
Fahmi menggeliat kecil. Matanya yang terpejam rapat berusaha dia buka dengan perlahan. Udaranya saat itu terasa sangat dingin hingga seolah menusuk kulitnya. Fahmi mencari keberadaan gulingnya, namun ia merasakan ada yang aneh dari gulingnya. Kenapa terasa begitu berat dan besar? Dia tidak bisa melihat dan memastikan dengan sempurna karena lampu kamarnya dimatikan.
Fahmi bergidik ketakutan. Takut apa yang di sebelahnya hantu atau kuntilanak. Fahmi beranjak dari ranjangnya dan segera berlari ke dekat pintu untuk menyalakan lampu. Fahmi menggesek-gesek matanya. Dia tak percaya melihat seorang wanita tertidur di atas ranjangnya.
"Loh, Fira? Ngapain dia, kok, tidur di sini?"
Fira tampak merasa kedinginan. Dia tidur meringkuk dan terlihat sedikit menggigil. Fahmi segera menghampirinya. Dia meraba dahi Fira yang ternyata begitu panas. Fahmi mulai khawatir. Dia segera menyelimuti Fira dengan selimut yang ia pakai semalaman.
"Fir, Fira? Kamu sakit, ya?" Tanya Fahmi yang kemudian memeriksa suhu di leher Fira.
Panas, banget. Dia kenapa, ya? Batin Fahmi.
Fira membuka matanya perlahan. Kepalanya seolah ditusuk oleh sesuatu yang sangat tajam. Sakit dan berat sekali.
"Kak Fahmi, maaf ya, aku tidur di sini," ucap Fira yang lantas bangkit dari tidurnya. "Bentar, aku pindah, ya?" Fira memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Jangan sok kuat. Udah, tidur aja di situ!"
"Ini kan kasur kamu," ucap Fira sambil meringis kesakitan menahan pusing di kepalanya.
"Suruh siapa tidur di sini!" Ucap Fahmi cukup membentak. "Udah, tidur aja. Aku mau tahajud!"
Sambil menahan rasa sakit, Fira membulatkan matanya semburna, seolah hendak mengeluarkan semua amarahnya. "Kamu bisa berbuat manis sama Halwa, Halwa itu. Tapi sedikitpun kamu nggak bisa ngasih perhatian sama istri kamu sendiri, Kak!"
"Karena aku nggak cinta sama kamu!"
Fira kira, keadaannya saat ini bisa membuat Fahmi memberi sedikit perhatian yang sudah seharusnya dia dapatkan. Namun, dia salah. Sekujur tubuhnya panas, ditambah lagi dengan hatinya yang begitu terluka.
"Terus aja, Kak, terus bilang aku nggak cinta kamu! Sampai Kakak nyesel udah bilang itu ke istri sendiri!" Fira meneteskan air matanya. Dia menangis sesenggukan.
Fira merasa kesakitan di bagian lehernya. Panas sekali lehernya saat itu, seolah ditekan beban berat yang membakar. Fira menangis menahan sakit.
Fahmi menghampiri dan lantas duduk di samping Fira. "Apa yang sakit?"
"Nggak usah sok perhatian gitu, deh!" Fira menolak perhatian Fahmi.
Saat itu Fahmi ingin sekali marah, namun kondisi Fira yang begitu berat menahan sakit membuatnya khawatir. Berkali-kali Fira memegangi leher bagian kanannya.
Kali ini Fahmi mengabaikan perkataan Fira. Dia membuka sedikit baju bagian leher Fira. Fira terperanjat kaget dan menolak.
"E-eh, mau ngapain? Jangan macem-macem, ya!" Fira memeluk dirinya, takut terjadi hal-hal buruk yang terlintas di pikiran kotor seorang lelaki yang menjadi suaminya saat ini.
"Biar macem-macem juga udah halal, kan?"
Fira menatap Fahmi dengan tatapan tajamnya. Fahmi mencoba untuk melihat leher Fira. Kali ini Fira pasrah dan sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Dari kapan sakitnya?" Tanya Fahmi setelah melihat bagian leher Fira yang sakit.
"Udah lama," jawab Fira malas.
"Nggak peka banget sih, sama diri sendiri!" Sindir Fahmi sinis.
"Maksudnya?"
"Jarang ganti baju, ya? Atau jangan-jangan kamu jarang mandi?" Tanya Fahmi.
Fira kesal dikatakan seperti itu. "Enak aja!"
"Kamu terkena penyakit herpes. Panas, ya?"
Fira mengangguk.
"Istirahatin dulu aja. Nanti aku beli salep sama obatnya."
Hari ini Fahmi dines pagi. Pukul tujuh pagi Fahmi sudah berangkat dan meninggalkan Fira sendirian meringkuk sambil menahan sakit yang semakin menjadi di kamarnya. Di sampingnya ada selembar kertas dari Fahmi. Niat Fahmi tidak mau mengganggu istirahat Fira. Berharap, Fira membaca surat darinya dan memakan nasi goreng tanpa kecap yang dia simpan di meja kamarnya.
***
Sudah sekitar satu jam lebih Halwa menunggu Fahmi di bangku yang tersedia di depan pos satpam rumah sakit. Dia menjinjing rantang berisi nasi dan masakan spesial yang dia buat khusus untuk Fahmi. Senyumnya mengembang saat lelaki yang ditunggunya datang.
"Ka Fahmi!"
Halwa menggelengkan kepalanya. "Nggak ada."
"Terus, ngapain di sini?"
Halwa menyodorkan rantang yang dibawanya pada Fahmi seraya berkata, "Ini ada sarapan buat Kakak. Kakak belum sarapan, kan, ya?"
Jujur saja, Fahmi memang belum sarapan dan perutnya saat itu sedang kelaparan. Tadi pagi dia hanya makan satu sendok nasi goreng untuk Fira, itupun untuk mencicipi apakah keasinan atau tidak. Akhirnya dengan sedikit ragu, Fahmi menerima pemberian Halwa dengan senang hati.
"Terima kasih banyak, ya, Halwa. Kamu baik banget. Nanti sepulang dines aku kembaliin rantangnya."
Halwa mengangguk. "Iya, Kak, sama-sama. Semangat, ya, kerjanya!"
"Iya makasih lagi deh," ucap Fahmi sambil terkekeh pelan.
Setelah itu Fahmi segera masuk ke dalam rumah sakit sambil menjinjing rantang berisi sarapan untuk dia santap bersama teman-temannya.
Ketika sosok Fahmi sudah tak terlihat lagi, tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya menghampiri Halwa. "Jadi itu, Fahmi, Fahmi yang sering kamu ceritain?" Tanyanya mengejutkan Halwa.
"E-eh, Ibu? Iya, Bu. Itu namanya Ka Fahmi," jawab Halwa dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Wanita bernama Asri itu adalah Ibunya Halwa. Dia sengaja menemani Halwa untuk melihat sosok Fahmi yang kebaikannya sering Halwa ceritakan.
"Ganteng juga, Wa. Segera kenalin ke Abi, biar disuruh cepet halalin kamu," ucap Asri menggoda Halwa.
Halwa tersipu malu. "Ih, Ibu, apaan, sih?"
Mereka berduapun pulang menggunakan angkutan umum. Dari rumah sakit menuju rumahnya hanya membutuhkan waktu lima menit saja jika menggunakan angkutan umum. Dekat memang, karena itu pula Fahmi terkadang suka mampir ke masjid dekat rumah Halwa, untuk sekedar melihat Halwa mengaji bersama teman-temannya yang lain.
***
"Keviiin, bantuin gue, gue sakit..."
Setelah mendengar suara Fira yang begitu lemah dan menahan sakit via telepon itu, Kevin segera melajukkan motornya menuju rumah Fira. Kevin tak habis pikir, bagaimana bisa Fira meminta bantuan kepadanya, sedangkan Fira sendiri sudah memiliki kepala keluarga yang lebih berhak dan wajib menjaganya.
Akhir-akhir ini, Kevin memang sedang berusaha menjauhi Fira. Dia sadar diri, bahwa dirinya bukan siapa-siapa selain sahabatnya Fira. Dia tidak ingin menjadi penghancur di kehidupan baru Fira. Namun jujur, dia masih tidak akan pernah tenang selama Fira belum sepenuhnya diterima dan dicintai oleh Fahmi.
53 Panggilan tak terjawab
Puluhan kali Kevin menelpon Fahmi, namun sebanyak itu pula Fahmi mengabaikan panggilan penting darinya.
Tanpa menunggu lebih banyak waktu lagi, akhirnya dia memutuskan untuk melakukan hal yang tidak seharusnya. Dia mendobrak hebat pintu rumah yang berada di hadapannya. Tubuh kuatnya berkali-kali ia hantamkan pada pintu itu. Sedikitpun lelaki itu tidak merasa sakit. Khawatirnya telah mengokohkan tubuhnya. Hingga pada dibrakkan yang ke sepuluh, pintu itupun terbuka. Lelaki itu segera masuk, tak peduli dengan pintu yang mungkin saja sudah rusak akibat dobrakkannya. Baginya itu tidak penting, di dalam rumah sana, ada seseorang yang membutuhkan bantuannya.
"Firaaa! Firaa!" Kevin berteriak sambil mengarahkan pandangannya ke segala penjuru rumah itu untuk mencari kamar Fira.
Kevin membuka setiap pintu yang ada di ruangan tersebut. Hingga akhirnya dia menemukan Fira di salah satu kamar.
Kevin terkejut, saat melihat Fira terbaring lemah di atas kasur berselimut tebal. Segera dia menghampiri Fira.
"Fir, lo sakit apa?" Kevin meraba dahi Fira yang ternyata sangat panas. "Panas banget, Fir. Suami lo mana, sih? Nggak bertanggung jawab amat!" Ucapnya geram.
"Leher gue panas, Vin. Gue nggak kuat. Sakit bangeet," ucap Fira sambil menangis karena mehan sakit dan panas seakan dibakar.
Kevin mencoba melihat ke arah leher Fira. "Mana, biar gue liat dulu."
Kevin tiba-tiba merinding melihat bulatan-bulatan kecil yang berkumpul berwarna merah. "Ih, geli gue liatnya. Itu penyakit kulit kalo nggak salah."
"Iya, emang. Sakit banget, Vin." Berkali-kali Fira mendesah kesakitan.
Tiba-tiba ada seseorang di ambang pintu dengan tangan yang mengepal kuat siap menghantam seseorang yang berhasil menggejolakkan amarahnya...
_________________
Siapakah diaaa😆
Komentar dan votemu adalah semangat untukku melanjutkan cerita ini ya.
__ADS_1
Salam,
Saifa Hunafa.