
Hari Senin telah tiba dan upacara sekolah dimulai. Rey, yang seharusnya sudah berada di lapangan sekolah untuk mengikuti upacara, masih terlelap di kamarnya. Tiba-tiba alarm ponsel Rey berbunyi kencang, menandakan waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Tanpa membuang waktu, Rey langsung bangun dan bersiap-siap untuk segera pergi ke sekolah.
Namun, ketika Rey melihat jam di dinding, ia kaget. Sudah pukul 06.30! Dia pasti terlambat untuk upacara. Rey mencoba secepat mungkin menyiapkan dirinya dan berlari ke arah pintu, tetapi ibunya sudah menunggunya di depan kamar.
"Rey, kenapa kamu belum berangkat? Upacara sudah mulai!" ujar ibunya.
Rey panik. Ia tahu bahwa sekolahnya memberikan hukuman bagi siswa yang terlambat pada upacara, seperti membersihkan halaman sekolah atau membersihkan kelas. Rey tidak ingin menghadapi hukuman itu lagi, karena pernah mengalaminya sebelumnya.
Dalam kepanikan, Rey pun berusaha mencari cara agar tidak terkena hukuman. Ia mengambil tasnya dan pergi dari rumahnya dengan secepat mungkin. Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang cepat ke arah sekolah, tetapi berhenti ketika melihat gerbang sekolah yang dipenuhi oleh petugas sekolah dan guru.
Rey tidak berani masuk ke dalam gerbang, karena khawatir akan ketahuan terlambat. Sebagai gantinya, ia bersembunyi di balik semak-semak di sebelah gerbang dan menitipkan motornya ke penjaga toko yang ada didepan sebrang sekolahnya itu berharap tidak ditemukan oleh petugas sekolah atau guru. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka chat grup teman-temannya.
"Kalian sudah sampai di sekolah?" tanya Rey.
"Belum, kami masih di jalan," jawab temannya.
Rey merasa lega, karena teman-temannya juga terlambat. Namun, ia masih tetap waspada dan terus memantau situasi di gerbang sekolah. Ia melihat petugas sekolah berlalu-lalang, mencari siswa yang terlambat. Beberapa siswa yang tertangkap terlambat, dibawa oleh petugas ke halaman sekolah untuk melakukan hukuman.
Rey merasa bersyukur karena berhasil menghindari hukuman itu. Setelah melewati beberapa menit yang sangat panjang, akhirnya teman-temannya pun tiba di sekolah. Mereka melihat Rey yang bersembunyi di balik semak-semak.
"Ayo, cepat masuk!" ujar Rey pada teman-temannya.
Rey dan teman-temannya pun masuk ke dalam gerbang sekolah, dan berhasil menghindari hukuman yang mengerikan itu. Meskipun sedikit terlambat, Rey dan teman-temannya berhasil mengikuti upacara dengan baik, dan merasa lega karena berhasil menghindari hukuman.
Ketika upacara sedang berlangsung, Rey dan teman-temannya berjalan pelan menuju barisan belakang. Mereka berbisik-bisik sambil mengeluhkan hukuman yang mungkin akan diberikan kepada Rey karena kesiangan.
"Tuh kan, Rey. Jangan suka bangun telat," ujar seorang perempuan teman sekelasnya dengan nada berbisik.
Rey hanya mengangguk dan tersenyum kecut. Ia merasa sangat bersalah atas keterlambatannya hari ini.
Sementara itu, upacara terus berlangsung dengan khidmat. Para siswa dan guru mengikuti prosesi dengan serius. Pada akhirnya, upacara selesai dan semua siswa pun kembali ke kelas masing-masing.
Rey dan ganknya memilih untuk bolos pelajaran pertama dan pergi ke kantin untuk bersantai. Mereka memesan beberapa makanan dan minuman, dan duduk di meja yang nyaman.
__ADS_1
Tiba-tiba, Lizza dan teman-temannya datang ke kantin dan melihat Rey serta ganknya sedang duduk santai. Lizza menatap mereka dengan tatapan takjub dan berkata, "Kalian bolos pelajaran pertama? Kenapa sih?"
Rey hanya tersenyum dan menjawab, "Kami butuh istirahat sejenak. Tadi pagi kami terlambat dan hampir saja terkena hukuman."
Kemudian Lizza langsung menghampiri mereka dengan wajah serius.
"Loh, kalian kan harusnya di kelas ya! Kenapa malah bolos di sini?" tanya Lizza sambil menatap mereka tajam.
Rey dan gank-nya terlihat canggung dan tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya, Rey mengeluarkan suaranya, "Maaf, Lizza. Kami bosan di kelas dan ingin ngobrol-ngobrol sebentar di sini."
Lizza masih menatap mereka dengan tatapan tajam, "Tapi kan kalian harusnya di kelas. Jangan bolos pelajaran, nanti nilainya jelek."
Rey dan gank-nya terlihat menunduk dan mengangguk-angguk.
Lizza merasa kesal karena Rey tidak menghiraukan omelannya. Dia kemudian meninggalkan Rey dan teman-temannya di kantin dan pergi ke kelas bersama temannya Lizza. Sementara itu, Rey terus menghisap rokoknya dan bercerita dengan teman-temannya tentang rencana mereka untuk mengadakan pesta kecil di akhir pekan.
Beberapa menit kemudian, seorang ketua kelas (KM) tiba-tiba masuk ke kantin dan menegur Rey dan teman-temannya karena bolos pelajaran pertama. Mereka diminta untuk segera kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Rey merasa kesal dan frustrasi karena rencananya untuk bolos terganggu ia tetap keukeuh mengelak perintah ketua kelas hingga akhirnya ketua kelas itu pergi dan memutuskan untuk menulis didaftar absen bahwa Rey dan ganknya itu bolos dijam pelajaran pertama.
Setelah selesai bersantai, Rey dan ganknya memutuskan untuk masuk ke kelas. Mereka berjalan bersama-sama, sambil bercanda dan tertawa. Meskipun mereka sudah bolos pelajaran pertama, mereka tetap bersemangat untuk belajar dan mengikuti pelajaran selanjutnya.
Lizza yang melihat Rey kembali ke kantin bersama teman-temannya merasa kecewa. Dia merasa bahwa Rey tidak serius dengan pendidikannya dan lebih memilih untuk bersenang-senang.
Rey duduk di bangku kantin, memainkan rokoknya sambil menatap kosong ke depan. Di sekitarnya, teman-temannya sibuk mengobrol dan tertawa. Tidak ada yang berani menegur Rey karena dia dikenal sebagai bad boy di sekolah itu.
Sementara itu, Lizza duduk sendirian di meja lain, menatap ke arah Rey dengan wajah cemas. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikan Rey dari kebiasaan buruknya itu.
Tiba-tiba, tangan Rey berhenti di udara saat dia melihat kepala sekolah dan beberapa guru mendekat ke arah mereka. Rey dan ganknya segera mematikan rokoknya dan menyembunyikan bungkus rokok di dalam tas.
"Ada apa di sini?" tanya kepala sekolah dengan tajam.
Rey dan ganknya saling pandang sebentar sebelum salah satu temannya, bernama Rama, berdiri dan memberikan alasan palsu tentang mereka hanya sedang minum teh di kantin.
Kepala sekolah dan guru-guru yang mendampinginya tidak terlihat sepenuhnya percaya, tapi akhirnya mereka meninggalkan kantin tanpa mengambil tindakan lebih lanjut.
__ADS_1
Setelah mereka pergi, Lizza merasa sedikit gugup saat mendekati meja kantin di mana Rey dan ganknya sedang berkumpul sambil menghisap rokok. Beberapa siswa dan siswi yang melihatnya juga terlihat agak cemas dan tidak berani mendekat.
Namun, Lizza tetap bertekad untuk mendekati mereka. Dia ingin memberitahu Rey tentang sesuatu yang penting. Lizza akhirnya mencapai meja mereka dan duduk di samping Rey.
"Ada apa, Lizza?" tanya Rey sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Lihat, Rey. Aku tidak suka kamu merokok. Aku khawatir dengan kesehatanmu," ujar Lizza dengan suara lembut.
Rey dan ganknya terdiam sejenak. Mereka tidak biasa mendengar kata-kata seperti itu, terutama dari seorang gadis. Namun, Rey merasa sedikit terdorong untuk mendengarkan apa yang dikatakan Lizza.
"Maksudmu?" tanya Rey.
"Aku ingin kamu berhenti merokok, Rey. Kesehatanmu lebih penting daripada kebiasaan yang buruk ini," jelas Lizza.
Rey merenung sejenak dan memandang ke rokoknya. Dia merasa sedikit terpancing oleh kata-kata Lizza. Setelah berpikir sebentar, Rey akhirnya menghembuskan asap rokoknya dan memadamkannya di abu yang sudah tersedia di meja kantin.
"Kamu tahu sendiri kalau itu tidak baik untuk kesehatanmu dan itu melanggar aturan sekolah," ujar Lizza dengan nada serius.
Rey hanya diam dan menatap ke arah bungkus rokok yang masih tersembunyi di dalam kantong seragam sekolahnya. Dia tahu Lizza benar, tapi bagaimana dia bisa berhenti dari kebiasaan buruknya itu? Dia merasa seperti rokok adalah satu-satunya teman yang selalu ada untuknya, bahkan ketika teman-temannya sibuk dengan urusan masing-masing.
Namun, ketika Lizza terus menegurnya dengan lembut, Rey mulai mempertimbangkan untuk berubah. Dia tahu bahwa Lizza selalu ingin yang terbaik untuknya dan dia tidak ingin membuatnya kecewa.
"Aku tahu, Lizz. Aku akan mencoba berhenti," ujar Rey dengan suara rendah.
Lizza tersenyum lega mendengar perkataan Rey. Dia tahu bahwa perjuangan itu tidak akan mudah, tapi dia siap membantu Rey mengatasi kebiasaan buruknya itu.
Bel pulang sekolah telah tiba Rey keluar dari gerbang sekolah dengan langkah lebar dan menentapkan pandangannya ke arah jalan raya. Dia melihat ke kanan dan kiri mencari toko tempat dia menitipkan motornya. Setelah memperhatikan sekitar, dia melihat sebuah toko dan meyakinkan dirinya bahwa itu adalah toko yang dimaksud.
Rey langsung menuju ke toko tersebut. Saat tiba di toko tersebut, ia melihat teman-temannya sedang menunggunya. Dan Rey ingat apa yang dikatakan Lizza ketika dikantin memberitahunya bahwa ia harus berhenti merokok dan meminta agar ia tidak merokok di area sekolah lagi. Rey merasa agak kesal karena merasa diberi perintah, tetapi ia menyadari bahwa Lizza mengkhawatirkan kesehatannya dan ingin yang terbaik untuknya.
Setelah berbicara dengan teman-temannya sebentar, Rey memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sebelum Rey pulang dia melihat sepeda motor yang dititipkannya lalu dia membayar biaya parkir, lalu menyentuh setiap bagian motor untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik.
Setelah puas dengan pemeriksaan motor, Rey membuka toples yang berada di tasnya dan mengambil satu batang rokok. Dia menyalakan rokoknya dan menghirup asapnya dengan nikmat. Rey melihat sekitar dan melihat beberapa orang berlalu-lalang di jalan raya.
__ADS_1
Sambil menikmati rokoknya, Rey berpikir tentang rencana untuk malam itu. Dia berencana untuk mengajak ganknya pergi ke pesta yang diadakan oleh sekelompok orang yang dia kenal. Rey berharap malam itu akan seru dan penuh dengan hal-hal yang menyenangkan.
Setelah selesai menghisap rokok, Rey memakai helmnya dan menyalakan mesin motor. Dia berangkat dengan kecepatan yang cukup cepat menuju rumahnya. Perasaan gembira dan semangat yang tinggi membawa Rey melewati jalanan yang padat dan ramai menuju rumahnya.