
Sakit?
Iya, sakit.
Tak ada seorang istri pun yang mau dianggap sebagai saudara sepupu oleh suaminya sendiri, sekalipun itu hanya pura-pura. Sekali lagi, tidak ada! Tak ada yang dengan senang hati menerima itu.
Namun, sebaik apakah seorang Elfira Marwah? Yang dengan santainya mengiyakan permintaan sang suami untuk berpura-pura sebagai sepupunya.
Bukan, bukan tak ada cinta di hati Fira. Tapi semua sikap tak masuk akal Fahmi telah melunturkan rasa yang ada di hatinya.
Fira menahan lengan Alvin yang hendak bangkit dari duduknya. Saat itu mereka sedang berada di teras rumah Fira. Alvin sengaja berkunjung sambil melewati rumah Fira. Hanya sebentar saja, karena ia harus segera pulang ke rumah.
"Lo itu terlalu polos dan baik atau gimana sih, Fir? Kenapa lo mau-mau aja disuruh pura-pura jadi sepupunya? Lo itu istri SAHnya Fahmi, Elfira!" Alvin meluapkan amarahnya di hadapan Fira.
"Atas semua sikap tidak menyenangkan Fahmi, gue mulai bisa untuk melunturkan rasa cinta yang pernah tumbuh, Vin."
Alvin menghembuskan nafasnya kasar. "Ah, gue gak paham sama lo. Hidup lo bakal habis tanpa cinta, Fir. Gue kenal sama lo, yang gak mudah jatuh cinta. Sekalinya lo cinta, lo akan setia! Gue yakin, lo bakal mertahanin rumah tangga ini, karena lo pernah ngerasa cinta sama Fahmi!"
Tak ada jawaban apapun dari Fira. Ia hanya menundukkan kepalanya.
"Inget tujuan utama, Fir! Jangan biarin hidup lo terlewat dengan sia-sia. Kalo setau gue dari kajian kemaren sih, menikah itu ibadah seumur hidup. Nah, selama lo nikah, gimana kabar ibadahnya? Apa udah bener-bener bisa senantiasa memperbaikinya?"
"Kadang-kadang sih, dia suka ngingetin gue buat ibadah. Sholat lima waktu, tajahud, dhuha, puasa, nasehatin dan lain-lain. Tapi kadang-kadang juga dia bersikap dingin banget ke gue," jawab Fira.
"Yang sabar ya, Fir." Alvin menepuk pundak Fira untuk menguatkan.
"Gue bisa aja jadi benci banget sama dia, Vin. Selama ini, dia udah nusukin jarum-jarum luka di hati gue. Biar gimanapun, gue juga sama kaya cewe lain. Punya perasaan. Kadang-kadang bawa perasaan. Gampang sakit hati. Gue selalu tahan-tahan selama ini. Apa gue masih bisa sabar?" Kali ini Fira menangis sesenggukan.
Segala yang mengganjal di dalam hatinya ia keluarkan. Selama berhadapan dengan Fahmi memang ia selalu menahannya. Entah itu pahit ataupun sakit. Hingga akhirnya ia bisa menumpahkan semuanya kepada Alvin. Sahabat terbaiknya sedunia. Yang tetap setia walau ia sudah menikah. Yang tetap ada walau cintanya tak terbalas oleh Fira.
Fira masih dengan tangisnya. Ia menunduk sambil sesekali menghapus air matanya. Alvin bingung harus berbuat apa. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menguatkan Fira dengan kata-kata sabar dan semangat. Kini, ia tak bisa merangkul Fira lagi seperti masa kecilnya dulu. Dia sadar, selain bukan mahram, Fira pun sudah menjadi istri orang lain.
"Jangan nangis, Fir! Lo gak sendiri, kok!" Alvin berusaha menghibur walaupun dengan cara sederhana.
__ADS_1
"Gue sendiri, Alvin! Gue ngadepin dia sendirian. Nahan sakit sendirian!"
"Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita!" Kali ini suara Alvin terdengar pelan dan bergetar.
Tangis Fira mulai mereda walaupun sesekali masih terisak pelan. Hatinya merasa ngilu ketika mendengar kata-kata Alvin. Tak jauh berbeda, Alvinpun terlihat diam setelah mengatakan itu.
Ia menemukan banyak hal yang dulu sempat hilang di hidupnya. Ia belum paham pasti alasannya. Tapi hatinya seakan diterangi cahaya yang begitu terang. Silau memang, tapi hatinya tertarik untuk mendekati cahaya itu. Hidayah, kah?
"Lo harus kuat, Fir! Lo harus tetep jadi Fira kuat yang selama ini gue kenal. Gue mau pamit pulang, Fir. Bentar lagi pasti suami lo pulang." Alvin bangkit dari duduknya sambil mengambil helm.
Fira ikut bangkit dari duduknya. "Yah, kok, lo pulang sih?"
"Ketauan sedikit sama suami lo, gue dalam keadaan bahaya, Fir. Udah ya, semangat pokoknya. Assalamualaikum!"
Alvin pamit dan benar-benar pergi meninggalkan Fira berdiri membeku sambil menatap nanar tempat Alvin memarkirkan motornya tadi. Sekarang, Alvin sudah tak ada.
Kini, hanya ia seorang diri. Terdiam membisu di teras rumah. Ia masih melamun tak jelas. Tak lama setelah itu ia menggelengkan kepala dan beristigfar. Lalu iapun masuk ke dalam rumah.
***
Setelah sahur tadi Fira tidur lagi. Bangun-bangun ia tak mendapati suaminya di rumah. Tau-tau ada surat di atas tempat tidurnya yang berisi perizinan Fahmi pergi ke supermarket sendiri.
Entah apa yang membuat Fahmi mau belanja bulanan sendiri tanpa merasa gengsi atau bagaimana. Biasanya Fahmi menyerahkan tugas belanja pada Fira. Bahkan menyuruh Fira belanja sendiri tanpa dijaga dan diawasi. Ia hanya berpesan pada Fira untuk hati-hati saja. Dan dengan polosnya Fira setuju-setuju saja. Tak mau ia membawa perasaan dalam hal apapun. Baginya, itu hanya akan menyiksa diri saja.
"Firaaa!!! Ambil keresek belanjaan di dalem mobil, tuh!" Perintah Fahmi saat baru saja pulang ke rumah.
"So-so'an belanja sendiri. Pulang-pulang malah nyuruh ambilin kereseknya!" Gerutu Fira yang saat itu sedang menonton televisi dengan santai.
"Gak usah banyak ngomong. Ambilin aja sana, cepet! Abis itu beresin ke tempat-tempatnya. Hari ini bakal ada tamu spesial," ucap Fahmi.
"Orang yang baru dikenal aja udah jadi orang yang spesial, ya? Lah istrinya sendiri mana pernah dianggap spesial. Boro-boro deh, cinta aja enggak!" Ucap Fira penuh penekanan sebelum akhirnya pergi untuk memenuhi perintah Fahmi.
Fahmi hanya terdiam beberapa saat dan berusaha untuk tak peduli. Ia segera ke kamarnya untuk ganti baju.
__ADS_1
***
Halwa dan Fahmi sudah duduk manis di ruang makan. Tinggal Fira yang tampak belum datang ke ruang makan.
Fira masih di kamarnya. Merasa ragu untuk menemui mereka. Bahkan ia tak kuasa menahan air mata yang mulai berjatuhan. Rasanya begitu sakit dan menyesakkan dada, saat ia harus berpura-pura menjadi saudara dari suaminya sendiri. Padahal statusnya adalah istri SAHnya.
Ia selalu berusaha terlihat tegar dan biasa saja di hadapan Fahmi. Tapi jauh di dalam hatinya begitu banyak sekali torehan luka.
Fira memang belum menjadi wanita yang baik. Tapi sedikitpun ia tak suka meluapkan amarah dengan keterlaluan. Sebisa mungkin ia selalu menahan.
Biar bagaimanapun, ia harus tetap ke ruang makan dan ikut buka bersama mereka. Karena jika tidak, dikhawatirkan ada hal-hal tak menyenangkan terjadi pada suaminya. Dengan satu tarikan nafas dan menghembuskannya perlahan, ia harap bisa menetralisir rasa sakit hatinya. Berharap, ia mampu menjadi lebih tegar.
"Hay, Kak!" Dengan ramah Halwa menyapa dan menyambut hangat Fira.
Fira duduk di sebelah Fahmi.
"Kenalin, aku Halwa, Kak." Halwa mengulurkan tangannya, namun tak disambut oleh Fira.
"Aku Fira."
Fira terlihat enggan barang melihat sekilaspun ke arah Halwa. Fahmi yang duduk di sampingnya berbisik, "Bersikaplah yang menyenangkan pada tamu!"
Rahang Fira mengeras. Sesekali ia ingin menonjok Fahmi. Jika saja Fahmi merasa apa yang ia rasa, mungkin ia akan sakit hati.
Aku harus menyenangkan tamu suamiku. Agar dia dan tamu spesialnya senang. Tanpa sedikitpun dia peduli sama perasaan aku yang tertekan. Jahat! Batin Fira.
***
Yang masih nunggu cerita ini cuung☝️☝️
Salam,
Saifa Hunafa.
__ADS_1