
Setelah melewati beberapa jam yang menyenangkan di rumah Lizza, Rey merasa tidak enak hati. Dia sadar bahwa sudah mulai malam dan dia belum memberi tahu ibunya bahwa dia akan pulang agak larut.
"Lizza, maafkan aku," ucap Rey dengan wajah yang sedikit cemas. "Aku merasa tidak enak pada ibuku karena aku belum memberitahunya bahwa aku akan pulang agak larut. Aku harus segera pulang sekarang."
Lizza memahami kekhawatiran Rey. "Tidak masalah, Rey. Aku mengerti betapa pentingnya keluarga bagimu. Kamu bisa pulang, tapi jangan lupa memberitahuku jika sudah sampai di rumah, ya?"
Rey tersenyum lega. "Tentu saja, aku akan memberitahumu begitu aku sampai di rumah. Terima kasih atas pengertianmu, Lizza."
Mereka berdua berdiri dan berjalan menuju pintu depan. Rey merasa berat meninggalkan Lizza, tetapi dia tahu dia harus memprioritaskan tanggung jawabnya pada keluarganya.
"Malam ini sangat menyenangkan, Lizza," kata Rey sambil menggenggam tangan Lizza. "Aku berharap kita bisa mengulanginya suatu saat nanti."
Lizza tersenyum. "Aku juga berharap begitu, Rey. Jangan lupa untuk menghubungiku setelah kamu sampai di rumah, ya?"
Rey mengangguk. "Aku pasti akan melakukannya. Sampai jumpa besok di sekolah."
Mereka berpelukan sejenak sebelum Rey melangkah menuju mobilnya. Dalam perjalanan pulang, Rey merenung tentang betapa beruntungnya dia memiliki pacar sepert Lizza. Dia menghargai kebaikan hati dan pemahaman Lizza terhadap situasinya.
Setibanya di rumah, Rey segera memberi tahu ibunya bahwa dia telah pulang dari rumah Lizza. Ibunya merasa lega mendengar kabar itu dan memastikan Rey tiba dengan selamat.
Rey duduk di kamarnya, merenung tentang hari yang telah berlalu. Meskipun dia merasa tidak enak hati karena harus meninggalkan Lizza lebih awal, dia tahu bahwa menghormati waktu keluarga adalah hal yang penting. Dia berterima kasih atas kerja sama dan pengertian Lizza dalam situasi tersebut.
Rey mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Lizza, memberitahukan bahwa dia telah tiba dengan selamat di rumah. Mereka saling bertukar pesan singkat, saling mengucapkan terima kasih atas waktu yang mereka habiskan bersama.
Saat bersiap tidur, Rey tersenyum dalam kehangatan kisah cinta mereka. Meskipun malam ini berakhir dengan cepat, dia tahu ada banyak petualangan dan momen berharga yang menanti mereka di masa depan. Rey pun tertidur dengan pikiran bahagia, menantikan hari berikutnya bersama Lizza.
__ADS_1
Pagi hari telah tiba, dan Rey terbangun dengan keterkejutan saat mendengar suara alarm berisik dari ponselnya. Dia langsung meraih ponsel dan melihat jam di layarnya. Ternyata, dia kesiangan! Rey segera melompat dari tempat tidur dengan cepat, berusaha untuk tidak panik.
Tanpa membuang waktu, Rey bergegas menuju kamar mandi. Dia mencuci wajahnya dengan cepat, berusaha menghilangkan rasa kantuk yang masih menghantui dirinya. Rey tidak ingin terlambat dan melewatkan pelajaran penting hari ini.
Setelah mandi dengan cepat, Rey mengenakan seragam sekolahnya dengan sigap. Dia tidak sempat sarapan, namun dia bertekad untuk mengejar waktu yang hilang. Rey melompat ke motor sport kesayangannya yang terparkir di halaman rumah. Dia memasang helm dengan gaya keren yang membuatnya terlihat seperti seorang gangster.
Dengan kecepatan yang tinggi, Rey memacu motornya melewati jalan-jalan yang sepi. Dia bermanuver dengan keahlian, melintasi kendaraan lain dengan gesit. Meskipun terburu-buru, Rey tetap berhati-hati dan mematuhi aturan lalu lintas.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu lama, kini terasa lebih singkat dengan kecepatan motor Rey. Dia menikmati sensasi kecepatan dan angin yang menyapu wajahnya. Meski terburu-buru, Rey tidak melupakan keselamatan dan tetap fokus pada jalanan.
Tiba di sekolah, Rey memarkirkan motornya dengan gesit. Dia berlari menuju kelasnya dengan nafas terengah-engah. Saat masuk ke dalam kelas, Rey merasa lega karena masih ada beberapa menit sebelum pelajaran dimulai.
Rey melihat ke sekeliling dan mencari tempat duduknya. Dia merasa terdorong untuk duduk dengan sikap yang santai, menunjukkan pada teman-temannya bahwa dia masih memiliki gaya meski datang terlambat. Dia berjalan dengan percaya diri menuju bangku belakang yang biasanya menjadi tempatnya duduk.
Saat dia mendekati bangku, dia melihat Lizza dan Seyla yang telah duduk di sebelahnya. Mereka berdua tersenyum melihat Rey datang terlambat. Lizza menjulurkan tangannya, memberi salam pada Rey.
Rey tersenyum malu. "Maaf ya, Lizza. Tadi pagi alarmku tidak berfungsi dengan baik. Tapi aku senang bisa mengejar waktu dan sampai di sini tepat waktu."
Seyla ikut tersenyum. "Tidak masalah, Rey. Yang penting kamu sampai dengan selamat dan bisa ikut pelajaran hari ini."
Rey merasa lega mendapatkan pengertian dari Lizza dan Seyla. Mereka berdua adalah teman yang selalu mendukungnya, termasuk dalam situasi seperti ini. Rey bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka.
Pelajaran dimulai, dan guru memulai penjelasan dengan serius. Meskipun Rey terburu-buru tadi pagi, dia berusaha fokus pada pelajaran dan mencatat dengan teliti. Dia tidak ingin melewatkan informasi penting meski datang terlambat.
Saat istirahat tiba, Rey, Lizza, dan Seyla pergi ke kantin bersama-sama. Mereka duduk di meja yang biasa mereka tempati, saling bercanda dan berbincang tentang pelajaran yang baru saja mereka pelajari. Rey merasa bersyukur bisa menikmati istirahat ini bersama teman-teman terbaiknya.
__ADS_1
Hari yang terburu-buru tadi pagi telah berubah menjadi hari yang menyenangkan. Rey belajar bahwa terkadang kejadian tak terduga bisa terjadi, tapi yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya dengan sikap positif dan menghargai teman-teman kita yang selalu memberi dukungan.
Dengan senyum di wajahnya, Rey merasa semangat untuk melanjutkan hari ini dan menghadapi segala tantangan yang ada di depannya. Dia bersyukur atas keberadaan Lizza dan Seyla yang selalu ada untuknya, bahkan dalam momen-momen paling sibuk sekalipun.
Saat sedang asyik mengobrol di kantin, Rey, Lizza, dan Seyla menikmati makan siang mereka. Mereka duduk bersama di meja, saling berbincang dan tertawa riang. Tiba-tiba, Rey merasakan seorang perempuan menepuk pundaknya dari belakang. Rey terkejut dan membalikkan badannya.
Ternyata, itu adalah Anna. Dia tersenyum cerah pada Rey dan mengucapkan salam. "Hai, Rey!."
Rey terkejut melihat Anna dan tidak bisa menahan senyumannya. "Hai, Anna! Kamu datang sendiri ke sini?"
Anna mengangguk. "Iya, aku ingin mengucapkan halo padamu. Aku belum sempat menyapa Lizza dan Seyla, tapi mungkin nanti kita bisa bicara lebih banyak."
Rey sedikit tercengang melihat Anna hanya menyapa dirinya dan tidak menyapa Lizza dan Seyla. Dia mencoba menutupi kekagetannya dan berusaha melanjutkan obrolan dengan Anna. Namun, dalam hatinya, Rey merasa sedikit canggung dengan situasi ini.
Sementara itu, Lizza dan Seyla sibuk dengan makanan mereka sendiri. Mereka tampaknya lebih fokus pada hidangan mereka daripada memperhatikan interaksi antara Rey dan Anna. Lizza tertawa kecil sambil menikmati camilannya, sementara Seyla dengan lahap menyantap hidangannya.
Rey merasa bahwa Lizza dan Seyla memang lebih mementingkan makanan mereka sendiri daripada memperhatikan situasi yang sedang terjadi. Dia merasa agak kesepian dalam perbincangan dengan Anna, tetapi dia berusaha tetap menjaga keceriaan dan obrolan yang menyenangkan.
Beberapa saat kemudian, Rey mencoba memperkenalkan Anna kepada Lizza dan Seyla. "Anna, ini adalah Lizza pacarku dan Seyla teman dikelas. Lizza, Seyla, ini adalah Anna."
Lizza dan Seyla mengangguk sopan sambil tersenyum kepada Anna. Mereka menyapa Anna dengan ramah, namun terlihat bahwa mereka masih lebih tertarik pada makanan mereka sendiri.
Rey mencoba untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia memahami bahwa setiap orang memiliki prioritas dan perhatian yang berbeda-beda. Meskipun demikian, Rey tetap mengharapkan kesenangan dan kehangatan di antara semua teman-temannya.
Obrolan pun berlanjut, dan suasana menjadi lebih santai. Rey, Lizza, Seyla, dan Anna berbagi cerita dan tawa bersama. Meskipun ada sedikit ketidakseimbangan dalam perhatian, mereka tetap berusaha untuk menikmati waktu mereka bersama.
__ADS_1
Ketika waktu istirahat hampir berakhir, Lizza dan seyla bersama-sama menyudahi makanan mereka dan berdiri untuk kembali ke kelas. Rey berharap bahwa di lain waktu, mereka semua bisa lebih merasa saling terlibat dan mendengarkan satu sama lain dengan lebih baik.
Dalam perjalanan kembali ke kelas, Rey dan Anna berjalan bersama di depan, sementara Lizza dan Seyla berjalan di belakang mereka. Hal itu membuat hati lizza semakin teriris seperti tersayat oleh pisau melihat pacarnya jalan berdua dengan perempuan lain didepannya.