
Mereka pun sampai di rumah Dewi, Ibunya Fira. Saat itu, mereka disambut hangat oleh kedua orang tua Fira. Fira dan Fahmi menampilkan senyuman terbaik di hadapan orang tua Fira. Mereka akan memulai drama kembali, yang mana semua yang mereka lakukan adalah semata-mata agar terlihat baik-baik saja di hadapan keluarga Fira.
Fira berbisik pada Fahmi, "Kamu tau kan, apa yang harus kita lakukan?"
Fahmi mengangguk, "Pura-pura bahagia!"
Ah, pura-pura mulu. Kapan bahagia aslinya, bantin Fira.
Fira menggandeng lengan Fahmi tanpa intruksi yang tentu saja membuat Fahmi terkejut. Tapi Fahmi berusaha tersenyum dan memandang Fira penuh kasih sayang, walaupun pada kenyataannya Fahmi ingin menggetok Fira yang seenaknya menggandeng tangan.
"Assalamualaikum, Ibu, Ayah," ucap Fahmi dan Fira yang lantas mencium tangan keduanya.
"Waalaikumussalam. Gimana, kalian sehat?" tanya Dewi, Ibunya Fira.
"Alhamdulillah, kita sehat Bu."
"Ya udah, ayo masuk! Bentar lagi Adzan Maghrib tuh."
Mereka pun masuk dan berjalan di belakang Ibu dan Ayah. Fira langsung melepaskan gandengan tangannya dan bergidik. "Ihh!!!"
Fahmi membisikan sesuatu, "Halahh, aku tau kok, sebenernya gak mau ngelepasin. Itu kamunya yang gengsi."
Fira mendelikkan matanya. "Amit-amit."
"Imut gini dibilang amit-amit. Buka mata kamu!"
Mereka pun sampai di ruang makan. Sudah ada banyak hidangan di atas meja makan. Mulai dari takjil hingga makanan penutup sudah tersedia di sana.
"Bu, kok banyak banget makanannya?" tanya Fira sambil menggeserkan kursi untuk ia duduki.
"Ooh, nanti ada Kakak kamu juga ikut buka bersama," jawab Dewi.
Fira membulatkan mulutnya membentuk sebuah huruf 'O'.
"Gimana di rumah? Aman-aman aja kan?" tanya Dewi.
__ADS_1
Fira dan Fahmi saling tatap. "Alhamdulillah aman, Bu," jawab Fahmi.
"Gak ada masalah kan, kalian?"
"Sama sekali gak ada, Bu. Keluarga kita aman tentram dan damai kok, Bu." Kali ini Fira yang menjawab.
Tentram dari Hongkong? Tiap hari aja perang mulut, batin Fahmi.
"Bagus kalo gitu. Tinggal kalian bikin rencana tambah anggota keluarga aja."
Fahmi dan Fira membulatkan matanya sambil menggelengkan kepala cepat.
Allah yang menganugerahkan cinta. Setiap pasangan yang telah halal sudah seharusnya tertanam cinta satu sama lain. Namun, bagaimana jika pada kenyataannya cinta itu tak kunjung tumbuh? Sedangkan prinsip keduanya hanya satu kali akad seumur hidup.
Tak lama kemudian, terdengar suara rengekan anak kecil dari luar sana. Itu adalah Davin, keponakan dari kakak pertamanya.
"Itu pasti Kakak kamu, Ra. Tumben banget mepet mau magrib baru dateng. Padahal rumah mereka lebih deket daripada rumah kalian," gerutu Dewi, Ibunya Fira.
Kayla adalah Kakaknya Fira. Bagi Fira, hidupnya selalu beruntung. Mendapatkan pendamping hidup pun yang sempurna. Sedangkan dia? Dia harus terjebak di dalam rumah tangga tanpa cinta. Hambar memang.
Kayla dan suaminya datang ke ruang makan. Bertepatan sekali dengan kumandang suara Adzan Maghrib. Semuanya mengucapkan hamdalah dan segera berbuka dengan kurma.
***
Berbeda dengan Fahmi yang justru dalam hatinya mengeluh. Jika mereka harus menginap, otomatis mereka juga harus pura-pura bahagia, romantis, dan yang lainnya.
"Alhamdulillah kalo kalian mau nginep. Kalian tidurnya di kamar Fira ya," ucap Dewi, Ibunya Fira.
Fahmi membulatkan matanya sempurna. "Kalian? Maksudnya, kita berdua, Bu? Gak ada kamar lain?"
"Ya iya, kalian berdua. Emangnya kenapa? Kan kalian udah sah."
Fahmi seketika menyadari apa yang telah dikatakannya. Dia lantas merangkul pundak Fira. "Enggak, kok, Bu. Ya udah, kita ke kamar dulu ya, Bu," ucapnya dan menyeret Fira ke kamarnya.
Fira merasakan kehangatan dari rangkulan Fahmi. Seandainya ini bermakna kasih sayang, namun rasanya itu hanya mimpi. Pada kenyataannya Fahmi tak pernah mencintai.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju kamar dengan keadaan Fahmi yang masih merangkul Fira. Selama berjalan, Fahmi memang tak melepas rangkulan itu. Lama-lama, ia merasa nyaman. Hatinya seketika bergetar saat mereka sampai di depan pintu kamar Fira. Fira membuka pintunya dan mengajak Fahmi masuk.
Dengan ragu, merekapun masuk dan Fahmi perlahan melepas rangkulannya karena Fira menutup pintu. Saat itu Fahmi bingung mau berbuat apa. Tidur, kah?
"Kamar yang satunya lagi kan buat Kak Kayla sama keluarga kecilnya. Jadi mau gak mau kita sekamar. Simple aja sih, kamu tidur di kasur, aku di sofa. Oke?"
Fahmi yang merasa tak enak itu mendudukan diri di atas kasur. "Kamu yang di kasur, aku di sofa!"
Fira tampak kesal. "Ish, aku udah baik sama kamu. Pokoknya kamu di kasur, aku di sofa!"
"Keras kepala banget sih. Ini kamar kamu, biar aku yang di sofa!" Ucap Fahmi.
"Kamu di kasur!! Titik!"
"Kamu aja!"
"Ribet banget sih, udah sama-sama aja lah!" Fira geram dengan pertikaian bak anak kecil ini.
"Oke, kamu ujung, aku ujung!"
Mereka pun sepakat untuk tidur di kasur dengan jarak yang cukup jauh, yaitu ujung dan ujung. Jujur saja, setelah pertikaian itu mereka jadi sulit untuk tidur. Keduanya saling membelakangi dengan keadaan mata yang sama-sama terbuka. Fahmi mengira Fira sudah tertidur karena biasanya Fira memang mudah untuk tidur. Bagi Fahmi, tidur itu ya hobinya Fira.
"Maaf ya, Fir. Aku belum bisa cinta sama kamu. Sebenernya getaran-getaran aneh yang aku yakini cinta itu udah ada, tapi aku gak mau. Aku emang egois, Fir. Maafin aku," ucap Fahmi.
Fira yang mendengar itu terpaku. Dia memang sudah tau bahwa Fahmi tak pernah mencintainya. Tapi mengapa saat itu dinyatakan terasa sekali sakit? Air matanya terjatuh. Dia berusaha menahan sesak. Sebelumnya dia belum pernah mendengar kata-kata yang membuat hati sesakit ini. Tak sengaja, Fira terisak dalam tangisnya. Fahmi mendengar isakan itu dan membuatnya merasa sangat bersalah.
"Fir? Kamu belum tidur? Maksud aku bukan gitu." Fahmi mendudukan diri dari tidurnya dan menatap Fira yang membelakanginya.
"Gapapa, kok. Sama sikap kamu aja aku bisa tahan, apalagi sama kata-kata yang nusuk hati itu. Tenang aja, i'm okay."
"Sorry, Fir."
"Aku emang udah tau dan ngerasa kalo kamu nikahin aku bukan karena cinta. Aku bisa memaklumi, kok. Aku tau, kamu hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan kamu sekarang sudah menikah sama aku. Harusnya kamu berusaha biar cinta sama aku. Apa enak, hidup di dalam sebuah rumah tangga tanpa cinta sedikitpun? Masa sampe tua nanti kita hidup tanpa cinta?
****
__ADS_1
Makin gaje ya, wkwk.
Tunggu next babnya yaa...