
"Kamu cantik."
Plak!
Kebiasaan baru Fira kali ini ternyata memastikan apakah itu mimpi atau bukan dengan cara menampar dirinya sendiri. Fahmi sontak saja langsung menoleh.
"Eh, eh, bukan mimpi kok!"
Saking larut di dalam khusyuknya kebersamaan, mereka lupa jika hari ini puasa. Masjid yang berada di belakang rumah sudah mengumumkan bahwa waktu sahur tinggal lima menit lagi. Keduanya terperanjat kaget. Segera mereka berlari menuju dapur yang berada di lantai bawah, masih lengkap dengan pakaian sholatnya. Fahmi dengan peci, koko dan sarungnya, sedangkan Fira masih dengan mukena putihnya. Mereka tampak kesusahan saat berlari.
Dug, dug, dug...
Suara langkah yang cepat itu terdengar sangat jelas oleh pendengaran Dewi, Ibunya Fira, yang saat itu tengah membereskan piring-piring kotor bekas sahur. Dengan terkejut bukan main, Dewi beristigfar melihat anak bungsu dan menantunya datang ke ruang makan dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Aduh!" Dewi menepuk jidatnya. "Ibu lupa kalo kalian juga nginep. Jadinya diabisin deh lauknya."
Fira mengerucutkan bibirnya. "Yaaah, Ibu," rengeknya manja sambil mendudukan dirinya di atas kursi.
Fahmi yang selalu tampak tenang itu mengambil segelas air putih untuk Fira. "Yang penting itu niat! Nih, minun!" Fahmi menyodorkan segelas air itu pada Fira.
Fira menerimanya walau masih dengan wajah yang kesal. Dewi, Sang Ibu hanya bisa menyesal dan lantas melanjutkan aktivitasnya untuk mencuci piring.
"Nanti aku laper, tau!" Rengek Fira, kali ini pada suaminya.
"Gak usah kaya anak kecil, deh! Kalo niatnya kuat, pasti bisa sampe magrib, kok!" Kali ini Fahmi kembali bersikap dingin.
Haruskah Fira menampar diri lagi, untuk membuktikan apakah ini mimpi atau bukan?
Fira mengangkat tangan untuk menampar pipinya sendiri, namun tangan Fahmi tak kalah cepat untuk menahannya. "Gak usah tampar-tampar muka sendiri!"
***
Karena nanti siang Fahmi ada dinas di rumah sakit, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya pagi-pagi. Mengingat kemarin sore mereka meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Fahmi yang bersikap manis selama di rumah Ibunya, justru kini kembali menjadi pahit. Wajahnya datar lagi. Sikapnya dingin lagi. Responnya pun mulai membuat Fira naik darah.
Fira yang saat itu duduk di jok depan, tepatnya di samping Fahmi, tiba-tiba diperintah untuk turun dari mobil dan pindah ke jok belakang. Sontak saja Fira merasa sangat terkejut dan tak menyangka. Fahmipun segera menghentikan laju mobilnya.
"Pindah!" Ucap Fahmi dingin.
Melihat sikap yang tiba-tiba berubah pada Fahmi, Fira mengernyitkan dahinya bingung. "Maksudnya apa?"
"Pindah aja ke jok belakang!"
__ADS_1
"Kok, gitu, sih?"
"Lagi gak nyaman aja. Cepetan, pindah!"
Saat itu juga amarah Fira meluap. Bahkan Fahmi tak mengatakan apa alasannya menyuruh pindah. Firapun merasa tak punya salah apa-apa pada Fahmi. Dengan sangat terpaksa, Fira membuka pintu mobil untuk pindah ke jok belakang sambil menggerutu, "Dasar cowo-cowo PMS!"
Brak...
Fira menutup pintu mobil dengan keras dan lantas membuka pintu bagian belakang dengan segenap amarah yang ada di hatinya. Fira sebenarnya berani saja jika harus menonjok Fahmi. Tak disangka, biarpun seperti itu, Fira pernah berlatih tinju rutin bersama teman laki-lakinya, dulu. Jadi jangan pernah berfikir dia lemah!
"Biasa aja dong, nutup pintunya!" Tegur Fahmi dingin dan lantas melajukan mobilnya kembali.
"Lain kali kamu latihan tinju deh. Kapan-kapan kita tanding!" Tantang Fira sambil mengarahkan wajahnya ke luar jendela.
"Jangan sok kuat!"
"Atau mau sekarang?"
"Sejago-jagonya cowo, dia dikatakan cemen dan payah kalo ngelawannya cewe!"
Fira yang tampak kalah saat itu akhirnya memilih untuk diam dengan wajah kesalnya. Setelah pertikaian itu suasana di dalam mobil seketika hening. Mereka berdua sibuk dengan alam pikirannya masing-masing. Seketika mobil berhenti, membuat Fira dan bahkan Fahmi sendiri terkejut. Jantung Fira hampir jatuh saat itu. Tak berlama-lama lagi, Fahmi keluar dari mobil tanpa berucap sepatah katapun kepada Fira.
Cukup lama Fahmi melawan lelaki yang sepertinya akan membunuh gadis tadi. Sambil berfikir, bagaimana caranya untuk mengalahkan lelaki gagah ini. Melihat cara Fahmi yang monoton, Fira keluar dari mobil dan berlari sambil mengarahkan kepalan tangannya yang kuat ke arah wajah lelaki itu. Alhasil, lelaki itu terjatuh ke tanah dengan darah mengalir di sekitar bibirnya. Mungkin juga giginya potong akibat pukulan keras dari tangan Fira. Lelaki itu pun berlari pergi sambil memegangi mulutnya yang terasa ngilu. Fira yang berhasil mengusir terdiam, tak percaya atas apa yang tangannya lakukan. Sudah sekitar dua tahun lebih dia tidak berlatih tinju, tapi setidaknya latihannya waktu itu tidak sia-sia.
Bukannya memuji atau menanyakan keadaan Fira yang tampak masih terkejut, Fahmi justru menghampiri gadis yang terancam oleh lelaki tadi itu.
"Kamu gapapa?" Tanya Fahmi sambil duduk di samping gadis berpakaian syar'i itu.
"Telapak tangan aku mungkin tadi sedikit ketusuk sama pisaunya. Tapi gapapa, kok," jawab gadis itu sambil menyembunyikan telapak tangannya di balik jilbab lebarnya.
Fahmi justru menarik tangan gadis itu untuk melihatnya. Ternyata tusukan itu cukup dalam. Darahpun tak henti keluar darinya. Fahmi terlihat khawatir. "Ayo masuk ke mobil, kita ke rumah sakit sekarang!"
"Ta-tapi..."
Tak mau mendengar alasan apapun, Fahmi segera memaksa gadis itu masuk ke dalam mobil. Setelah masuk, Fahmipun segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Fira tak habis pikir dengan apa yang Fahmi lakukan. Mengapa perhatiannya begitu luar biasa kepada orang lain dibanding pada istrinya sendiri?
Fira terduduk lemas di pinggir jalan. Hatinya saat itu merasa terluka, lebih terluka daripada pisau yang menusuk telapak tangan gadis tadi. Dia tak sanggup lagi untuk menahan tangis. Air mata itu akhirnya mengalir deras. Tangannya masih mengepal dengan lemah. Tapi sekuat tenaga ia kuatkan lagi kepalannya.
Dia telah membantu Fahmi melawan lelaki jahat tadi, dan secara tidak langsung dia telah membantu gadis itu. Tanpa sedikitpun dihargai perjuangannya menonjok lelaki itu, Fira merasa sesak hati. Dengan keras Fira menonjokan tangannya pada aspal hingga lecet dan berdarah. Dia tak peduli akan sakitnya itu. Hatinya jauh lebih terluka.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, seorang lelaki dengan motor ninjanya berhenti tepat di hadapan Fira. Fira menengadahkan wajahnya, untuk melihat siapa gerangan yang baik hati datang menghampirinya.
"Dasar cengeng! Berdiri!" Ucap lelaki itu tegas saat melihat Fira terduduk lemas.
Fira terkekeh saat melihat Kevin, Sahabatnya dengan gagah datang. "Bantuin gue!"
Kevin pun mengulurkan tangannya dan lantas menarik tangan Fira hingga ia berdiri. Kevin sempat salah fokus pada tangan Fira yang berdarah.
"Berdarah, Fir. Harus dibersihin dan diobatin dulu!" Ucap Kevin
Fira menarik tangannya dengan cepat. "Kalo lo tau, hati gue lebih berdarah daripada ini! Nah, gimana cara ngobatinnya?"
"Gue gak ngerti sama Fira yang sekarang. Kenapa jadi bucin gini, sih? Pake ngomongin hati segala lagi! Selama kita sahabatan aja lo pernah bilang, biar kita gak bawa-bawa hati. Lo juga pernah bilang, sahabatan ya sahabatan, gak usah ada perasaan! Saat itu hati gue juga sakit, Fir!"
Fira terdiam dan menunduk dalam. "Kok jadi ke sana sih? Gue kan sakit hati bukan karena lo!"
"Tapi gue sakit hati karena lo!" Ucap Kevin sambil membuang mukanya.
Seketika Fira ingat kembali akan masa lalunya. Maksudnya, masa lalu mereka berdua. Dimana tercipta sebuah persahabatan indah di antara keduanya. Mereka ibaratkan perangko yang terus menempel. Tak pernah terpisahkan. Mereka selalu ingat batasan, agar tak ada perasaan yang tercipta di antara keduanya.
"Sahabatan ya sahabatan, gak usah ada perasaan!" Begitulah kata Fira waktu masa SMA dulu.
Bagi Fira, bersahabat dengan Kevin adalah satu kebahagiaan yang tak terhingga. Bisa saling menjaili, bertukar cerita, saling traktir, saling menjaga, dan yang lainnya. Fira sudah nyaman dan cukup dengan itu. Tak perlu ada perasaan di antara persahabatan mereka, karena itu akan membuat suasana hangatnya persahabatan menjadi beda.
"Eh, udahlah! Ayo, gue anter pulang!" Kevin mengalihkan pembicaraan agar suasananya tidak canggung.
"Gak mau!"
"Terus mau kemana?"
***
Berusaha update, seadanya. Semoga suka.
Kritik dan saran akan selalu diterima:)
TBC.
Salam,
Saifa Hunafa ❤
__ADS_1