
Malam itu, Rey duduk di atas kasurnya dengan gitar di pangkuannya. Ruangan di sekitarnya dipenuhi oleh keheningan, hanya dihiasi oleh lampu kecil yang lembut. Dalam keadaan yang tenang seperti ini, Rey sering merasa terinspirasi untuk memainkan musik dan mengekspresikan perasaannya.
Sambil mengalunkan nada-nada lembut, Rey membiarkan jemarinya mengitari senar-senar gitar. Musik itu mengalir dengan penuh emosi, mencerminkan perasaannya yang mendalam. Melodi yang tercipta mengisi ruangan dan menyebar ke seluruh penjuru.
Saat itu, ponsel Rey bergetar dengan lembut. Dia mengambilnya dan melihat nama yang ditampilkan di layar: Lizza, cahaya dalam hidupnya. Rey tersenyum dan segera menjawab panggilan itu.
"Halo, Lizza. Apa kabar?" sapa Rey dengan hangat.
Lizza menjawab dengan suara lembut, "Aku baik, Rey. Sedang apa kamu malam ini?"
Rey tersenyum. "Aku sedang duduk di atas kasurku, bermain gitar. Merasakan keheningan malam ini."
Lizza mendengar nada gitar yang memainkan lagu lembut di belakang suara Rey. "Bisakah aku mendengar apa yang kamu mainkan?"
Tak berpikir dua kali, Rey mengarahkan ponselnya ke gitar dan melanjutkan permainannya. Melodi yang indah dan romantis memenuhi telinga Lizza, membangkitkan perasaan yang hangat di dalam dirinya.
"Itu sangat indah, Rey. Kamu memainkannya dengan begitu penuh perasaan," kata Lizza dengan suara lembut. "Aku bisa merasakan getaran emosional dari setiap nada yang kamu mainkan."
Rey merasa senang mendengar pujian Lizza. Musik selalu menjadi bahasa yang bisa membuatnya berkomunikasi dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Mungkin suatu hari nanti aku akan memainkannya untukmu secara langsung," ucap Rey dengan nada bersemangat.
Lizza tersenyum di sisi lain telepon. "Aku sangat menantikannya, Rey. Musisi sejati seperti kamu akan selalu memiliki cara untuk mengekspresikan emosi yang tak terduga melalui musik."
Mereka terus berbicara, saling berbagi cerita dan pengalaman sepanjang malam. Rey menceritakan tentang permainan gitar pertamanya dan perjalanan musiknya. Sedangkan Lizza membagikan pengalamannya dengan seni lukis dan betapa ia menemukan ketenangan dan keindahan di dalamnya.
__ADS_1
Ketika jam menunjukkan larut malam, mereka berjanji untuk saling menyimpan tempat istimewa dalam hati masing-masing. Setelah melepas sapaan terakhir, Rey meletakkan ponselnya dengan lembut di samping gitar.
Duduk di atas kasur dalam kegelapan, Rey membiarkan musik mengalir dalam pikirannya. Setelah berbicara dengan Lizza, Rey menyadari akan ada ujian penting di sekolah besok. Ia pun merasa perlu untuk istirahat dan tidur lebih awal agar bisa bangun pagi dan bersiap-siap menghadapi ujian tersebut.
"Hey Lizza, aku rasa besok kita harus tidur lebih awal. Kamu setuju kan?" tanya Rey.
"Kenapa, ada apa besok?" tanya Lizza.
"Banyak pelajaran yang harus dipersiapkan dan ada ujian juga. Aku tidak ingin ketinggalan," jawab Rey.
Lizza pun mengerti dan setuju untuk tidur lebih awal. Ia pun bergegas pulang ke rumahnya untuk bisa tidur dengan cukup. Rey juga bergegas untuk tidur lebih awal. Ia mencuci wajahnya dan mengganti baju dengan piyama. Ia pun mematikan semua lampu dan berbaring di atas kasurnya.
Namun, sesaat setelah ia berbaring, ia merasa tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan ujian besok dan bagaimana ia harus mempersiapkannya. Ia mulai merasa khawatir jika tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain, terutama guru dan orang tuanya.
Lalu, Lizza mengirim pesan kepadanya. "Sudah tidur, Rey?"
Lizza pun memahami dan menghibur Rey. Ia mengatakan bahwa ia juga merasa khawatir, tetapi tidak ada gunanya memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Ia menyarankan agar Rey mencoba untuk rileks dan beristirahat.
Mendapat dukungan dari Lizza, Rey pun merasa lega dan mulai merasa mengantuk. Ia menutup matanya dan mulai terlelap.
Keesokan paginya, Rey terbangun lebih awal dari biasanya. Ia merasa segar dan siap menghadapi ujian. Ia mandi, sarapan, dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Ketika di sekolah, ia bertemu dengan teman-temannya dari gank badboy. Mereka membicarakan soal ujian dan saling memberikan dukungan. Rey merasa senang memiliki teman-teman seperti mereka yang selalu mendukungnya.
Setelah ujian selesai, Rey dan Lizza bertemu di koridor sekolah. Mereka saling bertanya tentang ujian dan saling memberikan semangat. Lizza merasa senang bisa memberikan dukungan pada Rey dan sebaliknya.
__ADS_1
Ketika pulang sekolah, Rey dan Lizza memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dekat rumah Lizza. Mereka mengobrol tentang berbagai hal dan menikmati keindahan taman.
Saat matahari mulai terbenam, mereka pun memutuskan untuk pulang. Lizza mengucapkan terima kasih pada Rey karena sudah mengajaknya berjalan-jalan dan memberikan dukungan selama ujian. Rey pun merasa senang bisa menjalani hari dengan baik dan bersama orang yang dicintainya. Ia merasa terbantu dengan dukungan dari Lizza dan teman-teman gank badboy. Mereka membuatnya merasa lebih percaya diri dan yakin bahwa ia dapat menghadapi tantangan apa pun.
Ketika Rey tiba di rumah, ia duduk di kamar tidurnya untuk mengambil napas sejenak. Ia menyadari betapa pentingnya memiliki teman yang mendukung dan dapat diandalkan, baik dalam kesulitan maupun dalam momen kebahagiaan. Rey merasa beruntung memiliki Lizza dan teman-temannya yang selalu ada di sisinya.
Sambil merenungkan hari yang telah berlalu, Rey berpikir tentang bagaimana mereka saling mendukung satu sama lain dan membantu mengatasi rasa khawatir dan stres. Mereka bukan hanya teman, mereka adalah keluarga yang saling mendukung dan peduli satu sama lain.
Setelah mengambil napas dalam-dalam, Rey memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mempersiapkan diri untuk hari berikutnya. Ia menyalakan lampu di meja belajar dan mulai fokus pada tugas-tugas yang perlu diselesaikan.
Beberapa jam telah berlalu, Rey merasa puas dengan pekerjaannya. Ia melihat hasil yang telah dicapainya dan semakin percaya diri terhadap kemampuannya. Ia menyadari bahwa rasa khawatir yang dirasakannya sebelumnya hanya merupakan tantangan yang dapat ia atasi dengan dukungan dan kerja keras.
Ketika Rey merasa lelah dan siap untuk tidur, ia menghubungi Lizza kembali untuk mengucapkan terima kasih atas dukungannya. Mereka berbicara sejenak, saling memberikan semangat, dan berjanji untuk selalu saling mendukung dalam perjalanan mereka.
Dengan pikiran yang tenang dan hati yang penuh dengan harapan, Rey akhirnya mematikan lampu dan merapatkan selimutnya. Ia merasa lega karena tahu bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi tantangan hidup.
Malam itu, dalam tidurnya yang nyenyak, Rey bermimpi tentang masa depan yang cerah dan penuh dengan keberhasilan. Ia tahu bahwa dengan memiliki teman sejati seperti Lizza dan gank badboy, ia akan selalu memiliki dukungan yang diperlukan untuk menghadapi segala rintangan.
Keesokan paginya, Rey bangun dengan semangat yang baru. Ia siap menghadapi hari yang menantang di sekolah dan menyelesaikan tugas-tugas yang harus ia selesaikan. Ia tahu bahwa ia tidak perlu khawatir karena ia memiliki teman-teman yang selalu ada untuknya.
Dengan penuh semangat dan keyakinan, Rey berangkat ke sekolah dengan harapan dan kepercayaan diri yang tinggi. Ia tahu bahwa tak ada yang dapat menghentikannya ketika ia memiliki teman-teman yang saling mendukung dan semangat yang menggebu-gebu dalam dirinya.
Dalam perjalanan menuju sekolah, Rey memikirkan tentang pentingnya tidur yang cukup, dukungan teman, dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Ia menyadari bahwa dengan mengatur waktu dan memprioritaskan istirahat yang cukup, serta memanfaatkan dukungan teman-temannya, Rey akan dapat menghadapi segala tantangan dengan lebih baik.
Di sekolah, Rey bertemu dengan Lizza dan teman-temannya. Mereka saling memberi semangat dan bertukar cerita tentang persiapan ujian dan tugas-tugas yang sedang mereka hadapi. Rey merasa terinspirasi oleh dedikasi dan motivasi yang ditunjukkan oleh teman-temannya.
__ADS_1
Selama istirahat, Rey dan gank badboy berkumpul di luar kelas. Mereka duduk di bangku taman sambil berbincang-bincang tentang rencana masa depan dan impian mereka. Mereka saling mendukung dan memberikan saran yang berguna satu sama lain.