Baik Bersamamu

Baik Bersamamu
BAB 8


__ADS_3

...Terkadang, kita lemah hanya gara-gara cinta. Dan payahnya, hati ini masih saja berharap pada orang yang telah mengecewakan. Berkali-kali....


...~Elfira Marwah...


...*...


...**...


"Saur, Fir!" Fahmi memperhatikan Fira yang tengah tertidur begitu pulas. Matanya terlihat merah dan bengkak, namun Fahmi segera membuang muka, ia berusaha untuk tidak peduli.


Terdengar isakan ringan saat Fira berusaha membuka matanya yang bengkak akibat semalaman menangis.


"Aku tunggu di ruang makan. Pokoknya kamu harus saur!"


Fahmi pun pergi, meninggalkan Fira yang masih mengumpulkan energi. Rasanya ia ingin menangis kembali. Tidak, tapi ia harus kuat. Ia tak boleh terlihat lemah dihadapan Fahmi.


Segera Fira bangkit dari tidurnya dan menemui Fahmi di ruang makan. Rambutnya masih acak-acakan, wajahnya pun kusut seperti baju yang tidak disetrika.


"Cepet makan!" Perintah Fahmi sambil menyantap nasi goreng yang ia buat.


Fira duduk di kursi yang berada di samping Fahmi dengan lesu. Masakan kesukaannya pun terasa hambar dan tak membuatnya berselera makan. "Aku lagi gak puasa. Kamu aja makan!"


"Kalo gitu, beresin rumah dari sekarang aja. Kemarin kan gak sempet beres-beres," ucap Fami yang terlihat sibuk dengan makannya.


"Ih, enak aja! Kalo mau, kita bagi-bagi tugas. Kamu nyuci baju, nyuci piring, aku beres-beres rumah, nyapu dan kamu pel. Kamar diberesin masing-masing, titik!"


"Kok, tugas aku banyak banget? Engga ah! Cucian banyak banget!"


"Eh, liat tuh cucian siapa aja? Cucian kamu semua, tanggung jawab lah, sama barang yang udah dikotorin sama diri sendiri!"


"Kamar aku kamu yang beresin tapi!"


"Enggak! Kamar serasa kapal pecah kaya gitu, mana ada yang mau masuk. Tikus juga mati kena serangan jantung kalo liat kamar kamu!"


Fira pun pergi, meninggalkan Fahmi di ruang tamu yang justru malah tertawa mengingat kondisi kamarnya yang acak-acakan luar biasa.


Setelah selesai saur, Fahmi bersiap-siap untuk melaksanakan Sholat Shubuh di masjid dekat rumah. Dia sudah tak melihat Fira lagi, tapi terdengar suara air dari dalam kamar Fira. Mungkin Fira sedang mandi,  pikirnya. Akhirnya, Fahmi pun pergi ke masjid tanpa harus izin terlebih dulu pada Fira. Untuk apa pula minta izin? Batin Fahmi yang lantas pergi.


***


Fahmi merebahkan diri di atas ranjangnya sepulang dari masjid. Tiba-tiba, Fira datang dan melemparinya dengan setumpuk baju kotor milik Fahmi. "Cepet cuci tuh baju bau asem kamu!" Sontak saja itu membuat Fahmi terbangun.


"Apa-apaan, sih ini?"


"Cepetan sana cuci! Mau sampe sabanyak apa baju kotor ini numpuk? Baunya nyampe kemana-mana tau!"


"Istri macam apa kaya gini? Harusnya cuciin dong baju suaminya!"


"Masih ngaku juga kalo kita suami istri, hah? Kalo gitu, mana ada suami yang ninggalin istrinya di pinggir jalan hanya gara-gara cewe lain!" Fira pun pergi ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras, hingga membuat Fahmi terkejut.


Seketika Fahmi dibuat bungkam oleh kata-kata Fira. Ia akui bahwa Fira benar. Alhasil, iapun hanya bisa diam, tak membalas Fira. Fahmi meraih ponselnya untuk mengirim sebuah pesan pada Fira.

__ADS_1


Kamar siapa yang paling rapi, permintaannya apa aja harus diturutin. Gimana?


Pesan itu akhirnya terkirim ke Fira. Suara pesan masuk ke ponsel Fira pun bisa terdengar oleh Fahmi. Berharap, Fira mau menerima tantangannya ini.


Siapa takut?


Balasan Fira sudah menunjukan bahwa tantangannya diterima. Segera Fahmi menuju ruang cuci baju untuk memasukan pakaian-pakaian kotornya ke mesin cuci. Sambil menunggu pakaiannya yang sedang diputar mesin cuci, Fahmi membereskan kamarnya dengan semangat.


Dimulai dari membereskan sprei yang terlepas dari ranjangnya, melipat selimut juga memungut bantal guling yang berjatuhan di lantai. Tidur Fahmi memang tak bisa tenang. Paling tenang adalah kemarin, ketika menginap di rumah mertuanya.


Setelah itu, Fahmi beralih ke tempat lain untuk sekadar merapikan barang-barang yang berantakan. Ia berusaha semaksimal mungkin agar tidak kalah dari Fira. Di akhir, Fahmi menyapu kamarnya yang bala karena sisa makanan ringan yang kemarin ia makan setelah sholat tarawih.


Di kamar lain, Fira justru tengah duduk di tepi ranjang. Kamarnya memang sudah lebih dulu rapi dan bersih. Fira sedang memikirkan, apa yang akan ia minta jika kamarnya lebih rapi dan bersih. Apakah meminta quality time bersama Fahmi? Fira menggelengkan kepala. Atau meminta tambahan uang untuk belanja keinginannya? Fira menggelengkan kepala lagi. Atau menagih cinta Fahmi yang sampai saat ini belum ia dapatkan? Kali ini Fira termenung. Tak menyetujui juga tak menolak. Walaupun pada kenyataannya, hal itulah yang paling ia butuhkan untuk keberlangsungan kehidupannya di dalam rumah tangga ini.


Fira membuka pintu yang memisahkan kamarnya dengan kamar Fahmi. Dilihatnya kamar Fahmi yang sudah rapi, membuatnya terkagum-kagum. Fahmi yang sedang merebahkan diri di atas ranjang pun bangkit saat menyadari Fira membuka pintu.


"Rapi, kan, kamarnya? Siapa dulu dong yang beresin?"


Fira membuang mukanya mendengar perkataan itu. "Aku nilai kamar kamu, kamu nilai kamar aku!"


"Oke, siapa takut?"


Segera Fahmi memasuki kamar Fira untuk menilai. Sebaliknya, Fira memasuki kamar Fahmi untuk menilai juga.


Jika Fahmi hanya mengelilingi kamar Fira, Fira justru mencari-cari celah yang biasanya tidak rapi. Ia mengambil bantal Fahmi, dan ia menemukan tas kerja Fahmi di sana. Fix, itu mengurangi poin. Lalu ia membuka lemari Fahmi, dan ditemukannya tumpukan baju yang baru diambil dari jemuran dua hari lalu. Fix, itu mengurangi banyak poin.


Waktu penilaianpun berakhir. Mereka menyebutkan nilainya di kamar Fahmi. Dengan santai Fahmi duduk di atas ranjang dan menyuruh Fira duduk di atas sofa yang berada tak jauh dengan ranjang.


Fira mendelikkan matanya malas. "Jangan so-so'an. Langsung aja sebutin nilai kamar aku!"


"Nilainya... Jeng, jeng, jeng..." Ucap Fahmi menggantung, sengaja membuat Fira penasaran. Fira berusaha sabar, tapi Fahmi benar-benar membuat kesal.


"Berapa?"


"Berapa, ya?" Fahmi mulai menggoda. "Nilainya 75."


"Ih, kok gitu, sih? Kamar rapi dan bersih gitu, nilainya masa cuma segitu?" Fira berkomentar.


"Gak usah ngomen. Aku itu ahli dalam menilai. Sekarang giliran kamar aku, nilainya berapa?"


"Enam puluh!"


Mata Fahmi terbelalak saat mendengar nilainya. "Hah? Pasti curang ini! Aku gak terima. Nilainya nggak SAH!"


"SAH!"


"Nggak, nggak diterima, titik!"


"Haha, ada beberapa hal yang mengurangi poin. Pertama, tas kerja yang disimpan di bawah bantal. Itu bukan tempatnya! Kedua, baju kamu yang ada di lemari. Gak rapi!"


Kali ini Fahmi diam karena merasa kalah.

__ADS_1


"Kamu suportif, kan? Kamu bukan orang payah yang lari dari janji, kan?" Tanya Fira.


"Oke, kamu mau minta apa?" Fahmi mulai mengakui kekalahannya.


"Aku mau nagih!"


"Aku punya hutang berapa sama kamu? Yang ada kamu yang berhutang banyak sama aku! Aku nafkahin kamu selama ini, mau nagih apa lagi, hah?"


"Hey, nafkah itu emang udah seharusnya kamu lakuin tanpa minta balasan!"


"Terus apaan?"


"Aku mau nagih cinta kamu! Rumah tangga tanpa cinta itu hambar! Aku bisa cinta sama kamu, asalkan kamu juga berusaha buat cinta sama aku!"


Fahmi terdiam. Jujur saja, Fira yang to the point memang terkadang membuatnya tak bisa menjawab dengan cepat. Masalahnya, Fahmi memang belum bisa. Lebih tepatnya belum mau mencintai Fira. Terlebih, saat Halwa berhasil mencuri hatinya.


Drrrrtttt....


Ponsel Fahmi bergetar. Dilihatnya nama Halwatunnisa tertera manis di layar ponselnya.


"Orang penting nelpon," ucap Fahmi yang lantas keluar dari kamarnya.


Fira menghembuskan nafasnya kasar. Sudah sekuat tenaga ia mengumpulkan keberanian untuk menagih cinta itu, tapi lagi-lagi Fahmi alihkan.


"Kalo di rumah Kakak ada sodara Kakak yang kemarin, Halwa boleh berkunjung, kan? Halwa mau kenalan sama sodara sepupunya Kakak," ucap Halwa di sebrang sana.


"Eum, bo-boleh. Kebetulan hari ini aku dines malam. Siang ke sini, bisa? Nanti aku share lokasi."


"Ya udah. Makasih ya, Kak. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. "


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh."


Telpon pun terputus. Ada senyuman indah yang terlukis di bibir Fahmi. Dia merasa bahagia Halwa akan datang.


"Udah selesai, kan?" Fira datang tiba-tiba, membuat Fahmi terperanjat kaget.


"Iya udah. Nanti ada cewe yang kemarin aku tolong. Dia mau kenalan sama kamu. Pokoknya, selama dia di sini, kamu harus ngaku sebagai sodara sepupu aku, oke?"


Fahmi lantas pergi, seolah melupakan janjinya untuk memenuhi permintaan Fira. Padahal, Fahmi hanya perlu memberi cinta pada istri yang ia nikahi beberapa bulan lalu. Permintaan sederhana itu justru malah diabaikannya.


...Terkadang, kita lemah hanya gara-gara cinta. Dan payahnya, hati ini masih saja berharap pada orang yang telah mengecewakan. Berkali-kali....


***


Jangan lupa vote dan comment ya🤩


TBC.


Salam,


Saifa Hunafa:)

__ADS_1


__ADS_2