Badboy Sekolah Mendekati Ku

Badboy Sekolah Mendekati Ku
Kesukaan Lizza


__ADS_3

Lizza masuk ke kamarnya dengan langkah lelah setelah seharian belajar di sekolah. Dia meletakkan tasnya di sudut kamar dan melepas sepatunya dengan perasaan lega. Kamar Lizza terasa tenang dan nyaman, memberikan rasa ketenangan setelah hari yang panjang.


Lizza melangkah ke meja belajarnya dan mengambil handuk serta pakaian ganti. Dia berencana untuk mandi dan melepaskan semua penat yang ada setelah seharian beraktivitas di sekolah. Lizza merasakan kelelahan fisik dan pikiran yang membuatnya ingin merasa segar kembali.


Saat Lizza memasuki kamar mandi, ia menyalakan air dan memeriksa suhu air yang nyaman. Dia merasa senang akan momen ini karena mandi adalah saat di mana ia bisa melepaskan semua beban pikiran dan menikmati kesendirian.


Air hangat mengalir di tubuh Lizza saat ia berdiri di bawah pancuran mandi. Dia merasakan setiap tetes air yang mengalir di kulitnya, memberikan sensasi yang menenangkan. Lizza menutup matanya dan merasakan air mengalir di sekitar tubuhnya, mencuci kelelahan dan stres yang menempel padanya.


Sambil membiarkan air mengalir, Lizza memikirkan hari-harinya di sekolah. Dia mengingat pelajaran yang diajarkan, teman-teman yang ditemuinya, dan momen-momen kecil yang membuat hari-harinya berarti. Meskipun kadang-kadang ada tantangan dan kesulitan, Lizza merasa bersyukur memiliki kesempatan untuk belajar dan tumbuh bersama teman-temannya.


Setelah beberapa saat merendam dalam air, Lizza memutuskan untuk melanjutkan mandi. Dia membasahi rambutnya dengan shampo dan membersihkan tubuhnya dengan sabun yang harum. Setiap gerakan lembutnya saat memijat kulitnya membuatnya merasa lebih segar dan rileks.


Setelah selesai mandi, Lizza keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Dia merasa segar dan energik setelah mandi. Lizza berjalan ke lemari dan memilih pakaian yang akan dipakainya. Dia memilih pakaian yang nyaman dan cocok untuk beristirahat di rumah.


Lizza duduk di depan cermin dan mulai mengeringkan rambutnya. Dia melihat wajahnya yang ceria di cermin, dan senyum terukir di wajahnya. Dia merasa beruntung memiliki keluarga yang peduli dan teman-teman yang mendukungnya di sekolah.


Setelah rambutnya kering, Lizza membiarkan rambutnya tergerai dengan indah. Dia memakai pakaian yang sudah dipilihnya dengan hati-hati. Lizza merasa percaya diri dengan penampilannya yang segar dan nyaman.


Selesai bersiap, Lizza meninggalkan kamarnya dan melangkah keluar menuju ruang keluarga. Dia merasa siap untuk menikmati waktu istirahatnya dan melepas penat setelah seharian di sekolah.


Lizza duduk dengan nyaman di sofa di ruang keluarga, mata terfokus pada layar televisi yang menampilkan salah satu acara favoritnya. Suara riuh dari acara tersebut mengisi ruangan, menciptakan suasana yang menyenangkan. Dia menikmati momen ketenangan ini, melepaskan diri dari hiruk-pikuk dunia di sekitarnya.


Tiba-tiba, aroma harum dan menggugah selera mulai menyebar di udara. Lizza menarik nafas dalam-dalam dan segera mencium bau yang menggoda. Dia tahu persis apa itu - camilan spesial yang hanya ibunya yang bisa membuatnya dengan sempurna. Aci pedas, makanan ringan yang nikmat dan membangkitkan selera.


Lizza tersenyum dan berdiri dari sofa dengan antusias. Dia melihat ke arah dapur, di mana ibunya sedang sibuk memasak. Langkahnya ringan saat dia mendekati dapur, dengan harapan bahwa camilan yang dia sukai akan segera siap untuk dinikmati.


"Sangat harum, Bu!" seru Lizza dengan penuh semangat.

__ADS_1


Ibu Lizza tersenyum dan menoleh ke arahnya. Dia mengangguk penuh kasih sayang. "Aci pedasmu hampir selesai, Nak. Ayo, ambil tempat duduk di meja makan. Aku akan menyajikannya segera."


Lizza dengan cepat mengambil tempat duduk di meja makan yang sudah disiapkan. Dia merasa semakin lapar dengan setiap detik yang berlalu. Dia tidak sabar untuk menikmati kelezatan makanan kesukaannya.


Ibu Lizza datang dengan diiringi suara gemericik langkah kaki yang lembut. Dia membawa sebuah piring besar yang penuh dengan aci pedas yang masih mengepul. Camilan itu tampak menggoda, dengan warna-warni cabai yang menarik perhatian.


"Ditaburi dengan taburan bawang goreng segar," kata ibu Lizza sambil menempatkan piring di meja makan. "Hati-hati, panas. Tunggu sebentar, aku akan membawakanmu segelas air untuk menemani."


Lizza mengangguk dan menggigit bibirnya dengan antusias. Dia melihat camilan itu dengan penuh keinginan. Ketika ibunya kembali dengan segelas air dingin, Lizza siap untuk merasakan kenikmatan aci pedas itu.


Dia meraih satu potongan aci dengan hati-hati dan meletakkannya di atas piring kecil. Aroma pedas segera memenuhi hidungnya. Dengan gemetar, Dia menjulurkan tangannya dan mengambil gigitan pertama. Rasa pedas yang meresap ke dalam mulutnya segera membangkitkan selera makan.


Lizza menikmati setiap gigitan aci dengan penuh kenikmatan. Rasanya yang gurih, kenyalnya yang sempurna, dan kepedasannya yang tepat membuatnya tak bisa berhenti makan. Dia menggigit satu demi satu, sambil seiring menonton acara favoritnya di televisi. Camilan pedas ini benar-benar memanjakan lidahnya.


Tapi, meski kesibukan menikmati camilan, Lizza juga tidak lupa tentang ibunya yang berada di sampingnya. Dia melihat ke arah ibunya yang tersenyum bahagia melihat betapa Lizza menikmati makanan yang dia buat dengan penuh kasih sayang.


Ibu Lizza tersenyum lebih lebar. "Senang mendengarnya, Nak. Aku tahu ini makanan kesukaanmu, jadi aku senang bisa membuatmu bahagia. Kamu harus berterima kasih pada nenekmu yang mengajarkan resep camilan ini padaku."


Lizza mengangguk dan menghargai resep yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dalam keluarganya. Dia merasa beruntung bisa merasakan cita rasa yang khas dan membuat kenangan manis dengan camilan tersebut.


Sambil menikmati aci pedas, Lizza dan ibunya mulai berbincang-bincang tentang hari-hari mereka. Lizza menceritakan tentang pelajaran menarik di sekolah dan teman-teman barunya. Ibu Lizza mendengarkan dengan penuh perhatian, tertawa saat Lizza menceritakan kejadian lucu di kelas.


Waktu terasa berlalu dengan cepat saat mereka saling berbagi cerita dan cemilan. Lizza merasa hangat dalam momen ini, diiringi oleh kehadiran ibunya yang selalu mendukung dan menyayanginya. Ini adalah momen yang berharga baginya, di mana ia merasa dicintai dan diterima apa adanya.


Setelah cemilan selesai, Lizza dan ibunya membersihkan meja makan bersama-sama. Mereka saling membantu dengan senyum di wajah mereka. Lizza merasa bahagia bisa berbagi momen seperti ini dengan ibunya.


Ketika semuanya sudah rapi, Lizza melompat ke pelukan ibunya. "Terima kasih, Bu. Aku sangat menyukai waktu-waktu seperti ini. Kita selalu bisa berbagi cerita dan merasa dekat satu sama lain."

__ADS_1


Ibu Lizza membalas pelukan dengan hangat. "Aku juga merasa sama, Nak. Kita adalah keluarga, dan kita saling mendukung dan menyayangi. Tidak ada yang lebih berharga daripada itu."


Lizza dan ibunya menghabiskan sisa waktu mereka dengan mengobrol dan berbagi tawa. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan mereka yang penuh kasih sayang.


Ketika malam tiba, Lizza merasa puas dan bahagia. Dia merasa bersyukur atas kehidupan yang dimilikinya, termasuk momen-momen kecil seperti ini yang membuatnya merasa dicintai dan berarti.


Dengan hati yang penuh kasih sayang dan perut yang kenyang, Lizza mengucapkan selamat malam pada ibunya dan kembali ke kamarnya untuk istirahat. Dia merasa damai dan bahagia setelah menghabiskan waktu yang indah dengan ibunya.


Di dalam kamarnya, Lizza merasakan kelelahan dari aktivitas sehari-hari yang mulai mempengaruhi tubuhnya. Dia berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya dengan lembut di atas kasur yang nyaman. Pikirannya terisi dengan kenangan indah hari ini dan kehangatan dari momen bersama ibunya.


Lizza kemudian meraih ponselnya dan melihat pesan terakhir dari Rey. Dia tersenyum saat membaca pesan itu. Rey memberinya semangat dan dukungan, mengingatkan Lizza bahwa dia memiliki seseorang yang selalu ada untuknya.


Dengan perlahan, Lizza menutup mata dan merasakan kelembutan tidur yang memeluknya. Pikirannya perlahan memudar dan tubuhnya terlelap dalam kelelapan yang damai.


Hari yang panjang telah berlalu, namun Lizza bangun dengan semangat baru untuk menghadapi hari yang akan datang. Dia merasa lebih kuat dan siap untuk menghadapi tantangan dan kebahagiaan yang hidup bawa.


Dalam tidurnya, Lizza merasa beruntung memiliki ibu yang selalu ada untuknya dan pacar seperti Rey yang memberinya dukungan. Mereka adalah bagian penting dari kehidupannya, memberikan cinta, kehangatan, dan semangat yang tak ternilai harganya.


Dengan keyakinan dan harapan di hatinya, Lizza bersiap untuk memulai hari yang baru. Dia tahu bahwa meski ada tantangan di depannya, dia memiliki orang-orang yang mendukungnya dan mampu menghadapinya dengan kepala tegak.


Dalam keheningan pagi, Lizza mengucapkan terima kasih dalam hati untuk momen indah yang dia bagikan dengan ibunya dan kesempatan untuk memulai hari baru. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjalani hari ini dengan semangat, kasih sayang, dan tekad untuk mencapai impian-impian dan tujuan-tujuannya.


Matahari mulai muncul di balik cakrawala, memberikan sinar hangat yang memancar dalam ruangan. Lizza bangkit dari tempat tidurnya, siap untuk menghadapi dunia dengan senyum di bibirnya. Dia tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang istimewa dan penuh dengan kejutan dan peluang.


Dengan langkah tegap, Lizza memulai harinya dengan keyakinan dan semangat yang membara. Dia siap untuk menjalani petualangan baru, menghadapi tantangan, dan terus tumbuh dan berkembang sebagai individu yang kuat.


Saat dia melangkah keluar dari kamarnya, dia membawa kehangatan dan cinta dalam hatinya. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam perjalanan ini, karena dia memiliki dukungan keluarga dan teman-teman yang tak ternilai harganya.

__ADS_1


Dengan langkah pasti, Lizza keluar dari rumahnya menuju dunia yang menunggu dengan senyum di wajahnya. Dia tahu bahwa tidak ada batasan bagi dirinya dan bahwa dia mampu mencapai apa pun yang diinginkannya. Lizza siap untuk menghadapi hari ini dengan segala potensi dan kebahagiaan yang ada di hadapannya.


__ADS_2