Baik Bersamamu

Baik Bersamamu
BAB 11


__ADS_3

Sebenarnya, Fira sudah tidak tahan dengan perlakuan Fahmi yang semakin hari semakin bersikap seenaknya. Ia kira, Fahmi paham tentang ilmu agama, khususnya ilmu dalam rumah tangga, tapi mungkin Fira salah.


Hari ini Fira berniat untuk pergi ke kampus bersama salah satu temannya.


"Kamu di rumah sendirian, Fir? Orang tua kamu mana?" Tanya Desi, teman Fira.


Kalo aku bilang tinggal sama suami, nanti aku ketauan udah nikah, dan dia nanti ngatain aku tua, ih, enggak, enggak, batin Fira.


"Ini rumah yang orang tua aku kasih buat aku, Des. Jarak rumah orang tua aku ke kampus cukup jauh, makannya mereka beliin aku rumah di sini. Biar gak terlalu jauh ke kampus juga," ucap Fira.


"Ooh, gitu..."


Sudah sekitar dua puluh kali Fira menghubungi Fahmi untuk meminta izin pergi ke kampus, namun sepertinya ponsel Fahmi sedang mati. Akhirnya Fira pun memutuskan untuk berangkat juga. Hatinya menyalahkan Fahmi yang juga selalu pergi dengan Halwa tanpa memberi tahu dirinya.


"Kamu nunggu apa, sih, Fir? Ayo berangkat, nanti telat lagi. Hari ini kan dosennya killer semua," ucap Desi yang sedari tadi menunggu Fira sambil duduk di motor.


"Hah? Enggak nunggu apa-apa, kok."


"Kamu gak risi pake kerudung yang panjang? Jadi keliatan kaya ibu-ibu tau, Fir."


Fira memperhatikan dirinya. "Kalo gitu ajarin aku biar bisa ngikutin tren hijab kaya kamu."


Desi tersenyum senang. "Aku pastiin, kamu bakal dateng ke rumah dengan penampilan baru."


Mereka pun berangkat menuju kampus.


Tak lama setelah mereka pergi, Fahmi datang menggunakan sepeda motornya. Saat itu ia pulang dari rumah sakit karena dinas malam. Ia segera memarkirkan sepeda motornya.


Ia mencoba untuk membuka pintu, tapi nihil. Pintu terkunci rapat. Fahmi kesal, karena saat itu keadaannya sedang lelah setelah semalaman menangani pasien yang tidak sedikit. Akhirnya ia putuskan untuk duduk di kursi yang tersedia di teras rumahnya.


Fahmi menghidupkan ponselnya dan mendapati 25 panggilan dari Fira yang tidak terjawab.


"Dia kemana, sih?" Gumamnya.

__ADS_1


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Fahmi menunggu Fira di ruang tamu bersama dengan keheningan malam. Jika ada Fira, malampun serasa seperti siang yang ramai. Fira suka menyanyi lagu-lagu barat tanpa mengenal waktu. Pagi, siang, malam, hidupnya terasa kurang jika tidak menyanyi. Fahmi sendiri selalu risih jika Fira sudah mulai menyanyi. Ingin rasanya menyumbat telinga dengan apapun itu asal suara pas-pasan Fira tidak terdengar sedikitpun olehnya.


Fahmi mulai khawatir. Dia berkali-kali menelpon Fira, namun tak kunjung diangkat juga. Sesekali Fahmi melihat ke jendela, untuk memastikan apakah Fira sudah pulang atau belum.


Tak lama setelah itu, deru mesin mobil terdengar oleh alat pendengarah Fahmi. Dia segera keluar untuk menemui Fira. Dilihatnya Fira pulang dengan seorang gadis yang mungkin saja temannya, pikir Fahmi.


"Kemana aja?" Tanya Fahmi ketus.


"Jalan-jalan."


Fira masuk ke dalam rumah karena tidak mau mendengar ocehan dari Fahmi.


"Eh, eh, suami lagi ngomong malah maen masuk aja. Siapa yang izinin kamu masuk?" Tanya Fahmi yang mulai geram dengan sikap Fira.


"Aku cape, Ka Fahmi. Mau mandi terus istirahat. Di luar dingin, makannya aku masuk."


Fahmi masuk ke dalam rumah dan duduk di samping Fira.


"Puluhan kali aku telpon kamu, tapi gak ada satupun panggilan yang kamu angkat! Aku gak suka ya, kamu pergi-pergi pulang malem kaya gini lagi!"


Fira mendelikkan matanya malas. "Gimana mau ngasih tau, kamu juga gak ngangkat telpon dari aku!"


"Besok-besok kalo kamu pulang lebih dari jam lima sore, aku bakal kunci rumah dan ngebiarin kamu tidur di luar. Aku gak peduli," ancam Fahmi.


Fira membulatkan matanya sempurna. Dia adalah wanita penakut. Setiap malam, jika ada suara jangkrik pun dia selalu lari menggedor pintu Fahmi karena takut. "Hah? Jangaaaaan!"


"Makannya gak usah pulang malem lagi!"


"Emang kenapa, sih? Aku kan cuma mau jalan-jalan sama temen yang lain. Di rumah bosen," keluh Fira sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Sebaik-baiknya wanita di rumah, udah!"

__ADS_1


"Dan suami terbaik itu yang bisa jaga hati dan tidak berpaling ke wanita lain!" Ucap Fira dengan nada yang cukup tinggi tepat di hadapan Fahmi.


Kali ini Fahmi dibuat bungkam oleh Fira.


***


Halwa adalah seorang gadis yang manis. Keguatan sehari-harinya adalah membantu sang ibu di butik untuk melayani pembeli. Malam ini dia tampak sedang senyum-senyum sendiri saat mendapat pesan singkat dari Fahmi.


Udah malem, jangan mikirin aku terus😋


Begitulah pesan dari Fahmi yang telah membuatnya terbang entah setinggi apa. Dia tidak berniat untuk membalas pesan Fahmi. Tak lama setelah itu diapun terlelap dalam tidurnya.


Siang tadi Halwa dan adiknya diajak makan siang oleh Fahmi di sebuah restoran. Sungguh dia sangat bahagia. Terlebih karena dia tidak pernah makan di restoran. Saat itu Halwa merasa bahwa Fahmi menyukainya. Dia berharap, Fahmi mau segera untuk menghalalkan hubungan mereka.


Hati Fira begitu teriris saat melihat foto-foto bahagia Fahmi dan Halwa. Diam-diam Fira mengambil ponsel Fahmi yang tergeletak di atas meja rias yang ada di kamar Fahmi. Hatinya lebih sakit lagi saat beberapa menit yang lalu sebelum Fahmi tertidur, Fahmi mengirim pesan pada Halwa.


Entahlah, mengapa saat itu Fira merasa sakit hati. Biasanya Fira bisa untuk tidak peduli pada hubungan spesial yang dijalin suaminya dengan wanita lain itu, namun kali ini tidak. Dia tidak baik-baik saja. Dan dia mulai merasa ada yang hendak mengambil suaminya.


Fira menghampiri Fahmi yang sudah tertidur sangat pulas. Dia menyelimuti sambil memandangi wajah Fahmi yang begitu tenang saat tertidur.


"Ganteng-ganteng gini kok jahat sih sama istri. Istri itu bukan cuma dikasih rumah, pakaian, dan makan aja, tapi juga butuh untuk dicintai. Aku benci sama semua perlakuan kamu, Ka. Tapi jujur aja aku mulai cinta sama kamu!"


Fira tertidur di samping Fahmi. Dia menghadapkan wajahnya ke arah Fahmi. Entahlah, saat itu dia ingin tidur dengan Fahmi tanpa alasan. Tidak peduli jika ketika bangun besok Fahmi akan marah.


Marah aja, Ka, aku tidur di sini bukan sebuah perbuatan dosa, kok, batin Fira yang lantas menyusul Fahmi ke alam mimpi.


***


Semoga masih ada yang nunggu ya. Jujur aku bingung buat lanjutnya, hehe, maafkanlah.


Salam,


Saifa Hunafa

__ADS_1


__ADS_2