Baik Bersamamu

Baik Bersamamu
BAB 16


__ADS_3

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh, Readers yang dirahmati oleh Allah. lama tak jumpa, langsung aja baca dulu terjemahan ayat berikut ya:)


...***...


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (Perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran."


(QS. Al-Baqarah: 186)


***


Sang Kiyai tertawa ringan. "Hehe, tentu saya ingat kamu, Fahmi. Alhamdulillah, senang melihatmu tumbuh menjadi lelaki gagah yang merawat banyak pasien, termasuk merawat gurumu yang lemah ini."


"Ada apa dengan Kiyai ini? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Fahmi khawatir.


"Nanti akan saya ceritakan. Kamu sudah besar, Fahmi. Sudah menikah, Nak?"


Fahmi terdiam. Cukup lama.


"Kok, bengong?" Tanya Kiyai hingga berhasil membuat Fahmi terperanjat kaget.


Fahmi terlihat ragu untuk menjawab, bibirnya bergetar. "Eum, be-belum, Kiyai."


Seandainya di ruangan tersebut ada Fira, mungkin saat itu juga Fira akan meminta Fahmi untuk benar-benar memutuskan ikatan halal yang mengikat keduanya itu. Meski bukan cinta utuh yang Fira rasakan, namun tetap saja rasa itu pasti ada. Ikatan pernikahanlah yang membuat Fira senang dengan hadirnya rasa itu.


Namun Fahmi seolah menghancurkan hatinya yang tulus. Fira rela menikah dengan Fahmi agar Ayahnya Fahmi aman dari penyakit jantung yang bisa terasa kapan saja. Fira merelakan ketidaksiapannya untuk menikah demi membahagiakan kedua orang tua, terutama ibunya.


Sosok seperti Fira sangatlah membutuhkan bimbingan. Menikah saja Fira tidak memiliki bekal ilmu apa-apa. Fira menikah hanya bermodal keterpaksaan yang tak pernah dia ambil pusing. Dia kira menikah itu mudah dan seru. Tapi ternyata itu salah, yang ada hanyalah kesuraman akan masa depannya kelak. Semakin hari, semakin Fira sadar bahwa semua membutuhkan ilmu dan perenungan yang baik. Lihat saja dirinya yang sekarang, dia berjalan tanpa arah dan tujuan. Tidak peduli bagaimana hidupnya, yang penting dia bahagia bersama teman-temannya.


Sebuah mall besar yang ada di kota itu berhasil memanjakan Fira dengan berbagai kesenangannya. Akhir-akhir ini Fira sering belanja atau jalan-jalan bersama teman-temannya. Hampir setiap hari dalam seminggu, Fira pasti tidak ada di rumah Ibunya.

__ADS_1


"Rambut kamu ternyata bagus, Fir. Hitam dan mengkilap, walaupun tiap hari pake kerudung. Kenapa nggak dibuka aja? Buat nunjukkin ke dunia, loh, kalo kamu itu cantik," ucap Desi saat Fira ikut dengannya ke salon untuk melakukan creambath.


Fira mematung sambil memandangi wajah cantiknya. Desi benar, dia tampak lebih cantik dan menarik tanpa mengenakan kerudung. Mungkin apa salahnya juga membuka kerudung, toh, dirinya merasa lebih percaya diri tanpa memakai kerudung, pikir Fira dalam hati.


"Tunjukkin butik terbaik yang bisa ngasih aku gaun terbaiknya untuk mendatangi pesta ulang tahun Jerry malam ini, Des," ucap Fira yang masih terkagum-kagum melihat wajah cantiknya.


***


Fira benar-benar melepas kerudung. Ibunya tidak mempermasalahkan itu. Fira memang diberi kebebasan. Fira tak pernah dipaksa untuk menutup aurat. Namun yang menjadi amarah besar orang tuanya adalah ketika gaya hidup Fira tiba-tiba berubah drastis. Akhir-akhir ini Fira jadi lebih sering menghambur-hamburkan uang, entah itu untuk belanja kosmetik, baju, aksesoris, atau untuk mentraktir makan teman-temannya di restoran mewah.


Malam ini Fira, Desi dan teman-teman yang lainnya mendatangi pesta ulang tahun Jerry. Jerry adalah lelaki turunan Belanda yang merupakan teman satu fakultas Fira. Akhir-akhir ini mereka sering berkomunikasi dan bertemu untuk membahas hal apa saja yang membuat mereka nyaman dalam pertemuan itu.


Fira begitu senang berada di dekat Jerry. Sosoknya yang lemah lembut terhadap perempuan membuat Fira jatuh cinta. Fira merasa dilindungi dan diberi kasih sayang oleh Jerry. Hingga pada malam hari di pesta ulang tahun Jerry, merekapun resmi berpacaran. Fira mendapatkan kalung berlian yang sangat indah. Fira terharu.


"Kamu janji, ya, nggak akan ninggalin aku. Jujur, aku bangga kamu bisa ngelepasin kain yang selalu nutupin rambut indah kamu," ucap Jerry sambil tersenyum dan lantas mencium rambut Fira yang wangi.


Jerry meraih tangan Fira untuk mengajaknya ke sebuah tempat paling romantis di acara ulang tahunnya itu. sebuah tempat makan khusus yang sengaja dia pesan untuk mereka berdua. Di saat orang lain sibuk dan larut dalam musik sambil menari-nari, Jerry sengaja mengajak Fira ke tempat itu agar tidak ada seorangpun yang mengganggu.


Fira tidak bisa lagi menahan kebahagiaannya saat itu. mau tak mau dia harus terbang karena Jerry berhasil membuatnya bahagia bukan main. Selama ini, Fira tidak pernah merasakan hal luar biasa seperti ini. Baginya, yang layak menjadi suaminya itu adalah orang yang mencintainya.


Sekitar satu bulan lebih Fira dan Fahmi tak pernah bertemu atau berhubungan lagi. Begitupun dengan keluarga Fira dan keluarga Fahmi yang jarang bersilaturahmi lagi. Lama tak berkomunikasi diantara kedua keluarga tersebut, tiba-tiba saja datang kabar bahwa Ayahnya Fahmi meninggal. Segera saja Ayah dan Ibunya Fira pergi untuk melayat. Fira sendiri saat itu sedang tidak ada di rumah, bahkan Fira tidak tahu bahwa Ayahnya Fahmi meninggal.


Saat ini, tanpa Fahmi Fira masih bisa bahagia. Dulu Fira salah. Dia kira kebahaiaan itu ada ketika bersama Fahmi. Namun ternyata kebahagiaan itu ada dimana-mana, seandainya mau melihat dari sisi yang berbeda. Terbukti, saat ini dia merasa jauh lebih baik. Dan dia harap seterusnya akan seperti ini.


***


Fahmi begitu terpukul dengan kepergian Ayahnya. Sekuat apapun dirinya, tetap saja tangis itu akhirnya pecah juga. Dia tak pernah menyangka bahwa akan secepat ini Ayahnya pergi. Segala kekecewaan yang pernah dia toreh di hati sang Ayah belum sempurna dia sembuhkan. Dan sekarang Ayahnya malah pergi membawa kekecewaan itu. Fahmi semakin menyesal. Jujur saja ada banyak sekali kekhilafan meskipun telah setuju untuk menikah dengan Fira.


Tetangga berdatangan untuk memberi doa dan penguatan pada keluarga Fahmi. Saat itu yang paling keras tangisnya adalah sang Ibu. Sambil memeluk Fahmi, sang Ibu terus menangis dan memukuli dada bidang Fahmi. Jujur, Ibunya masih belum menerima akan kepergian sang Suami.

__ADS_1


"Kembalilah pada Fira, Nak," ucap sang Ibu tiba-tiba, sambil menahan tangis.


Fahmi kemudian terdiam saat mendengar nama itu lagi. Sebuah nama yang dengan lantang dia sebut di hadapan walinya juga para saksi.


Selama satu bulan berpisah dengan Fira, Fahmi menggunakan banyak waktu untuk merawat Kiyai, Gurunya. Sang Kiyai dia biarkan tinggal di rumahnya sementara. Setiap kali Fahmi melayani gurunya itu, selalu saja ada ilmu yang Fahmi dapatkan walau hanya satu huruf. Selama itu Fahmi satu atap dengan sang Guru, selama itu juga gurunya tidak mengetahui bahwa Fahmi sudah menikah.


Ada banyak pepatah dan nasihat yang gurunya berikan pada Fahmi agar menyegerakan menikah, Fahmi hanya diam sambil menunduk. Ingin sekali dia mengatakan yang sesungguhnya, namun selalu saja ragu.


Fahmi pulang ke rumahnya dengan keadaan yang kusut. Kusut penampilan dan wajahnya. Saat ini dia merasa begitu lelah. Lelah menyalahkan dirinya sendiri yang tak mampu memenuhi kebahagiaan sang Ayah. Fahmi pulang ke rumah sore hari, setelah sang Ayah dikebumikan ba'da dzuhur tadi. Dia pulang karena harus siap-siap pergi ke rumah sakit malamnya.


"Sudah disampaikan salam dari saya untuk Ibumu, Nak?" Tanya Kiyai yang sedang duduk di shofa ruang keluarga.


Fahmi duduk di sebelah Kiyai kemudian mengangguk sambil memegangi kepalanya. "Alhamdulillah, sudah, Kiyai."


"Saya kenal kamu. Kamu pasti ada masalah. ceritalah, Mi. Kalaupun kamu memikirkan jodoh, saya akan siapkan santri terbaik dari pesantren di kampung untuk kamu," ucap Kiyai sambil terkekeh namun penuh keseriusan.


Fahmi membulatkan matanya sempurna dan lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Enggak, Kiyai."


"Loh, kenapa?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi bingung. "In Syaa Allah, saya akan pilihkan santri yang baik, sholehah buat kamu, Fahmi. Saya yakin, Ibumu pun ingin kamu segera menikah, bukan?"


Saya sudah menikah, Kiyai...


...***...


Gereget nggak sih sama si Fahmi?


Pengen nggak sih si Fahmi ketemu lagi sama Fira?


...Tunggu kelanjutannya ya, berikan komentar terbaikmu:)...

__ADS_1


__ADS_2