Baik Bersamamu

Baik Bersamamu
BAB 19


__ADS_3

...Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh, Readers yang dirahmati oleh Allah....


...Alhamdulillah, yeaay, bisa update lagi. Vote dan comment terbaik sangat membantu untuk lebih semangat nulis😂😂...


...Kalo ada typo, boleh komen aja ya. Ini saking nggak sabar mau update nggak sempet revisi dulu. Nanti In Syaa Allah direvisi kok, ya....


...Happy Reading❤...


...____________________...


Fahmi berusaha menetralkan kecanggungannya saat ketauan oleh Fira. Dia menegakkan badan dan berusaha membuat wajahnya biasa saja, membuat semuanya seolah tidak terjadi apa-apa.


"Maaf, nggak sengaja."


Fira menatap Fahmi jahil. "Iya. Nggak mungkin nggak sengaja!"


"Yang penting itu nggak dosa, justru malah dapet pahala," ucap Fahmi yang masih fokus pada jalanan.


Fira enggan untuk mengalihkan pandangannya dari Fahmi. Mungkin harapan baru itu sudah ada di hadapannya. Mungkin saat inilah balasan atas kesabarannya dulu. Dia harap, Fahmi mau benar-benar belajar untuk mencintai istrinya itu.


"Kita mau kemana?" Tanya Fira saat menyadari arah mobil yang dilajukkan oleh Fahmi bukan menuju ke rumah Ibunya, maupun ke rumah mereka berdua.


"Shopping baju!"


"Kaya perempuan aja suka shopping. Aku akhir-akhir ini udah sering beli baju, kok," ucap Fira.


Fahmi sedang ingin fokus menyetir, hingga tak ingin dulu membalas pernyataan Fira. Sesampainya di mall dan memarkirkan mobil, Fahmi kemudian menatap Fira.


"Baju kurang bahan kaya gitu yang kamu beli?" Fahmi mendongakkan kepalannya sambil melirik ke arah baju yang Fira kenakan.


"Banyak yang bilang aku lebih cantik kaya gini, Kak, nggak pake kerudung."


"Sekali lagi kamu bilang lebih cantik tanpa kerudung, kita berhenti di sini, dan kamu turun!"


Fira tersentak kaget, masalahnya dia berbicara apa adanya, bukan berniat menjahili Fahmi.


"Aku nggak suka liat kamu berpakaian terbuka seperti ini. Aku mau kamu berpakaian syar'i. Aurat kamu bukan konsumsi khalayak!" Lanjut Fahmi dengan nada suara yang datar.


Tatapan Fahmi masih terfokus lurus ke jalanan, sedangkan Fira berusaha mencoba untuk menatap ke arah Fahmi. Tidak ada sedikitpun raut wajah yang ramah. Fahmi datar sekali.


"Kakak marah?" Tanya Fira ragu.

__ADS_1


"Ngebimbing kamu itu tanggungjawab aku, Fira. Dan tugas kamu adalah taat sama aku. In Syaa Allah, aku nggak mungkin merintah kamu untuk melakukan hal yang dibenci Allah," ucap Fahmi sambil menghembuskan nafasnya.


Setelah percakapan tadi, Fira lebih memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. Karena dia tau wajah Fahmi sedang tidak bersahabat lagi.


"Turun!" Perintah Fahmi dengan wajah tanpa ekspresi.


Fahmi sudah lebih dulu keluar dari mobil, kemudian berjalan menuju ke arah kiri mobil untuk membukakan Fira pintu.


"Kok malah diem aja, ayo!" Ajak Fahmi saat mendapati Fira terdiam, melamun.


Fahmi mengulurkan tangan ke arah Fira. Fira tampak ragu untuk menerimanya. Gugup, dan tidak percaya.


"Ayo, sini tangannya!" Perintah Fahmi.


"Eum, aku bisa sendiri, Kak, nggak apa-apa."


"Tapi aku lebih ridho kamu menerima uluran tangan aku!"


Fira menggelengkan kepala sambil menunduk, tanda bahwa ia sangat sungkan untuk melakukannya.


"Mau dapet pahala, nggak?" Tanya Fahmi sambil menatap Fira tidak mengerti.


Fira mengangguk pelan.


Tanpa pikir panjang lagi, Fahmi meraih tangan Fira. Menyadari itu tentunya Fira terkejut hebat. Kemudian Fahmi membawanya masuk ke dalam mall setelah pintu mobil tertutup dan terkunci.


Fira terus melihat ke arah tangannya yang digenggam erat oleh Fahmi. Matanya tak berkedip karena masih merasa tidak percaya bahwa Fahmi akan melakukan ini. Entahlah, tiba-tiba jantungnya berdebar tak seperti biasa. Fahmi memang mudah membuatnya gugup, mudah pula membuatnya sakit hati. Tapi setelah ini, Fira sangat berharap bahwa Fahmi mau benar-benar belajar. Kemudian berusaha bersama membangun keluarga impian.


_____________________


Faris berjalan di mall beriringan dengan Halwa yang terlihat enggan untuk berdekatan. Halwa terus menundukkan kepalanya selama perjalanan, sedangkan Faris tampak bahagia bisa jalan-jalan dengan Halwa.


"Mau beli apa lagi, Sayang?" Tanya Faris sambil tersenyum ke arah Halwa.


"Berhenti panggil aku dengan sebutan itu, Bang!" Ucap Halwa dengan tegas.


"Lho, kenapa? Bentar lagi kan, kita mau nikah. Biar nanti nggak canggung-canggung amat."


Sebenarnya Halwa tidak mau berjalan berduaan seperti ini dengan Faris. Tapi sedari tadi Faris terus memaksa masuk ke dalam kamarnya dan mengancam akan berbuat hal tidak berkenan, jika Halwa tidak mau ikut bersamanya. Ingin sekali saat itu juga Halwa menangis.


Faris itu baik, apalagi pada Halwa yang telah membuatnya gila karena cinta. Dan lebih dari itu, Faris berani mengancam kehormatan Halwa jika Halwa tidak mau menikah dengannya.

__ADS_1


Selama ini Halwa tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang apa yang Faris lakukan. Pun kedua orang tuanya. Faris memang selalu berhasil menemui Halwa di kamarnya, tanpa membuat kedua orang tua Halwa tau. Kedua orang tua Halwa hanya mengenal Faris dengan baik, tidak tahu jika sebenarnya Faris sudah gila oleh cinta.


"Kita nggak mungkin nikah, Bang!" Ucap Halwa judes.


Faris tertawa sinis. "Haha, nggak ada yang bisa dapetin kamu kecuali aku, Halwa!"


Dalam hati kecilnya, Halwa berharap sekali bisa bersama dengan Fahmi. Dia tidak peduli akan kebohongan yang pernah Fahmi lakukan dulu. Harapannya tetap kepada Fahmi. Halwa sendiri tidak mengerti kenapa hatinya bisa sejahat itu mengharapkan Fahmi dan Fira berpisah.


"Bang, Halwa mau beli donat itu!" Ucap Halwa sambil menunjuk ke arah tempat donat terkenal. "Halwa cape, bisa tolong beliin? Halwa tunggu sambil duduk di sini, ya."


Halwa kemudian duduk di sebuah bangku. Dengan sigap Faris langsung meluncur ke arah tempat donal yang Halwa inginkan. Intinya Faris sudah sangat bahagia Halwa mau ikut bersamanya ke mall itu.


Itu hanya akal-akalan Halwa. Halwa yang merasa muak akhirnya bisa menipu Faris. Setelah melihat Faris semakin menjauh, Halwa kemudian berlari kemanapun asalkan Faris tidak bisa menemuinya lagi. Matanya berbinar saat melihat sosok Fahmi sedang berada di salah satu butik baju muslimah. Tanpa pikir panjang, Halwa segera berlari menuju Fahmi.


"Kaak, Kak Fahmi!" Halwa berteriak memanggil Fahmi dan kemudian menghampirinya.


Fahmi yang tampak sendirian itu terkejut melihat Halwa yang sepertinya tengah ketakutan itu.


"Lho, Halwa? Ngapain kamu ke sini?"


"Kak, bisa anterin Halwa pulang?" Pinta Halwa dengan wajah yang begitu memelas. Karena memang Halwa sangat panik, takut jika Faris berhasil menemukannya. "Halwa mohon, Kak. Ada orang yang mau ngancam Halwa."


Fahmi bingung harus bagaimana. Di sisi lain khawatir pada Halwa yang sepertinya sangat ketakutan itu, di sisi lain khawatir juga Fira melihatnya berdua dengan Halwa.


Dalam keadaan seperti itu, Fahmi kebingungan. Perasaannya begitu dalam pada Halwa, tapi lebih dari itu, ada Fira yang luka hatinya harus ia sembuhkan.


Fira begitu anteng memilih baju muslimah. Sudah sekitar setengah jam, dia belum juga menemukan baju muslimah yang cocok dan disukai. Sedari tadi Fira menyusuri setiap gantungan baju muslimah yang berderet rapi. Hampir saja Fira menyerah karena kebingungan. Mencari satu yang menarik hati saja susah, apalagi dirinya disuruh membeli beberapa baju gamis oleh Fahmi.


Fira tahu, Fahmi pasti lelah menemaninya memilih gamis, makannya saat ini Fahmi tidak mengikutinya lagi. Dan akhirnya, Fira menemukan satu gamis yang menarik hatinya. Gamis itu berwarna biru dongker, tidak terlalu mencolok. Segera saja Fira mengambil gamis itu untuk ditunjukkan kepada Fahmi.


Tunggu, Fahmi dimana?


______________________


Ayooo, Fahminya kemana ayo?


Ninggalin Fira sendirian di mall, kah?


Atau kalau ketauan lagi sama Halwa gimana dong?


Kalo penasaran, makannya jangan jauh2 dari Baik Bersamamu yaa😂😂

__ADS_1


Kasih vote dan komen terbaikmu yaa❤


__ADS_2