
Malam telah tiba, dan Lizza masih terjaga di atas tempat tidurnya. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai pemikiran dan pertanyaan yang menghantuinya. Meskipun hubungannya dengan Rey begitu indah dan penuh cinta, keraguan tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam pikirannya. Apakah Rey selalu setia kepadanya? Apakah ada kemungkinan bahwa Rey bermain-main dengan perempuan lain di belakangnya?
Lizza berusaha mengusir pikiran negatif itu, mengetahui bahwa dia harus percaya pada Rey. Mereka telah membangun kepercayaan yang kuat selama ini, dan tidak adil bagi Lizza untuk meragukan Rey tanpa alasan yang jelas. Namun, ketidakpastian terus menghantuinya, mendorongnya untuk mencari jawaban.
Tanpa berpikir panjang, Lizza mengambil ponselnya dan membuka pesan untuk mencari kejelasan. Dia melihat riwayat percakapan mereka, mengingat momen-momen indah dan kata-kata sayang yang mereka bagikan. Setiap pesan itu memberinya kekuatan dan keyakinan bahwa Rey adalah seseorang yang setia.
Namun, Lizza tidak bisa menghilangkan kegelisahan itu begitu saja. Dia memutuskan untuk menghubungi Seyla, sahabatnya yang juga dekat dengan Rey. Dia merasa Seyla bisa memberikan wawasan yang lebih jelas tentang kepribadian Rey.
Setelah beberapa detik, Seyla menjawab panggilan Lizza. Mereka mulai berbincang tentang kehidupan mereka, dan dengan hati-hati, Lizza membawa topik yang mengganggu pikirannya.
"Seyla, apakah kamu yakin Rey setia padaku?" tanya Lizza dengan ragu.
Seyla diam sejenak, kemudian mengatakan dengan tegas, "Lizza, Rey adalah orang yang baik. Aku tahu bagaimana dia bersikap dengan kamu, penuh perhatian dan setia. Aku yakin dia tidak akan pernah bermain-main dengan perempuan lain."
Lizza merasa sedikit lega mendengar kata-kata Seyla. Dia tahu bahwa Seyla tidak akan mengatakannya jika dia tidak benar-benar yakin. Namun, keraguan itu masih melekat dalam dirinya.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Lizza melihat nama "Rey" muncul di layar, dan hatinya berdebar-debar saat dia menerima panggilan itu. Mereka berdua saling menyapa dengan penuh kehangatan.
"Sayang, apa yang kamu lakukan masih terjaga?" tanya Rey dengan suara lembut.
Lizza menggigit bibirnya, mencoba mengungkapkan kekhawatirannya dengan hati-hati. "Rey, aku harus jujur, ada keraguan yang menghantuiku. Aku khawatir bahwa kamu mungkin bermain dengan perempuan lain di belakangku."
Rey terdiam sejenak, kemudian dengan tegas menjawab, "Lizza, aku mencintaimu sepenuh hati. Kamu adalah satu-satunya perempuan yang ada di hatiku. Aku tidak pernah bermain-main dengan perasaanmu. Kamu harus percaya padaku."
Suara Rey dipenuhi dengan kejujuran dan ketulusan, dan Lizza bisa merasakan kebenaran dalam kata-katanya. Hati Lizza pun mulai tenang, dan keraguan itu perlahan-lahan tergantikan dengan kepercayaan yang kuat.
"Mohon maaf, Rey. Aku tidak bermaksud meragukanmu. Aku hanya perlu meyakinkan diriku sendiri," kata Lizza dengan suara lembut.
Rey mengerti perasaan Lizza dan dengan lembut berkata, "Tidak apa-apa, sayang. Aku mengerti bahwa kadang-kadang keraguan bisa muncul, tetapi aku berjanji untuk selalu setia padamu. Aku tidak ingin kehilanganmu."
__ADS_1
Percakapan itu membantu Lizza melepaskan keraguan dan memperkuat ikatan cinta mereka. Mereka berbicara lebih lama, berbagi ketulusan dan janji untuk saling mendukung dan mempercayai satu sama lain.
Setelah percakapan itu, Lizza merasa lebih tenang dan lega. Dia tahu bahwa Rey adalah seseorang yang setia dan mencintainya dengan tulus. Mereka berdua telah melewati banyak hal bersama, dan Lizza memutuskan untuk mempercayai Rey sepenuh hati.
Lizza mengakhiri malam dengan pikiran yang jernih dan hati yang penuh dengan cinta. Dia mengetahui bahwa cinta mereka akan terus tumbuh, dan bahwa kepercayaan adalah dasar yang kuat dalam hubungan mereka.
Lizza turun dari kasur dengan hati yang ceria. Dia melangkah menuju meja rias di sudut kamar, memancarkan kegembiraan dalam setiap langkahnya. Dia duduk di depan meja rias yang dihiasi dengan cermin besar yang memantulkan wajahnya yang cantik.
Lizza merasa senang melihat wajahnya yang cerah di cermin. Dia merasa beruntung memiliki kulit yang sehat dan terawat, namun dia tahu bahwa perawatan adalah kunci untuk menjaga kecantikan kulitnya tetap prima. Dengan penuh semangat, dia mempersiapkan skincare rutin sebelum tidur.
Dia mengambil pembersih wajah yang lembut dan membilas wajahnya dengan air hangat. Air menyegarkan kulitnya dan menghapus semua sisa-sisa makeup yang ada. Setelah membersihkan wajahnya dengan lembut, dia mengusapnya dengan handuk lembut untuk mengeringkannya.
Lizza kemudian mengambil botol toner yang segar dan mengaplikasikannya dengan lembut di seluruh wajahnya. Dia merasa toner itu menyejukkan kulitnya dan memberikan kelembapan yang diperlukan. Kemudian, dia mengambil sedikit serum wajah yang kaya akan nutrisi dan mengoleskannya dengan lembut di wajahnya. Dia melihat wajahnya memancarkan kelembapan dan cahaya sehat.
Setelah itu, Lizza melanjutkan dengan mengambil krim malam yang kaya akan pelembap. Dia mengambil sedikit krim dan memijatkannya dengan lembut di wajahnya, memastikan agar semua bagian terhidrasi dengan baik. Lizza merasa krim malam itu memberikan sensasi kenyal dan membuat kulitnya terasa lembut.
Setelah merawat wajahnya, Lizza melanjutkan perawatan dengan merawat bibirnya. Dia mengoleskan pelembap bibir dengan lembut, memastikan agar bibirnya tetap lembut dan bebas dari pecah-pecah.
Lizza pun melanjutkan rutinitasnya sebelum tidur. Dia mengenakan piyama yang nyaman dan menyisir rambutnya dengan lembut. Dia merasa rileks dan siap untuk tidur.
Sebelum berbaring, Lizza mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur yang lembut di sebelah tempat tidurnya. Dia menyusun bantal dengan lembut dan meluruskan selimut. Dia berbaring dengan nyaman, merasa rileks setelah melewati proses perawatan sebelum tidur.
Lizza melihat ke langit-langit kamar dengan tenang, menikmati keheningan yang ada. Pikirannya mulai merenungkan hari yang telah berlalu dan apa yang diharapkan esok hari. Dia merasa beruntung memiliki waktu untuk merawat dirinya sendiri, dan dia tahu bahwa kecantikan sejati datang dari dalam.
Dalam keheningan malam, Lizza tertidur dengan damai, dengan perasaan bahagia dan kepercayaan diri yang tumbuh di dalam hatinya. Dia tahu bahwa dengan merawat dirinya sendiri, dia membangun fondasi yang kuat untuk kesehatan dan kecantikan kulitnya. Dan ketika dia bangun keesokan paginya, dia akan merasa segar, cantik, dan siap menghadapi hari dengan percaya diri yang tak tergoyahkan.
Pagi hari yang cerah menyambut Lizza saat dia membuka mata. Dia merasa segar setelah tidur malam yang nyenyak. Lizza mengangkat tubuhnya dari tempat tidur dengan semangat, mengetahui bahwa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.
Dengan langkah ringan, Lizza berjalan menuju kamar mandi untuk memulai rutinitas paginya. Dia menghidupkan shower dan merasakan air hangat yang menyegarkan tubuhnya. Air jatuh di atas kulitnya, membersihkan semua kelelahan dan mengembalikan energi yang diperlukan.
__ADS_1
Setelah mandi, Lizza membungkus tubuhnya dengan handuk lembut dan berjalan menuju lemari pakaian. Dia memilih seragam sekolah yang rapi dan memakainya dengan penuh kebanggaan. Lizza memastikan setiap kancing terikat dengan rapi, dan rok sekolahnya terlihat sempurna.
Selesai berpakaian, Lizza berjalan ke dapur dengan harapan menemukan hidangan lezat untuk sarapan. Bau kopi segar dan aroma roti panggang mengisi udara, membangkitkan nafsu makannya. Ketika dia memasuki dapur, dia melihat ibunya sibuk memasak sarapan yang lezat.
"Ibu, pagi yang cerah, ya?" sapanya sambil tersenyum.
"Iya, sayang. Pagi yang cerah untuk memulai hari yang baik," jawab ibunya dengan penuh kehangatan. "Ayo, duduklah. Sarapan hampir siap."
Lizza duduk di meja makan dan mengamati ibunya dengan penuh kasih sayang. Di meja makan terhidang berbagai macam hidangan lezat, mulai dari nasi goreng, telur dadar, dan roti panggang. Lizza merasa beruntung memiliki ibu yang begitu peduli dan rajin dalam mengurus keluarga.
Mereka berdua duduk bersama, saling berbagi cerita tentang apa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Lizza bercerita tentang acara sekolah yang akan datang dan persiapan yang harus dilakukan. Ibunya mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan nasihat dan dukungan yang diperlukan.
Saat mereka menikmati hidangan pagi, Lizza merasa hangat dan bahagia. Kesederhanaan momen bersama ibunya membuatnya merasa dihargai dan dicintai. Dia merasa beruntung memiliki keluarga yang saling mendukung dan menciptakan suasana yang penuh kasih di rumah.
Setelah sarapan selesai, Lizza membersihkan piringnya dan membantu ibunya merapikan dapur. Mereka berdua bekerja dengan cekatan, saling membantu dan saling tersenyum.
"Terima kasih, sayang. Kamu selalu menjadi anak yang baik dan membantu ibu," kata ibunya sambil membelai rambut Lizza dengan penuh sayang.
Lizza tersenyum dan menjawab, "Tidak ada yang lebih berharga bagiku selain bisa membantu ibu. Kamu adalah inspirasiku, ibu."
Setelah pekerjaan rumah selesai, Lizza bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dia mengambil tasnya, memastikan dia membawa semua buku dan perlengkapan yang diperlukan. Lizza memberikan ciuman pada pipi ibunya sebelum meninggalkan rumah.
"Demi hari yang cerah dan penuh prestasi, ya?" kata ibunya sambil tersenyum.
"Demi hari yang cerah dan penuh prestasi!" Lizza menjawab dengan semangat.
Lizza meninggalkan rumah dengan langkah yang mantap, siap menghadapi tantangan dan pelajaran baru yang menantinya di sekolah. Dia merasa beruntung memiliki keluarga yang selalu mendukungnya dan memberikan cinta tanpa batas.
Dalam perjalanan menuju sekolah, Lizza merenung tentang betapa beruntungnya dia memiliki pagi yang indah di samping ibunya. Dia merasa energi dan semangat mengalir di dalam dirinya, siap untuk mengejar impian dan meraih kesuksesan.
__ADS_1
Pagi yang cerah dan sarapan yang lezat telah mengisi hati Lizza dengan kebahagiaan dan kepercayaan diri. Dia siap untuk menjalani hari dengan penuh semangat dan berbagai pelajaran baru yang akan dia pelajari.