Badboy Sekolah Mendekati Ku

Badboy Sekolah Mendekati Ku
Menutupi Perasaannya


__ADS_3

Lizza merasa beruntung memiliki seorang teman seperti Rey yang selalu peduli dan siap membantu. Meskipun Lizza sedang sakit, dia merasa lebih baik dengan adanya dukungan dari Rey.


Beberapa jam kemudian, Lizza yang masih terbaring di tempat tidur mendengar suara pintu rumah terbuka. Ibu Lizza masuk ke kamar dengan wajah penuh kekhawatiran.


Ibu Lizza: "Sayang, bagaimana kondisimu sekarang? Ibu sangat cemas melihatmu sakit. Apakah kamu butuh sesuatu?"


Lizza tersenyum dan menggeleng lembut. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dan perawatan dari ibunya.


Lizza: "Aku baik-baik saja, hanya sedikit demam dan badan terasa hangat karena hujan semalam. Aku sudah minum obat dan butuh istirahat. Terima kasih sudah merawatku."


Ibu Lizza merasa lega mendengar bahwa anaknya sudah minum obat dan membutuhkan istirahat. Dia duduk di sisi tempat tidur Lizza, mengelus lembut rambutnya.


Ibu Lizza: "Kamu harus benar-benar istirahat dan makan dengan baik, sayang. Jika ada yang kamu butuhkan, katakan pada ibu. Aku akan selalu di sini untukmu."


Lizza tersenyum sambil menggenggam tangan ibunya.


Lizza: "Terima kasih, . Aku tahu bahwa kamu selalu ada untukku. Aku akan beristirahat dengan baik dan sembuh secepat mungkin."


Ibu Lizza mencium kening Lizza dengan penuh kasih sayang.


Ibu Lizza: "Semoga cepat sembuh, Nak. Aku akan memasak makanan kesukaanmu untuk makan malam nanti. Kamu harus makan dengan lahap, ya."


Lizza tersenyum dan mengangguk. Meskipun sedang sakit, kehadiran ibunya membuatnya merasa tenang dan nyaman.


Beberapa hari kemudian, setelah Lizza pulih sepenuhnya, dia mengucapkan terima kasih kepada Rey atas perhatian dan dukungannya selama masa sakitnya. Mereka bertemu di sekolah dan Rey merasa lega melihat Lizza yang telah pulih.


Rey: "Senang melihatmu sudah sembuh, Lizza. Aku khawatir saat kamu sakit. Tapi aku senang bisa membantu dan menjaga semangatmu tetap tinggi."


Lizza tersenyum dan mengangguk.


Lizza: "Terima kasih, Rey. Dukunganmu sangat berarti bagiku. Aku beruntung memiliki seorang teman sepertimu."


Rey tersenyum dan memberikan pelukan pada Lizza.


Rey: "Kita saling menjaga, ya? Jika ada yang kamu butuhkan, jangan ragu untuk meminta bantuanku. Kita adalah teman sejati."

__ADS_1


Lizza merasa hangat dalam pelukan Rey dan merasa beruntung memiliki seorang teman seperti dia. Mereka berdua bersama-sama melanjutkan hari-hari sekolah mereka dengan kebahagiaan.


Yuni melihat Lizza yang sudah kembali pulih dari sakitnya. Dia memperhatikan Lizza yang sedang berbincang dengan Rey di antara jeda pelajaran. Rasa ingin tahu Yuni pun memuncak, dan dia memutuskan untuk mendekati Lizza.


Yuni: "Hai, Lizza. Aku mendengar kamu sakit beberapa hari yang lalu. Bagaimana kabarmu sekarang?"


Lizza tersenyum, senang melihat Yuni datang menghampirinya. Namun, di balik senyumnya, Lizza juga merasakan sedikit keraguan dalam hatinya tentang niat sebenarnya Yuni.


Lizza: "Hai, Yuni. Aku sudah sembuh sepenuhnya, terima kasih. Sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa."


Yuni tersenyum, tetapi dalam hatinya dia memiliki motivasi yang berbeda.


Yuni: "Senang mendengarnya. Aku khawatir saat mendengar kabar sakitmu. Semoga tidak ada efek samping yang berkepanjangan ya."


Lizza merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan ucapan Yuni, tetapi dia memilih untuk tidak mempermasalahkannya.


Lizza: "Terima kasih atas perhatiannya, Yuni. Aku merasa lebih baik sekarang. Semoga kita semua tetap sehat dan tidak sakit lagi."


Yuni mengangguk dengan tulus, tetapi dalam hatinya dia tidak sepenuhnya memperhatikan kesehatan Lizza.


Lizza mengucapkan terima kasih, meskipun dia merasakan ketidakjujuran dalam perkataan Yuni. Dia memilih untuk mengambil sikap yang bijaksana dan tetap menjaga sikap baik terhadap teman sekelasnya itu.


Lizza: "Terima kasih, Yuni. Aku akan mengingatnya."


Setelah percakapan singkat itu, Yuni memutuskan untuk pergi ke arah lain, sementara Lizza kembali bergabung dengan Rey untuk melanjutkan pembicaraan mereka.


Lizza merasa lega bahwa dia sudah pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Dia tidak mempermasalahkan niat sebenarnya Yuni yang mungkin hanya ingin tahu saja. Baginya, yang terpenting adalah menjaga persahabatan dan menghargai hubungan dengan teman-temannya.


Dalam waktu yang singkat, Lizza dan Rey melanjutkan hari mereka dengan kebahagiaan dan kehangatan persahabatan mereka yang kuat. Mereka saling mendukung dan menghargai satu sama lain, tanpa mempermasalahkan motif di balik perhatian yang diberikan oleh orang lain.


Istirahat tiba, Lizza, Seyla, dan teman-teman mereka pergi ke kantin untuk makan siang. Di tengah perjalanan menuju kantin, Seyla mendekati Lizza dengan permintaan khusus.


Seyla: "lizza, kamu sudah pulih dari sakit, kan? Bisakah kamu cukup beli bubur saja? Karna kamu baru pulih dari sakit kemarin, aku khawatir jika nanti kamu kenapa kenapa."


Lizza tersenyum memahami Seyla. Lizza merasa senang mempunya teman yang sangat perhatian padanya.

__ADS_1


Lizza: "Tentu, Seyla. Aku mengerti aku akan membeli bubur dan teh hangat saja."


Seyla mengangguk dengan senyum.


Seyla: "Terima kasih, Lizza. Kamu sudah mau mengerti apa maksudku. Aku seperti ini hanya ingin menjaga kesehatanmu saja."


Lizza melanjutkan perjalanannya ke kantin bersama seyla sesampainya dikantin Lizza memesan 1 porsi bubur ayam dengan teh hangat Lizza berdiri di antrean dan memesan bubur ayam.


Lizza: "Bu, tolong satu bubur ayam untuk dimeja nomor 5."


Pelayan kantin mengangguk dan segera menyiapkan bubur ayam sesuai pesanan Lizza. Ketika bubur ayam tersebut sudah siap, Lizza membayar dan mengambil pesanan itu dengan hati-hati.


Lizza kembali ke meja di kantin, di mana Seyla dan teman-teman lainnya sudah menunggunya. Dia meletakkan mangkuk bubur ayam diatas meja kemudian Lizza dan teman temannya menyantap makanan yang telah dipesan dengan menu makanan yang berbeda beda.


Rey dan gank badboynya dengan gaya yang percaya diri menghampiri meja kantin yang diduduki oleh Lizza beserta teman-temannya. Saat mereka mendekati meja, suasana menjadi tegang, dan semua mata tertuju pada Rey dan Lizza. Banyak siswa yang mulai menduga-duga bahwa Rey dan Lizza telah menjadi sepasang kekasih.


Rey dengan santai meletakkan tangannya di pinggiran meja, sementara gank badboynya berdiri di belakangnya dengan sikap yang memancarkan keberanian. Lizza dan teman-temannya sedikit terkejut dengan kedatangan mereka.


Seyla, salah satu teman Lizza, dengan mata terbelalak bertanya, "Lizza, apakah kamu dan Rey benar-benar berpacaran?"


Lizza yang terkejut dengan asumsi tersebut, cepat-cepat menyanggah, "Ah, tidak, Seyla! Rey hanya temanku. Kami tidak berpacaran."


Rey dengan santai menambahkan, "Ya, kita hanya teman, tidak lebih dari itu. Jangan salah paham, ya."


Namun, suasana tetap tegang, dan beberapa siswa lainnya masih merasa ragu. Mereka melihat interaksi antara Rey dan Lizza yang selalu kompak dan mendukung satu sama lain, sehingga timbul anggapan bahwa ada hubungan romantis di antara mereka.


Salah satu siswa lainnya, Ryan, dengan senyuman menggoda, berkata, "Tapi lihatlah, Rey dan Lizza, kalian selalu bersama dan terlihat begitu dekat. Apakah kamu yakin ini hanya persahabatan biasa?"


Lizza sedikit terganggu dengan komentar Ryan, tetapi dia tetap tegar dan menjawab dengan tegas, "Kami memang dekat sebagai teman dan saling mendukung. Tidak ada yang lebih dari itu, Ryan."


Rey menambahkan, "Kalian semua berpikir apa yang kalian inginkan. Kami hanya teman yang saling mendukung dan melindungi satu sama lain. Tidak ada alasan untuk menduga-duga lebih dari itu."


Lizza dan Rey mencoba menjelaskan situasinya, tetapi tetap saja beberapa siswa masih mempertahankan pandangan mereka. Meskipun begitu, Rey dan Lizza memilih untuk tidak terlalu memedulikan asumsi orang lain. Mereka menikmati sisa waktu istirahat mereka dengan teman-teman, mengobrol, dan tertawa bersama tanpa ada ketegangan.


.

__ADS_1


__ADS_2