
Setelah hari sekolah berakhir, Lizza bersiap-siap untuk pulang. Dia berjalan ke meja Rey dengan senyum lembut di wajahnya. "Rey, aku mau izin pulang ya. Sampai jumpa besok."
Namun, Rey menahan tangannya dengan lembut. "Lizza, tunggu sebentar. Aku ingin mengantarmu pulang. Jangan pulang sendirian."
Lizza terkejut dengan tawaran Rey. Meskipun mereka sudah berpacaran dan sering bersama, Rey tidak pernah menawarkan untuk mengantarnya pulang setiap hari. Dia tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Rey. Aku senang jika kau bisa mengantarku pulang."
Mereka berdua berjalan keluar dari gedung sekolah menuju mobil BMW milik Rey. Mereka naik ke dalam mobil dan Rey memulai mesinnya. Perjalanan pulang mereka diisi dengan obrolan ringan dan tawa kecil.
Saat mereka mendekati rumah Lizza, Rey merasakan kehadiran perasaan khawatir di dalam dirinya. Dia merasa ingin melindungi Lizza dan memastikan keselamatannya. Rey memegang tangan Lizza dengan penuh kelembutan. "Lizza, aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu ada untukmu. Aku peduli padamu dan ingin melindungimu."
Lizza tersenyum lembut. Dia merasa hangat dengan kata-kata Rey. "Terima kasih, Rey. Aku juga peduli padamu. Bersamamu, aku merasa aman dan nyaman."
Mereka sampai di depan rumah Lizza. Rey mematikan mesin mobil dan membuka pintu untuk Lizza. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu depan. Sebelum Lizza masuk, Rey memeluknya dengan erat. "Jaga dirimu dengan baik, Lizza. Aku akan selalu ada untukmu."
Lizza membalas pelukan Rey dengan penuh cinta. "Aku tahu, Rey. Aku merasa beruntung memilikimu." Mereka saling melepaskan pelukan dan Lizza masuk ke dalam rumahnya.
Rey menunggu sejenak, memastikan Lizza sudah masuk dengan aman. Dia melihat cahaya di dalam rumah dan meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Kemudian, dia berjalan kembali ke mobilnya dengan senyum di wajahnya.
Saat dia kembali ke rumahnya, dia merenungkan momen yang mereka lewati bersama hari ini. Rey menyadari betapa pentingnya peran dia sebagai pasangan yang dapat dipercaya dan pelindung bagi Lizza.
Rey duduk di kamarnya, melanjutkan aktivitasnya yang terhenti sejenak setelah mengantarkan Lizza pulang. Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Rey mengambil ponselnya dan melihat nama "Anna" terpampang di layar. Dia mengangkat teleponnya.
"Halo, Anna. Ada apa?" tanya Rey dengan suara lembut.
__ADS_1
Anna terdengar cemas di seberang sana. "Rey, bisa tolong aku? Ibu memintaku pergi ke mall, tapi aku tidak ingin pergi sendirian. Aku takut."
Rey memahami rasa cemas Anna dan menghargai permintaannya. "Tentu, Anna. Aku akan datang menjemputmu. Di mana kita akan bertemu?"
Anna memberikan instruksi tempat mereka akan bertemu di depan pusat perbelanjaan terkemuka di kota. Rey berterima kasih kepada Anna dan menutup panggilan telepon.
Dengan sigap, Rey kembali naik ke mobilnya. Dia memutar kunci kontak, meluncur ke jalan dengan kecepatan yang wajar. Meskipun hatinya merasa sedikit tidak nyaman karena meninggalkan Lizza begitu cepat, dia tetap mengutamakan kebaikan dan keselamatan temannya.
Sesampainya di depan pusat perbelanjaan, Rey melihat Anna sudah menunggu dengan wajah cemas. Dia membuka pintu mobil untuk Anna dan tersenyum lembut. "Jangan khawatir, Anna. Aku di sini untukmu."
Anna tersenyum lega melihat Rey. Mereka berjalan bersama menuju pintu masuk mal. Selama perjalanan, Anna menceritakan kekhawatirannya dan berbagai hal yang terjadi dalam hidupnya. Rey mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan dukungan dan menghiburnya.
Ketika mereka masuk ke dalam mal, suasana ceria dan riuh membuat mereka melupakan kekhawatiran sejenak. Anna mengajak Rey berkeliling, mencoba beberapa pakaian, dan menikmati makanan di area food court. Mereka tertawa dan berbagi cerita, menciptakan kenangan yang tak terlupakan.
Setelah selesai di mal, Rey mengantarkan Anna pulang dengan mobilnya. Anna sangat berterima kasih atas bantuan Rey kemudian mereka menuju parkiran, Rey berdiri di parkiran kaget melihat Seyla yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Hati Rey berdebar cepat, karena dia tahu Seyla adalah sahabat dekat Lizza. Dia merasa gugup dan cemas bahwa Seyla akan menanyakan keberadaannya di sana, terutama karena Rey berada di mal bersama Anna tanpa memberi tahu Lizza.
Seyla melihat Rey dengan ekspresi terkejut. "Rey, apa yang kamu lakukan di sini?."
Rey mencoba mengendalikan kecemasannya. "Oh, hei Seyla. Aku punya urusan di sini bersama Anna."
Seyla memandang Rey dengan tatapan curiga. "Apa yang sebenarnya terjadi, Rey? Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu? Apakah ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Rey tergagap-gagap, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi tanpa mengkhawatirkan Seyla atau melukai perasaan Lizza. Dia merasa dilema, karena dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari sahabatnya, tetapi juga tidak ingin menyebabkan kecemasan yang tidak perlu.
__ADS_1
Akhirnya, Rey mengambil nafas dalam-dalam. "Seyla, sebenarnya aku di sini bersama Anna. Dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya dan aku setuju untuk mengantarnya ke mal. Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi aku tidak ingin membuat Lizza khawatir. Aku tahu dia memiliki perasaan khusus terhadapku, dan aku tidak ingin menyakiti perasaannya."
Seyla melihat Rey dengan penuh pengertian. "Aku mengerti, Rey. Tapi kamu juga harus memahami bahwa Lizza akan merasa terluka jika dia mengetahui ini dari orang lain. Dia mempercayaimu dan mengharapkan kejujuran darimu. Lebih baik kamu memberitahunya sekarang daripada dia mengetahuinya dari orang lain."
Rey merenung sejenak, menyadari kebenaran kata-kata Seyla. Dia tahu dia harus menghadapi Lizza dengan kejujuran, meskipun itu mungkin menyakitkan. Dia mengucapkan terima kasih kepada Seyla atas nasihatnya dan memutuskan untuk menghubungi Lizza dan setelah mengantar Anna pulang kerumahnya segeralah Rey pergi menuju rumah lizza dan itu membuat Lizza sedikit kaget karna jarang sekali Rey main kerumah diwaktu yang tidak tepat biasanya Rey dan lizza jika main dirumah itu hanya dihari libur sekolah saja.
Ketika Rey sampai di rumah Lizza, dia segera menekan tombol bel dan dibuka oleh ibu lizza lalu Rey dipersilahkan untuk masuk dan langsung saja mencari Lizza. Dia menemukannya duduk di ruang keluarga, sedang membaca buku. Rey merasa jantungnya berdegup kencang saat dia mendekati Lizza.
"Lizza, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu," ucap Rey dengan suara lembut.
Lizza menoleh dan melihat wajah cemas Rey. "Ada apa, Rey? Apakah semuanya baik-baik saja?"
Rey duduk di dekat Lizza, menggenggam tangannya dengan lembut. "Maafkan aku, Lizza. Hari ini aku mengantarkan Anna ke mal tanpa memberitahumu. Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu atau melukai perasaanmu. Aku hanya takut bahwa kamu akan merasa cemburu atau terluka jika mengetahuinya."
Lizza menatap Rey dengan ekspresi campuran antara kekecewaan dan kelegaan. "Rey, aku menghargai kejujuranmu. Tapi, aku juga ingin kamu tahu bahwa aku merasa terluka karena kamu menyembunyikan hal ini dariku. Kita harus saling mempercayai dan berkomunikasi dengan jujur."
Rey mengangguk, menyadari kesalahannya. "Kamu benar, Lizza. Aku minta maaf karena tidak memberitahumu sejak awal. Aku berjanji akan lebih terbuka dan jujur denganmu ke depannya. Kamu adalah seseorang yang sangat berarti bagiku, dan aku tidak ingin kehilanganmu."
Lizza tersenyum, mencengkram erat tangan Rey. "Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Rey. Mari kita belajar dari pengalaman ini dan memperkuat hubungan kita. Percayalah, kejujuran adalah kunci dalam menjaga cinta dan kepercayaan kita."
Mereka saling melihat, meyakinkan satu sama lain tentang komitmen mereka. Rey merasa lega dan berterima kasih atas pengertian Lizza. Mereka berdua merasa semakin kuat setelah menghadapi rintangan ini bersama-sama.
Malam itu, mereka duduk berdampingan di sofa, saling berbagi cerita, tawa, dan canda. Mereka merasa lebih dekat daripada sebelumnya, karena kejujuran dan kepercayaan mereka telah mengikat mereka dengan lebih erat.
__ADS_1