
...Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh, Readers yang dirahmati oleh Allah....
...Happy Reading, semoga masih menunggu❤...
...________________...
Aku ada urusan dulu. Kamu bisa pulang naik taxi aja?
Fira tampak begitu kecewa saat melihat pesan Whatsapp dari Fahmi. Baru saja dia berharap bahwa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan bersama Fahmi. Tapi ternyata dia salah menduga. Kecewa sekali hatinya saat itu.
Fira tidak mood lagi untuk melanjutkan membeli gamis. Gamis sederhana yang baru saja hendak ditunjukkan ke Fahmi kembali ia gantungkan. Fira sudah malas, dan saat itu juga memilih untuk pergi ke salah satu restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari mall.
Fira memang sosok yang perlu sangat diperhatikan. Segala bentuk perubahan akan gagal jika Fira lengah dari yang mengawasi. Terbukti, saat ini niatnya untuk kembali menutup aurat jadi hilang. Dia membiarkan dirinya menggunakan dress pendek yang tadi dikomentar Fahmi.
"Kak Fahmi berarti emang nggak peduli. Ngapain juga aku harus peduli sama diri aku sendiri? Nggak ada salahnya juga, kan, ya, aku kaya gini?" Gumam Fira.
Saat Fira keluar dari mall, dia melihat Fahmi seperri diikuti oleh seorang gadis yang tidak asing di penglihatannya. Itu adalah Halwa. Mereka berdua berjalan menuju mobil Fahmi di ujung parkiran sana. Dada Fira naik turun menahan sesah di dalam hatinya. Meski dia tahu bahwa kebahagiaan bukan hanya berasal dari Fahmi, tapi tetap saja harapannya masih besar untuk bisa bersama-sama lagi dengan Fahmi.
Fira masih mematung di sana, menatap nanar dua orang yang selalu saja berhasil membuatnya sakit hati itu.
Fahmi tampak memperhatikan sekitar sedari tadi, dia khawatir Fira melihatnya sedang bersama Halwa. Fahmi membiarkan Halwa duduk di kursi penumpang, di belakang. Biar bagaimanapun, Fahmi masih sadar bahwa mereka bukan mahram.
"Ada masalah apa, Halwa?" Tanya Fahmi sambil mulai melajukan mobilnya perlahan.
"Kakak masih cinta, kan, sama Halwa?" Halwa malah balik bertanya, tak mempedulikan pertanyaan Fahmi sebelumnya.
Fahmi menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.
"Kalau iya, kapan Kakak mau pisah sama Kak Fira?"
Fahmi tak menyangka bisa mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Halwa. Meskipun belum ada cinta untuk Fira, tetap saja dirinya tak suka mendengar kata pisah itu.
__ADS_1
Di sisi lain, Fira segera menelpon Jerry untuk menjemputnya di depan mall. Kebetulan saat itu Jerry sedang berada di salah satu kafe dekat mall yang Fira kunjungi, jadi tidak perlu waktu lama untuknya datang menjemput Fira.
Tidak ada sedikitpun prasangka negatif di hati Jerry. Mahasiswa Fakultas Pendidikan itu selalu membangun mindset yang positif. Terbukti dari sikap dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, ketua Himpunan Mahasiswa itupun sudah sering mengisi seminar-seminar anak remaja untuk berbagi motivasi.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Jerry sambil membuka helmnya.
Air mata Fira tiba-tiba menggenang di pelupuk mata. Kecewa sekali hatinya karena telah membohongi lelaki setulus Jerry.
"Aku yakin, Kakak kamu tadi cuma ngaku-ngaku jadi suami kamu biar kita nggak berduaan kayak tadi. Aku ngerti, kok, Fir. Kamu nggak perlu sedih. Kalaupun Kakak kamu nggak suka sama aku, suatu saat pasti bisa menerima," ucap Jerry yang justru membuat Fira kini menjadi terisak.
Jerry hanya tersenyum. Semenjak didatangi Fahmi, yang dikiranya Kakak Fira itu, Jerry jadi sungkan untuk melakukan hal yang lebih pada Fira. "Kalo kamu sedih, menangislah! Aku tidak akan melarangmu. Karena kita terkadang perlu menyalurkan kesedihan itu dengan tangis. Tapi aku saranin sih, kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan. Buang-buang waktu, hehe. Mending bangkit lagi!"
Tak ada angin tak ada badai, tiba-tiba Fira memeluk Jerry dari samping. Dia tidak bisa menjelaskan, betapa sakit hatinya dikhianati oleh Fahmi.
"Mau pulang sekarang, Tuan Putri?" Tanya Jerry seceria mungkin yang dia bisa.
Fira melepas pelukannya. "Jerry, kamu beneran cinta sama aku?"
_______________________
Tanpa sepengetahuan Fahmi, Kiyai Hafiz -gurunya Fahmi- berniat untuk menjodohkan Fahmi dengan salah satu alumni pesantrennya dulu. Biar bagaimanapun, usia Fahmi tentunya sudah tidak muda lagi, sudah wajib untuk menikah.
Siang itu, setelah solat Dzuhur di salah satu masjid, Kiyai Hafiz menemui Ayahnya Halwa. Mereka berdua tentunya sudah mengenal sangat lama. Kiyai Hafiz sangat bersyukur bisa bertemu dengan Ayahnya Halwa, karena memang santriwati alumni yang menjadi tujuannya adalah Halwa.
Hadi -Ayahnya Halwa- dengan Kiyai Hafiz sudah mengenal baik sedari dulu. Selain menjadi santri, Halwa juga merupakan salah satu orang yang paling dipercayainya selama di pesantren dulu. Letak pesantrennya memang sedikit di daerah kampung, jika dari tempat Halwa tinggal mungkin membutuhkan waktu sekitar satu jam.
Saat itu Hadi dan Kiyai Hafiz berbincang cukup lama di teras masjid. Tidak banyak basa-basi, Kiyai Hafiz langsung ke poin pentingnya untuk menawarkan Fahmi pada anaknya Hadi. Dengan senang hati Hadi menerimanya, dia sangat percaya pada pilihan guru dari anaknya itu.
Kiyai Hafiz tau, Fahmi bukanlah santri yang bersungguh-sungguh ketika remaja dulu, tapi dia bisa melihat banyak perubahan saat ini pada Fahmi. Selama dirinya ikut tinggal bersama Fahmi, Fahmi selalu menunjukkan bakti terbaiknya. Bahkan hampir setiap harinya Fahmi selalu minta diterangkan tentang berbagai ilmu, terutama ilmu fiqih.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan masjid. Reflek, Hadi dan Kiyai Hafiz menoleh ke arah mobil tersebut. Mereka berdua terlihat penasaran pada sang empunya mobil tersebut. Hingga turunlah Halwa dari dalamnya, kemudian disusul Fahmi.
__ADS_1
"Lho, Fahmi? Kok, bisa bareng sama Halwa?" Tanya Kiyai Hafiz saat Fahmi dan Halwa baru saja mendekatinya.
Fahmi justru malah kebingungan. "Kiyai kenal sama Halwa?" Tanyanya.
"Bagaimana saya ini tidak mengenal salah satu santri yang paling dipercaya di pesantren dulu?" Ucap Kiyai Hafiz.
Halwa menunduk, tersipu malu.
"Maksud saya bertemu dengan Ayahnya Halwa ini memang ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan. Dan ini tentang kalian berdua, Fahmi, Halwa," ucap Kiyai Hafiz.
Fahmi membulatkan matanya sempurna. Kali ini dia kembali dibuat bingung oleh ucapan guru mengajinya itu.
"S-saya, Kiyai?" Fahmi menunjuk ke arah dadanya.
"Ya, dengan Halwa."
Halwa dan Fahmi saling bertatapan untuk beberapa saat, kemudian kembali menunduk.
"Kiyai rasa, kalian cocok untuk menjadi sepasang suami istri. Tentunya saya yakin sekali bahwa kalian berdua sudah siap untuk menikah."
Fahmi menunduk dalam. Sudah cukup lama sekali dia berbohong pada gurunya sendiri perihal statusnya yang sudah menikah.
"Bagaimana, kalian bersedia untuk menikah?"
_________________
Entahlah, kok aku kesel sama Fahmi. Tinggal jujur udah nikah apa susahnya sih, wkwk.
Gimana, kalian gereget nggak sih, sama Fahmi?😂
To be continue ya❤
__ADS_1