Badboy Sekolah Mendekati Ku

Badboy Sekolah Mendekati Ku
Cemburu


__ADS_3

Lizza melangkah dengan langkah pasti di koridor sekolah, tetapi hatinya terasa berat. Di kejauhan, dia melihat Rey yang sedang berdiri di samping seorang gadis dari tetangga sebelah. Mereka terlihat asyik ngobrol, tersenyum, dan sesekali tertawa. Lizza merasakan getaran cemburu dan ketidakpercayaan merayap di dalam dirinya.


Dia mendekati mereka dengan hati yang berdebar-debar. Ketika mereka menyadari kehadirannya, Rey tersenyum kepadanya dengan hangat.


"Lizza, apa kabar? Ini tetangga sebelah, Anna. Kami sedang membicarakan proyek sekolah bersama," kata Rey dengan nada ringan.


Lizza mencoba menyembunyikan rasa cemburu dan kekecewaannya. Dia berusaha tersenyum dengan paksa.


"Oh, halo Anna. Senang bertemu denganmu," kata Lizza dengan cobaan tersenyum.


Anna membalas senyuman Lizza. "Senang bertemu juga, Lizza. Rey memberi tahu tentang acara sekolah yang akan datang. Sepertinya akan sangat menyenangkan."


Lizza berusaha mengendalikan emosinya dan mengambil napas dalam-dalam. Dia menyadari bahwa reaksi cemburu yang berlebihan tidak adil bagi Rey atau Anna. Mereka hanya berbicara sebagai teman sekelas dan tetangga. Namun, hatinya masih terluka dan perasaannya terus bergelora.


"Saya harus pergi ke kelas sekarang. Sampai jumpa, Rey. Sampai jumpa, Anna," ujar Lizza dengan sedikit ketegangan dalam suaranya.


Dia berbalik dan melanjutkan perjalanannya ke kelas. Hatinya dipenuhi dengan campuran perasaan cemburu, kekecewaan, dan kebingungan. Dia berusaha memahami mengapa dia merasakan hal ini dan apa artinya baginya dan Rey.


Selama pelajaran berlangsung, Lizza berusaha fokus dan mengikuti materi yang diajarkan. Namun, pikirannya terus melayang pada pertemuan tadi di koridor. Dia bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan antara Rey dan Anna. Rasa takut dan keraguan menghantuinya.


Ketika dikelas dan pelajaran kedua ternyata jamkos, Lizza memutuskan untuk mencari Rey dan berbicara dengannya. Dia perlu mengungkapkan perasaannya dan mencari kejelasan. Lizza berjalan menuju tempat biasa di mana mereka sering bertemu selama istirahat.


Tidak lama kemudian, Rey muncul dengan senyuman di wajahnya. Dia tampak bahagia melihat Lizza.

__ADS_1


"Lizza, apa yang sedang terjadi? Kamu terlihat sedikit terganggu tadi," tanya Rey dengan perhatian.


Lizza menghela nafas dan mencoba mengumpulkan keberanian. "Rey, tadi aku melihatmu sedang ngobrol dengan Anna. Aku merasa cemburu dan khawatir ada yang lebih dari sekadar persahabatan di antara kalian. Bisakah kamu menjelaskan padaku?"


Rey mengernyitkan dahinya dan mencoba menjelaskan dengan bijak. "Lizza, Anna hanya teman sekelas dan tetangga. Kami memang sering berbicara dan bercanda bersama, tetapi tidak ada yang lebih dari itu. Kamu adalah yang terpenting bagi saya, Lizza. Kamu adalah pacar saya dan tidak ada yang akan menggantikan tempatmu."


Lizza merasa lega mendengar kata-kata Rey. Dia tahu bahwa dia harus mempercayainya. Mereka berdua duduk di bangku taman, berpegangan tangan, dan saling meyakinkan satu sama lain.


"Mohon maaf jika aku meragukanmu, Rey. Aku hanya khawatir kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu," ujar Lizza dengan tulus.


Rey mengusap lembut pipi Lizza. "Aku juga sangat mencintaimu, Lizza. Jangan ragu pada hubungan kita. Kita bisa mengatasi semua rintangan bersama."


Lizza merasa hangat dan aman dalam pelukan Rey. Mereka saling memberikan dukungan dan cinta yang kuat. Mereka tahu bahwa kepercayaan dan komunikasi adalah kunci untuk membangun hubungan yang langgeng.


Lizza duduk di tempatnya dengan perasaan campur aduk. Dia merasa diabaikan dan terlupakan oleh Rey. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan dan ketidakpastian tentang apa yang sedang terjadi. Apakah Rey mulai tertarik pada Anna? Apakah hubungan mereka akan berubah?


Seyla mencoba menghibur Lizza. "Lizza, jangan khawatir terlalu banyak. Mungkin Rey hanya ingin membantu Anna atau ada alasan lain di balik kepergiannya bersama dia. Kita harus memberinya kesempatan untuk menjelaskan."


Lizza menatap Seyla dengan wajah bingung. "Tapi Seyla, mereka pergi bersama dengan begitu akrabnya. Aku merasa seperti tersingkir dan tidak dihargai."


Seyla meletakkan tangan di bahu Lizza dengan penuh pengertian. "Kita harus mengungkapkan perasaan ini kepada Rey. Bicarakan apa yang kamu rasakan dan dengarkan penjelasannya. Komunikasi adalah kunci dalam hubungan, Lizza."


Setelah pelajaran berakhir, Lizza dan Seyla memutuskan untuk mencari Rey. Mereka menemukannya di kantin, duduk di meja bersama Anna dan ganknya. Hatinya berdebar-debar saat mereka mendekati meja itu.

__ADS_1


"Lizza, Seyla, ada apa?" tanya Rey dengan terkejut melihat kedatangan mereka.


Lizza mencoba menyembunyikan rasa sakitnya dan menatap Rey dengan mata penuh harapan. "Rey, kami ingin bicara denganmu. Bisakah kita berbicara sebentar?"


Rey mengangguk dan meminta maaf kepada Anna dan ganknya. Mereka berjalan bersama ke sudut kantin yang lebih tenang.


Seyla mengambil inisiatif untuk berbicara. "Rey, kami melihatmu pergi bersama Anna tadi. Itu membuat Lizza merasa tidak nyaman dan merasa diabaikan. Bisakah kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"


Rey menggenggam tangan Lizza dengan lembut dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan aku, Lizza. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu. Anna tadi meminta bantuan tentang masalah keluarganya yang sedang sulit. Aku hanya ingin membantunya dan mendengarkan ceritanya. Itu tidak ada hubungannya dengan perasaan cinta atau minat romantis."


Lizza merasa lega mendengar penjelasan Rey. Dia melihat ke dalam mata Rey dan merasakan kejujuran yang tulus. Dia memeluk Rey dengan penuh kasih sayang.


"Aku minta maaf atas ketidakpercayaan dan kecemburuan yang aku rasakan, Rey. Aku percaya padamu sepenuh hati. Aku hanya ingin kamu tahu betapa pentingnya hubungan kita bagiku," kata Lizza dengan tulus.


Rey menatap Lizza dengan penuh rasa cinta. "Aku mencintaimu, Lizza, dan kamu adalah yang terpenting dalam hidup aku. Aku akan selalu menjaga hubungan kita dan memastikan bahwa kamu merasa dihargai dan dicintai."


Mereka berdua menghapus ketidakpastian dan ketidakpercayaan dalam hubungan mereka dengan percakapan itu. Lizza merasa lebih tenang dan yakin bahwa Rey adalah pilihan yang tepat baginya.


Dengan saling memaafkan dan berkomitmen untuk saling mendukung, Lizza, Rey, dan Seyla kembali ke meja di kantin. Mereka bersama-sama tertawa, berbagi cerita, dan menghargai kebersamaan mereka namun tidak dengan Lizza ia masih merasa ada yang mengganjal dihatinya meskipun Rey sudah meminta maaf.


Kehidupan sekolah mereka pun berlanjut dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian. Lizza berusaha belajar untuk tidak meragukan cinta dan kesetiaan Rey.


Kejadian itu menjadi pelajaran bagi Rey untuk selalu saling berkomunikasi, memahami, dan menghargai perasaan satu sama lain. Mereka tumbuh bersama, belajar dari kesalahan, dan menjadikan cinta mereka semakin kokoh.

__ADS_1


Lizza menyadari bahwa cemburu dan ketidakpercayaan tidak akan membawa kebahagiaan dalam hubungan. Yang penting adalah saling memahami dan membangun kepercayaan yang kuat. Bersama Rey dan Seyla, Lizza menemukan arti sejati dari persahabatan dan cinta yang tulus.


__ADS_2