasa hangat dan aman di dekat ibunya. Dia merasakan cinta dan kepedulian yang tak tergantikan dari sosok ibu. Meskipun kejadian basah kuyup tadi membuat ibunya khawatir, Lizza tahu bahwa kasih sayang dan perhatian itu tak akan pernah berkurang.


Dalam kehangatan rumah mereka, Lizza merasa nyaman dan diliputi rasa syukur. Meski cuaca bisa tak terduga, ada kehangatan keluarga yang selalu ada untuk melindungi dan mendukungnya dalam setiap situasi.


Lizza dan ibunya sedang duduk bersama di sofa ruang tamu sambil menonton acara televisi yang sedang tayang. Karena malam sudah larut, acara yang ditayangkan pun sudah semakin menyeramkan, tetapi ibu Lizza tetap asyik menonton dan sesekali tertawa karena adegan-adegan yang menggelikan.


Lizza sendiri merasa cukup ketakutan dengan acara yang ditontonnya, namun ia merasa nyaman karena duduk bersama ibunya. Ibu Lizza menawarkan cemilan ringan untuk mereka nikmati selama menonton acara televisi. Lizza memilih biskuit coklat dan ibunya memilih keripik kentang.


Sambil menikmati camilan, mereka terus menonton acara televisi yang semakin menegangkan. Terkadang Lizza menutupi matanya dengan tangan ketika adegan yang menakutkan muncul, dan ibunya tertawa melihat reaksinya.


Beberapa saat kemudian, acara televisi tersebut berakhir dan Lizza merasa lega. Ibu Lizza bangkit dari sofa dan membereskan cemilan yang telah mereka makan. Lalu, ia mengajak Lizza untuk segera tidur agar besok dapat bangun lebih pagi dan menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga.


Setelah beres, ibu Lizza dan Lizza bersama-sama menuju kamar untuk tidur. Lizza merasa senang karena telah dapat menghabiskan waktu bersama ibunya dengan menonton acara televisi yang menegangkan sambil menikmati camilan.


Ibu Lizza, yang sudah bangun lebih awal, sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Ketika melihat Lizza masuk ke dalam kamar, ekspresi cemas tergambar di wajahnya. "Lizza, sayang! Kamu kenapa? Kenapa badanmu terasa hangat?" tanya ibunya khawatir.


Lizza dengan lembut menjawab, "Maaf, Bu. Mungkin akibat semalam aku kehujanan pulang dari mall. Tapi jangan khawatir, aku merasa baik-baik saja."


Ibu Lizza mendekati Lizza dan meraba keningnya. "Hangat sekali, sayang. Kamu harus istirahat dengan baik agar tidak semakin parah. Ayo, kita pergi ke kamar mandi dulu dan aku akan menyiapkan obat demam untukmu."


Lizza mengikuti ibunya menuju kamar mandi. Mereka berdua membersihkan diri dan Lizza merasa nyaman dengan perhatian dan kepedulian ibunya. Setelah itu, ibu Lizza memberikan obat demam yang tepat dosisnya untuk Lizza.


Setelah meminum obat, Lizza kembali berbaring di tempat tidur. Ibu Lizza menutupi Lizza dengan selimut hangat dan duduk di sampingnya. "Sayang, kamu harus istirahat yang cukup hari ini. Aku akan mengurus segala keperluanmu. Jangan khawatir, kamu akan segera pulih," ujar ibunya dengan lembut.

__ADS_1


Lizza tersenyum dan menggenggam tangan ibunya. Dia merasa aman dan tenang di samping ibunya yang selalu mengurusnya dengan penuh perhatian. Dalam kehangatan kasih sayang ibunya, Lizza pun tertidur kembali dengan harapan akan bangun dalam keadaan yang lebih baik.


Selama hari itu, ibu Lizza terus memantau keadaannya dan memberikan perawatan yang dibutuhkan. Lizza pun merasa bersyukur memiliki seorang ibu yang selalu hadir untuknya, baik dalam keadaan senang maupun sulit.


Lizza merasa perlu memberi tahu Rey tentang kondisinya yang sedang sakit. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Rey.


Lizza: "Hai, Rey. Maaf mengganggumu pagi-pagi. Aku sedang sakit dan tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini. Mungkin aku terlalu lama terkena hujan semalam. Maaf juga karena kemarin malam kita berdua kehujanan."


Rey membaca pesan dari Lizza dengan rasa khawatir yang langsung melanda hatinya. Dia merasa bersalah karena telah mengajak Lizza pulang dari mall dalam kondisi hujan. Rey dengan cepat membalas pesan Lizza.


Rey: "Lizza, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit. Aku sungguh menyesal karena kemarin malam kita berdua kehujanan. Bagaimana kondisimu sekarang? Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


Lizza merasa lega mendapatkan perhatian dan kekhawatiran dari Rey. Dia tahu bahwa Rey tidak bermaksud apa-apa dan hanya ingin membuatnya senang. Lizza pun menjawab dengan penuh pengertian.


Lizza: "Rey, jangan terlalu khawatir. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga ikut memutuskan untuk pulang denganmu. Sekarang aku hanya butuh istirahat dan perawatan. Tapi terima kasih atas kekhawatiranmu."


Rey merasa lega mendengar kata-kata Lizza yang penuh pengertian. Namun, dia tetap ingin membantu Lizza dalam kondisi apa pun.


Rey: "Lizza, apakah ada yang bisa aku bantu? Apakah aku perlu datang menjengukmu atau mengirimkan sesuatu untukmu?"


Lizza tersenyum membaca pesan Rey yang penuh perhatian. Dia merasa beruntung memiliki seorang teman seperti Rey.


Lizza: "Terima kasih, Rey. Saat ini aku hanya butuh istirahat dan obat. Kamu jangan khawatir terlalu banyak. Aku akan segera pulih. Tapi aku senang memiliki teman seperti kamu yang selalu peduli."


Rey tersenyum dan merasa lega mendengar bahwa Lizza hanya butuh istirahat dan perawatan. Dia berjanji untuk terus memantau kondisi Lizza dan siap membantu jika diperlukan.

__ADS_1


Rey: "Baik, Lizza. Jaga dirimu dengan baik. Jika kamu butuh sesuatu, jangan ragu untuk menghubungiku. Aku selalu ada di sini untukmu. Segera sembuh, ya."


Lizza tersenyum membaca pesan terakhir dari Rey


__ADS_2