Baik Bersamamu

Baik Bersamamu
BAB 3


__ADS_3

Fahmi bekerja seperti biasa, menangani pasien yang sedang dalam keadaan gawat darurat. Ia harus bisa cekatan, karena pasien perlu penanganan yang baik dari setiap dokter dan perawat.


Menjadi seorang perawat memang bukan cita-citanya. Ini adalah cita-cita Sang Ibu yang berhasil ia wujudkan. Jika saja dulu lulus tes masuk Universitas dengan jurusan Bahasa Inggris, tentu saja ia akan memilih itu. Tapi, mungkin karena ridho orang tua lebih kuat, maka takdir pun berkata, inilah jalannya.


Awal-awal ia tak terima, tapi itu hanya membuat segalanya terasa berat. Akhirnya ia memilih untuk ikhlas. Dan ternyata ikhlas itu indah, manis pula.


Ting!


Ponselnya berbunyi. Segera Fahmi membuka ponselnya. Ternyata ada pesan masuk.


Pak Perawat, izinin aku ke rumah Ibu. Ibu nyuruh aku ke rumahnya.


Fahmi tak mau lama mengetik pesan. Ia pun segera memanggil Fira via telepon.


"Kamu tunggu aku pulang. Nanti kita ke rumah Ibu bareng-bareng ya," ucap Fahmi pada seseorang di sebrang sana.


"Ih gak mau ah. Nunggu kamu mah suka lama."


"Wanita gak boleh keluar kecuali bersama mahramnya. Aku gak izinin kamu berangkat sendiri."


"Ya udah, gampang, aku tinggal nelpon Alvin buat anterin aku."


Mendengar nama itu, membuat Fahmi membulatkan matanya geram. "Siapa coba Alvin. Nggak, kamu harus nunggu aku!!!"


"Iiih, lamaaa! Gapapa, Alvin bisa jagain aku kok."


"Ya udah terserah! Aku gak peduli!"


Fahmi terlanjur kecewa saat Fira kembali memanggil nama itu. Segera ia reject.


"Sekalian aja nikahnya sama si Alvin Alvin itu. Udah tau cuma suaminya yang lebih cakep," geruru Fahmi setelah ia mengakhiri panggilan.


___________________________________________________


Fahmi berniat untuk lebih lama di rumah sakit. Dia yakin, jika Fira belum pulang ke rumah. Dia merasa bosan sekali. Semua temannya tentu saja bertugas. Hanya dia yang selesai melaksanakan tugas. Pekerjaannya saat itu hanya memainkan ponsel. Hanya melihat-lihat facebook, instagram, WA, galeri, mendengar musik, buka Youtube, dan lain-lain. Intinya dia sangat merasa bosan.


"Ah, pulang aja lah," gumamnya saat dia kira sudah beberapa kali tak menemukan pesan di ponselnya.


Fahmi pun mengambil jaket hitam dan memakainya. Segera ia pergi ke parkiran untuk mengambil motornya. Setengah jam lagi Adzan Ashar akan berkumandang. Dengan cepat ia melajukan motornya menuju rumah.


Di sisi lain, Fira tertidur di atas shofa yang berada di ruang TV. Tidak biasanya memang Fahmi pulang terlambat seperti ini, hingga Fira pun merasa lelah menunggu. Dia tau, walaupun keadaan Fahmi di rumah seperti angin, tapi dia selalu merasa ada yang menjaga. Walaupun pada kenyataannya dia tak pernah dianggap ada oleh Fahmi. Setidaknya jika bertemu, mereka bisa perang mulut untuk menghilangkan kebosanan. Karena jujur saja, yang paling mengasikan itu ya debat dengan Fahmi, apalagi jika dirinya menang dalam debat.


Tak lama setelah itu, Fahmi pun sampai di halaman rumah yang sederhana itu. Fahmi sempat kesal, karena pagar rumah tidak ditutup. Karena yang Fahmi tau, Fira sedang berada di rumah Ibunya dan diantar oleh Alvin. Yang membuat Fahmi semakin geram, ternyata pintu rumah tidak dikunci. Maunya apa sih? Gimana kalo rumah ini kemalingan? batin Fahmi kesal.


Fahmi membuka pintu dan didapatinya Fira tengah tertidur pulas di depan televisi yang menyala. Fahmi terkejut, dia kira Fira berada di rumah Ibunya dan lupa mengunci pagar dan pintu rumah. Fahmi berniat untuk membangunkannya, namun ia kalah cepat karena Fira saat itu terbangun.

__ADS_1


"Eh, baru pulang?" tanya Fira.


"Kenapa gak jadi ke rumah Ibu?" tanya Fahmi mengalihkan pembicaraan.


"Motornya Alvin mogok, dia gak bisa bantu aku."


"Itulah, suaminya aja gak ridho kamu jalan sama orang lain. Nih, dengerin Rasulullah pernah bersabda:


"لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا “


Seandainya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, maka aku akan menyuruh seorang wanita sujud kepada suaminya.” (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, di shahihkan oleh Al-Albani dalam Irwaa’ul Ghalil (VII/54)."


Fira menunduk dan mengakui kesalahannya dalam hati. "Iya, iya maafin aku. Aku juga kan nungguin kamu. Terus, kamu kenapa telat pulang?"


Fahmi terdiam, tak menanggapi pertanyaan Fira. "Ah, gak penting." Fahmi pun pergi meninggalkan Fira.


"Hey, mau kemana?"


"Siap-siap sholat."


"Pasti ke masjid, ya?"


"Ya iya lah. Cowo itu ya berjamaah di masjid, bukan di rumah!" jawab Fahmi judes.


"Ibu ngajak bukber di rumahnya," ucap Fira.


Dicuekin dan diabaikan memang sudah menjadi makanan rutin Fira. Sudah biasa dia mendapatkan perlakuan tak sedap dari Fahmi. Terkadang, jika bukan suaminya, mungkin sesekali ia ingin meninju Fahmi yang super cuek.


___________________________________________________


Fira membukakan pagar keseluruhan karena kali ini mereka akan berangkat menggunakan mobil. Bukan apa-apa, tapi Fahmi memang sudah ada niat ingin memberi anak-anak yatim di Panti Asuhan Al-Jannah makan untuk berbuka puasa.


Mobil itu pun melaju ke sebuah tempat catering. Fahmi pun turun dan mengangkut kurang lebih 40 buah nasi kotak ke dalam mobilnya. Fira hanya diam di dalam mobil, mengabaikan Fahmi yang saat itu sudah beberapa kali balikan mengangkut nasi kotak itu.


Fahmi dibuat Fira kesal, saat ia kelelahan mengangkut, Fira justru bertanya dengan santai, "Udah?"


Hah, daripada Fahmi harus membuang amarahnya dihadapan Fira, lebih baik ia diam dan segera menghidupkan mesin mobil karena ia telah selesai mengangkut semua nasi kotak.


Seperti biasanya, Fira duduk di jok belakang dan Fahmi sebagai pengemudi. Terkesan seperti supir dan majikan, tapi mau bagaimana lagi? Ini kemauan Fahmi dari awal.


"Ngapain sih, ngasih-ngasih orang makan? Mana banyak banget lagi. Mending uangnya dipake buat nabung. Pemborosan tau!" gerutu Fira.


Fahmi menghembuskan nafasnya kasar. "Ini bukan boros. Ini namanya memberikan hak anak-anak yatim. Semua harta yang kita miliki itu di dalamnya ada hak orang lain. Gak usah banyak nanya deh, berbuat kebaikan di Bulan Ramadhan itu pahalanya dilipatgandakan!"


Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani h, ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda,

__ADS_1


“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, no.807; Ibnu Majah, no. 1746; dan Ahmad, 5:192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).


"Kebaikan itu akan Allah balas dengan kebaikan lagi."


Merasa tak ada respon dari seseorang yang berada di jok belakang, Fahmi menoleh sejenak ke arah belakang, ternyata Fira tertidur. "Huh, kebiasaan," gerutu Fahmi sambil menggelengkan kepalanya.


Tak lama setelah itu, Fahmi pun berhenti di salah satu rumah bertuliskan Panti Asuhan Al-Jannah. Ini adalah Panti Asuhan yang dikelola olehnya sejak tahun lalu. Ada cukup banyak anak yatim di Panti ini. Sekarang, yang menjaga Panti ini adalah temannya.


Fira terbangun saat menyadari Fahmi turun dari mobil dan kembali mengangkut puluhan nasi box ke teras Panti. Fira turun dari mobil dan menghampiri Fahmi yang sedang mengobrol dengan Reva dan Angga, sepasang suami istri yang mengurus Panti Asuhan ini.


"Udah lama kamu gak mampir ke Panti. Anak-anak kangen sama kamu tuh," ucap seorang wanita pada Fahmi.


"Baru sempet ke sini, Rev. Tapi semuanya baik-baik aja kan?" tanya Fahmi.


"Alhamdulillah semuanya baik. Beberapa anak juga baru kami ajarkan puasa walaupun masih setengah hari puasanya," jawab Angga.


"Mau mampir dulu, Fahmi, Fira?" tanya Reva ramah.


"Gak usah, makasih, Kak. Kita mau pergi ke rumah Ibu, nih," jawab Fira.


"Ooh, ya udah, hati-hati ya," ucap Reva.


Mereka berdua pun pamitan kepada pasangan suami istri yang telah lama bersahabat dengan Fahmi itu.


___________________________________________________


Mereka melanjutkan perjalanan. Jarak antara panti dan rumah Ibunya Fira memang tidak terlalu jauh.


"Puterin lagu lah. Kasetnya ada di depan!" perintah Fira pada Fahmi yang sedang fokus menyetir.


Fahmi menyetel radio yang memperdengarkan ceramah dari seorang ustadz. Tema ceramahnya saat itu tentang Adab Berbuka Puasa. Fira enggan mendengar dan menolak.


"Ihh, kok ceramah sih? Setelin musik!"


"Shuut, berisik banget sih. Ilmu itu didengerin baik-baik. Ilmu itu lebih baik daripada musik! Bahkan kalo perlu, catatlah ilmu itu, biar ketika kita lupa, kita bisa membacanya dan ingat kembali. Karena hakikatnya ilmu itu mudah lupa, dan untuk mengingatnya itu dengan mencatat!"


Fira mengerucutkan bibirnya kesal.


__________________________________________________


Ini cerita baru, tapi aku mau minta partisipasinya kalian hehe🙏🙏


Jangan lupa vote and comment.


Next gak??

__ADS_1


Salam,


Saifa Hunafa❤


__ADS_2