Baik Bersamamu

Baik Bersamamu
BAB 14


__ADS_3

Perjodohan memang terkadang memaksa. Tidak semuanya berakhir dengan kebahagiaan. Bahkan tak sedikit yang pada akhirnya berpisah juga. Fira berpikir, mungkin dia akan lebih bebas jika tidak bersama Fahmi. Karena semuanya terasa percuma. Selama ini mereka menikah, tidak pernah ada kasih sayang yang tercurah dari keduanya, Fira pun merasa tidak pernah diperlakukan seperti layaknya seorang istri. Dia ibarat wanita yang tinggal bersama Fahmi tanpa ikatan apa-apa. Padahal, mereka sudah diikat oleh ikatan yang halal.


Fira mulai sadar, bahwa ternyata dia hanyalah wanita bodoh yang membiarkan pernikahan tanpa cinta itu terjadi. Fira bisa menerima, jika Fahmi tidak mencintainya. Tapi dia tidak suka jika Fahmi mengatakan bahwa dia cinta pada orang lain. Sedangkan semakin hari, dia merasa cinta itu sudah tumbuh. Ya, dia mulai mencintai Fahmi. Entah apa yang membuat Fira jatuh cinta.


"Apa yang pantas aku cintai dari lelaki tak punya hati itu?" gumam Fira.


***


Hari ini Fahmi libur dan tidak berniat pergi kemana-mana, karena menyadari juga bahwa istrinya masih proses penyembuhan penyakit kulitnya.


Pagi-pagi sekali, Halwa datang dengan membawa keresek berisi toples-toples aneka kue kering yang dia buat. Kemarin malam, dia mendapat kabar dari Fahmi bahwa Fahmi libur, maka dia berinisiatif untuk datang ke rumahnya.


Setelah dipersilakan masuk oleh Fahmi, Halwapun duduk di ruang tamu. Ruang tamu itu sangat sederhana tanpa hiasan-hiasan. Bahkan tidak ada satupun foto yang biasanya ada di setiap ruang tamu. Halwa tahu Fahmi tinggal berdua bersama Fira, tidak ada kecurigaan apapun yang dia rasakan.


Fahmi masuk ke dalam kamarnya dan membuka pintu kamar Fira. Sontak saja Fira terkejut dan berteriak sekencang-kencangnya. Masalahnya, saat itu Fira belum selesai ganti baju.


"Iih, Kak Fahmi nggak sopan!" teriak Fira saat Fahmi menutup kembali pintunya.


Fahmi malah terkekeh. "Suruh siapa nggak dikunci."


"Minimal ketuk pintu dulu, kek," gerutu Fira dari dalam kamarnya.


"Kamu juga bahkan kemarin-kemarin tidur di samping aku tanpa izin dulu. Nggak sopan, tau!" Fahmi mulai mengungkit-ngungkit yang terjadi waktu itu.


Tak lama setelah itu, Fira membuka pintu yang memisahkan kamar keduanya. Fahmi terkejut, terlebih saat mendapat sorotan tajam dari mata Fira.


"Aku mau pergi!" ucap Fira yang lantas berlalu sambil membawa tas selendang kecilnya.


Fahmi menahan lengan Fira dengan cepat. "Mau kemana?"


"Pergi lah, bosen di rumah. Apalagi kalo ada cewe itu, males banget," ucap Fira jutek.

__ADS_1


"Nggak boleh pergi! Kamu tetap di rumah dan temenin aku ngobrol bareng Halwa!"


Fira mendelikkan matanya malas. "Nggak!" Fira berlari agar tidak tertahan lagi oleh Fahmi.


"Kamu tau dosa, kan, kalo pergi tanpa ada izin dari suami?"


Fira seketika menghentikan langkahnya di ambang pintu. Tangannya mengepal kuat, sudah sangat siap menghantam wajah tampan Fahmi. Fira membalikkan badannya. Fahmi mengira Fira tidak akan pergi, tapi ternyata salah.


"Selama masih ada cewe bernama Halwa, Halwa itu di kehidupan kamu, aku nggak mau nganggap lagi kalo kita itu suami istri. Nggak ada! Aku bukan istri kamu, dan kamu bukan suami aku! Paham? So, aku bebas pergi dan pulang kapanpun. Aku tunggu keputusan kamu buat pisah selamanya sama aku!"


Kemudian Fira pergi meninggalkan Fahmi yang masih mematung tak percaya dengan kata-kata yang Fira ucapkan. Hampir saja hatinya tertusuk, namun dia berusaha bersikap biasa saja. Karena kenyataannya memang tidak ada cinta untuk Fira.


Halwa melihat Fira pergi melewatinya tanpa melirik sedikitpun. Tadinya dia hendak menyapa, tapi sepertinya Fira sedang buru-buru dengan keadaan kesal. Tak lama setelah itu, datanglah Fahmi sambil membawa dua cangkir the untuk mereka nikmati bersama.


"Kak Fira mau kemana, Kak?" Tanya Halwa penasaran.


Sambil mendudukan dirinya, Fahmi menjawab, "Mau pergi, entah pergi kemana," ucapnya.


"Ooh, kalo gitu, Halwa pulang dulu ya, Kak. Nggak enak kalo berduaan." Halwa bangkit dari duduknya.


Setelah berpikir beberapa saat, Halwa akhirnya menyetujui kemauan Fahmi dan lantas duduk kembali.


Saat itu, mereka mengobrolkan banyak hal. Bahkan sesekali mereka tertawa karena ada pembahasan yang lucu atau konyol. Fahmi merasa nyaman jika sudah mengobrol dengan Halwa. Pribadi halwa yang lembut membuat Fahmi ingin memutar waktu dan memilih menikah dengan Halwa saja. Menurutnya, jika menikah dengan Halwa dulu, mungkin saat ini dia sudah menjadi lelaki yang lebih baik. Bahkan, Halwa adalah satu-satunya gadis yang selalu mengingatkannya pada Allah.


Di antara banyaknya pembahasan, Halwa pasti selalu menyelipkan nasehat-nasehat sederhana sebagai peringatan. Saat itu Fahmi merasa bahagia bisa mengenal Halwa. Obrolan itu bagi Fahmi sangat bermakna. Seandainya Halwa dipertemukan dengannya dari dulu, mungkin dia akan menolak perjodohan orang tuanya itu.


"Kak, Halwa takut ada fitnah di antara kita. Jika Kakak ada rasa pada Halwa, Kakak boleh segera datangi orang tua Halwa. Halwa tunggu secepatnya," ucap Halwa.


"Secepat itu, Halwa?"


Saat itu Fahmi terkejut Halwa akan mengatakan hal itu. Dia memang mencintai Halwa, tapi bagaimana dengan pernikahannya? bagaimana dengan Fira?

__ADS_1


"Hidup Halwa begitu terancam, Kak. Kakak ingat dengan lelaki yang dulu hampir membunuh Halwa? Dia adalah lelaki suruhan Faris. Jika aku tidak menikah dengan Faris, maka aku harus mati."


"Apa? Kok, bisa?"


"Dia sudah gila karena cinta, Kak."


Di tengah-tengah perbincangan hangatnya, tiba-tiba orang tua Fahmi datang dan terkejut saat melihat Fahmi sedang mengobrol berduaan dengan seorang gadis. Dia kira itu Fira, tapi ternyata orang lain.


"Assalamualaikum," ucap Diana, Ibunya Fahmi.


Fahmi tak kalah terkejutnya saat melihat Diana berdiri sambil menatapnya. "Waalaikumussalam," jawab Fahmi dan Halwa bersamaan.


"Eh, Ibu. Masuk, Bu," ucap Fahmi sambil berusaha menetralkan wajah tegangnya.


Dengan penuh kecurigaan, Diana masuk dan duduk di samping Fahmi. "Ini siapa, Fahmi? Dan kemana Fira?"


Fahmi tak dapat menjawab. Dia seolah terjebak di sana.


"Saya dulu pernah ditolong oleh Kak Fahmi dan Kak Fira, Bu. Alhamdulillah, sampai saat ini saya mengenal Kak Fahmi dengan baik.


Diana terus menatap Halwa dengan sinis. "Oh, gitu, ya? Lebih baik kamu pulang, saya tidak suka anak saya dekat-dekat dengan orang lain. Emang kamu nggak tau kalo Fahmi sudah menikah?"


Halwa membulatkan matanya sempurna. Dia menatap Fahmi tak percaya. Air matanya menggenang. Saat itu hatinya begitu hancur. Halwa bangkit dari duduknya dan kemudian pamit pulang sambil membawa sakit di hatinya.


"Halwa, Halwa!" Fahmi berteriak.


"Kamu ini apa-apaan sih, Fahmi? Ngapain kamu berdua-duaan dengan gadis itu? Mana Fira?" Tanya Diana penuh amarah.


Fahmi terdiam sejenak. "Pergi."


"Pergi kemana? Pasti gara-gara ada gadis itu, kan, makannya Fira pergi."

__ADS_1


"Cukup, Ibu, cukup! Beginilah akibatnya jika menikah dengan orang tidak kita cinta. Percuma Fahmi setiap hari pulang ke rumah bertemu Fira, percuma Fahmi nikah sama Fira! Katanya cinta bakal datang seiring berjalannya waktu, tapi mana? Sampai sekarang Fahmi nggak cinta sama Fira, Bu! Fira bukan wanita yang bisa menenangkan hati, dia nggak pernah ngedeketin aku pada Allah!"


Mendengar itu, Diana terdiam, begitupun dengan Fahmi yang tampak lega setelah mengeluarkan seluruh isi hatinya. Fira yang tak sengaja mendengar ucapan Fahmi dari luar rumah, kemudian kembali melajukan motornya untuk pergi dari rumah itu.


__ADS_2