
Di rumah keluarga Arigama, Zevila yang baru aja pulang dari rumah sakit, ia segera masuk ke kamar ditemani oleh asisten rumah.
"Bi," panggil Zevila sambil duduk di sofa.
"Iya, Non, ada apa?" sahutnya dan menoleh saat dipanggil oleh majikannya.
"Tolong ambilkan laptop saya di ruang sebelah ya, Bi," perintah Zevila yang teringat jika dirinya ada tugas lain dengan temannya.
"Baik, Nona, tunggu sebentar, Bibi mau ambilkan dulu laptopnya," jawabnya dan bergegas untuk mengambilkannya.
Setelah laptopnya sudah diambil, Zevila menyibukkan diri dengan benda yang menjadikannya teman di kala sibuk.
"Aw!" pekik Zevila saat punggungnya terasa nyeri.
"Hati-hati, Nona, mendingan Nona istirahat saja dulu, takutnya nanti lukanya tambah sakit, dan gak sembuh-sembuh gimana? Bibi takut terjadi sesuatu pada diri Nona,"
Zevila tersenyum saat asisten rumahnya begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Bibi Eni mah kek gak tahu aja sama Zevi, sakit kek gini juga belum seberapa, Bi. Malah dulu lebih parah lagi, suka tawuran, Bibi ingat 'kan?"
"Iya, ingat, Bibi masih ingat sama cerita Nona dulu. Bahkan, Nona sampai mencelakai seseorang, apakah orangnya sudah ditemukan?"
Zevila menggelengkan kepalanya, raut wajahnya terlihat begitu sedih.
"Zevi belum menemukan orangnya, Bi. Entahlah, namanya juga dunia yang luas, salahku dulu itu, aku salah sasaran, rupanya dia itu pengendara sepeda motor, bukan lawan atau musuh. Sayangnya dia pakai helm, gak kebuka juga, jadinya aku gak bisa melukis wajahnya, tapi aku ingat betul seperti apa postur tubuhnya, jaket item, helm warna hitam juga, motornya juga keren. Dah lah Bi, mungkin juga orangnya udah punya cerita hidup sendiri. Haduh! sakit banget, Bi."
"Bibi doakan, semoga Nona Zevi masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang yang selama ini dicari. Oh iya, Nona mau makan apa nanti malam? biar Bibi masakin sepesial buat Nona,"
__ADS_1
"Apa aja deh, Bi, penting enak. Soalnya bentar lagi Zevi mau menikah sama cowok belagu, keras kepala, menjengkelkan, dan juga nyebelin, lengkap banget penderitaan aku ini sih Bi,"
Tanpa sadar, Zevila mengeluh dan lupa dengan tujuannya untuk menikah dengan si Razan. Namun, tiba-tiba ia teringat jika tujuan utama adalah membalaskan dendam atas kematian ibunya.
'Aish! kenapa aku sampai lupa dengan tujuanku. Enggak enggak enggak, aku tidak boleh lupa, dan juga harus merahasiakannya sama Bibi. Kalau sampai aku ketahuan, Bibi Eni pasti akan benci aku. Pokoknya jangan sampai ketahuan, iya ya ya iya, jangan sampai diketahui pokoknya.' Batin Zevila yang takut ketahuan sama Bi Eni yang menjadi orang kepercayaan kedua orang tuanya.
Sambil menunggu waktunya makan malam, Zevila istirahat. Sedangkan lain sisi, yakni di kediaman keluarga Wigunanta, Razan maupun Rivan, mereka berdua sudah sampai di rumah, keduanya ternyata sudah ditunggu tunggu oleh Tuan Arta dan Tuan Fauki.
"Dari mana aja kalian berdua, kenapa baru pulang?" tanya Tuan Arta selaku ayah dari Rivan.
"Dari rumah sakit, Paman, tadi Zevila mengalami musibah, dan juga cidera, jadinya aku langsung ke rumah sakit."
"Oh, kirain pergi kemana, ya udah kalau gitu, malam ini kita akan makan malam bersama, sekaligus membicarakan hal penting yang kita bahas," ucap Tuan Danian selaku yang memegang alih atas rumah yang ditempatinya.
Saat itu juga, Rivan langsung menoleh ke saudara sepupunya karena merasa aneh dengan jawaban dari Razan.
Merasa penasaran dan juga curiga, Rivan langsung menarik paksa tangannya Razan.
"Riv! Rivan! lepaskan, mau mengajakku kemana kamu?"
"Diam lah, ada hal penting yang ingin aku tanyakan sama kamu Kak Razan." Dengan kesal, Rivan menjawab dan menarik paksa saudaranya sampai ke tempat yang sepi.
Kemudian, Rivan melepaskan tangannya dengan kuat.
"Katakan padaku, apa tujuan Kak Razan yang sebenarnya? ha! aku benar-benar mencurigai mu, Kak Razan."
Tidak segan segannya untuk memaki saudaranya, dan tidak peduli antara salah atau benar, pikirnya. Bagi Rivan, sesuatu yang mencurigakan, perlu diinterogasi dan tidak pakai lama untuk mendesak ataupun mendapat jawaban.
__ADS_1
"Kamu mencurigai ku? memangnya apa yang membuat mu curiga?" tanya Razan yang tidak terima mendapatkan tuduhan dari saudaranya.
"Aneh aja, aku gak menghubungi Kak Razan soal Zevila yang aku bawa ke rumah sakit, tapi anehnya Kak Razan bisa tahu, gak masuk akal kalau bukan pelaku yang sebenarnya menggunakan cara bersandiwara, cuih! caramu begitu licik tapi juga murahan."
"Apa katamu? kamu masih menuduh ku, iya!"
"Terus, siapa lagi kalau bukan kamu, mempunyai anak buah yang tersembunyi, dan jangan-jangan kamu ada tujuan lain untuk menikahi Zevila, iya 'kan?"
Rivan yang tengah berhadapan dengan Razan, ia merasa jika tebakannya itu adalah benar, meski tidak tahu benar atau salahnya.
"Pikiran kamu terlalu cetek, dan mudah terprovokasi dengan pikiran buruk mu sendiri. Sudahlah, kamu gak perlu tahu mengenai aku tahu dari mananya, itu gak penting. Aku ada kesibukan yang jauh lebih penting daripada meladeni kamu. Juga, mendingan kamu itu fokus dengan karir mu. Jangan sampai kamu gagal berkarir karena otakmu yang susah untuk diajak kompromi, paham."
Rivan yang terasa diceramahi oleh Razan, merasa geram.
"Kalian berdua meributkan apa lagi? sudah lah, mendingan kalian mandi dan istirahat, nanti kita akan malam bersama," ucap Tuan Arta yang tiba-tiba datang.
Razan yang sudah malas bicara, langsung bergegas kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Begitu juga dengan Rivan, sama halnya masuk ke kamar untuk mandi.
Saat sudah berada didalam kamar, alih-alih Razan membuka laptopnya, ia membuka file yang tersimpan, banyak sesuatu yang sangat penting didalamnya. Juga, banyak kenangan yang tertinggal di masa lalu.
"Aku bakal membalaskan dendam ku, lihat saja nanti. Aku akan ikuti kemana alur cerita yang dibuat itu berjalan, maka akan beriringan denganku." Gumamnya saat menatap layar laptopnya.
Tujuan dari seorang Razan tidak kalah bedanya dengan Zevila, yakni memiliki dendam tersendiri. Mungkinkah dendam mereka berdua berlawanan? atau ada dendam lainnya? siapakah Razan yang sebenarnya? mungkinkah kehadiran Razan di kehidupan Zevila hanyalah palsu?
Razan langsung mematikan laptopnya, dan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, Razan bergegas untuk membersihkan diri agar tubuhnya terasa segaran, juga agak mendingan, tidak pegal-pegal atau yang lainnya.
Berbeda dengan Rivan, sedari tadi dirinya masih terus berendam, dan tak lupa juga tengah memikirkan soal Razan yang sangat mudah untuk mengetahui keberadaannya Zevila.
__ADS_1
"Aku harus mencari tahu kebenarannya, dan awas saja kalau sampai ku temukan sesuatu yang membahayakan Zevila, aku gak akan memberinya ampun, titik!" gumam Rivan penuh kesal