
...Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh, Readers yang dirahmati oleh Allah....
...Akhirnya bisa update lagi setelah sekian lama, hehe....
...Happy Reading โค...
...________________...
Di dalam hati kecilnya, Fahmi merasa sangat berdosa telah membohongi gurunya sendiri. Dan mungkin Fahmi harus jujur, bahwa dirinya sudah menikah. Mau tak mau dia harus kembali pada Fira. Ayahnya pasti sangat kecewa di alam yang berbeda sana.
Fahmi melangkahkan kakinya untuk masuk ke pekarangan rumah Fira. Dengan ragu tangan kanannya mengetuk pintu. Yang membuka pintu saat itu adalah Ibunya Fira. Dia sangat terkejut melihat Fahmi datang.
"Maafin Ibu dan semua orang yang sedari awal merencanakan perjodohan kalian, ya, Nak Fahmi," ucap Ibunya Fahmi.
Fahmi tersenyum tipis, kemudian memeluk Dewi -Ibunya Fira- dengan sangat erat. Fahmi tau bahwa Dewi sangat menyayangi dirinya. Sosok Dewi yang penyabar dan ramah itu membuat Fahmi nyaman dan merasa sangat diterima oleh keluarga Fira.
Maafin Fahmi, Ibu. Fahmi belum bisa mencintai anak Ibu, Fira, batin Fahmi yang saat itu masih berada di dalam pelukan hangat Dewi.
Seolah bisa mendengar apa yang terbesit di dalam hati Fahmi, Dewi berkata sambil mengelus punggung Fahmi, "Nak, pertahankan rumah tangga kalian. Ayahmu sudah tidak ada. Keputusannya sangat sulit diganggu gugat untuk menjodohkan kalian. Jangan pernah mengecewakannya lagi meski beliau sudah tidak ada. Jika memang kamu belum bisa mencintai anak Ibu, belajarlah untuk mencintainya, Nak. Jika itu terasa sulit, namanya juga belajar. Tidak ada seorang ahlipun yang tidak melewati fase sulit dalam belajar. Cobalah, Nak."
Dewi dan Fahmi kemudian melepaskan pelukannha bersamaan. Fahmi mengangguk paham. "Fira dimana, Bu?"
"Fira jarang ada di rumah, Nak," ucap Dewi ragu.
Fahmi membulatkan matanya tidak percaya. "Sekarang dia di mana, Bu?" Tanyanya panik.
"Ibu tidak berani menegurnya. Semenjak dia pulang ke sini, dia sering murung di kamar. Tapi semenjak bergaul dengan temen barunya dia baru bisa ceria lagi," ungkap Ibunya.
Dada Fahmi naik turun untuk menyetabilkan amarah di dalam hatinya. "Fira bergaul dengan teman-teman yang seperti apa, Bu?" Tanya Fahmi yang kali ini nadanya terdengar lebih tegas.
Dewi terlihat seperti merasa sangat bersalah. "Maafin Ibu, Nak. Fira sekarang jadi sering belanja dan jalan-jalan, sering menghamburkan uang. Ibu juga kaget dia jadi lepas kerudungnya."
"Apa?" Fahmi masih tidak percaya.
Ini semua adalah kesalahannya. Sebagai suami, dia tidak amanah terhadap akhlak seorang istri yang sekarang sudah menjadi tanggungjawabnya.
"Fahmi pamit, Bu."
Fahmi segera pergi setelah mencium tangan sang mertua dan mengucap salam untuk mencari Fira. Salah satu tujuannya adalah kampus Fira. Fahmi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tangannya mencengkram erat stir mobil. Rahangnya mengeras. Fahmi marah besar saat mengetahui Fira dari Dewi. Namun lebih dari itu, dia tetap bersalah.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Fahmi akhirnya sampai di kampus Fira. Sejauh ini hidup di dalam satu ikatan yang halal, Fahmi bahkan sampai melupakan di fakultas mana Fira kuliah.
"Fira di fakultas mana, ya? Mana kampusnya luas banget. Banyak mahasiswa lalu lalang. Ah, pusing!" Gerutunya di dalam mobil.
Fahmi akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Dia berusaha bertanya tentang keberadaan wanita bernama Elfira Marwah ke setiap mahasiswa yang berjalan melewatinya.
"Eh, boleh bertanya, nggak? Di sini kamu tau yang namanya Elfira Marwah, nggak?" Tanya Fahmi pada dua orang gadis yang berjalan sambil memeluk map berisi tugas-tugas kuliah.
Kedua gadis itu tampak saling bertatapan, dan kemudian kembali menatap Fahmi heran. "Anak fakultas mana, ya, Kak? Setau kita di fakultas kita gaada yang namanya Elfira Marwah."
"Oh, yasudah. Makasih, ya." Fahmi tampak pasrah.
Masalahnya, Fahmi tidak tahu Fira kuliah di fakultas mana. Ah, lebih tepatnya dia sudah lupa pada fakultas yang menjadi tempat istrinya belajar itu. Fahmi terdiam dan lantas menyandarkan punggungnya ke mobil. Dia membuka ponsel dan mencari kontak Fira. Dia lupa, selama sebulan ini dia tidak pernah berkomunikasi dengan Fira. Sekarangpun Fira sangat sulit untuk dihubungi.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba seseorang datang sambil menepuk pundak Fahmi. Terkesan sok kenal, tapi memang dia mengenal Fahmi.
"Lo Fahmi, kan?" Tanyanya.
Fahmi menoleh ke arah lelaki yang sok kenal itu. Dua alisnya mengerut. Ya, Fahmi kenal lelaki yang datang menemuinya ini. "Kamu Kevin, ya?"
"Iya. Ngapain ke sini? Tumben," ucap Kevin yang lantas mengikuti Fahmi untuk menyandarkan tubuhnya ke mobil Fahmi.
Kevin mengerutkan dahinya bingung. "Lho, Fira emangnya suka main sama siapa sampe jarang pulang?"
"Kamu nggak usah sok nggak tau, ya. Mana Fira?" Fahmi kali ini emosi dan beranggapan bahwa Kevinlah yang menyebabkan semua ini terjadi.
"E-eh. Gue nggak salah denger sama tuduhan lo, Fahmi? Sebagai seorang suami yang baik, harusnya lo yang lebih tau keadaan istri lo. Temennya siapa, ke mana aja dia pergi, dan gimana perasaannya. Jangan maen nuduh-nuduh kayak gini, dong!" Ucap Kevin seolah tak terima dituduh Fahmi.
Fahmi menunduk lemah dan berucap sangat pelan, "Sorry, Vin."
Kevin menepuk-nepuk punggung Fahmi. Dia sangat mengerti keadaan rumah tangga Fira dan Fahmi bagaimana. Mungkin juga selama ini ada masalah, dan mungkin mereka sedang tidak satu pondasi, pikir Kevin dalam hati.
"Gue sama Fira emang deket. Dekeeet, banget. Dari kecil kita itu kayak perangko. Susah buat dipisahin, deh. Gue suka sama Fira dari dulu, Fahmi. Tapi gue sadar, sekarang dia udah nggak mungkin bisa gue milikin. Gue sadar diri. Gue cuma sahabat dia, nggak lebih. Walaupun gitu, gue tetep harus yang paling depan ngejaga dia dari siapapun yang mau berbuat jahat."
Fahmi menatap Kevin nanar. "Lebih dari itu, saya yang lebih depan lagi buat jaga Fira. Dan saya lebih berkewajiban untuk itu!" Tegas Fahmi.
Kevin terkekeh. "Gue tau, Fahmi. Meskipun lo belum bisa bener-bener cinta sama Fira, lo pastinya masih peduli sama dia. Yaa, walau ada, lah, sedikit-sedikit egois dan gengsinya, haha."
"Bagaimana bisa, kamu cinta sama Fira, Kevin?" Fahmi bertanya sangat serius.
__ADS_1
Kevin kemudian menatap Fahmi sambil mengerutkan dahinya. "Kenapa?"
"Saya mau belajar mencintai Fira," ucap Fahmi tanpa ragu sedikitpun.
Kevin menelan ludahnya. Ada sedikit nyeri di dalam hatinya saat mendengar itu. Dia pernah merasa beruntung memiliki perasaan cinta yang begitu tulus pada Fira, tapi rasanya itu harus segera dia musnahkan. Seseorang yang lebih berhak, sudah siap untuk memberikan Fira cintanya.
"Fira itu baik, Fahmi. Sejago apapun dia bela diri atau tinju, dia tetep butuh yang namanya pmimpin sekaligus pembimbing. Fira itu periang dan ceria orangnya. Dia bisa membangkitkan semangat temen-temen deketnya. Tapi kalo dia udah sedih dan kecewa, semuanya bakal sirna, siapapun yang liat dia sedih akan ikut sedih."
Fahmi masih terdiam, sebagai isyarat bahwa dirinya mempersilakan Kevin untuk berbicara lebih banyak lagi tentang Fira.
"Lo nggak usah mikirin kekurangan Fira yang memang serba kekurangan dalam beberapa hal. Setiap orang punya kekurangan, begitupun lo! Sebagai pasangan hidup, lo yang harus menyempurnakannya. Saling menyempurnakan, lah."
"Gue selalu bisa mencintai Fira karena gue selalu fokus sama kelebihan dan aura positif yang dia pancarin. Mungkin dia bukan selera lo, sampai lo belum bisa cinta sama dia, tapi dia tidak seburuk itu. Dia baik, Fahmi. Dia baik. Dia cuma butuh pembimbing dalam hidupnya. Dan itu adalah tugas lo!" Tegas Kevin di akhir kalimatnya.
"Thanks, Vin."
Kevin mengangguk dan kembali menepuk-nepuk punggung Fahmi sebagai penguatan. Itu pasti bukanlah hal yang mudah bagi Fahmi. Kevin tau pasti bagaimana sulitnya jika terpaksa harus mencintai orang yang memang tidak pernah ia cinta. Sama seperti sulit dirinya untuk tidak mencintai Fira.
"Jadi yang jadi top couple tahun ini itu pasangan Fira dan Jerry dari Fakultas Keguruan itu, ya?"
Tiba-tiba ucapan seseorang berhasil membuat Fahmi sadar dari lamunannya. Suara itu ternyata berasal dari segerombolan mahasiswa yang sedang berkumpul di bawah pohon dekat parkiran. Reflek, Fahmi dan Kevin menoleh ke sumber suara yang terdengar sangat ramai itu.
"Katanya sih, baru jadian seminggu, tapi emang banyak yang kagum sama mereka. Secara, kan, Jerry itu bulenya dapet banget. Ditambah lagi Fira yang ternyata keliatan cantik banget kalo nggak pake kerudung," ucap salah satu mahasiswi yang rambut panjangnya dibiarkan tergerai.
Tangan Fahmi mengepal kuat dan kakinya kemudian melangkah untuk menghampiri segerombolan mahasiswi pembuat gosip itu, Kevin mengikuti dari belakang.
"Kalian tau di mana yang namanya Fira dan Jerry itu?" Tanya Fahmi penuh penegasan.
Bukannya menjawab, para mahasiswi itu justru malah saling berbisik sambil memperhatikan Fahmi.
"Kalian tidak punya mulut untuk menjawab?" Kali ini Fahmi bertanya dengan emosi.
__________________
Alhamdulillah, kok terharu ya bisa update cerita ini lagi๐ข๐ข Hehe.
Hayooo, Fahmi emosi tuh Istrinya jadi bahan gosip. Fira dimana sih? Suamimu mencarimu inii. Ah, gereget nggak sih. Fira pake pacaran sama Jerry segala. Fahmi sudah mau belajar mencintaimu inii๐๐
Pada penasaran nggak kelanjutannya nih?๐
__ADS_1