Baik Bersamamu

Baik Bersamamu
BAB 13


__ADS_3

Kepalan tangan itu siap menghantam wajah Kevin yang terlihat menghindar dan waspada. Tangan sigap Kevin menahan tangan Fahmi yang hampir saja mengenai wajah Kevin. Beruntung, dulu Kevin dan Fira pernah berlatih tinju dan bela diri yang lainnya, hingga sampai saat ini dia bisa mempertahankan diri dari serangan orang lain.


Fahmi terkejut saat Kevin bisa menahan tangannya. "Cukup, Fahmi!" Kevin berteriak tepat di hadapan Fahmi.


Fahmipun terduduk di tepi ranjang dengan keadaan amarah yang masih bergejolak di dalam hatinya.


"Kenapa lo marah, hah? Pake acara mau nyerang-nyerang gue segala?" Kevin berdiri di hadapan Fahmi. "Dengerin gue baik-baik. Gue bisa aja jauhin Fira sejauh-jauhnya, karena gue sadar kalo dia udah punya suami. Tapi gue belum tenang dan belum yakin kalo lo bisa ngejagain Fira baik-baik!"


"Saya bisa jagain Fira. Silahkan kamu pulang, pintu sudah terbuka lebar!" Ucap Fahmi penuh penekanan dengan perasaan yang berusaha dia netralkan.


"Oke, gue pulang. Dan gue tetep bakal dateng buat ngejaga dan ngebela Fira, kapanpun dia butuh. Kenapa? Karena Fira adalah sahabat gue, dan gue masih belum percaya sama lo!" Kevin menatap ke arah Fira yang hanya bisa menangis di balik selimut. "Gue pulang, Fir."


Kevin pulang dengan sisa amarah yang ada. Jujur, saat itu Kevin masih khawatir. Khawatir Fira terguncang batinnya setelah melihat dua laki-laki saling mengeluarkan amarahnya tadi. Khawatir Fira dimarahi dan dibuat sakit hati oleh Fahmi.


Fira bangkit dari tidurnya. "Kak..." ucapnya tampak ragu.


"Aku nggak suka liat lelaki lain ada di kamar ini, itu tidak sopan!" Ucap Fahmi tegas.


Fira hanya menunduk. "Maaf..."


"Aku marah, Fira!" Ucap Fahmi terdengar sangat dingin.


Fira menghampiri Fahmi dan memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar di perut Fahmi. Jujur, ini adalah pertama kalinya memeluk Fahmi. Dia ragu untuk melakukannya, tapi mau bagaimana lagi. Dia sedih Fahmi marah


Sedangkan Fahmi sendiri terkejut saat melihat tangan Fira melingkar erat di pinggangnya. Seketika hatinya luluh oleh getaran tak biasa yang tiba-tiba datang.


Fira menangis di punggung Fahmi. Dia sesenggukan. "Maaf, Kak... Aku tau, Kakak emang nggak pernah cinta sama aku. Tapi sebagai suami, Kakak pasti nggak suka ada lelaki lain yang deketin aku. Kenapa semua ini nggak adil sih, Kak?"


Fahmi masih terdiam. Punggungnya terasa basah karena tangisan Fira yang semakin menjadi. Hingga akhirnya dia merasa benci. Benci mendengar tangisan Fira. Dia tidak suka melihat Fira menangis seperti ini. Fahmi melepas pelukkan Fira dengan perlahan dan membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Fira. Dia menatap lekat wajah kusut Fira.

__ADS_1


"Maksud kamu nggak adil, gimana?" Tanya Fahmi.


Dengan sisa tangisnya, Fira menjawab, "Bagimana nggak adil? Kakak aja yang nggak cinta sama aku nggak suka liat lelaki lain deket sama aku. Aku juga nggak suka liat Kakak deket sama Halwa!"


"Tapi aku cinta sama Halwa!"


Teriris sudah hati Fira mendengar pernyataan dari Fahmi itu. Dia menahan tangis yang hendak menerobos kembali benteng pertahanannya. Namun dia gagal lagi. Air mata itu berhasil merobohkannya.


"Aku udah beli salepnya. Kamu mandi dulu sana! Nanti aku bantu olesin," ucap Fahmi yang seolah tak ingin melihat wajah Fira yang berurai air mata.


Aku pikir, ketika kamu membalikkan tubuhmu, kamu akan menatap mataku dengan penuh cinta dan lantas memelukku untuk memberikan ketenangan. Aku pikir, meredanya amarah kamu ini bisa menumbuhkan cinta di hati kamu. Tapi aku salah! Aku terlalu berharap, dan aku cinta sama kamu, Suamiku...


_________________________


Kini, hidupnya tampak begitu indah dengan kehadiran Fahmi, seorang perawat yang beberapa bulan lalu keluar dari mobil untuk menyelamatkannya dari lelaki yang hampir saja membunuhnya itu. Fahmi dan Fira sangat baik, begitulah yang selalu terlintas di hati Halwa.


Malam ini begitu sunyi. Yang terdengar hanyalah suara jangkrik di luar sana. Di dalam rumah yang sederhana itu Halwa tinggal bersama kedua orang tua dan satu adik laki-lakinya yang masih berusia sepuluh tahun. Mereka hidup sederhana dan cukup. Setiap hari Halwa membantu sang Ibu untuk menjaga butik milik teman Ibunya. Sedangkan ayahnya adalah seorang ustadz yang aktif di masjid untuk mengisi kajian atau mengajar anak-anak mengaji.


Suara keras itu terdengar dari jendela kamar Halwa yang bergetar cukup kencang. Halwa yang sedang terdian tiba-tiba terperanjat kaget dan ketakutan. Dengan ragu Halwa membuka jendela tersebut. Halwa semakin terkejut saat melihat siapa yang datang dan menggedor-gedor jendelanya tadi.


"Astagfirullahal'adziim," ucap Halwa lirih.


Dilihatnya seorang lelaki berjaket hitam itu tengah menyisir rambut menggunakan tangan kanannya. "Gimana? Aku udah ganteng belum?" Tanya lelaki itu sambil menaik turunkan alisnya.


Wajah Halwa berubah menjadi masam. "Ngapain kamu ke sini, Bang?"


Lelaki itu menatap lekat wajah Halwa yang menurutnya manis itu. "Nambah cantik aja kamu, Wa, kalo lagi ngambek gini," ucapnya sambil terkekeh. "Andai aja kamu mau nerima lamaran aku, pasti aku udah makan kamu, haha."


Halwa mulai merasa tidak nyaman. "Apaan, sih, Bang Faris? Mending Abang pulang aja sana! Halwa mau istirahat!"

__ADS_1


Lelaki yang dipanggil Bang Faris itu menatap Halwa dari ujung kepala sampai ujung kaki Halwa yang tertutup gamis dengan tatapan nakalnya. Pikirannya jauh membayangkan hal-hal indah bersama Halwa.


"Besok aku mau lamar kamu lagi, cantik!" Ucapnya menggoda.


Tubuh Halwa bergetar hebat, tangan dan kakinya berkeringat dingin.


"Aku pastikan, bahwa rumah ini tidak akan pernah terbuka lagi untuk Bang Faris," ucap Halwa yang lantas mendorong tubuh Faris agar menjauh. "Pergi, Bang, pergiii!!"


Faris justru malah semakin mendekati jendela untuk menandangi Halwa lebih dekat dan jelas lagi. "Nggak cukup, ya, aku ngutus anak buah buat ngancam bunuh kamu? Simple aja sih, Halwa cantik, kamu cukup nikah sama aku dan hidup kamu akan tenang!"


"Siapa yang mau nikah sama orang jahat kaya kamu, Bang?"


Faris tertawa pahit. "Hah, jahat? Segala cara bakal aku lakuin demi cinta, Halwa!"


"Istighfar, Bang, istighfar! Cepet pulang, Bang!"


Faris semakin bersemangat jika melihat Halwa ketakutan seperti ini. "Salah kamu juga yang udah bikin aku gila sama cinta, Halwa. Dan aku nggak akan nyerah. Kalo kamu nggak mau nikah sama aku, maka akan kupastikan bahwa kamu akan menyerahkan diri kamu padaku, Halwa."


Halwa mendorong keras dada Faris hingga Faris terduduk di atas semak-semak sambil berkata dengan lantang, "Pergilah lelaki brengsek!"


Halwa segera menutup rapat jendela kamarnya. Batinnya terguncang hebat, malam itu dia hampir saja diperlakukan secara bodoh oleh lelaki bernama Faris itu.


Aku harus cepat-cepat minta kejelasan hubungan dengan Kak Fahmi. Setidaknya, jika aku menikah dengan Kak Fahmi, ada sosok yang bisa ngejagain aku, batin Halwa.


__________________


Siapa yang masih nunggu cerita ini 😅


Terima kasih banyak buat yang selalu baca, ngasih vote dan comment nya🤩

__ADS_1


Salam,


Saifa Hunafa


__ADS_2