
Fira tertidur kembali setelah melaksanakan beratnya sholat shubuh. Saat itu Fahmi baru pulang dari masjid. Dilihatnya keadaan dapur yang berantakan. Piring kotor masih di atas meja makan. Teflon bekas masak tadi masih di atas kompor. Cucian piring menumpuk, sepertinya bekas buka puasa kemarin.
Fahmi segera mencari Fira. Ia tau Fira ada di kamar. Dan feeling nya selalu benar jika Fira tidur lagi. Ah, jika saja Fahmi tidak punya kesabaran, mungkin saat itu juga Fira akan dipecat jadi seorang istri. Upss. Fahmi beristigfar.
Fahmi membuka pintu kamar Fira. Saat dibuka pun tidak menampakan pemandangan indah. Melainkan sebuah pemandangan yang menguji kesabaran. Kamar Fira saat itu tidak kalah berantakan. Selimut, bantal, guling, semuanya berada di lantai. Sprei kasurnya berantakan dan Fira tidur berselimut sprei.
Fahmi mengambil bantal yang tergeletak di lantai dan melemparnya ke arah Fira.
Bugh!
Bantal itu mendarat tepat di wajah Fira. Saat itu juga Fira terbangun.
"Aduuuh, apaan sih?" Fira bangkit dari tidurnya.
"Malah tidur lagi, bukannya beres-beres rumah!" Bentak Fahmi.
"Aduuuh, masih pagi kali. Lagian aku gak perlu masak lagi, soalnya kan sekarang puasa."
"Belajar coba jadi istri yang baik! Seorang istri itu ya ngurusin rumah tangga, ngurusin suami, dan ngurusin yang lainnya. Bukan cuma ngurusin diri sendiri!"
Fira mengernyitkan dahinya, dia cukup dibuat bingung oleh Fahmi. "Istri yang baik? Gimana mau jadi istri yang baik, kalo suaminya juga jahat? Gimana mau ngurusin suami, kalo suaminya juga gak pernah nganggap istrinya!"
Jawaban Fira kali ini membuat Fahmi terdiam. Apa yang Fira katakan ada benarnya. Selama ini Fahmi memang tak pernah menganggap Fira. Ia hanya menganggap Fira itu orang lain yang hidup bersamanya di dalam satu rumah. Kehidupan di dalam rumahpun terkesan masing-masing. Berusaha menganggap hidup sendiri, walau pada kenyataannya saling membutuhkan.
Padahal, manusia adalah makhluk sosial. Semampu apapun dia sendiri, tetap butuh orang lain. Entah itu untuk membantu, atau hanya sekedar mendampingi. Maka dari itu pula Allah menciptakan Hawa di tengah kesendirian Adam, yaitu untuk menemaninya bersama-sama menuju surga kembali setelah sekian lama berpisah.
"Ya setidaknya kamu sadar diri dong, kalo kamu itu seorang istri!"
Fira membalas. "Ya kamu juga sadar diri dong, kalo kamu suami!"
"Dih, malah ngebales. Aku kerja buat siapa? Buat istri! Aku ingetin sholat biar apa? Biar kamu taat sama Allah!" Fahmi mulai kehilangan kesabaran, namun setelah itu dia menyadari betul telah membentak Fira. Entah sampai kapan rasa tak suka ini akan terjadi. Yang pasti sampai saat ini Fahmi belum bisa membuka hatinya untuk Fira.
Fira terdiam dan berusaha mencerna setiap kata-kata Fahmi yang masuk ke dalam indra pendengarannya. Fira menyadari betul kesalahannya selama ini. Dia selalu menyalahkan Fahmi yang tak pernah mencintainya. Padahal pada kenyataannya, dengan Fahmi selalu mengingatkannya pun itu sudah menjadi bentuk perhatian. Walaupun caranya Fahmi salah besar.
Fira segera bangkit dan bergegas membereskan kasurnya. Saat itu Fahmi juga masih terdiam di kamar Fira. Dia memperhatikan Fira yang langsung menurutinya.
Tak lama setelah itu, Fahmi pun pergi membiarkan Fira. Sedangkan Fira yang saat itu tengah memungut guling di lantai melemparkan guling itu ke arah Fahmi yang sudah terlanjur pergi hingga guling itu keluar dari zonanya.
__ADS_1
"Waduh, gulingnya masuk ke kamar dia." Fira segera berlari untuk mengambil gulingnya.
Dengan hati-hati, agar tidak ketahuan oleh Fahmi, Fira mengambil guling itu sambil memejamkan mata.
"Mau ngelempar aku pake guling?"
Aduh, ketauan, batin Fira yang perlahan membuka matanya.
"Dih, jangan suudzon dong. Siapa suruh pintunya dibuka?"
"Alesan!"
___________________________________________________
Fyuh!
Fira mengistirahatkan diri di atas shofa yang berada di ruang TV. Sesekali dia mengelap peluh keringat yang menetes di dahinya. Cukup melelahkan memang membereskan rumah sendirian. Mencuci segunung cucian. Menyapu seisi rumah. Membereskan kasur. Membereskan barang-barang di seluruh ruangan, dan yang lainnya. Semua terasa melelahkan, karena tidak biasa mengerjakannya.
Ia memejamkan mata. Mencoba untuk menghirup udara, agar tidak kekurangan oksigen. Matanya masih terpejam, namun ia tidak tertidur.
Tak lama setelah itu, Fahmi datang dengan berseragam putih khas perawat. Fahmi terlihat luluh melihat wajah lelah Fira. Ia pun duduk di samping Fira dan membuat Fira membuka mata karena terkejut. "E-eh." Fira menyadari saat itu ada Fahmi di sampingnya.
"Cape. Aku abis beresin rumah nih. Bentar ya, istirahat dulu."
"Kalo kamu biasa beresin rumah, pasti ga akan kerasa cape. Makannya biasain." Fahmi yang terlihat sabar itu membuat Fira tenang hati.
"Iya, Suamikuu. Suami udah Sholat Dhuha belum?" tanya Fira.
Fahmi mengernyitkan dahinya saat mendengar ada yang beda dari panggilan Fira. "Udah barusan. Sejak kapan kamu manggil aku suami?"
"Jangan ngegas dulu dong. Emang aku salah manggil, ya?"
Fahmi terkekeh pelan. Jujur saja, ini pertama kalinya melihat Fahmi terkekeh. Senyumnya merekah saat itu. "Engga salah manggil kok. Entahlah, aku suka kok, dipanggil gitu. Ngerasa dianggap ada aja sama kamu."
Fira hanya tersenyum dan memilih untuk diam.
"Aku berangkat dines dulu, ya?" Fahmi tiba-tiba menyodorkan tangannya. Fira tampak bingung melihat tangan Fahmi berada di depan wajahnya.
__ADS_1
Fira memegang tangan Fahmi. "Apa ini?"
"Salim!"
Fira terpaku. "Hah? Salam?"
Fahmi mengangguk. Akhirnya Fira pun mencium tangan Fahmi. Untuk pertama kalinya Fira melakukan ini. Kecuali ketika mereka menikah dulu.
Fahmi mengelus kepala Fira. Lebih tepatnya mengacak-ngacak rambut Fira.
"Iiih, acak-acakan nih rambut aku. Tumben nyuruh salim?"
Fahmi hanya tersenyum. "Jangan lupa Sholat Dhuha ya."
"Iya, kalo gak lupa."
"Dengerin hadits ini, “Manusia memiliki 360 sendi, diwajibkan untuk bersedekah sedekah untuk setiap sendinya”. Para sahabat bertanya, ”Siapa yang mampu melakukan demikian, wahai Nabi Allah?”. Nabi bersabda, ”Cukup dengan menutup dahak yang ada di lantai masjid dengan tanah dan menghilangkan gangguan dari jalanan. Apabila engkau tidak mendapatinya, maka lakukanlah dua raka’at shalat Dhuha yang itu bisa mencukupimu” (HR. Abu Daud)"
"Cukup dua rokaat aja," pinta Fahmi.
"Iya, insyaaAllah."
"Abis aku berangkat, langsung ambil air wudhu terus sholat Dhuha. Biar Allah membukakan juga pintu rezeki kita."
Fira mengangguk.
"Aku berangkat dulu. Jangan kabur dari rumah kaya kemarin, aku gak suka!"
___________________________________________________
Semangat terus puasanya ya readerrs😊😊
Jangan lupa vote and comment.
Saifa lebih lanjut?
Ig: @saifahunafa
__ADS_1
Salam,
Saifa Hunafa❤