Badboy Sekolah Mendekati Ku

Badboy Sekolah Mendekati Ku
Pertandingan Sepakbola


__ADS_3

Rey pulang ke rumahnya setelah menghabiskan waktu di kafe tersebut. Ia merasa cukup lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum tidur. Rey masuk ke kamar tidurnya dan senang melihat tempat tidurnya yang nyaman. Ia melemparkan dirinya ke tempat tidur dan merasakan kenyamanan yang disediakan oleh kasur dan bantalnya.


Rey memejamkan mata sejenak, membiarkan tubuhnya rileks. Ia memutar tubuhnya dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia membuka aplikasi chat dan melihat pesan dari Lizza.


"Kamu udah pulang, Rey?" tanya Lizza.


"Iya, baru aja sampai di rumah. Besok harus bangun pagi nih, kita istirahat dulu ya," balas Rey.


"Iya, besok kita harus bangun pagi," kata Lizza.


Rey hanya mengangguk, mematikan ponselnya, dan memejamkan mata lagi. Ia merasa semakin mengantuk dan akhirnya terlelap di atas tempat tidurnya.


Lizza bangun lebih awal dari biasanya. Matanya masih terasa mengantuk saat ia menggeser layar ponselnya untuk memeriksa jam. Ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya meski masih terasa malas. Hari ini adalah hari yang spesial karena ia merayakan ulang tahun.


Lizza bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin untuk menyegarkan dirinya. Setelah selesai mandi, ia bersiap-siap dan memakai seragam sekolahnya. Ia ingin terlihat cantik di hari spesialnya.


Setelah mempersiapkan diri, Lizza turun ke bawah dan melihat ibunya sedang sibuk di dapur. "Selamat pagi," sapanya.


"Selamat pagi, Nak. Sudah siap untuk hari spesialmu?" tanya ibunya sambil tersenyum.


"Sudah, aku senang sekali," jawab Lizza sambil tersenyum lebar.


Ibunya menyiapkan sarapan spesial untuk Lizza, yaitu pancake dengan buah-buahan segar di atasnya. Lizza sangat menyukai makanan itu dan ia merasa sangat beruntung memiliki ibu yang sangat menyayanginya.


Setelah sarapan, Lizza mengucapkan terima kasih pada ibunya dan segera bergegas ke sekolah. Ia ingin tiba lebih awal agar bisa menyiapkan diri untuk merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya di sekolah. Hari ini akan menjadi hari yang spesial dan tak terlupakan baginya.


Pagi itu, ketika Lizza dan Rey sampai di sekolah, teman-teman sekelas mereka sudah menunggu dengan bolu ulang tahun yang dibawakan oleh salah satu teman mereka. Mereka merayakan ulang tahun teman mereka dengan ramah tamah dan tawa ceria.


Rey yang biasanya terlihat tenang dan cuek, kali ini juga ikut merayakan ulang tahun teman mereka dengan tersenyum dan mengambil sepotong bolu. Lizza juga bergabung dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman mereka.


Suasana semakin hangat ketika mereka berbincang-bincang tentang rencana untuk mengikuti kejuaraan sepak bola antar sekolah yang akan diadakan di akhir pekan nanti. Rey dan teman-temannya yang termasuk dalam tim sepak bola sekolah berharap bisa membawa pulang trofi juara.


Setelah merayakan ulang tahun, mereka semua masuk ke kelas untuk memulai kegiatan belajar mengajar. Meskipun masih ada suasana gembira dan semangat di udara, tetapi Rey dan Lizza tetap fokus pada pelajaran yang diajarkan oleh guru mereka.


Teman 1: "Selamat ulang tahun, Lizza! Ini bolu ulang tahun dari kami semua."


Teman 2: "Semoga panjang umur, sehat selalu, dan makin sukses ya, Lizza!"


Lizza: "Terima kasih teman-teman! Kalian semua memang yang terbaik."


Rey: "Selamat ulang tahun, Lizza. Semoga sukses terus di sekolah dan di luar sekolah juga."

__ADS_1


Lizza: "Terima kasih, Rey. Kamu juga sudah berubah jadi lebih baik sekarang."


Rey: "Iya, aku belajar banyak dari kamu, Lizza. Dan maaf juga kalau selama ini sering merepotkan kamu."


Lizza: "Sudahlah, masa lalu ya masa lalu. Yang penting kita tetap saling mendukung dan menjadi teman yang baik."


Teman 3: "Oke, sudah waktunya masuk kelas. Kita bicarakan lagi setelah pelajaran ya."


Semua: "Oke!"


Pelajaran pertama dimulai dan guru mengajar dengan serius. Rey mencoba untuk fokus pada pelajaran meskipun masih sedikit mengantuk karena bangun pagi lebih awal dari biasanya. Namun, dia berusaha keras untuk tidak terlambat lagi seperti Senin lalu.


Beberapa saat kemudian, ada seorang siswi yang masuk ke kelas dengan tergesa-gesa dan sedikit terengah-engah. Guru mempersilakan siswi itu untuk masuk dan duduk di bangku yang kosong di depan. Ternyata, siswi tersebut adalah siswa pindahan yang baru saja bergabung dengan kelas.


"Guru, saya minta izin untuk memperkenalkan diri. Saya adalah Yuni, murid pindahan dari kota sebelah," ucap Yuni dengan sedikit gugup.


"Glad to have you here, Yuni. Apa kamu ingin bercerita sedikit tentang dirimu?" tanya guru dengan senyum ramah.


Yuni kemudian menceritakan tentang dirinya, mulai dari latar belakang keluarga hingga kegiatan yang dia gemari di waktu luangnya. Rey mendengarkan dengan seksama, terkesan dengan keberanian Yuni untuk memperkenalkan diri pada hari pertama masuk sekolah.


Setelah pelajaran pertama selesai, Rey menghampiri Yuni dan memberi salam sambil memperkenalkan diri. Mereka kemudian berbincang-bincang sejenak tentang sekolah dan beberapa kegiatan yang sering diadakan di sana.


"Aku senang bisa berteman denganmu, Yuni," kata Rey sambil tersenyum ramah.


Rey merasa senang dan bersyukur bisa memiliki teman baru di sekolah. Dia berharap dapat menjalin persahabatan yang baik dengan Yuni dan semua orang di kelasnya.


Lizza merasa sedikit cemburu ketika melihat Rey bersama Yuni, tetapi dia mencoba untuk tidak memperlihatkan perasaannya. Dia memutuskan untuk fokus pada pelajaran dan mencoba untuk tidak terlalu memikirkan Rey dan Yuni.


Pelajaran terus berjalan dan Lizza mulai merasa bosan. Dia merenungkan tentang apa yang akan dia lakukan setelah sekolah dan memikirkan tentang rencananya untuk menghabiskan waktu dengan Rey nanti.


Tiba-tiba, bel pelajaran berbunyi, menandakan bahwa pelajaran telah selesai. Lizza cepat-cepat mengambil tasnya dan bersiap-siap untuk keluar dari kelas. Ketika dia melihat ke arah Rey dan Yuni, dia melihat mereka sedang tertawa-tawa bersama.


Lizza merasa sedikit kesal dan ingin segera keluar dari kelas. Dia berjalan dengan cepat menuju lorong dan melihat Rey mengikutinya dari belakang.


"Ada apa, Lizz?" tanya Rey.


"Tidak apa-apa," jawab Lizza singkat.


Rey merasa ada yang tidak beres dengan Lizza dan mencoba membujuknya agar berbicara.


"Kamu pasti sedang kesal karena melihat aku bersama Yuni tadi, ya?" tanya Rey.

__ADS_1


Lizza terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Rey merasa sedikit menyesal karena membuat Lizza merasa seperti itu.


"Maksudku, Yuni hanya teman biasa. Kamu tidak perlu cemburu," ujar Rey, mencoba meyakinkan Lizza.


Lizza tersenyum dan mengangguk. Dia merasa lebih tenang setelah berbicara dengan Rey.


Hari Jumat tiba, di mana pertandingan sepak bola antar sekolah akan berlangsung. Rey dan geng-nya sudah mempersiapkan diri sejak awal minggu dengan latihan rutin setiap hari.


Rey: "Siap-siap ya, guys, hari ini kita harus menang!"


Gang: "Siap, jangan khawatir, kita pasti menang."


Lizza: "Rey, aku juga akan datang nonton kamu main sepak bola."


Rey: "Terima kasih, Lizza. Aku pasti akan bermain semaksimal mungkin untuk membuatmu bangga."


Gang: "Kita harus berlatih lagi, guys, biar lebih siap menghadapi lawan kita."


Rey: "Benar juga, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.


Saat tiba di lapangan sepak bola, mereka langsung bergabung dengan tim sekolah mereka dan berlatih terakhir sebelum pertandingan dimulai. Seluruh siswa dan guru dari sekolah mereka pun sudah memadati lapangan untuk menyaksikan pertandingan.


Saat pertandingan dimulai, Rey dan geng-nya bermain dengan semangat dan keberanian yang tinggi. Mereka berhasil mencetak beberapa gol dan membuat tim sekolah mereka unggul atas tim lawan.


Lizza dan beberapa teman sekelasnya menyaksikan pertandingan dengan antusias. Mereka terkesima dengan kemampuan Rey dan geng-nya dalam mengolah bola dan mencetak gol.


Setelah pertandingan berakhir, tim sekolah Rey berhasil keluar sebagai pemenang dan mereka merayakan kemenangan mereka bersama-sama. Lizza dan teman-temannya bergabung dengan mereka untuk merayakan kemenangan tersebut dan memberikan ucapan selamat.


Rey merasa sangat senang dan bangga dengan kemenangan timnya. Ia tahu bahwa ini adalah hasil dari kerja keras dan latihan yang tidak kenal lelah. Setelah merayakan kemenangan mereka, Rey dan geng-nya pulang dengan penuh semangat dan merasa lebih bersemangat lagi untuk latihan dan pertandingan selanjutnya.


Saat pertandingan dimulai, Yuni datang menemui Rey dan bergabung dengan kelompoknya di tribun penonton. Rey menyambut kedatangan Yuni dengan senyum ramah, sementara Lizza tampak cemberut di sampingnya.


"Lihatlah, Yuni datang untuk mendukung kita," ujar Rey kepada teman-temannya.


"Aku senang dia datang," sahut salah satu temannya.


Lizza merasa cemburu dan mulai merasa tidak nyaman. Dia mencoba untuk tetap tenang, namun kecemburuan itu semakin membuatnya takut kehilangan Rey. Rey menoleh ke arah Lizza. Dia mencoba untuk meyakinkan Lizza bahwa semuanya baik-baik saja, namun Lizza terus mengungkapkan rasa cemburunya.


"Lizza, tidak ada yang bisa menggantikanmu," ujar Rey, mencoba untuk menenangkan Lizza.


Namun, Lizza tetap merasa tidak tenang. Rey mencoba untuk membujuk Lizza, namun kecemburuan itu terus mengganggu Lizza sepanjang pertandingan.

__ADS_1


Setelah pertandingan selesai, Rey memutuskan untuk membicarakan masalah ini dengan Lizza. Dia ingin menjelaskan bahwa dia hanya berteman dengan Yuni dan tidak ada yang lebih dari itu. Dia berharap dapat membuat Lizza merasa lebih tenang dan memahami situasi dengan jelas.


__ADS_2